SOLEDAD

SOLEDAD
Ketakutan


__ADS_3

Vote ya😘


.


.


.


***


"Sial! Alex, suruh dia cepat, aku tidak ingin kehilangan momen melihat istriku."


"Tolong sabar, SeƱor. Ini tidak bisa dilakukan semaumu."


"Bajingaann!" Max mengumpat dan memukul punggung Alex sampai pria bermanik abu itu meringis. "Atur ini saja kau tidak bisa, bagaimana nanti berhadapan dengan si licik dan kejam itu?"


Alex hanya menahan emosinya. Jika sama-sama emosi, maka tidak akan ada kedamaian dalam hal ini.


Sepanjang waktu semenjak kepergian istrinya, Max selalu uring-uringan dan marah tanpa sebab yang jelas. Melampiaskan amarahnya pada orang terdekat dan menyiksa Alana adalah kesukaannya.


"Kau apakan jalangg itu? Apa dia sudah mati?"


"Seperti yang kau perintahkan, SeƱor. Semuanya masih dalam kendali."


"Percepat pesawat ini, sialan! Pergi katakan pada brengseekk sialan yang pegang kendali, kalau tidak maka kepalanya tidak hanya dipenggal hari ini!"


"SeƱor, tenanglah ...." Alex mencoba peringatkan.


"Jangan katakan apapun kalau tanganmu tidak ingin jadi sasaran!"


Karena seluruh akses masuk ke Napoli ditutup oleh Stephen, Max harus menanggung malu dan meminta bantuan Silver dari Brasil. Dan pesawat yang dikatainya itu sedikit tua dan kuno sehingga kecepatannya tidak sesuai dengan ekspestasinya.


Silver mempermainkannya. Sialan, rubah tua yang sudah punya anak itu masih sangat suka mempermainkannya hanya karena dirinya yang pernah lepas kendali dan mabuk-mabukkan di mansionnya waktu itu.


Karena itu, amarahnya kembali memuncak dan ingin mendapat pelampiasan. Dengan kesal, dia bangkit dari kursi dan menuju kabin kosong tempat ditelantarkannya seorang wanita berambut hitam.


Pakaian wanita itu tercabik-cabik dan tidak pernah diganti. Wajahnya penuh lebam dan luka baru. Cakaran, tamparan dan cengkraman yang diberikan Max sungguh menyiksa penampilan dan juga fisik wanita itu.


"Kau masih hidup, jalaang?! Maka hari ini aku akan mengantarkanmu ke neraka yang seharusnya!"


Max mengangkat Alana dari tempat wanita itu berbaring, berjalan cepat ke jendela pesawat dan menggoyang-goyang tubuh Alana. "Mati kau, wanita jalaang!"


Kekehan iblisnya menggema di udara melihat ekspresi memohon dari wanita yang hampir tidak bisa bergerak dan berbicara itu. Ya, Max menyiksa Alana dengan tangannya sendiri sampai wanita itu benar-benar kehilangan tenaga.

__ADS_1


Max tidak peduli lagi jika Alana adalah seorang perempuan, yang mana dalam hatinya dia tidak ingin menyiksa atau menyentuh perempuan dengan tangannya.


Karena dirinya benar-benar kehilangan kendali, apalagi mendengar kabar ada pelelangan klan Camorra pada malam ini. Dan tentu saja pelelangan itu mencakup apapun yang bersifat ilegal.


Bisnis yang dikembangkan klan itu sama dengan yang dilakukannya. Tapi yang membedakan lebih jauh adalah prostitusi dan penjualan manusia dan organ-organ penting manusia yang diperdagangkan lewat lelang yang terjadi empat kali setahun.


Max punya firasat buruk dan itu menambah amarahnya dengan pesawat yang sungguh lambat seperti kura-kura itu.


"Aku pikir kau tidak peduli dengan hidupmu setelah berhasil membuatku mabuk, jalaang! Dan aku juga sungguh berbaik hati telah membuatmu hidup sampai siang ini. Kau harus berterima kasih padaku seumur hidupmu, jalaang!"


Max menarik kasar rambut wanita itu dan memukul kepalanya ke badan pesawat. "Aku juga tidak akan membuat hidupmu bahagia. Istriku sedang menanggung derita karena perbuatanmu, dan aku membalasnya untuk dia. Aku akan membuatmu menikmati hidup seperti itu, hidup tapi terasa seperti di dalam neraka."


Alana tidak bisa membuka matanya lagi sementara Max masih mencengkram leher dan rambutnya bersamaan. Pria itu menjadi monster iblis dalam waktu singkat karena kepergian sang istri.


