SOLEDAD

SOLEDAD
Persiapan


__ADS_3

Vote ya😘


.


.


.


***


Akan ada saatnya kau menertawakan hari-harimu yang pernah meratapi kepergian dia. Dan percayalah, pada saat itu juga hatimu telah sembuh.


Maxwell Del MontaƱa


Seorang pria bermanik biru sedang bersimpuh di lantai kamarnya. Tampak kesedihan mendalam dari sorot matanya. Tangan kanannya meremas selembar kertas putih yang bercoretkan tinta hitam sementara di tangan kirinya dia menatap malang pada sebuah benda yang berkilauan.


Senyum sinis tercetak di bibir, ternyata sang istri sudah meninggalkannya. Perempuan itu pergi dengan meninggalkan sebuah surat yang bertuliskan I'm saying goodbye.


Sakit? Tentu saja Max merasakannya. Dia menyesali dirinya yang tidak menjaga sang istri dengan baik. Dan perkataan Sara di surat itu mencabik-cabik hatinya.


"Maaf, aku akan tetap egois, Sayang. Kau tidak akan bisa lari dariku selamanya. Kita sudah berjanji di hadapan Tuhan," gumamnya sambil menyeringai.


Dia meremas kertas itu dengan penuh emosi dan membuangnya asal. Mata birunya meredup, mengingat kembali kejadian yang menyesatkan hatinya.


"Aku tidak tahu permainan apa yang sedang kau permainkan, Atlanta, tapi saat ini kau tidak bisa lari dari genggamanku."


Max bangkit dari duduknya, keluar dari kamar dan mendapati Alex sedang menunggunya di sana.


"Jangan berikan akses jaringan untuk wanita itu. Aku ingin tahu langkah apa lagi yang akan dia lakukan untuk menggodaku."


Alex mengangguk. "Baik, SeƱor. Dan, maaf."


Max mengernyit. "Maaf untuk apa?"


"Aku tadi memukulmu terlalu keras, SeƱor."


Max menyeringai, dan dalam hati dia membenarkan perbuatan Alex. "Maka kau harus membayarnya dengan nyawamu, Alexander."


"Akan aku lakukan, SeƱor."


"Di mana Si Gila itu? Kenapa dia tidak bersamamu?"


"Kau mengetahui apa yang dilakukannya di sini, SeƱor."


Pemilik manik biru itu menatap Alex dengan tajam. "Panggilkan dia. Jangan biarkan dia bersenang-senang dulu. Aku punya tugas untuknya."


"Baik, SeƱor."


Alex berbalik dan pergi dari sana. "Dan juga, kirim gadis itu untuk merawat Adrian di rumah sakit. Aku tidak ingin Gerald mengambil keuntungan darinya."


Alex terkekeh, dia tahu apa yang dikhawatirkan Max. "Dove tidak segampang itu dibujuk, SeƱor."


"Sialan, kau tidak tahu apa-apa tentang rasa suka. Iblis akan menguasai mereka."


Setelah Alex berlalu dari sana, Max pergi ke sebuah tempat di sisi lain dari mansion itu. Tempat tersembunyi yang dipenuhi lumut dan kotoran.


Di balik dinding yang berlumut, Max menghentikan langkahnya. Dia menatap tajam pada pintu yang terhubung ke dalam. Saat dirinya masuk ke sana, suara gelak tawa yang kencang menyambutnya.

__ADS_1


"Oh, pemimpin serigala, akhirnya kau datang. Lepaskan aku dari sini, aku tidak tahu keberadaan istrimu."


Max menatap wanita itu dalam kegelapan, hanya secercah cahaya dari pintu yang terbuka yang menjadi penerangnya. Dia memerhatikan penampilan wanita yang pernah mengisi hatinya di masa lalu itu.


Berantakan dan tak terurus. Ditambah dengan rantai di tangan dan kakinya, Alana terlihat seperti hewan di tempat pembantaian.


Tempat itu tidak terurus, banyak kutu dan jamur yang menempel di dinding dan lantai. Dan gelap mendominasi karena Max tidak pernah mengizinkan siapapun memasang lampu di sana.


Karena itu, Max terkekeh. "Kau cocok dengan penampilan dan tempat yang seperti ini, Atlanta. Oh, atau aku harus memanggilmu Nyonya Cabrera?"


Alana terkekeh. "Kau sudah melupakan panggilanmu untukku, Bebē? Aku tahu kau mencintaiku bahkan membiarkan istrimu pergi demi mempertahankan hubungan kita. Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Bebē."


"Huh, aku tiba-tiba sudah melupakan itu. Dan bebē?" Max terkekeh kencang dan mendekati Alana yang bersimpuh dengan rantai di kaki dan tangannya yang diikat kencang.


"Panggilan menjijikkan! Sama menjijikkannya dengan dirimu!" ucap Max sambil mencengkram kuat dagu Alana dengan dua jarinya.


"Kau mencintaiku, Max. Tidak ada yang berubah dari itu."


"Tidak, aku tidak pernah merasa telah mencintai seorang jalangg yang membuka kakinya untuk lelaki lain."


"Kau mencintaiku, Max. Itu faktanya!" Alana tertawa kencang sampai rantai di tangannya bergemerincing. Dia menatap Max dengan tatapan polos seperti yang dilakukannya pada awal pertemuan dengan Max.


