SOLEDAD

SOLEDAD
Serigala


__ADS_3

Jangan lupa like dan komen😊😘


.


.


.


***


"Hei, calm down. Dia sudah pergi."


Sara masih memejamkan matanya dalam dekapan Max. Ketakutannya pada hewan bergigi tajam itu berawal dari Peter yang memerangkapnya di dalam gua bersama mereka.


"Aku takut ...."


"Dia sudah pergi. Kau bisa bersenang-senang di sini."


Sara menggeleng. "Tidak, aku ingin pulang."


Ingin tertawa, tapi Max merasa kasihan pada istrinya. Perempuan itu memeluknya erat dan membenamkan kepala di dadanya.


Jika bukan karena keadaan berbahaya seperti ini, Sara tidak mungkin memeluknya. Berdekatan saja ia enggan kalau saja Max tidak memaksa.


Sebenarnya, serigala itu bukanlah hewan yang nakal. Namun, Max merasa beruntung karena kedatangannya. Ia bisa mengambil kesempatan untuk menggoda Sara.


"Dia tidak akan menyakitimu."


"Aku takut."


"Ok, baiklah. Peluklah aku sepuasmu karena nanti kau harus membayar lebih atas itu."


Merasa bahwa ada hawa-hawa menyeramkan dari tutur kata Max, ia bersiaga.


Saat mendongak, dia merinding ketakutan melihat senyuman penuh arti sang suami.


"A-apa maksudmu?"


"Tubuhku istimewa, ada harga jika kau ingin menyentuhnya. Karena kau istriku, maka harganya tidak terlalu mahal. Hanya dengan ...."


Max sengaja menggantung kalimatnya agar Sara menebak. Ia tersenyum puas melihat mata sang istri yang melotot sempurna.


"Kau mudah mengerti, Sayang. Cium aku!"


Sara gelagapan. Ketakutan pada Max kini melebihi ketakutannya pada hewan buas itu. Seringai iblis di bibir Max menggetarkan seluruh tubuhnya. Ia merosot lemah dengan menatap nanar sekitarnya.


Bagaimana mungkin pria itu dengan tidak tahu malunya mengambil kesempatan dari kedatangan serigala itu. Sara ingin sekali berlari menjauh, namun mengingat bahwa banyak serigala buas di hutan itu, ia mengurungkan niatnya.


"Cium aku! Apa kau sudah tidak bisa mendengar, Sayang?"


Dengan mata terpejam rapat dan tangan bergetar ketakutan, Sara mendekatkan bibirnya.


Pikirannya kosong. Ia tak lagi memikirkan hukaman dan harga dalam bentuk apa yang akan dibayar olehnya karena telah memeluk pria itu.Ia hanya mengikuti apa yang dikatakan Max dan terpaksa melakukan hal bodoh itu.


Meski keduanya telah berkali-kali melakukan itu, Max masih bisa merasakan tubuh istrinya menegang dengan napas yang tertahan. Max tersenyum dalam ciuman itu. Ada yang tidak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata.


"Apa kau sudah merasa tenang?" tanya Max setelah melepaskan pertautan bibir mereka.


Sara mengangguk.


"Caraku manjur untukmu. Selanjutnya, kalau kau masih takut serigala, ciumlah aku."


Astaga, aku ingin sekali memukul kepalanya agar otaknya yang bergeser itu kembali normal.


"Terima kasih tawarannya. Setelah ini, aku akan menggigit lehermu biar serigala itu datang dan memakanmu," geram Sara dengan tangan yang mengepal.


Seringai di bibir Max tambah lebar. Ia tersenyum jenaka.


"Kau menginginkannya? Astaga, aku tidak peka bahwa kau ingin mencium leherku, Sayang."


Sara terbelalak, dia terkejut oleh pernyataan konyol sang suami. Pria itu menyalahartikan perkataannya dan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


Kenapa aku harus mengatakan leher? Akh, Max sialan.

__ADS_1


Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi. Bingung menghadapi ketengilan Max yang sangat tidak tepat waktu.


Niatnya yang ingin melampiaskan kekesalannya pada Max malah menjadi kesialan baginya. Menepuk air di dulang terpercik muka sendiri, begitulah kira-kira pengandaian yang tepat untuk Sara.


"Max!?! Apa yang kau lakukan?!"


"Mengingatkanmu bahwa masih ada hukuman yang harus diselesaikan. Cepat, jangan melamun lagi!"


Max menunjuk bagian yang ia inginkan. Menyuruh Sara menyelesaikan bagiannya.


Karena ingin menyelesaikan perdebatannya dengan cepat, Sara melakukannya.


"Ulangi di bagian ini!" Max menunjuk lehernya.


"U-ulang?"


"Kau mendengarnya, Sayang."


Sara bangkit dari tempatnya duduk dan berusaha menghindar. Baru beberapa langkah ia berjalan, suara auman serigala membuatnya terhenti.


Melihat itu, Max menyeringai puas. Serigala itu tidak berada jauh dari mereka. Dengan keahliannya, ia berhasil membuat hewan itu mengerti dengan kodenya.


Setiap ia menggerakkan jarinya, serigala itu mendekat dan membuat Sara mundur perlahan.


"Max ...."


Pria itu menyeringai dari tempatnya, melihat bagaimana Sara akan memeluk dan meminta perlindungan darinya.


