SOLEDAD

SOLEDAD
Bad News


__ADS_3

Happy reading!


.


.


.


***


Sara duduk merenung, memegang perutnya yang tiba-tiba terasa sakit. Larangan Max membuatnya tidak bisa pergi ke mana-mana lagi.


Semalam Sara meminta izin pada sang suami, berharap lelaki itu mengizinkannya untuk menjadi pemandu wisata. Sara ingin merubah kebiasaan yang dulu semena-mena dan tidak pernah izin untuk melakukan sesuatu, tapi hal pertama yang diinginkannya ditolak.


Sedih iya, tapi mau bagaimana lagi. Nadia pernah menasehatinya, untuk bisa mendapatkan kepercayaan orang lain, harus dimulai dari diri sendiri.


Sara mulai menerapkan itu meski rasanya tidak menyenangkan. Ada rasa kesal, bercampur dengan kemarahan.


Berulang kali Sara menghembuskan napas kasar untuk mengeluarkan amarahnya juga meredakan sakit perut yang tiba-tiba bertambah.


"Sialan, sudah waktunya," rintih Sara menahan sakit.


Tangannya terus menekan perut, berpikir mungkin dengan begitu rasa sakit sedikit berkurang. Namun, rasa sakit itu terus bertambah seiring berjalannya jarum jam di dinding.


Tidak tahan dengan itu, Sara membaringkan dirinya di ranjang. Berguling-guling dan mengganjal perutnya dengan guling.


Setiap saat jika tiba waktu periodenya, Sara selalu merasakan sakit perut. Nyeri haid lebih sakit daripada malam pertamanya. Sara membandingkan itu.


Tidak ada siapa-siapa di dekat sana karena Sara melarang mereka mendekati kamar. Waktu sudah berlalu sangat lama, bahkan seprei tempat tidur sudah basah oleh peluhnya.


Sara tidak bisa melakukan apapun, menelpon Max pasti akan mengganggu pekerjaan lelaki itu. Berbaring di tempat tidur juga tidak mungkin, karenanya dengan tertatih-tatih Sara berusaha menggapai gagang pintu.


Kebetulan pada saat yang sama, gadis belia yang dia kenal melewati tangga.


"Do ... Dove ...," lirih Sara. Melambai tangannya agar gadis itu melihat.


Untung Dove memerhatikan sekeliling, Sara menghembuskan napas lega. Saat Dove sudah berada di depannya, Sara langsung memegang tangan gadis itu.


"Tolong belikan aku beberapa pembalut ...," ucapnya lirih.


"Baik, Señora."


Sebelum Dove menjauh, Sara kembali meminta tolong. "Tolong suruh seseorang membuatkan minuman jahe hangat untukku."


Bibirnya menghembuskan napas lega. Sara kembali ke ranjang, menggulingkan tubuhnya di sana. Menutup matanya erat-erat kala rasa sakit itu kembali merenggut kesadaran.


***


Semakin berputar jarum jam, sakit perut Sara kini mulai mereda berkat minuman jahe yang dibuat Dove.


Disaat matanya mulai tertutup karena kelelahan, telapak tangan hangat menyentuh kulit perutnya. Sara membuka matanya lagi.


"Max ...," ucapnya lemah.


"Sssttt!"


Isyarat agar tidak berbicara itu membungkam mulut Sara. Dia membiarkan Max mengelus perutnya.


Hangat dan nyaman. Sara merasakan itu. Dengan sebuah lantunan pengantar tidur yang dibisikkan Max, mata cokelatnya kini tertutup rapat.


Sara terlelap setelah berkutat dengan sakit perut yang menguras tenaga itu.


Max menghembuskan napas lega. Dia pulang buru-buru setelah mendapat kabar dari Adrian bahwa istrinya mengalami sakit perut.


Tanpa memedulikan rapat penting yang sedang berlangsung, dia membawa mobilnya agar sampai di mansion.


Dan benar saja, wanitanya terkulai lemas di ranjang. Mata birunya menatap redup pada punggung Sara yang sedang memunggungi.


Sesekali dia mengecup punggung sang istri. Berbekal penjelasan dari internet, Max bangkit dan pergi ke dapur untuk menyiapkan air panas.

__ADS_1


Dia menuangkan air panas itu ke dalam botol kaca lalu menutupi seluruh permukaan botol itu dengan kain tebal. Rasanya hangat tatkala Max merasai temperatur air.


