SOLEDAD

SOLEDAD
Syok


__ADS_3

Jangan lupa like dan komen😊😘


.


.


.


***


"Cari tahu siapa akar peristiwa ini!"


"Sí, Señor."


Max berulang kali menembaki tubuh orang yang sudah tak bernyawa itu. Kemarahannya mencapai puncak, ia ingin sekali menghabisi siapapun yang menjadi sumber dari kejadian ini.


Sara yang pingsan di dalam mobil belum juga tersadar. Pundaknya tergores oleh timah panas dari pistol TTI G26.


Lewis sudah menghubungi dokter pribadi untuk itu. Max tidak ingin dunia tahu tentang kejadian buruk yang dialami keluarganya.


"Sayang, buka matamu!"


Max tidak henti-hentinya menepuk pipi sang istri, berharap dengan cara seperti itu Sara terbangun.


"Lebih cepat lagi, Lewis! Aku tidak akan membiarkanmu hidup jika terjadi sesuatu dengan istriku."


Sang sopir pribadi yang memahami segala sesuatu tentang tuannya menancap gas membelah kerumunan malam hari di kota Madrid. Tujuan awal untuk berpesta harus berakhir di tengah jalan.


Tak selang beberapa lama, mobil memasuki mansion. Penjaga yang sudah sigap di sana membuka gerbang. Karena Max bukan orang yang sabaran, ia menghentikan mobil dan menggendong istrinya masuk dengan langkah lebar.


"Gemma, cepat periksa dia! Pastikan istriku hidup karena kau tahu akibatnya nanti," ancamnya langsung pada sang dokter yang sudah ada di sana.


"Baik, Señor. Saya mengerti."


***


Mata Sara terbuka merasakan perih di pundaknya. Ia melihat seorang dokter cantik sedang membersihkan lukanya.


"Maaf merepotkanmu. Aku bisa melakukannya sendiri, ...."


"Gemma, Señora."


"Aku pikir aku akan mati, Gemma."


"Anda baik-baik saja, Señora."


"Gracias."


"Sudah menjadi tugasku, Señora."


"Bagaimana dengan Max? Apa dia terluka?"


Gemma terkekeh. Ia memberikan sentuhan terakhir pada luka Sara lalu menutupnya.


"Señor baik-baik saja, Señora. Jangan khawatir. Dia lelaki yang kuat, apalagi sesuatu yang menyangkut orang-orang yang disayanginya dia pasti melakukan yang terbaik."


Bersamaan dengan itu, Max masuk dengan wajah datar.


"Kalau sudah selesai, keluar!"


Gemma mengedikkan bahu melihat tatapan simpati Sara padanya.


"Dia memang seperti itu."


"Keluar, Gemma!"


"Maaf, Señor. Permisi."


Max mendekat ke arah ranjang dan duduk di sana. Ia menatap lama pundak Sara yang diperban itu.


"Maafkan aku untuk luka ini, Sara."


"I'm fine, Max. Tadi aku berpikir aku akan mati. Terkena tembakan itu sangat sakit, tidak bisa kubayangkan jika menembus pundakku. Untung hanya tergores," keluhnya lirih.


Rahang Max mengeras mendengarnya. Ia menangkup wajah perempuan itu dan menatap netra cokelatnya lama.


"Kau tidak boleh mati, Sara! Ingat, kalau kau mati, semua hutang Peter tidak akan pernah lunas."


Semua itu membuat Sara tidak bisa berkutik. Jawaban-jawaban yang sudah disiapkannya untuk pertanyaan aneh-aneh dari Max hilang begitu saja. Entah kenapa melihat wajah Max yang marah mengingatkannya pada kemarahan Peter.


"Karena itu, kau harus menjagaku."


"Tentu saja. Aku tidak akan membiarkanmu kabur. Jadi, kata kabur yang ada di otakmu harus kau lenyapkan."


Sara tertawa menanggapi keseriusan Max. Niatnya untuk melakukan misi istimewa harus dibatalkan dulu. Waktu yang tidak tepat, begitu pikirnya.


