SOLEDAD

SOLEDAD
Aneh


__ADS_3

Jangan lupa like, komen dan rate ya😊😘


.


.


.


***


"Sial, kenapa aku harus mengatakannya? Aku menjadi malu sendiri. Bagaimana kalau dia memikirkan hal yang aneh terhadapku? Tidak, tidak. Itu tidak boleh."


Memukul-mukul pelan mulutnya, perempuan itu menyesal telah mengatakan kebenaran yang dirasakannya.


"Bagaimana jika dia benar-benar menghancurkan perusahaan Peter? Mama, maafkan aku jika itu benar-benar terjadi. Aku tidak sengaja. Hanya sedang mengeluarkan isi hati yang sedang marah dan kecewa pada keadaan."


Kakinya tak henti melangkah. Berjalan kemanapun ia suka. Sudah berkali-kali ia mengitari mansion itu tanpa lelah. Seolah energinya bertambah berjuta kali lipat saat sedang kesal dan mengumpat Max.


"Ah, aku bisa gila jika mengingatnya. Tapi, bagaimana nanti dengan perusahaan itu? Peter bisa saja membunuhku karena tidak patuh."


Berpikir lagi. "Tidak perlu takut. Terima konsekuensi dari perkataanmu, Sara. Kau yang memulai, jadi kau juga yang harus mengakhirinya."


Ia menghentak-hentakkan kakinya setelah otaknya tidak lagi bisa berpikir.


"Kenapa otak ini selalu buntu saat aku membutuhkannya?" Ia memukul kecil kepalanya sambil terus menggerutu. Hingga sebuah ide cemerlang muncul setelah itu. "Bagaimana dengan merayunya?"


Kemudian ia menggeleng kuat.


"Aku tidak pandai melakukan itu. Bukannya dia yang tergoda nanti bakalan aku yang habis dilahapnya. Jangan menjebak dirimu sendiri, Sara. Dia psikopat."


Kembali lagi mencari ide yang menurutnya tepat tanpa harus melakukan itu. Sayang sekali, jalan yang ditujunya adalah jalan buntu.


"Huft, kenapa kepalaku kembali terbayang dengan ciuman itu? Sial, aku tidak ingin melakukan itu sekalipun tidak mendapat ide. Sama saja dengan masuk ke dalam lubang serigala."


Sara terdiam mencari ide yang akan digunakannya untuk menghentikan Max.


Hingga derap langkah dari belakang membuatnya menoleh.


"Kau di sini, Sara?"


Perempuan itu tersenyum merekah. "Sedang menghirup udara segar, Mommy."


"Jangan memanggilku seperti itu. Kau bukan anakku."


Sara tidak menghiraukan, Max sudah menyuruhnya agar mengubah panggilannya terhadap Deborah. "Apa Adrian sudah menyajikan makanan untukmu?"


Deborah ikut duduk di bangku taman itu bersampingan dengan Sara.


"Sejak kapan kau memedulikanku?"


"Aku selalu melakukannya, Mommy. Ayo, masuk, nanti kau masuk angin. Di sini dingin. Duduk di luar dengan perut kosong akan memudahkanmu terserang penyakit."


Deborah menatap sinis pada Sara yang menarik tangannya.


"Lepaskan tanganku."


"Ayolah, Mommy. Max akan membunuhku jika membiarkanmu sakit."


"Kau melakukan ini karena takut terhadap Max?"


"Tentu saja."


"Jangan melakukannya kalau tidak ikhlas!"


Sekali lagi, Sara tidak peduli. Telinganya seolah menuli terhadap perkataan sinis Deborah.


"Aku akan memasak untukmu, Mommy."


Wanita itu tertawa tidak percaya, bahkan ia menarik Sara untuk menghadapnya.


"Kau yakin bisa melakukannya?"


"Ya, tapi spaghetti saja," ujarnya terkikik.


"Setidaknya tidak gosong dan hambar atau asin."


"Kau akan mencobanya, Mommy."


Sampai di dalam, Sara langsung masuk ke dapur dan menyiapkan bahan untuk membuat spaghetti. Tanpa bantuan Adrian atau siapapun, ia melakukannya sendiri agar bisa berbangga telah memasak untuk mertua.


