
Jangan lupa like, komen dan vote ya😊😘
.
.
.
Jika kau bertanya mengapa aku menyukai alam, jawabannya sesederhana yang kau pikirkan. Tidak ada yang selembut air, juga sehalus udara dan sehangat mentari. Kau bisa menciptakan kebahagiaan dengan menikmati aroma alam, berbaring di dalamnya dan membuang semua kegelisahanmu.
Sara O'connor
***
Mata Sara bergerak gelisah meski semilir angin segar menyentuhnya. Ia banyak diam, keputusan Max membawanya ke sini adalah untuk menghukumnya.
Pria itu sangat kejam, membiarkan dirinya berada di ambang ketakutan. Kakinya bergetar namun masih diusahakannya untuk bisa berjalan mengikuti langkah Max.
Sara merasakan situasi ini seperti yang terjadi padanya tiga belas tahun yang lalu. Peter membuangnya di sarang serigala tanpa memedulikan ia hidup atau mati.
Saat itu, ia hanya berharap kematian menjemputnya lebih awal. Membawanya pergi menemui ibunya yang ada di Firdaus. Dan sebelum serigala-serigala liar itu menerkamnya, seseorang datang dan menolongnya.
"Sara?"
Sara menoleh, nyatanya Max kini berada di belakangnya.
"Kenapa kau di belakangku lagi?"
"Kau melamun, Sayang."
Sara menunduk. "Maaf, apa kau akan membuangku di sarang serigala lagi?"
"Lagi? Apa kau pernah dibuang ke sarang serigala? Siapa yang melakukannya?" Max sengaja mencecarnya dengan pertanyaan, berharap Sara terbuka tentang kisah masa lalunya.
"Ti-tidak, maksudku kau pernah membawaku ke sini dan membiarkanku berada di antara banyak serigala, aku pikir kau akan melakukannya lagi," ucap Sara tak sepenuhnya berbohong.
Kedatangan yang pertama, Max membiarkannya duduk di antara hewan liar itu, meski Max memeluknya erat tetap saja rasa takut itu menggerogotinya.
"Apa kau berbohong?"
"Mana mungkin. Aku tidak berani melakukannya."
Tak berani menatap mata biru itu, Sara mengalihkan pandangnya. Dan pada saat itu, seekor serigala datang dari arah semak-semak.
Sesaat bulu kuduknya meremang. Ia mengepalkan tangannya erat, menghalau rasa takut yang menghampiri. Melihat hewan itu mendekat, perlahan Sara menempel di dada Max.
"Max, aku takut," lirihnya. Ia memeluk pinggang Max.
Pria itu tidak bergeming, ia membiarkan Sara melakukan apapun sesukanya. Bahkan ketika tangan perempuan itu menarik kemejanya ke atas, ia menahan napasnya dalam.
"Apa yang kau lakukan?"
"Eh? Oh, pinjamkan aku pistolmu," ucapnya lirih tepat di telinga Max.
"Kenapa?"
"Jangan bertanya dulu, aku gemetaran."
Max mengernyit heran, tak biasanya Sara berbicara ketika ketakutan. Tanpa bertanya lagi, ia mengambil pistol yang disiapkannya tadi.
Tangan Sara menerima benda itu dengan gemetaran, tapi demi menyelamatkan hewan liar yang datang dengan tubuh penuh darah itu, ia menguatkan hatinya.
"Sara?"
__ADS_1
"Kau mengejutkanku, Max."
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Diamlah!" geram Sara.
Dengan memeluk Max, ia memeriksa kaliber di dalam pistol itu. Setelah memastikan bahwa pelurunya masih banyak, ia menarik pelatuk.
Singa yang tengah berlari mengejar serigala yang terluka itu mengaum keras. Aumannya menggema di dalam hutan, gigi taringnya panjang dan runcing sangat menakutkan sehingga Sara meringis. Tembakannya ternyata meleset dan itu membuat sang raja hutan marah dan memburunya.
Max yang mendengar itu berusaha membalikkan badan, tapi Sara menahannya.
"Jangan dulu, kau akan membuatnya lari. Aku harus memastikan tembakanku tepat sasaran atau tidak. Kalau belum mati dalam tembakan ketiga, kau boleh mengambil alih."
Ketika sang raja hutan itu berlari mendekat ke arah mereka, Sara segera menembaknya lagi dan tepat mengenai kaki depannya.
"Oh, aku berhasil melumpuhkannya," teriak Sara setelah hewan itu terjatuh.
Senyuman terbit di wajahnya, dan itu membuat Max terpana. Dalam hati, ia memuji betap cantiknya perempuan yang menjadi istrinya itu. Namun, dalam sekejab, sekelabat bayangan senyuman Alana menghapuskan rasa kagumnya pada Sara.
"Max!" teriak Sara histeris.
"Apa?"
Tidak punya kesempatan untuk menjawab, Sara kembali menarik pelatuknya dan menembak lagi singa yang masih tertatih-tatih itu.
