
Vote yaš
.
.
.
***
"Ini tidak bisa dibiarkan, kucing liar itu pasti akan kabur lagi. Aku harus memberinya pelajaran," gumam Max sambil menelpon Alex.
"Ada apa, SeƱor? Aku baru saja hendak menelponmu."
"Oh, kenapa? Kau mendapatkan sesuatu?"
"Ya, sedikit informasi. Mungkin ini bisa membantu kita ke depannya."
Max menghela napas lega. "Kerja bagus," puji Max. "Pesan tiga tiket kembali ke Madrid, aku akan pulang. Mereka sepertinya sedang mempermainkan aku."
"Tiga? Kau benar-benar akan melakukannya, SeƱor? Bagaimana jika terjadi sesuatu yang berbahaya di sana?"
Max terkekeh mendengar suara Alex yang sedang khawatir padanya.
"Aku sudah memikirkannya dengan baik, Alex. Tidak ada yang akan terjadi selama air masih di dalam kendali."
"Tapi air bisa menghanyutkan, SeƱor. Kau perlu memikirkannya lebih baik, jangan biarkan sesuatu mengganggu pikiranmu."
"Aku telah melakukannya dan pikiranku tidak akan berubah. Lakukan saja apa yang aku katakan. Lebih cepat lebih baik, aku tidak akan membiarkan kucing liar itu pergi."
Suara kekehan Alex membuat Max mengernyit heran. "Kenapa kau tertawa? Apa kau sedang menertawakan status lajangmu?"
"Kau sekarang bisa membedakan kucing liar dan serigala liar, SeƱor? Aku pikir itu julukan yang cocok untuk pasangan yang seperti kalian."
"Sialan," umpat Max sambil terkekeh. "Kau memang benar, dia berurusan dengan serigala liar yang ganas. Dan seekor kucing liar sangat cocok dengan serigala liar."
"Kau memang paham secara teori, SeƱor. Tapi sangat bodoh tentang praktikum."
Max melihat layar ponselnya dan mengumpat kesal. "Kau setan, Alexander! Aku menyumpahimu semoga kau tidak akan mendapatkan wanita seumur hidupmu!"
"Itu lebih bagus daripada terjebak dalam permainan dengan mantan. Akan sangat menjijikkan jika harus memakai tisu bekas orang."
Max menegang, dia sedikit terkejut. "Apa maksudmu? Kau tahu sesuatu?"
"Huft, kau sangat sensitif, SeƱor. Aku hanya berandai saja, tidak ada maksud lain."
"Semoga kau jujur, kau akan mati jika menyembunyikan sesuatu dariku," ancam Max mengelus dadanya yang tiba-tiba bergemuruh.
"Aku pastikan kau yang akan mendapat informasi pertama yang keluar dari mulutku, SeƱor."
"Ya, berhentilah omong kosong. Cepatlah pulang, kau harus mengambil pakaianku dari tempat laundry."
"SĆ, SeƱor."
Max memutuskan sambungan itu, saat membuka pintu untuk masuk ke kamar, Alana sudah berada di sana dengan senyuman manisnya menunggu Max.
"Apa yang kau lakukan di sini, Lana?"
Wanita itu berhambur ke pelukan Max dan menempelkan kepalanya di dada pria itu.
"Aku tidak mendapatkanmu di kamar setelah aku keluar dari kamar mandi. Aku merindukanmu."
"Dasar manja," ucap Max sambil terkekeh. "Sejak kapan kau di sini? Dan kenapa kau memakai baju seperti ini?"
Max menilik penampilan Alana yang sangat terbuka, tanktop putih dan nyaris tembus pandang dipadukan dengan hotpants yang hanya menutupi bagian pangkal pahanya.
"Kau yang membelikannya untukku, BebÄ. Kau sudah lupa?"
Max menggeleng, setahunya dia tidak pernah membelikan itu untuk Alana. "Aku tidak pernah melakukannya."
Alana terkekeh, dia menarik Max masuk ke kamar. "Aku yang memilih tapi dibayar pakai uangmu, Sayang."
Saat wanita itu menempelkan tubuhnya di dada Max, pemilik manik biru itu sedikit menegang. Untuk menghindari sentuhan yang berlebihan, Max menjauhkan dirinya.
"Aku harus mandi. Oh ya, sebentar lagi kita balik ke Madrid, bersiap-siaplah."
Alana terkejut sekaligus senang. "Madrid? Kau bercanda 'kan? Bukannya kau bilang akan menemaniku di sini beberapa hari lagi?"