"Aku tidak berpikir untuk itu. Tapi, karena kau memberikan pencerahan padaku, tidak ada alasan untuk tidak mencobanya," goda Sara dengan mengedipkan matanya.


"Jangan coba-coba jika kau masih ingin mendaki Himalaya!"


Sara terkekeh lalu mengambil tangan Max dan memperlihatkan cincin yang dipakai keduanya.


"Kau sendiri yang mengatakannya, Sayang. Aku tidak punya keberanian untuk itu."


***

__ADS_1


"Sayang, bangun! Hei! Apa kau pingsan lagi?"


Tidak mendapat sahutan dari istrinya, Max panik. Ia segera keluar dan memanggil Adrian.


"Panggilkan Gemma kemari!"


"Nyonya baik-baik saja, Tuan?"


"Kau berharap istriku sakit, huh?!"


"Maaf, Señor."


"Lakukan saja perintahku!"


Adrian pergi dan menghubungi Gemma meninggalkan Max yang diliputi kepanikan. Berpikir istrinya kembali pingsan. Otak liciknya tidak bekerja normal jika berkaitan dengan Sara. Seolah perempuan itu obat penangkal kelicikannya.


Sementara di kamar, Sara baru membuka matanya ketika menyadari suaminya tidak berada di sampingnya pagi ini.


"Sayang? Max? Kau dimana? Kepalaku pusing!"


Tidak ada sahutan.


"Ke mana dia? Apa dia sudah pergi bekerja? Tapi, ini masih sangat pagi."


Mencoba untuk bangun, Sara hampir terjungkal dari ranjangnya. Saat itulah Max membuka pintu dan mendapati istrinya hampir jatuh.


"Apa yang kau lakukan?"


"Kepalaku pusing."


"Gemma dalam perjalanan kemari."


"Kenapa kau memanggilnya?"


Max mengangkat bahunya. "Aku pikir kau pingsan lagi."


"Astaga, kau membangunkanku?"


"Kau sulit terbangun, Sayang."


Sara terkekeh. Itu salah satu rekor terbaik dalam hidupnya. Saat semua orang terbangun saat dibangunkan, dirinya tidak akan mengalami itu. Bahkan akan sangat pulas.


"Itu keistimewaan aku."


"Astaga, aku tidak tahu. Kau ingin ke kamar mandi?"


"Kau akan menggendongku?"


"Apapun untukmu."


"Max, aku hanya bercanda."


Tetapi Max tidak menghiraukan. Ia menggendong Sara dan masuk ke kamar mandi bersama.


"Kenapa kau masih di sini? Keluarlah!" usir Sara saat suaminya masih diam di sana.


"Tidak."


"Hei, apa kau kau menontonku buang air?"


"Kau istriku," jawab Max asal.


"Hei, Max!"


"Oke, oke, aku keluar. Tapi ...."


Sebuah kecupan mendarat di bibirnya. "Hukuman untukmu."


"Sial."


"Dan satu lagi ...."


"Jangan cium!"


Max menyeringai. "Jangan berkata kasar."


Saat Sara membuka mulutnya hendak protes, mulut Max langsung membungkam mulutnya.


***


"Kau beruntung, Gemma. Jika istriku kembali pingsan, kau tidak akan bisa menikahi pria Latin itu."


"Saya mengerti, Señor."


"Kau sudah makan?"


Gemma menggeleng. "Temani istriku makan, dia tidak bisa makan sendirian."


"Saya harus pulang, Señor."


"Palvos!" tutur Max dengan nada penuh penekanan.


"Baiklah, akan saya lakukan."


"Sudah seharusnya."

__ADS_1


Max melangkah keluar dari gedung utama mansion itu menuju sayap Timur. Sebuah lorong yang panjang menghubung bagian itu dengan gedung utama.


Sampai di pintu yang dituju, penjaga dengan sigap membuka pintunya. Membiarkan sang tuan masuk.


Ruangan dengan banyak lukisan hewan-hewan buas terpajang di setiap dinding dan langit-langit ruangan menjadi tempat bagi Max untuk melakukan segala sesuatu yang berkaitan dengan identitas dirinya.


"Apa kau sudah menemukan anggota yang lainnya?"


