
Vote ya๐
.
.
.
***
"Sayang, kau tidak berbicara sejak tadi."
"Aku sedang sariawan."
Max terdiam, dia kehabisan kata-kata untuk membujuk istrinya agar berbicara lagi.
"Ayolah, kau tidak pandai berbohong. Kau tidak suka dengan keberadaan Alana 'kan?"
Sara menggeleng, dia tetap memunggungi Max.
"Lalu untuk apa kau diam? Bahkan tidak mau aku sentuh."
"Aku tidak mau tertular."
"Tertular apa? Aku tidak punya riwayat penyakit menular, Sayang."
"AIDS."
"What?" Max menarik Sara agar menghadap padanya.
"Apa maksudmu? Kau tahu aku tidak melakukan apapun padanya, Sayang. Aku punya alasan membawanya ke sini."
Sara diam menahan kesal, ingin sekali dia berbalik lagi memunggungi Max. Namun, tangan pria itu memegang pundaknya.
Dan tatapan mata biru yang memiliki banyak makna itu membuatnya terhenti.
"Katakan."
"Hn?"
"Alasannya. Dan juga jangan sentuh aku sebelum aku mengizinkan."
Sara menepis tangan yang ada di pundaknya dan memasang tampang datar. Berusaha tidak merasa terintimidasi sebelum mendapatkan jawaban, Sara coba menerapkan itu.
Tidak ingin Max mematahkan penghalang yang sudah dibuatnya. Dan juga tidak ingin jatuh lebih dalam lagi ke perangkap pria ini.
"Aku menggunakannya sebagi umpan."
Sara diam mendengarkan. Berusaha menelaah perkataan Max, tapi dia belum mengerti.
"Ada sesuatu yang terus menggangguku sejak hari di mana aku kehilangan Alana, dan mungkin itu berkaitan dengannya. Aku membawanya ke sini dengan alasan itu."
Sara mendengus tidak percaya. Max punya tipu muslihat dan Sara tidak ingin memercayai itu.
Mungkin saja alasan itu digunakannya untuk mendorong Sara ke jurang kematian karena amarah. Yang mana akan membuat Max dan mantan kekasihnya kembali bersama.
"Kau yakin hanya itu?"
"Percaya padaku, Sara. Dia hanya cerita masa lalu di hidupku. Aku tidak ingin kembali dalam kesalahan yang sama, karena pengkhianat yang bekerja padaku harus mati."
Kilatan aura yang menyeramkan dari bola mata biru itu membuat Sara sedikit berdebar ketakutan. Dia menilai ada yang tidak bagus dari sana.
"Berikan aku alasan untuk bisa percaya padamu."
"Karena aku suamimu."
"Hanya itu?"
Max mengernyit. "Apa lagi yang kau pikirkan? Aku suamimu dan kau berhak percaya padaku."
Sara menipiskan bibirnya. "Apa aku juga punya hak untuk mengikat perasaanku pada hatimu?"
"Kau bercanda? Sara, jangan buat aku jantungan."
"Tentu saja tidak bercanda, aku tidak pandai berbohong dan kau tahu itu. Apalagi yang harus aku tutupi dari ini? Kau bilang kau suamiku dan harus percaya padamu, apa aku juga tidak punya hak sebagai istrimu?"
Max menegang di tempatnya, dia tidak menyangka Sara akan membalikkan kesempatan sampai membuatnya tidak bisa berkata-kata.
"Kenapa? Kau keberatan?"
Sara maju agar lebih menempel pada Max dan mengalungkan tangannya di leher Max.
"Aku juga harus punya hak untuk menyentuhmu seperti ini. Kau suamiku dan aku harus percaya padamu, bukan?"
Max terdiam tidak berdaya, mengapa Sara yang selalu tidak ingin disentuh berinisiatif mendekatkan diri padanya?
"Pasti ada yang tidak beres, ya, pasti ada sesuatu," gumam Max.
"Apa yang kau pikirkan, Max? Kau harus memberiku kesempatan untuk bisa membuktikan kalau kau pantas dipercaya," bisik Sara kemudian yang menambah ketegangan suasana di kamar itu.
"Apa yang kau inginkan? Kenapa kau tiba-tiba berubah?"
Sara tertawa. "Kau mengingau? Kau yang berubah terlebih dahulu, Max. Balikan dengan mantan tanpa memberitahu istri sah dan membawa kembali wanita itu untuk bertemu aku. Aku hanya sedang menjauhkan suamiku dari dosa."