__ADS_1
Pria itu tersenyum tipis dan menggeleng. "Banyak hal yang belum aku selesaikan di sana. Kau harus menemani aku, ok? Pulanglah bersamaku ke sana."
Sesaat wanita itu terdiam mempertimbangkan. Membayangkan bagaimana harinya di sana bersama dengan Max dan juga istri dari kekasihnya itu.
"Apa aku bisa ke sana? Kau tidak khawatir istrimu marah? Lagipula, Deborah tidak menyukaiku." Alana menunduk sedih, memainkan jemarinya dengan kaku. "Itu alasanku melarikan diri waktu itu," gumamnya kemudian.
Max terkekeh membuat Alana mengerucutkan bibirnya. "Aku tidak bercanda, Sayang. Aku takut jika harus pergi ke sana lagi."
"Tenanglah, ada aku. Apapun yang terjadi, kau harus di sampingku. Istriku bukan orang yang mudah tersinggung. Lagipula, aku tidak mencintainya. Bukankah itu alasan yang bagus kau tetap berada di area jangkauanku?"
Alana tetap diam, dia masih memikirkan berbagai hal. "Bagaimana dengan Deborah? Dia menganggapku kuman yang menempel pada bajumu."
Max maju selangkah untuk menggapai wanita itu. Dia mengelus pipi Alana dan menenangkan wanita yang tampak muram di hadapannya.
"Aku bisa mengatasi Mommy-ku, asalkan kau berjanji tidak akan pergi dari sisiku lagi."
"Apa kau yakin?" tanya Alana yang merasa masih khawatir. "Aku tidak ingin menjadi beban dalam keluargamu, BebÄ. Apalagi sekarang kau sudah punya istri, pasti Deborah akan langsung mengusirku."
Max menangkup pipi Alana dan membuat wanita itu menatapnya. "Hei, tatap aku. Aku serius, kau tidak akan pernah terganti dari hatiku. Kau tetap gadis yang aku cintai."
Gadis?
Alana tersenyum, dia mengalungkan tangannya di leher Max kemudian menarik tengkuk pria itu dan mencium bibirnya.
"Terima kasih karena kau masih mencintaiku, aku akan percaya padamu. Pergilah mandi, badanmu berkeringat meski masih wangi," ucap Alana terkekeh.
"Aku akan bersiap-siap. Kapan kita berangkat?"
"Alex akan mengabarkan."
***
Sara kembali menjalani harinya yang tersisa sepertiga siang itu. Meski matanya sedikit memerah akibat menangis yang berlebihan tadi, dia tidak menghiraukannya.
Kata Deborah, apapun yang terjadi, jangan biarkan dirimu terpuruk. Hiduplah untuk dirimu sendiri tanpa memikirkan orang lain. Karena Tuhan akan menggantikan yang hilang dengan sesuatu yang lebih berharga.
Itulah yang membuat Sara berpikir hidup untuk dirinya sendiri hari ini. Dia tidak memedulikan tatapan para maid di mansion, dia hanya tersenyum pada mereka.
Dan mengenai larangan Max tentang dirinya yang tidak boleh bertatapan dengan pria, Sara tidak lagi peduli. Dia menjalani harinya tanpa mematuhi larangan itu.
"Adrian, kemarilah! Sekarang kau harus menemani aku makan."
"Ayolah, Adrian, aku tahu kau takut pada ancaman Max. Itu sudah tidak berlaku lagi. Aturan dibuat untuk dilanggar, bukan? Hidup seperti itu lebih berharga daripada diikat aturan."
Adrian menggeleng tanpa menatap Sara. "Maaf, SeƱora. Aku tidak berada di posisi yang bisa melakukan segala sesuatu sesuai keinginanku sendiri."
Sara mengerucut sebal, dia tahu Adrian adalah orang yang sangat patuh. Dan untuk mengajak lelaki paruh baya itu makan bersamanya, tentu saja mustahil.
Max pasti mengancam dengan nyawa atau keluarga, dan itu selalu saja berhasil pada mereka yang masih memiliki anggota keluarga yang mereka sayangi.
"Ayolah, Adrian, kali ini saja. Kau pasti akan merindukanku saat aku tidak ada lagi di sini."
Dan saat itu Adrian mengangkat kepalanya yang langsung menunduk sedetik kemudian.
"Kau akan pergi ke mana, SeƱora?"
Sara terkekeh, dia menepuk kursi di sampingnya. "Aku akan menceritakannya padamu kalau kau duduk di sini."
"Maaf, SeƱora, aku tidak bisa melakukannya."
Tanpa ingin berdebat lebih banyak dengan Sara, Adrian meninggalkan Sara yang masih mengerucut sebal.
