
Vote yaš
.
.
.
***
"Sesuatu telah terjadi di sini, G."
"Sepertinya ada yang menyusup," ucap Gerald.
Alex menggeleng. Menurut pengamatannya tidak seperti itu. "Ada yang tidak beres. Panggilkan Adrian!"
"Baik."
Gerald pergi dari gerbang. Pemuda bermanik emerald itu masuk ke dalam dan mendapati banyak keributan di sana.
Gerald keluar setelah melihat semuanya. Dia panik dan menghampiri Alex. "Kak Alex?! Sesuatu yang luar biasa sedang terjadi di sini. Aku pikir kakak ipar tidak ada di rumah."
Pemuda itu menarik napas panjang dan kembali bercerita. "Adrian tertembak. Dan kau tahu siapa pelakunya?"
Alex mengernyit. "Siapa? Apa SeƱor pelakunya?"
Pemilik manik emerald itu menggeleng cepat. Senyum di bibirnya tercetak jelas. "Kakak ipar yang melakukannya. Dia keren sekali!"
Alex terkejut. "Apa jalaang itu beraksi?"
"Kau pandai menebak keadaan, Kak. Dia sekarang berada di bawah kak Max," cerita Gerald sambil terkekeh. Manik hijaunya terlihat sangat bahagia. "Aku pikir kakak ipar benar-benar pergi. Apa kita perlu mengejarnya dan membawanya pulang?"
"Perintahkan semua yang masih hidup untuk membawa SeƱora pulang dengan selamat tanpa ada luka sedikitpun. Dan kau, tetaplah di sini bersamaku. Bereskan semua kekacauan ini."
Alex datang dengan maksud lain dan ternyata bertemu dengan kejadian seperti ini. Dia memang khawatir dengan keberadaan Alana di mansion ini dan sekarang sudah terbukti.
Alex masuk ke dalam dan mata kelabunya menangkap sosok Max sedang bercumbu dengan wanita itu.
"SeƱor, kau melakukan kesalahan besar!"
Alex menarik Max dan melepaskan pertautannya dengan Alana.
Max yang masih dalam kendali obat bius itu menggeram tertahan. "Kau mengganggu aktifitasku, sialan. Lepaskan aku!"
"Tidak, SeƱor! Kau melakukan kesalahan besar. Istrimu tidak ada di rumah!"
"Istriku ada di sini, bajingann!" Max menunjuk Alana yang masih setia berbaring di sofa.
Alex tertawa tidak percaya. Ternyata Max sudah dibius dan tidak mengenali siapapun. Dan aroma lavender menyengat hidungnya.
"Kami sedang melakukan pemanasan, Alex. Jangan jadi pengganggu," sahut Alana menyipitkan matanya.
Alex menatap marah pada Alana yang sedang berbicara. "Kau tidak berhak bicara, jalanng!"
Wanita itu terkekeh. Dia bangkit dan duduk memeluk Max yang sedang diam memerhatikannya. "Ayolah, BebÄ, kita lanjutkan pemanasan kita."
"Sara ...."
Alana menegang. "Ya, aku di sini?"
"Istriku ada di sini, Alex. Jangan ganggu aku. Pergilah cari tahu siapa pria bernama Elijah itu, aku akan mengusir Alana setelah itu."
Alana terdiam kaku. Elijah? Oh, kau tidak akan mendapatkan apapun tentang Stephen, Max. Dan mengusirku? Kau yang akan aku tendang dari posisi ini!
"Wanita ini milik Elijah, SeƱor. Perhatikan baik-baik. Dia bukan istrimu!" Alex masih berusaha mengembalikan kesadaran Max.
"Diam kau, Alex! Dia Sara, istriku!"
"SeƱora pergi dari rumah ini, SeƱor! Dia pergi karena kau melepaskan tangannya!"
__ADS_1
"Brengsekk!" Max bangkit dari duduknya dan memukul Alex hingga sudut bibir pria itu berdarah. "Istriku tidak pergi, dia di sini!"
Alex tertawa sambil mengusap darah dari sudut bibirnya. Dia menarik Alana dari tempatnya dan mencengkram leher wanita itu dengan lengannya yang kekar.
"Dia Alana, SeƱor. Wanita yang pernah meninggalkanmu. Dia bukan istrimu!"
"Berhenti mengatakan hal yang tidak jelas, Alex. Dia Sara, istriku!" Max masih meracau, dalam pandangannya, Alana adalah Sara.
Karena merasa geram dengan Max yang masih berada dalam kendali obat bius itu, Alex melemparkan Alana ke lantai dan wanita itu tergeletak dengan lututnya membentur lantai dengan keras.