Kembali ke kamar di mana sang istri yang masih terlelap, Max menempelkan botol yang dialasi kain itu di perut Sara.


"Semoga cepat sembuh, Sayang," ucapnya dan mengecup kening Sara.


Max membuka kemeja yang sedari tadi menutupi ototnya, pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. Lalu kembali memeluk istrinya yang masih saja tertidur pulas.


Matahari sudah bersembunyi di balik awan senja, menyisakan gelap yang mulai menelan bumi. Max menyentuh kening istrinya yang sejak tadi tidak terjaga.


Panas. Dan itu membuat Max khawatir. Sara gelisah dalam tidurnya, kening wanita itu berkerut. Menandakan dia tidak nyaman dalam tidurnya.


Rasa cemas berlebihan terhadap istrinya membuat Max segera menelpon Emma. Max bangkit dari ranjang dan memanggil seorang wanita paruh baya yang bertugas sebagai kepala pelayan wanita.


"Apa kau pernah mengalami nyeri haid, Lynn?"


Wanita paruh baya itu mengangguk. "Ada sebagian wanita yang merasakan nyeri sampai tubuhnya demam, Señor. Apa Señora mengalaminya?"


"Kau mengerti rupanya. Apa yang harus aku lakukan?"


Lynn tersenyum tipis, Tuannya ternyata menutupi rasa malu demi sang istri. "Saya sarankan untuk menemui dokter spesialis kandungan, Señor. Mungkin ada yang salah dengan rahim Señora."


Max mengepal tangannya, tidak suka dengan pernyataan itu. Meski besar persentase adanya gangguan dalam tubuh Sara, Max menolak untuk menerima kenyataan. Bagaimanapun juga mereka baru saja berhubungan.


"Baiklah, terima kasih."


Max berbalik ke kamar. Sara masih bergelut di bawah selimut dan sesekali bibirnya meringis.


Mengingat perkataan Lynn, Max langsung menggendong Sara turun ke bawah dan membawanya ke rumah sakit.


***


Max menyingkapkan gorden putih di ruangan elit itu, membiarkan udara memasuki kamar yang ditempati sang istri setelah menaruh bungkusan makanan yang baru dibelinya di atas meja.


Dering ponsel menghentikan gerakannya. Setelah memastikan siapa pemanggil, Max membuka kaca ruangan yang didominasi warna putih itu.


"Beberapa anak buah Thompson tertangkap saat memeras beberapa pengemis di jalanan sekitar daerah kita, Señor. Aku khawatir dia akan langsung menyerang."


Max mengernyitkan keningnya. "Apa akhirnya militer sudah mulai menjalankan tugasnya?"


"Tuan Ziegler melakukannya, Señor."


Max tersenyum samar. "Aku tidak sia-sia bersusah payah memasukkannya ke jajaran militer terkuat. Bagaimana dengan lelaki tua itu?"


"Kabarnya masih samar-samar, Señor. Kemungkinan besar dia sudah menyeret kaki palsunya ke sini."


Terbit seringai iblis di bibir Max bersamaan dengan manik birunya mengilat tajam. "Berita bagus. Biarkan dia memasuki area terlarang kita."


Max berbalik memerhatikan sang istri yang sudah terlihat damai dalam lelapnya. Tidak ada lagi kerutan gelisah di keningnya membuat Max menghembuskan napas lega.


Hanya saja hati Max terasa gelisah. Perkataan Dokter spesialis tadi membuat pikirannya terganggu.


"Saya sarankan pasien memiliki pola hidup sehat dan olahraga yang teratur. Jangan biarkan istri Anda melakukan pekerjaan yang berat, Señor. Saya khawatir kandungannya akan bermasalah jika berhadapan dengan hal itu. Dan tentu saja berkemungkinan pasien sulit hamil."


Dia mendekati istrinya, berulang kali mengecup kening Sara dengan lembut.


"Tidak apa-apa, Sayang. Aku mencintaimu, apapun yang terjadi. Aku tahu semuanya kehendak Tuhan, tapi Dia juga pasti akan memberikan jalan terbaik untuk keluarga kita."


Max mengambil tangan Sara dan mengecupnya. Saat itu pula sepasang manik cokelat terbuka.


"Max," ucap Sara.