__ADS_1
Max menelan ludah kasar, dia masih berpikiran ada yang tidak beres dengan istrinya.
"Kau serius dengan perkataanmu?"
Sara menaikkan alisnya menggoda. "Yang mana?"
"Tentang perasaanmu."
"Aku serius. Kau tidak percaya padaku? Huh, kau tidak pantas dipercaya."
Sara melepaskan tangannya dan hendak menjauhkan diri, tapi Max menahan pinggangnya.
"Aku hanya meragukan diriku sendiri."
"Maksudnya?"
Max menghembuskan napasnya pelan, dia menarik Sara dalam dekapannya.
"Aku pikir, aku tidak bisa percaya pada pendengaranku. Sepertinya aku sedang berhalusinasi."
Sara terkekeh, dia berusaha melepaskan diri dari dekapan yang membuatnya sesak napas itu.
"Apa kau juga akan meragukan pendengaranmu kalau aku bilang aku mencintaimu?"
Max terkejut, dia melepaskan pelukannya dan mendorong Sara mundur untuk melihat ekspresi istrinya.
"Hei, jangan buat aku bingung, Sara. Apa yang terjadi padamu hari ini? Tadi kau mendiamiku dan ... sekarang? Kau mengatakan sesuatu yang aneh."
Sara menyeringai. "Kau pikir apa? Aku hanya mengatakan apa yang ada di hatiku, karena aku tidak suka berbagi milikku dengan orang lain."
"Sara?"
"Jangan berbicara dulu, aku tidak mengatakan sesuatu yang aneh karena aku sedang sadar. Aku percaya padamu dan aku juga memercayai perasaanku padamu. Kau keberatan?"
Max belum bisa mengatakan apa-apa karena pikirannya masih kosong sekarang. Dia bahkan tidak sadar saat Sara mencium bibirnya.
"Kau tidak menjawab, aku akan menganggapnya sebagai jawaban 'ya'."
Sara bingung melihat Max yang sedang mematung. Dia melambaikan tangannya di wajah Max tapi tidak ada reaksi dari pria itu.
"Max? Hei! Max? Apa kau menjadi patung? Hei!"
"Kau melakukan ini karena cemburu?"
Sara mencebik kesal. Dia mendorong Max dari hadapannya dan menjauh.
"Kau masih mencintai Alana?"
"Sayang ..., kau tahu maksudku."
"Sayang, bukan itu maksudku. Aku percaya padamu, tapi apa kau yakin ingin hidup bersamaku? Aku bukan pria yang baik."
Sara terkekeh, dia berbalik dan menjatuhkan dirinya di ranjang. "Kau akan jadi pria baik saat menepati janjimu. Umpan 'kan? Berikan aku bukti."
***
Sambil menunggu Max mandi sebelum turun untuk menemani suaminya makan, Sara mengirimi sebuah pesan untuk seseorang.
'Max mencurigai ada yang aneh, Mommy.'
Tidak lama kemudian, sebuah balasan muncul.
'Jangan biarkan dia tahu itu, lakukan saja sesuai perintahku.'
Sara cepat-cepat menuliskan balasan.
'Apa yang harus kita lakukan kalau dia tahu Mommy yang mengajariku?'
'Hei, bodoh! Palingan dia akan mengurangi uang bulanan untukku, tidak perlu khawatir.'
Sara tetap tidak tenang. Dia tidak pandai bermanis-manis karena itu bukan dirinya. Apalagi sekarang berhadapan dengan seorang yang dari masa lalu Max.
'Aku khawatir akan gagal sebelum waktunya, Mommy.'
'Maka kau akan kalah. Dan akan tetap menjadi wanita bodoh seumur hidupmu.'
'Ayolah, Mommy. Aku sangat gemetar saat dia curiga tadi. Dia pasti akan membunuhku kalau dia tahu.'
'Yang terpenting, jangan kehilangan nyawa dari permainan ini. Kau mengatakan sesuatu tadi?'
'Aku bilang aku mencintainya.'
'Bagus! Apa reaksinya?'
Sara mencebik kesal. Hanya itu yang ditanya Deborah, tidak bertanya bagaimana kalang kabut dirinya saat mengatakan itu.
'Dia bengong, Mommy. Dan bilang aku bercanda.'
'Hasil akhir?'