Kemudian dengan tenang, Alex mendekati Max. "Maafkan aku, SeƱor. Aku harus melakukan ini," ucap Alex. Dan dengan sekuat tenaga, Alex memberikan pukulan keras di rahang Max.
Yang mana membuat Max sangat marah. "Brengsekk! Apa kau sudah bosan hidup? Aku akan membunuhmu sekarang!"
Tidak membiarkan Max memiliki kesempatan untuk mendekatinya, Alex kembali memukul Max di tempat yang sama sampai pria bermanik biru itu terhuyung. "Sadarlah, SeƱor! Kau dibius!"
Sesaat Alex menyadari tangannya terasa sakit. "Sial, ternyata tanganku yang sakit," gumamnya kemudian.
Setelah mendapat pukulan itu, Max mulai tersadar. Dia melotot saat melihat Alana mengenakan lingerie, dan juga pakaian tipis itu sudah tercabik-cabik.
Dan warna merah di sekujur tubuh wanita itu membuat Max merinding.
"Apa yang telah terjadi, Alex? Kenapa rahangku sakit?" tanya Max yang merasa rahangnya seperti hendak pecah.
"Sialan, kau masih bertanya setelah menyebabkan keributan ini?" Alex menahan kesal karena kebingungan Max. Juga karena tangannya yang ikut sakit karena memukul Max dengan sangat keras.
"Wanita ini iblis yang menghancurkanmu, SeƱor. Dia Atlanta, wanita milik Stephen Cabrera. Dan Elijah itu adalah Stephen Cabrera, penguasa Napoli dan sekitarnya."
Alana yang merasa bahwa identitasnya sudah terbongkar, tertawa puas. Dia sudah berhasil mencerai-beraikan rumah tangga Max.
Max yang belum sepenuhnya pulih dari pengaruh obat itu menggeleng pelan. "Jadi dia milik Camora? Kenapa?"
Dan dengan kesal, Alex menjawab, "Karena kau orang bodoh yang gampang dimanipulasi, SeƱor."
***
Sara terus berlari. Meski kakinya gemetar karena melihat banyak mayat yang terkapar karena tembakannya, tapi tekadnya sudah bulat untuk pergi menjauh.
Tapi sekarang sudah terlambat. Namanya sudah terukir sebagai seorang pembunuh. Sara memerhatikan tangannya yang memegang pistol yang dirampasnya dari penjaga yang dibunuhnya itu, tangan yang juga dia gunakan tadi untuk membunuh.
"Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja. Tekadku bulat dan kalian tahu aku sangat keras kepala. Yesus, tolong ampuni dosaku," lirih Sara.
Sar menimang, harus dia apakan benda di tangannya itu. "Buang? Tidak, mereka masih mengejarku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, mungkin saja ini akan berguna nanti," gumamnya sambil menggenggam erat pistol itu.
Berbekal sinar rembulan malam yang hampir menghilang di ufuk Barat, Sara berlari ke arah yang jauh dari keramaian dan jalanan. Pikirnya tempat yang seperti itu tidak akan dilalui orang.
Memasuki tempat yang dipenuhi pohon yang rimbun, Sara berpikir itu adalah hutan besar. Tapi sepanjang kakinya melangkah, sinar bulan masih menembus tanah tempatnya berpijak. "Mungkin ini bukan hutan," pikirnya.
Tidak jauh dari tempatnya menghentikan langkah, Sara mendengar ada suara. Dan di pikirannya itu adalah orang-orang Adrian.
"Sial, Nyonya bilang dia berlari ke arah sini. Ke mana perginya wanita itu?"
Sara terkejut mendengar itu. Nyonya? Siapa yang dibicarakan mereka?
Karena rasa penasaran yang sangat tinggi, Sara bersembunyi untuk mendengar lebih lanjut pembicaraan mereka. Dan dia semakin terkejut saat nama Atlanta disebut.
Atlanta? Bukankah namanya Alana?
Belum sempat Sara keluar dari tempat persembunyiannya itu, ada sesuatu yang jatuh dari atas pohon tepat di kepalanya. Dan karena teriakan keterkejutannya, membuat orang-orang yang ada di sekitar itu mendekat.
Dan pada saat itu juga, Sara menyesali dirinya yang tidak mengganti piyama berwarna putih yang melekat di tubuhnya itu.
"Sial, warna ini sangat mencolok di malam hari," sungutnya. Karena tidak ada tempat yang bagus untuk bersembunyi, Sara berbaring di tanah dan menutupi dirinya dengan dedaunan yang mulai membusuk.
"Aku tidak menyangka akan berpetualang pada malam hari dan bertemu iblis gila," gumamnya.
