SOLEDAD

SOLEDAD
Kebenaran


__ADS_3

Vote ya😘


.


.


.


***


"Apa yang ada di sini?" gumam Sara memerhatikan liontin berbentuk bulan separuh di tangannya.


Dia melupakan keberadaan Max yang sudah seperti api yang siap menelan habis kepalanya di belakang punggungnya. Tangan pria itu mengepal. Max marah melihat Sara memegang tangan Stephen.


Tentu saja dia tahu itu api cemburu. Dia tidak suka wanitanya bersentuhan dengan lelaki lain. Dan yang lebih membuat Max tambah marah dengan keberadaan sang istri yang tidak menyadari apapun.


Sara masih berdiam diri di tempatnya, tidak menoleh ataupun berbicara sekadar untuk mengusik sepi yang tiba-tiba menghampiri.


"Sayang." Max berinisiatif dan memanggil istrinya. Dia merasa sangat marah karena Sara tidak memerhatikannya.


Tidak mendengar panggilan itu karena sangat fokus, Sara terkejut saat tangan Max menekan kuat pundaknya.


"Kau mengejutkanku, Max," sungutnya sebal.


Ketika dia menoleh, Sara kembali dibuat terkejut oleh ekspresi Max yang sangat menakutkan. Dia meringis takut.


"Ke-kenapa kau? Apa yang terjadi?"


Max tidak menjawab. Tapi dia menarik Sara dengan kasar ke pelukannya.


"Kau menyentuh lelaki lain di depanku, Sara!"


Geraman yang penuh amarah itu benar-benar membuat nyali Sara menciut. Dia bergetar takut. Telinganya bisa menangkap deru napas Max yang memburu.


Mungkin saja pria itu akan membunuhnya sekarang, begitu pikir Sara. Dia bertambah takut ketika Max menarik kasar tangannya dengan mata tajam yang tadi digunakan untuk menahan Stephen.


Namun, ketakutannya tidak terjadi. Max malah mencium tangannya dan memasukkannya ke dalam saku jaket. Dengan tajam, dia melirik tangan yang digenggamnya itu. Tatapannya mengintimidasi seolah ingin menelan tangan sang istri.


"Jaga keamanan tanganmu kalau tidak mau aku memotongnya!"


Sara mengangkat kepalanya untuk menatap mata biru yang masih menajam ke arahnya itu dengan berani.


"Kau marah? Aku tidak akan melakukannya lagi kalau begitu."


"Aku cemburu."


Sara mengerjap takut. Atmosfer di sana mencekam punggungnya, seperti ada banyak tangan yang siap menangkap dan membunuh. "Cemburu?"

__ADS_1


"Apa otakmu mulai bodoh? Tentu saja aku cemburu kalau kau dekat dengan lelaki lain. Aku hampir membunuhnya tadi."


Sara kesulitan berkata-kata, amarah Max kembali tersulut dan dia tidak boleh membantah pria itu. Dia melarikan pandangannya ke arah lain, dengan takut-takut dan jemari yang bertautan, dia menjawab.


"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi."


Max memalingkan wajah tatkala manik cokelat itu memandangnya penuh rasa bersalah, wajah manis yang penuh dengan rona ketakutan karena dirinya.


Dia menghembuskan napas pasrah, Max tidak mungkin menyakiti istrinya lagi hanya karena rasa cemburunya yang berlebihan. Dia tahu, jika melakukan itu akan membuatnya dibenci. Dan Max tidak mau itu terjadi.


Dengan tatapan melunak, dia menangkup pipi yang telihat sedikit tirus itu dan memberikan kecupan singkat di bibir istrinya.


"Maaf, aku tak seharusnya marah padamu. Aku tidak suka kau menyentuh Stephen bahkan tadi menarik tangannya. Kau harus menjaga tubuh dan matamu saat bersama atau di dekat pria, Sayang, karena aku orang yang berbahaya."


Sara melihat mata biru yang berusaha menutupi kemarahannya, girang dalam hati karena Max tidak melampiaskan kemarahan padanya seperti yang pernah dilakukan pria itu.


Tersenyum tipis, wanita itu memeluk Max dengan erat. "Kau mencintaiku makanya kau melakukan itu, aku mengerti. Aku juga merasakan hal yang sama saat melihatmu dengan Alana sore itu. Perasaan ingin membunuh atau sekadar menarik rambutnya, aku merasakan itu. Tapi aku menahan diri, kau tidak mencintaiku, aku berpikir demikian."


Dia menyandarkan kepalanya di dada Max, membiarkan pria itu mengecup rambutnya dengan penuh kasih.


"Maaf, Sayang."


"Aku sudah memaafkanmu karena aku mencintaimu."