Menghembuskan napas lega, Sara terduduk lemas. Sendi-sendi kakinya seolah kehilangan tenaga, tangannya gemetaran.
"Untung tidak sampai menerkammu, Max. Aku sangat takut ...."
Max segera menoleh ke belakang, dan ia terkejut melihat singa itu terkapar. Darah keluar dari kepalanya.
"Kau hebat, Sara," pujinya.
"Kau menyelamatkan kawanan Blue."
"Si-siapa lagi namanya yang terluka itu?"
"Lucky."
"Oohh .... Aku pikir keberuntungan akan memihak padaku," gumam Sara.
***
Setelah menenangkan istrinya yang gemetar ketakutan karena berhasil membunuh hewan itu, Max mengajak Sara ke tempat yang belum sempat dikunjungi mereka. Sebuah gua yang menjadi sarang serigala.
"Kenapa kau membawaku ke sini?"
"Kau harus berkenalan dengan mereka."
Sara yang takut terhadap serigala itu mundur ketakutan. Ia memeluk erat tubuhnya dan berniat kabur dari sana.
"Hei, mereka tidak akan menyakitimu, kau telah menyelamatkan Lucky dan mereka akan berterimakasih padamu."
Sara menggeleng kuat, ia mundur perlahan saat seekor serigala mendekat.
"Tidak mungkin mereka akan berterima kasih, kau pasti akan membiarkanku diterkam hewan itu. Kau membawaku ke sini untuk dihukum, bukan? Siapa tahu kau akan menjadikanku santapan serigala liar ini."
"Mereka tidak akan menyerang tanpa sebab, Sara. Kau tidak perlu takut. Tentang hukumanmu, itu terlalu mudah jika aku menjadikanmu makan siang serigala-ku. Lagipula, dagingmu tidak akan enak, badanmu terlalu kurus."
Mendapat ejekan itu, Sara mencebikkan bibirnya. Kakinya yang hendak melangkah ke arah Max terhenti saat melihat serigala itu duduk di bawah kaki pria itu.
"Max, ayo pulang."
__ADS_1
Pria itu terkekeh. "Kau masih takut?"
Sara mengangguk. Ia meremas kaos yang dipakainya saat Max dan serigala itu mendekat.
"Jangan mendekat!"
Tidak menghiraukan teriakannya, Max terus mendekat dan itu membuat Sara mundur perlahan.
"Max ..., tolong jangan mendekat ...."
"Kau takut? Kenapa kau menyelamatkan Lucky?"
Sara menggeleng dan terus mundur. "A-aku tidak tega melihatnya berdarah ...."
"Bagaimana dengan singa itu? Bukankah ia berdarah setelah tertembak?"
"Dia ingin memakan serigala."
"Kau tidak takut padanya, Sara. Kau menyelamatkannya karena menyukainya, bukan?"
Sara tetap menggeleng dan terus mundur sementara Max melangkah maju. "Kau salah paham. Aku menyelamatkannya karena kasihan."
"Tidak, kau menyukainya, Sara. Kau rela menahan ketakutanmu saat menembak singa itu."
"Tidak, aku hanya mempraktekan kemampuan menembakku pada benda yang bergerak. Deborah mengajariku dengan baik, tidak ada hubungannya dengan serigala."
Bibir pria itu menyeringai tipis, ia melihat ada keraguan dalam mata cokelat istrinya. "Katakan alasan kau menyelamatkan Lucky. Kau seharusnya membunuhnya bukan menyelamatkan."
Sara tetap menggeleng, dia tidak ingin membuka kisah masa lalunya bersama serigala yang pernah menggigitnya.
Sangat jauh ia melangkah mundur dengan Max yang terus mengikuti, di ujung langkahnya ia tergelincir.
"Max!!" teriaknya saat jatuh di atas rumput yang tebal.
Nyatanya, rumput itu bukanlah rumput yang bisa menahan berat badannya. Ia terjatuh di atas rumput itu dan terguling. Daerah yang tertutupi rumput itu rupanya miring, karena itu Sara jatuh ke bawah.
Max yang tidak berhasil menangkap tangan istrinya itu berusaha mencari celah. Ia menengok ke tempat dimana Sara terjatuh.
"Sial, tempatnya sangat tinggi. Semoga kau tidak apa-apa, Sayang."
Kekhawatiran nampak di matanya, mencoba menghubungi Alex untuk meminta bantuan, rupanya pria tampan itu tidak mengangkat telepon.
"Sialan kau Alex," umpatnya.
Ia menyesali dirinya yang telah menakuti istrinya dengan serigala, membuatnya mundur dan terjatuh.
Menyadari bahwa serigala yang bersamanya tadi tidak ada lagi, Max tersenyum. "Kau yang terbaik, Woles."
Begitulah hebatnya hewan yang sering hidup berkelompok itu. Dengan langkah lebar, Max kembali ke gua tempat serigala. Ia memberi perintah pada mereka.
"Temukan istriku sekarang!"
.
.
.
.
***
Love,
__ADS_1
Xie Lu♡