Matanya menjelajahi ruangan yang asing, serba putih dengan gorden yang tersingkap hingga Sara bisa melihat bintang di angkasa.


"Rumah sakit?" tebaknya tepat sasaran setelah memastikan aroma yang familiar.


Max mengangguk. "Kau kekurangan cairan. Belum makan siang?"


Sara tersenyum tipis. Mengangguk mengiyakan, karena sejak siang dia tidak menyentuh makanan sedikitpun.

__ADS_1


"Aku baru saja membeli makanan. Kau harus makan, besok pagi baru kita pulang."


"Terima kasih," ujar Sara dan bangun.


Tersadar bahwa dirinya mengalami masa periode yang menyakitkan, Sara melirik Max yang masih terpaku pada wajahnya.


"Bagaimana kau tahu aku sakit?"


"Adrian menelponku. Kenapa kau tidak mengabari?"


Sara menggeleng. "Aku tahu kau sibuk. Dan juga aku bisa menahan sakit."


Max memutar bola mata malas. Tahan sakit sampai demam, begitukah maksud istrinya?


"Makanlah terlebih dahulu. Setelah itu aku akan menghukummu."


Sara memgerucut. Dengan menutupi tubuhnya, Sara turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.


Kepalanya menggeleng mendapati kamar rawatnya layak sebuah hotel. Kamar mandi yang mewah dan elegan. Sara berpikir mungkin ini aset Max yang belum dia tahu.


Saat ingin mengganti pembalut, Sara baru sadar tidak memiliki benda kecil itu selain di rumah yang dibeli Dove siang tadi.


Belum sempat dia berteriak, matanya terpaku pada sebuah bungkusan kecil di atas wastafel. Dan dia terbelalak mendapati sebungkus pembalut.


Sejurus kemudian, Sara tergelak. Mungkin Max yang membelinya.


Setelah mengganti pakaian dengan baju yang disiapkan di kamar mandi entah oleh siapa, Sara keluar dan memergoki Max sedang serius berbicara dengan seseorang dan tidak mengetahui kehadirannya.


"Mom, dokter mengatakannya sendiri. Apa yang harus aku lakukan? Sara pasti sedih jika dia mengetahuinya."


Sara bisa mendengar nada cemas bercampur frustasi. Dia juga penasaran dengan isi pembicaraan yang membuat Max seperti itu.


"Aku mengerti, Mom. Aku akan mencari dokter terbaik untuk melakukan terapi. Aku tidak ingin istriku bersedih karena perkataan dokter sialan itu. Sara pasti akan hamil."


Sara menegang. Ini menyakitkan. Ternyata kabar itu sudah didengar Max.


Meski Sara terlihat biasa saja saat Max membicarakan tentang anak, tapi dalam hati dia mengutuk dirinya sendiri yang memiliki hobi ekstrim.


Sara sudah pernah berkonsultasi dengan dokter, dan kabar buruk inilah yang didapatnya. Saran untuk melakukan terapi tidak diindahkan Sara karena hobinya lebih penting.


Waktu itu Sara tidak memikirkan akan mengalami hal seperti ini. Asalkan tubuhnya baik-baik saja, itu sudah cukup.


Namun, sejak Max membicarakan tentang membangun keluarga bahagia dengan beberapa anak yang menemani, saat itulah Sara mengerti artinya menjaga kesehatan.


Sara membawa langkahnya dan memeluk Max dari belakang.


"Apa kau sangat menginginkan anak, Max?"


Sara merutuki mulutnya yang tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan seperti itu. Tentu saja setiap orang yang sudah menikah menginginkan anak untuk melengkapi kebahagiaan.


"Maaf ...," lirihnya.


Max berbalik dan balik memeluknya. "Bodoh, kau mencuri dengar, huh?"


Lelaki itu juga mengelus rambutnya dengan sayang dan itu membuat ulu hati Sara sakit.


"Tidak apa-apa, Sayang. Ada kau dan aku, itu sudah lebih dari cukup. Memilikimu sudah membuatku sangat bahagia. Aku tidak akan sanggup berbagi dirimu dengan makhluk kecil."


Sara tahu itu hanya kalimat penghiburan. Karena dia paham bagaimana rasanya penantian yang tidak berujung.


"Lagipula hanya 'sulit', bukan tidak akan, 'kan?"


.


.


.


***

__ADS_1


__ADS_2