Suara orang-orang itu semakin mendekat. Sara semakin takut dan mendekap tubuhnya dalam diam. Berharap orang-orang itu tidak menemukannya atau sekadar menginjaknya.
Dan kekhawatiran itu menjadi kenyataan saat seseorang menginjak kakinya.
__ADS_1
"Sial, dia sangat berat! Apa yang harus ku lakukan? Aku tidak boleh mati sekarang!"
Berusaha tidak bergerak, Sara tidak bisa mempertahankan posisinya saat orang itu terantuk dan jatuh menindihnya.
"Hei! Ada orang di sini!" teriak orang itu.
"Sial, aku harus bertempur lagi dengan mereka."
"Apa kau yakin dia masih hidup?!" teriak yang lainnya.
"Ya, dia bergerak!"
Sial, harus berakhir dengan sangat cepat. Sayang sekali.
Ketika bangun, seseorang menyorot matanya dengan senter dan itu membuat Sara tidak bisa melakukan apa-apa.
"Ternyata dia orang yang kita cari! Cepat tangkap dia! Tuan akan memberi kita upah yang besar kalau membawa dia hidup-hidup!"
Sara menyeringai. Sisi buasnya langsung bangkit saat seorang pria yang tadi menginjaknya mendekat dan menghalangi cahaya yang menyorot matanya. Dengan kaki panjangnya, Sara menendang selangkanngan pria itu.
"Mati kau, sialan! Bermimpilah terlebih dulu jika ingin membawaku!"
"Akkhhh, jalanng ini beraninya menendangku! Tangkap dia!"
Beberapa orang yang ternyata bertubuh kekar itu mendekat. Sesaat Sara ragu dengan kemampuan menembaknya. Namun, demi rencana pelariannya yang sudah setengah berhasil itu, Sara bertekad kuat.
Perempuan itu menunjukkan pistolnya.
"Oh, ternyata kau punya pistol."
"Kalau kau berani menyentuhku, maka nyawamu tidak akan berada di tubuhmu lagi!"
Rombongan yang terdiri dari tujuh pria berbadan kekar itu tertawa. Dan tawa itu sangat mengerikan di telinga Sara.
"Kita akan lihat, tujuh lawan satu siapa yang akan menang. Kau punya satu pistol dan kami memiliki segalanya. Kau tinggal pilih, datang ke sini dengan sukarela atau aku yang perlu memaksamu."
Pria yang diyakini Sara sebagai pemimpin itu bergerak maju. Di tangannya ada sebilah pisau dan satu pistol. Sara mundur selangkah, kakinya sudah gemetar. Tapi, hatinya tidak akan pernah menyerah. Dia akan membunuh lagi jika keadaan memaksa.
"Itu tidak akan terjadi! Aku akan membunuhmu, bajingann!"
"Oh, aku takut."
"Sialan, tetap di tempatmu!" Sara berteriak saat pria itu terus bergerak maju dan dia mundur perlahan.
"Kau tidak berani menembak? Oh ayolah, aku pikir kau superhero wanita saat melihat pistol itu, tapi ternyata kau hanyalah wanita biasa."
Sara yang merasa terintimidasi oleh pria itu terus mundur. "Tetap di tempatmu, sialan! Kalau tidak, aku akan benar-benar menembakmu!"
Tapi tidak, pria itu terus bergerak maju dan Sara nekad menarik pelatuknya lagi. Suara kaliber yang terlepas menggema di tempat sunyi itu.
Sara melotot terkejut karena tembakan di dada pria itu tidak memberikan reaksi apa-apa. Bahkan darahpun tidak ada. "Kau ...? Kenapa kau tidak berdarah?"
Pria itu terkekeh, dia mendekati Sara yang sudah mematung di tempatnya. "Kau tidak tahu apa-apa tentang pertahanan diri di area tempur, Wanita. Kau sudah kalah, ikutlah bersamaku!"
"Tidak! Aku tidak akan pernah ikut bersamamu!"
Sekarang Sara ingat, Deborah pernah memperingatkannya. Karena itu, Sara kembali menarik pelatuknya dan menembak kepala pria itu. Dan sekarang dia tersenyum puas. "Akhirnya kau mati!"
"Jalangg! Tangkap dia!" teriak salah satu dari mereka setelah melihat pemimpin mereka mati.
Tapi Sara tidak tinggal diam. Dia mencoba berlari jauh dengan terus mengarahkan pistol ke belakang dan berusaha menembak mereka. Hingga akhirnya pistol itu kehabisan amunisinya, Sara kelelahan dan terjatuh tanpa menghabisi mereka.
"Ada saatnya kau terjatuh, Nyonya Del MontaƱa."
.
.
.
__ADS_1
***