Sedikit lebih lama dari pembuatan orang yang sudah profesional, Sara akhirnya menyelesaikan masakannya.


Mencoba lagi rasanya, kemudian menyajikannya di meja.


"Cobalah, Mommy. Hanya ini yang bisa kulakukan."

__ADS_1


Deborah mencobanya dan terlihat mengangguk.


"Lumayan untuk pemula sepertimu."


Sara tersenyum. "Apa Mommy pandai memasak?"


"Kenapa?"


"Tolong ajari aku."


Sesaat hatinya menciut melihat Deborah terkekeh sinis. Ia merutuki mulutnya yang telah berani meminta hal seperti itu.


"Kau harus bersungguh-sungguh karena aku tidak punya waktu luang untuk melakukan hal itu."


Binar matanya terlihat. Ia bersorak senang.


"Terima kasih, Mommy."


"Masaklah untuk Max makanan yang enak."


***


"Kau menyusahkanku, SeƱor."


"Itu balasan untukmu."


Alex berdecak seraya melajukan mobil ke tempat yang ingin dituju oleh Max.


"Balasan karena apa?"


"Berhenti membahas itu. Berapa harga bunga itu?"


"Lebih mahal dari toko itu, SeƱor."


"Dia butuh uang?"


"Aku memberinya lebih."


Max menyeringai. "Bagus. Ada yang menarik darinya?"


"Dia memiliki seorang cucu yang masih kecil, ditinggalkan ibunya demi mengejar pria lain."


"Manfaatkan itu. Aku ingin memiliki lebih banyak lagi yang melakukan transaksi bagiku."


Alex mengangguk mengerti. "Aku mengerti, SeƱor."


"Hola, Alara. Aku datang lagi. Semoga kau masih suka bunga ini," ucapnya memberi salam seray meletakkan bunga yang dibawanya tadi.


"Jangan khawatirkan istriku, dia baik-baik saja di sana. Lihatlah, aku merindukannya lagi padahal beberapa menit yang lalu aku masih memeluknya."


Max terkekeh. "Dia gadis yang istimewa, Alara. Aku bahkan merasa tidak pantas berada di sisinya. Sara-ku benar-benar berbeda. Diciumpun dia akan memberontak, sampai sekarang aku belum menyentuhnya. Sayang sekali, padahal tubuhnya sangat menggoda."


Beberapa lama setelah bercerita panjang lebar di makam itu, Max berpamitan seolah-olah Alara ada di sana.


"Alex, apa kau sudah mendapat kabar tentangnya?"


"Jangan sampai membuat kesalahan lagi, SeƱor. Aku khawatir padamu, istrimu pasti akan marah."


Max tergelak, raut wajah Alex sangat aneh saat mengatakan itu. "Apa aku benar-benar menciummu? Wah, itu predikat terbaik dalam hidupmu bisa dicium pria tampan dan berkharisma sepertiku."


Tak ingin memperpanjang perdebatan, Alex langsung meninggalkan Max dan segera menyalakan mobilnya.


"Ayolah, Alex. Katakan sesuatu, aku tidak boleh melakukan itu pada pria lajang sepertimu. Apalagi sekarang aku sudah memiliki istri."


"Diamlah, SeƱor. Kita berangkat sekarang."


Yang benar saja aku membiarkanmu menciumku. Andai kau tahu aku membiarkanmu memeluk tiang dan menciumnya, bagaimana dengan harga dirimu yang setinggi langit itu? Tidak bisa kubayangkan.


Alex terkekeh sendiri mengingat bagaimana konyolnya Max saat sedang mabuk.


"Apa yang kau tertawakan, sialan?"


"Hanya mengingat beberapa adegan film komedi."


"Bohong! Kau menertawakanku, bukan? Katakan, sialan!"


Max menendang kursi kemudi Alex sampai pria di depan sana tergelak kencang.


"Alexander!"


"Maaf."


Mobil melaju kencang di jalanan. Kedua pria di dalam mobil itu hanya berdiam dengan ekspresi yang berbeda.


Max dengan tatapan dinginnya yang menjengkelkan sementara Alex sekarang lebih banyak tersenyum mengejek. Melihat wajah Max yang sedang kesal adalah sesuatu yang langka.