Max semakin mengeratkan pelukannya, tidak membiarkan Sara sekadar untuk membetulkan rambut yang dihembuskan angin. Dia ingin memeluk istrinya, tidak ingin melepaskannya barang sedetikpun. Jika bisa, Max ingin membungkus dan menaruhnya di saku agar tidak ada orang yang melihat paras cantik sang istri.


Memang Max seposesif itu. Apalagi saat Sara tersenyum manja dan mencium bibirnya dengan lembut. Max merasa berada di atas awan, berteman nirwana di atas langit ke tujuh.


"Jangan menatapku seperti itu, aku bisa memakanmu sampai habis tak tersisa di sini."


Lagi, wajah cantik itu tersenyum, dan Max kembali jatuh dalam pesona sang istri.


"Sara, jangan menggodaku seperti itu!"


Wanita itu mengerucut sebal, dia memukul dada Max. "Aku tidak melakukannya, kau yang sedang bermimpi."


"Kau tersenyum, itu membuat jantungku berdebar."


"Aku merasakannya," ucap Sara, dia menyandarkan kepalanya di dada suaminya sebentar kemudian menarik Max pergi dari sana. "Aku senang karena kau mengatakan kejujuran tanpa menyakitiku seperti yang kau lakukan pada hari aku bertemu Kenneth."


Max mengingat hari itu, dia dibutakan rasa cemburu dan menyakiti istrinya. "Maaf."


"Apa kau tidak berniat mengajakku jalan-jalan di sini?"


"Kau akan kelelahan, Sayang."


Sara mengerucut, sesaat dia lupa pada liontin yang ingin dibukanya.

__ADS_1


***


Kenyataan yang menamparnya membuat Sara tidak berdaya. Dia menekuk lututnya dan terduduk tidak berdaya.


Kenyataan pahit yang sangat tidak diduga. Dia bukanlah orang yang berpura-pura kuat demi menghindari tatapan kasihan dari orang lain.


Sekarang dia tak begitu lagi. Ada seorang yang memberikan bahu baginya untuk bersandar, memberikan telinga untuk mendengar keluh kesah dan yang menghapus air matanya dengan senyuman serta menguatkannya.


"Tidak apa-apa ada aku di sini."


Sara menggeleng, air matanya tidak henti mengalir, membanjiri kulit wajah putihnya dan juga membasahi ranjang yang menampung keduanya.


"Itu alasan Peter tidak pernah bersikap baik padaku." Air matanya kembali mengalir, membasahi kemeja yang dipakai Max.


"Aku bukan anaknya, Max."


Sara mencengkram kuat kemeja Max, kembali menumpahkan isakan keras yang memilukan.


Kebenaran yang disembunyikan Alara membuat Sara hancur. Peter bukan ayah biologisnya, melainkan seorang pria dari masa lalu ibunya.


"Itu sangat sakit, Max. Aku pikir dia keras padaku hanya karena tidak mendukung semua pilihan dalam hidupku, ternyata ..., ternyata aku memang bukan anaknya."


Max memeluk istrinya yang kembali histeris. Dia juga tidak menyangka, Peter dan Alara terlihat seperti pasangan yang saling mencintai dan memiliki anak yang melengkapi kebahagiaan. Ternyata tidak seperti yang terlihat.


Dan alasan Thompson tega membunuh Alara karena kisah cinta masa lalu yang tidak tersampaikan. Dan juga Alara yang tidak membiarkannya bertemu anak kandungnya.


Ya, itulah kenyataan yang membunuh perasaan Sara. Thompson adalah ayah kandungnya, juga orang yang telah membunuh ibunya. Sara tidak menerima kenyataan, dia tidak menerima takdir yang seolah memisahkan mereka dengan sangat cepat.


Alara meninggalkannya karena Thompson, dan Peter membencinya karena Thompson juga. Orang itu yang telah merebut kebahagiaannya, tapi dia tidak bisa membenci orang itu, kenyataan Thompson adalah ayahnya.


"Apa yang harus aku lakukan, Max? Bagaimana aku harus menghadapi Peter? Aku selalu membencinya, berkata kasar dan membangkang padanya."


Mencium puncak kepala istrinya, Max lalu menghapus air mata itu dengan lembut. Dia tersenyum untuk menguatkan hati yang hancur itu.


"Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Tidak ada alasan untuk membencinya, dia telah membesarkanmu meski caranya salah memperlakukanmu. Dia tetap seorang ayah bagimu. Kau merasakannya bukan?"


Sara masih sesegukan, tidak menjawab atau sekadar membantah ucapan Max, dia mendengarkan dan mungkin sedang merenung dalam hatinya.


"Dia mungkin menyayangimu, hanya dia menunjukkannya dengan cara yang berbeda."


"Dia selalu jahat padaku, Max."


"Tapi dia memenuhi kebutuhanmu, bukan? Itu bukti yang tidak bisa dielakkan, Sayang."


.


.

__ADS_1


.


***


__ADS_2