"Apa maksudnya ini?" ucap Sara kesal. Dia kadang tidak mengerti saat berbicara dengan Deborah. Ucapan wanita paruh baya itu sering singkat dan penuh banyak arti.
'Belajar percaya' tulis Sara singkat, yang membuatnya terkekeh karena mengikuti gaya ucapan Deborah.
__ADS_1
"Kau sedang apa?"
Sara terkejut sampai dia melemparkan ponselnya asal. "Kau mengejutkanku, Sayang."
Max yang berdiri di samping ranjang itu menegang. Dia baru mendengar panggilan itu dari mulut Sara tanpa paksaan. Dan itu menurutnya sebuah kemajuan dari hubungan mereka.
"Kenapa kau tertawa? Kau sedang selingkuh ya?"
"Ck, kau pandai memfitnah. Aku sedang mengirim pesan pada Claire."
"Kau yakin? Matamu berbohong."
Sara terkekeh, dia bangkit dari ranjang dan menghampiri Max. "Aku tidak mungkin berbohong, Sayang. Ayo, aku akan mengambilkan baju untukmu."
Max hanya terdiam saat Sara menarik tangannya. Apalagi ketika Sara mencoba beberapa kaos yang membuatnya tambah bingung.
"Kau tampan dengan warna biru ini, Sayang."
"Tidak, itu terlalu mencolok. Lebih baik warna hitam."
Sara menilik lagi, dia kembali melempar kaos itu karena menurutnya tidak cocok.
"Itu terlalu gelap, ketampananmu tertutupi. Mungkin warna merah."
Saat mencoba, Sara menggeleng. "Ini menyilaukan mata. Tidak bagus."
"Coba yang ini." Sara mengambil lagi salah satu kaos. "Wow, ini lebih bagus. Kau seperti malaikat. Warna putih cocok untukmu, Sayang."
Sara mencium pipi Max setelah dia keluar dari sana dan menunggu Max memakai kaosnya dalam diam.
Berada satu ruangan dengan Max dan bersandiwara seperti it membuat Sara sesak napas. "Ini gila," gumamnya.
"Apa yang gila?"
"Sayang?!" Sara terkejut saat Max tiba-tiba sudah ada di belakangnya. "Kau sudah selesai? Ayo turun."
Namun, Max menahan tangannya. "Apa yang terjadi padamu hari ini? Kau terlihat aneh."
"Suami-istri sudah seharusnya begini 'kan? Aku merindukanmu yang sudah lama pergi dan ingin bermanja-manja denganmu."
Max menggeleng, dia masih tidak percaya. "Katakan sesuatu, kau pasti sedang bermain petak umpet denganku."
Sara memutar bola mata malas. Yang main siapa yang tidak sadar siapa.
"Aku tidak suka bersembunyi, badanku besar. Kau bisa melihat itu."
"Sayang, kau tidak seperti biasanya."
"Aku cemburu. Puas?!"
.
Claire
Alana
Yang akan datang!!! Tebak, kira-kira siapa mereka?
A. Au ah... pasti pemeran antagonis lagi, tuh liat, mukanya aja serem. (Eh, bang Max juga mukanya seram loh)
B. Uwuwu, pasti orang baik๐ pria bertato gitu selera aku๐๐๐๐
Cek jawaban di bab-bab selanjutnya!!!
Unname๐๐
Unname๐๐
.
.
***
Yang minta crazy up, monmaap ya๐. Aku belum bisa berikan apa yang kalian mau. Aku nulis cerita ini tanpa outline alias ngarang bebas. Jadi, kalo aku belum update berarti belum sempat ngehalu๐. Mohon sabar menunggu, hehehe....
Dan mengenai ending? Jangan khawatir, kalian tidak akan menemukan ending yang bikin nyesek di lapak aku karena aku penyuka happy ending. Masa aku capek-capek nulis trus endingnya mereka harus berpisah atau mati? Gila aja... Gak ah!
Aku selalu tunggu komentar terbaik kalian yang menjadi moodboster di saat kritis ide!!!
Jujur aja, aku hampir menghentikan cerita ini karena merasa tidak bagus. Tapi ketika membaca komentar kalian, aku gemas๐ ๐ ๐ . Jadi, komentar yang banyak yaaa....
Aku menunggu kalian di kolom komentar!!!
Maaf kalo jarang bales๐ tapi aku baca kok.
__ADS_1
Yo te quiero!!!๐