__ADS_1


Tidak pernah pria itu menunjukkan ekspresi seperti itu. Meski selalu datar, tapi tutur katanya lembut dan penuh perhatian. Walau terkadang sangat menyebalkan bagi Alex.


"Jangan melirikku terus, Alex! Perhatikan jalan di depanmu, atau nanti kau benar-benar akan menjadi seorang pria lajang seumur hidup. Asal kau tahu, aku tidak ingin mati sebelum memiliki anak. Jadi, kalau kau ingin mati, mati saja sendiri dan jangan mengajakku."


Alex berdecih sebal. Selalu itu perkataan yang membuatnya tidak bisa berkata-kata. Ia kalah telak jika disinggung tentang statusnya. Karenanya, ia mengurangi laju mobil.


"SeƱor, apa kau yakin ingin menemukan 'dia'?" tanya Alex sejurus kemudian.


"Kenapa? Ada masalah?"


"Tidak. Aku berpikir Anda harus berhati-hati, tidak boleh mati sebelum punya anak, bukan? Jaga dirimu dengan baik."


Max menyeringai, di balik seringai itu ada makna tersembunyi.


"Pemimpin serigala tidak akan mati semudah itu, Alex. Kau tenang saja, temukan dia secepatnya."


Sebenarnya, Alex tahu sesuatu, namun melihat senyuman lebar Max saat menceritakan istrinya, ia mengurungkan niatnya untuk memberi kabar mengejutkan itu.


Setiap serangan yang datang, ia menuntaskannya sebelum sampai ke telinga Max dan membereskan sisanya. Ia tahu, hari dimana Alana dan Max akan bertemu pasti terjadi tidak lama lagi.


Karena itu, ia harus menyadarkan Max atas langkah apa yang harus dilakukannya ke depan.


"Apa yang akan kau lakukan setelah bertemu dengannya?"


"Kira-kira apa menurutmu?"


"Jangan bilang kau mau menikahinya, SeƱor. Sadarlah, tidak boleh memiliki istri lebih dari satu!"


Max tergelak, dia bisa melihat sorot tidak suka Alex terhadap topik ini.


"Menikah? Mungkin itu pilihan terbaik agar dia tidak kabur lagi. Terima kasih atas saranmu, Alex."


"SeƱor!"


"Aku tahu apa yang harus kulakukan, Alex. Cepatlah, aku merindukan istriku."


Max merasa waktu berjalan begitu lambat, untuk sampai ke mansion sangat lama.


"Apa kau berputar-putar di suatu tempat, Alex? Kenapa dari tadi belum sampai?"


"Aku akan mempercepat lajunya, SeƱor."


"Lupakan, kau membuatku kesal."


Alex mengerutkan keningnya bingung. Heran terhadap perubahan mood Max.


"Apa kau sakit, SeƱor? Perlu aku memanggil Gemma?"


"Tidak!"


Tanpa terasa, mobil itu sampai di mansion. Dengan kesal, Max masuk dan mendapati Deborah dan Sara sedang memasak di dapur.


"Sayang?" teriaknya sedikit keras agar didengar oleh Sara. "Sayang?"


"Max?! Kau pulang?"


Max langsung mendekap tubuh istrinya yang masih memakai apron dan membisikkan kata rindu.


"Kau aneh," desis Sara. Ia berusaha melepaskan pelukan, tapi tangan Max menahannya.


"Aku merindukanmu, Sayang."


"Benar-benar aneh."


Alex yang membuntutinya dari belakang menggeleng heran. Suasana hati sang tuan benar-benar aneh. Saat di mobil, dia datar tak berekspresi, tapi saat masuk, wajahnya berseri.


Dan kini, pemandangan di hadapannya itu membuatnya terbelalak tidak percaya. Max mencium istrinya di depan sang ibu.


"Dia mencintai istrinya, tapi masih mencari wanita licik yang telah meninggalkannya. Sungguh menyebalkan, membuang waktuku saja."


Pikirannya teralihkan karena panggilan Deborah.


"Ayo makan bersama, Alex."


"Alex, pergilah mencari istri agar kau tidak cemburu melihatku mencium istriku," ujar Max yang bergabung dengan mereka.


.


.


.


***


Love,

__ADS_1


Xie Luā™”


__ADS_2