"Max ... aku takut .... Max!!!"


Sara histeris saat hewan kurus itu berjalan lebih cepat. Ia berlari dan menubruk dada Max yang sudah berdiri di belakangnya.


"Max, a-aku benar-benar takut ...."


***


Sara terus menangis, membiarkan air matanya membasahi pipi yang mulus itu. Ia marah karena Max berhasil mempermainkannya. Menakutinya dengan hewan buas itu sungguh membuatnya mati kutu.


"Aku membencimu, Max. Kau sungguh tak punya hati. Kau brengsekk!"


"Aku hanya bercanda, Sayang. Aku tidak menyangka kau benar-benar takut pada Blue."


Dengan sesegukan, Sara mengusap kasar air matanya. "Aku tidak akan keluar bersamamu lagi ke tempat seperti ini."


Max terkekeh, tak percaya perkataan perempuan yang sedang marah. Karena setelah amarahnya reda, maka keputusannyapun akan berbeda.


"Kau yakin?"


"Sangat."


"Benarkah? Padahal masih banyak hutan yang lebih bagus dari ini. Kau akan menyesal jika tidak mengunjunginya."


Sara tetap pada pendiriannya, ia menggeleng.


"Aku bisa sendiri tanpa pria tidak punya hati sepertimu."


Ia mengeratkan pelukannya pada Max. Lupa bahwa ia menangis karena pria itu. Kemudian menyeka air matanya dengan kemeja putih yang menjadi tempatnya bersandar.


Max membalas pelukan itu. Ia merasa geli, Sara menangis hanya karena serigala. Menurutnya, semua orang yang suka traveling tidak akan takut pada hewan-hewan yang sering dijumpai mereka di hutan.


Nyatanya, itu tidak berlaku pada Sara. Istrinya ketakutan bahkan menangis.


"Ada sesuatu yang membuatmu takut padanya?"


Tak ingin orang lain tahu, Sara menggeleng. "Aku tidak menyukai serigala."


"Bagaimana dengan hutan-hutan yang sering kau jelajahi? Bukankah ada banyak binatang buas di sana?"


Kembali menggeleng, Sara menarik tangannya yang melingkar di pinggang Max.


"Banyak, tapi tidak terlalu menyeramkan seperti hewan peliharaanmu itu."


"Blue yang terbaik, dia tidak akan menggigit tanpa kusuruh."

__ADS_1


Sara mendengus. Ia turun dari tempat itu menuju air terjun dengan Max yang mengikutinya.


Tanpa diketahui Sara, Max menggerakkan jarinya sehingga serigala itu mengikuti mereka dari belakang.


"Kau ingin mandi?" tanya Max melihat Sara duduk di atas batu seraya menjulurkan kakinya ke dalam air.


"Aku tidak membawa baju ganti."


"Alex bisa membawakannya untukmu."


"Tidak. Itu terlalu berlebihan. Ini sudah cukup membuatku tenang."


Sara memejamkan matanya merasakan aliran air terjun itu mengalir deras. Dinginnya air itu mengalirkan rasa nyaman baginya. Suasana seperti ini sudah lama tak dirasakannya sejak Peter mengurung dan tidak membiarkannya keluar.


Max sibuk dengan ponselnya, mengirimkan pesan pada seseorang. Ia penasaran alasan Sara ketakutan terhadap serigala.


Singa dan harimau bahkan lebih menyeramkan dari serigala. Dengan tubuhnya yang besar hewan itu tentu saja menakutkan bagi semua orang. Taring runcing yang dapat merobek mangsanya dalam sekali gigitan.


"Max? Ayo pulang!"


"Sekarang?"


"Ya, aku lapar."


Max mengangguk. "Kau harus berpamitan pada Blue terlebih dulu."


"Aku tidak mau!"


"Dia tidak akan menggigitmu, Sayang. Blue bisa menjadi teman yang baik."


***


"Lihatkan, dia jinak. Dia bisa menjadi partner untukmu."


Sara mengelus bulu Blue perlahan, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar-debar.


"Aku masih takut."


"Apa yang membuatmu seperti itu?"


"Seperti apa?"


"Kau mengerti maksudku, Sayang."


Sara terdiam, memikirkan apa ia akan bercerita pada Max. Tapi, meski ia tak menceritakannya sekalipun, pria itu akan mencari tahu.


"Kau pasti akan mengetahuinya."


"Tidak ingin terbuka, huh?"


"Aku tidak bisa meyakini seseorang untuk percaya padaku."


"Aku suamimu."


"Aku tidak menyangkal itu." Sara menghela napas, berhenti mengelus hewan itu. "Ayo pulang. Aku sangat lapar."


Mengikuti kemauan istrinya, Max keluar dari hutan. Mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, ia melirik Sara yang tertidur di kursi sampingnya.


"Kau pandai menutupi perasaanmu, Sara. Aku berjanji tidak akan membuatmu menangis lagi. Maaf untuk air mata yang tadi."


Satu notifikasi di ponsel mengalihkan pandangnya. Nama Alex tertera di sana.


"Secepat itu?"


Seringai iblisnya semakin menakutkan saat membaca isi pesan yang dikirimkan Alex. Wajahnya mengeras membayangkan bagaimana keadaan perempuan itu mengalami masa terburuk dalam hidupnya.


.


.


***


Love,

__ADS_1


Xie Lu♡


__ADS_2