"Mereka masih bersembunyi, Tuan. Tapi, di tubuh pria yang kau bunuh ada sebuah tanda yang menandakan pria itu adalah bagian dari tempat itu."


"Tato?"


"Ya, mereka berasal dari Napoli." Alex menunjukkan sebuah gambar di lengan pria yang terbunuh semalam di layar monitor lebar itu.


"Camorra?"


"Kau benar, Señor. Sepertinya ada sesuatu yang kita miliki di sana dan mereka merasa terganggu oleh kedatangan kita."


"Baiklah, aku mengerti sekarang. Lanjutkan pencarianmu, Alex. Aku harus pastikan kehidupanku dengan Sara jauh dari jangkauannya."


Max mematikan sambungan itu dan memijat pelipisnya. Sejauh ini, banyak sekali musuhnya, tetapi belum pernah terlibat dengan mafia bersindikat lebih kejam daripada Camorra.


Ia membuka laci mejanya dan mengambil selembar gambar dari sana.


"Apa saja yang kau lakukan di sana, Lana? Kau bahagia? Aku merindukanmu, tapi ...."


Tangan Max mengambil sebotol alkohol dari balik pintu rahasia dan meneguknya sampai habis.


"Aku sudah menikahi seorang gadis nakal dan sedikit aneh. Dia polos dan sedikit berbeda dari yang lainnya. Kau mendengarku, Lana?"


Ia kembali mengambil satu botol lagi dan meminumnya sampai tandas.


"Aku tidak mengkhianatimu, Lana. Kau lebih di atasnya, dia hanya gadis biasa dengan penampilan yang sangat kuno. Kau tahu, dia tidak tahu nama high heels yang sering kau pakai. Aneh 'kan?" tanyanya terkekeh pada gambar di tangannya itu.


"Jangan khawatir, saat kau kembali nanti, aku akan mengembalikannya ke tempat semula."


Setelah mengatakan semua kegundahan hatinya, Max keluar dengan sempoyongan. Kakinya terseok-seok dan hampir terjatuh.


"Enyahlah, Andrean, istriku akan marah melihat kau memegangku," elaknya saat seorang penjaga membantunya berjalan.


Kakinya terus melangkah melewati lorong gelap itu. Dengan mata yang sayu, ia melihat sekelabat bayangan wanita yang dicintainya.


"Lana, te echo mucho de menos, Querida." (Aku sangat merindukanmu, Sayang).


Ia langsung memeluk erat tubuh itu dan mencium bibirnya dalam meskipun ia merasa Alana mendorong tubuhnya.


"Diamlah, Alana! Aku merindukanmu, Sayang."


Tubuh yang dipeluknya itu menegang. Mulut Sara terkatup rapat. Tenggorokannya terasa tersangkut oleh sesuatu. Ia tidak dapat berkata apa-apa. Ia membiarkan Max memeluk dan menciumnya.


Saat itulah ia menyadari posisinya. Seorang yang lain tidak akan bisa menggantikan yang utama dalam hati. Meski rasa tidak suka terselubung dalam hatinya, tetapi otaknya berpikir bahwa fakta sudah seharusnya seperti itu.


"Lana, berikan aku ciuman, Sayang," racau Max lagi.


.


.


.


iklan**


.


Author : betapa hebatnya Tuhan menciptakan makhluk yang cantik seperti yang baca


Netizen : makasih😊😍😍


Author : idiihhh, bukan lu jubaedah, gue bilang sama dia kok lu yang nongol.


Netizen : dia yang mana? kan gue cantik🙄 kata papi gue, gue yang paling cantik sedunia


Author : oh itu papi lu, tapi kalo gue liat lu kayak nek lampir yang kesambet petir😑


Netizen : jahad lu thor


Author : bodo amat, tapi lu cantik beneran kok😊


Netizen : makasih😊😊😍😍


Author : tapi... kalo lu kasi gue poin😆


Netizen : ada maunya😑😑😑😑


.


Baca juga kisahnya bang Silver di novel sebelah yaa


***


"Semarah-marahnya aku padamu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu." S. O'connor.


Love,


Xie Lu♡

__ADS_1


__ADS_2