Wanita itu sudah tidak berdaya. Sejak Max menyiksanya habis-habisan, kekuatan untuk bertahan hidup terserap habis karena Max jarang memberinya makan. Dan jika diberipun, itu diukur dan harus sebesar kepalan tangan anak kecil dan air hanya sebanyak lima mililiter.


Tubuh kurus dan penuh luka itu membuat Max terkekeh sinis. Dengan kasar dia mencengkram wajah Alana dan menampar pipi wanita itu sampai mengeluarkan darah lagi.


"Persiapkan dirimu baik-baik malam ini. Kau harus bisa bekerja untukku kalau masih ingin nyawamu berada dalam tubuhmu," desis Max dengan menggertakkan giginya mengancam.


Tidak ada jawaban dari wanita itu membuat Max tertawa puas. Inilah yang diharapkannya. Diam dan dengarkan, serta melaksanakan tugas dengan baik.


***


Dia mempertahankan wajah datarnya. Dengan kaki yang terus melangkah ke manapun anak buah Stephen menariknya, Sara berharap ada cahaya yang bisa menariknya keluar dari sana.


Ditambah dengan pembicaraan Stephen dengannya sore tadi. Hubungan spesial masa lalu antara Max dan pria bertato itu sungguh mengerikan.


Tidak terbayangkan bahwa mereka adalah partner kegelapan yang sangat ditakuti meski Max telah keluar dari jalur itu. Dan kenyataan pahit yang lebih menyakitkan, semua ada hubungan dengan sang ibu, Alara.


Hatinya berdenyut sakit, seolah dirajam batu yang tajam dan membuatnya hancur. Kenyataan yang didengar dari mulut Stephen sama halnya dengan yang dikatakan Peter hari itu.


Bahkan yang lebih membuat Sara ingin meledak, Peter dan Max bersama-sama mempermainkannya. Entah alasan seperti apa yang membuatnya berakhir di tangan Max, Sara sungguh kecewa.


Di keheningan memasuki sebuah ruangan gelap yang beraroma alkohol, Sara tertawa getir.


Hidupku sudah berakhir di sini. Apa lagi yang kuharapkan dari lelaki itu? Dia tidak di sini meski sudah lewat sehari dari kedatangan surat itu.


Dan sambutan dari seorang pria genit membuat Sara bergidik takut. Lelaki itu membelai seluruh tubuhnya dan mengecupi tulang selangkanya.


"Kau sangat wangi, Sayang. Aku harap bisa menikmatimu malam ini," ucap lelaki itu yang diduga Sara adalah tamu kehormatan milik Stephen malam ini.


"Tolong buka jalan, Tuan. Tuan Elijah menunggu di kamar sana."

__ADS_1


Seorang anak buah yang menyeret Sara tadi menghalangi langkah lelaki yang hendak menyentuh Sara lagi dan itu membuat perempuan bermanik cokelat itu menghembuskan napas lega.


"Ayo jalan, Nyonya!"


"Ya!"


Kembali berjalan di koridor gelap tanpa cahaya itu, entah apa yang terjadi, Sara hanya bisa mendengar suara gembok bersentuhan dengan pilar besi.


"Apa yang kau lakukan, sialan?"


"Maaf, Nyonya. Ini perintah Tuan Elijah!"


Sara coba meronta tapi malah kepalanya yang terantuk dan jatuh.


Meraba-raba sekitarnya, Sara yakin bahwa dirinya berada dalam penjara besi. Dan sialnya, dia tidak bisa melihat apapun meski ingin menaklukan jeruji besi itu.


"Lepaskan aku, brengsekk! Kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa! Aku istrinya Max!"


Dan suara kekehan sinis terdengar menyeramkan, Sara terhenti. "Siapa kau?!"


"Tidak penting siapa aku, kau pasti akan dipuaskan oleh permainanku malam ini."


"Apa yang akan kau lakukan, brengsekk?!!"


"Setidaknya, bukan untuk sekarang. Kau harus datang padaku lewat jalur legal," ucap orang itu dan berlalu pergi.


"Hei, tunggu! Apa maksudmu?!"


Tiada jawaban lagi, Sara menghembuskan napas. Tidak tahu harus melakukan apa dalam keadaan seperti itu, Sara pasrah pada keadaan.


Dia ingin memercayai Max karena tulisan itu, tapi sampai saat ini, pria itu tidak menunjukkan batang hidungnya. Dan Sara ingin menyerah. Tidak ingin memercayai Max lagi.


Mungkin jalan terbaik adalah melarikan diri dari jangkauan Max dan Stephen setelah malam puncak nanti.


Sara berdoa untuk menghilangkan rasa takut dalam hatinya. Dia berharap semoga ada keajaiban yang akan mengubah jalan cerita malam ini.


Malam panjang yang penuh aksi akan segera dimulai!


.


.


.

__ADS_1


***


Maaf, Xie jarang up.


__ADS_2