Karena itu, Max justru merasa jijik. Dia menghempaskan tubuh Alana di tanah yang lembab dan berjamur itu.


"Aku menyesali hari-hariku yang menangisi seorang jalanng murahan sepertimu," ucap Max dan berlalu dari sana.


"Max, lepaskan aku! Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Max! Kau mencintaiku!"


Pria itu menulikan telinganya dari teriakan Alana. Max tidak tertarik lagi. Di pikirannya hanya ada sang istri.


"Maaf, SeƱor. Mereka kehilangan jejak SeƱora di tepi danau. Dan ponselnya juga tidak aktif."


Max menghembuskan napas kasar. Ke mana perginya kucing liar itu?


"Perbanyak orang untuk mencarinya di seluruh pelosok negara ini. Temukan sebelum fajar menyingsing!"


"Baik, SeƱor."


Max melemparkan ponselnya di ranjang. "Aku akan menemukanmu di manapun kau pergi, Sayang. Aku masih perlu menghukummu karena kau melepaskan cincin kita."


Max kembali memerhatikan cincin itu. Cincin berlian yang sudah didoakan dalam nama Tuhan untuk mempersatukan mereka.


***


"Kau harus menemukan menantuku secepatnya, Anak Nakal! Ini salahmu yang membiarkan pagar rumahmu terbuka sehingga anjing hutan itu masuk."


Deborah memukul kepala Max yang duduk di sebelahnya.


"Ayolah, Mom. Kau tahu aku dibius dan dijebak."


"Jalaang itu tahu kalau kau orang yang bodoh!" teriak Deborah tepat di telinga Max.


"Astaga, Mom, kau membuatku tuli."


Sekali lagi Max mendapat pukulan keras di pundaknya. "Anak bodoh! Aku tidak tahu kau mirip siapa! Suamiku tidak pernah sebodoh itu dan membiarkan istrinya pergi pada malam hari."


Mendapat kabar dari Gerald bahwa Sara pergi dari rumah, Deborah memarahi Iglesias pada malam itu juga. Memohon untuk menemukan Sara secepatnya dan ingin datang ke mansion saat itu juga untuk mencabik-cabik Alana.

__ADS_1


"Maafkan aku, Mom. Aku akan menemukan istriku secepatnya," lirih Max saat tatapan tajam Deborah mengganggunya.


"Aku pikir dengan berpura-pura kuat, Sara akan bisa menghadapi jalaang itu. Tapi kau masuk ke dalam tangkapannya. Sungguh memalukan sebagai seorang pria."


Max menangkap ada makna dari kalimat itu. "Mom, apa maksudmu?"


"Aku yang memaksa Sara untuk mengungkapkan isi hatinya padamu karena dia malu. Dan kau menyia-nyiakan kesempatan itu, aku menyesal telah memercayaimu, Max."


Max kini tahu alasan Sara berubah menjadi orang lain pada saat dia pulang dari Valencia. Ternyata dalangnya adalah Deborah.


"Mom, kau melakukan kesalahan! Aku pikir dia berpura-pura. Harusnya kau mengatakan itu padaku, Mom."


"Apa yang berpura-pura?! Dan apa?! Aku melakukan kesalahan?! Huh, dasar bajingaan tidak tahu malu! Kau seharusnya malu karena tidak bisa menjaga wanita yang kau cintai!" teriak Deborah dan memukul Max bertubi-tubi dengan tas mahalnya.


"Atau sekarang kau menyangkal kalau kau tidak mencintai Sara? Dasar pengecut! Aku tidak pernah melahirkan anak yang menjadi pecundang menyedihkan."


Max terdiam. Dia menatap Deborah yang berteriak marah padanya.


"Kenapa kau melihatku seperti itu, bajingaan?"


"Mom, bagaimana kau tahu kalau aku mencintai Sara?"


Tepat pada saat itu, Iglesias menghampiri. Dia duduk di samping Deborah dan hendak memeluk sang istri. Tapi Deborah lebih dulu menepis tangannya dan berlalu dari sana.


"Ajari anakmu dengan baik. Keluarkan dulu iblis yang merasukinya itu sebelum menyentuhku!"


Sebelum benar-benar pergi, Deborah kembali berbalik. "Bawa Sara pulang secepatnya. Kalau tidak, jangan berharap Alara akan memaafkanmu."


Max menghela napas kasar, dia menatap sang ayah yang nampak kusut di sampingnya.


"Dad, kau baik-baik saja?"


"Maafkan aku, Max. Anak buahku tidak berhasil mengehentikan mereka. Tapi mereka berhasil menanam pelacak di tubuhnya."


"Bagaimana bisa?"


"Dengan jarum yang ditembak dari jarak dekat."


Iglesias memberikan tablet dan Max terkejut melihat posisi Sara sekarang.


"Dad, apa kau yakin?"


Lelaki paruh baya itu mengangguk. "Mungkin ini bagian dari masa lalu kalian yang belum terselesaikan," ucap Iglesias. "Bawa pulang menantuku. Aku hanya akan memantaumu dari sini."


Max mengangguk. "Terima kasih, Dad."


Kemudian Max memanggil Alex. "Berikan umpan kita, Alex. Kita akan menangkap ikan besar!"


"Si, SeƱor."


.


.


.


***

__ADS_1


__ADS_2