"Ck, aku tidak akan memaafkanmu, Adrian."
Tidak lama kemudian, seorang gadis belia lewat di depannya.
"Kau bernama Dove 'kan? Kemarilah!"
Gadis itu menurut. "Ada yang bisa saya bantu, SeƱora?"
"Jadilah gadis yang baik, duduk di sini," ucap Sara seraya menepuk kursi di sampingnya yang tadi dia persilahkan Adrian.
"Maaf, SeƱora?"
"Hei, kau mendengarnya, Dove. Duduklah di sini! Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
Dove ragu-ragu duduk di sana. Dia meremas seragamnya dengan tangan gemetar.
__ADS_1
Meski hanya pria yang dilarang bertatapan langsung dengan Sara, para wanita juga dilarang berhubungan dekat. Dan itu membuat Dove waspada.
"Kenapa tanganmu gemetar?" Sara sedikit terkikik melihat tangan gadis itu gemetar meski bibirnya tersenyum. "Aku tidak akan menyakitimu."
Dove tersenyum tipis. Dia tahu bahwa Nyonya rumah itu ramah dan murah tersenyum, meski terkadang cuek jika sifat keras kepalanya kambuh.
"Maaf, SeƱora. Apa yang bisa saya bantu?"
"Berhenti berbicara formal padaku, Dove. Kau bisa memanggilku kakak jika kau mau."
Gadis itu menunduk dengan senyum tipis, dia tidak berani menatap Sara yang sedang tertawa.
"Tentang panggilan, saya tidak akan melakukannya, SeƱora. Dan mengenai bahasa, sudah seharusnya saya melakukan itu."
Sara memutar bola mata jengah, hidup dan kebebasannya benar-benar direnggut oleh Max.
"Ayolah, kau bisa berbahasa santai padaku."
"Saya akan berusaha, SeƱora."
Sara tersenyum. "Itu bagus. Tolong temani aku makan, kau belum makan siang 'kan?"
Dove kaget, dia menatap Sara dengan bingung. Dia tahu kebiasaan Sara ditemani jika makan dan dia tidak pernah menyangka kalau dirinya akan berhadapan dengan hari ini.
"SeƱora ...."
"Jangan membantah, ini perintahku sebagai Nyonya di rumah ini!"
Melihat reaksi Dove yang sedikit takut, Sara tersenyum. "Ayo, makan! Setiap hari akan menjadi tugasmu menemani aku makan."
"Hah?"
"Jangan bengong lagi. Makanlah! Setelah itu kita akan bermain sebentar."
Dove menurut meski masih sungkan. Dia tidak pernah makan di meja makan besar itu sebelumnya.
Keduanya makan dalam diam. Sesekali Sara melirik Dove yang semakin diam di tempatnya. Dia terkekeh.
"Dove, aku tidak akan memakanmu. Tenanglah, jangan tegang."
Gadis itu tertawa. Dan Sara terpaku melihat lesung di kedua pipi gadis itu. "Kau cantik," gumamnya.
"Gracias, SeƱora."
"Jadilah temanku, Dove. Sangat susah mencari teman ngobrol di sini."
Dove mengangguk. "Akan saya lakukan, SeƱora."
"Hei, kau masih memanggilku seperti itu. Kita sudah jadi teman, Dove."
"Maafkan aku," ucap Dove menunduk.
Sara tergelak. Dia menikmati harinya saat ini, bersama seorang gadis yang cantik. Yang akan menjadi temannya mulai sekarang.
Setelah menghabiskan makanan di piring, keduanya beranjak dan bermaksud keluar untuk menikmati udara segar di siang hari.
Tapi, sebuah mobil memasuki pelataran dan Sara mengenali mobil itu. "Max?"
Benar saja, pria itu turun dengan cepat dan melepaskan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
"Sayang, aku pulang!" ucap Max seraya mempercepat langkah dan memeluk istrinya serta memberikan kecupan singkat di kening. "Apa kau merindukanku?"
"Sedikit," ucap Sara terkekeh.
Belum sempat Sara memeluk balik, seseorang yang keluar dari mobil mengejutkannya. "Dia?!"
Sara melirik Max. "Max ...," lirih Sara meminta penjelasan.
"Aku tahu, aku akan menjelaskan padamu."
Seseorang yang baru turun itu mendekat dan dengan senyuman manisnya dia mengulurkan tangannya pada Sara. "Hola, SeƱora. Yo soy Alana. Mucho gusto. (Halo, Saya Alana. Senang bertemu dengan Anda)."
.
.
.
__ADS_1
***