SOLEDAD

SOLEDAD
Lagi


__ADS_3

Jangan lupa like, komen dan rate😊😘


.


.


.


***


Terang habis ditelan gelap, menyisakan beberapa butir cahaya lampu di jalanan. Kesunyian kini terganti oleh keramaian di pusat kota Madrid, kota yang terkenal dengan hiburan malam dan kuliner itu.


Seorang pria bermanik biru duduk menyangga dagunya di atas meja, ditemani oleh beberapa botol anggur yang telah ditelannya.


Matanya sayu, berkedippun hanya untuk memastikan bahwa jantungnya masih bekerja, bahwa nadinya masih mengalirkan darah.


"SeƱor, kau sudah mabuk. Ayo pulang!"


"Kau tidak akan mengerti, Alex. Biarkan aku seperti ini dulu."


"Ini sudah tengah malam. Istrimu menunggu di rumah, SeƱor."


Pria itu terkekeh. Tangannya menggapai Alex yang berdiri tegap di sampingnya.


"Duduklah, Alex. Aku tahu kau kelelahan menungguku. Tidak akan terjadi apa-apa pada gadis itu. Dia pandai bertahan."


Tahu bahwa semuanya akan percuma, pria yang hanya lahir beberapa bulan setelahnya itu terdiam. Ia ikut duduk dan meminum anggur yang disodorkan Max.


"Apa kau tidak ingin menikah, Alex? Umurmu sudah cukup tua. Aku khawatir kau akan menjadi perjaka tua."


Hatinya bagai tersayat sembilu, tak ada kata manis yang keluar dari mulut Max tentang dirinya dan pasangannya. Kalau bukan menyuruhnya menikah, yang pasti akan menyuruhnya berkencan dan menikmati malam bersama wanita malam. Tentu saja itu bukan kebiasaan Alex.


"Jangan menjebakku dengan perkataan konyolmu. Kau saja tidak bahagia dengan pernikahanmu. Jadi, jangan mengejekku jomblo jika kau saja tidak sebahagia aku yang jomblo ini."


Kata-kata telak Alex membuat Max terkekeh. Kembali menyesap anggur itu, ia mengangguk.


"Kau benar. Kapan kau akan menemukan Alana-ku? Aku merindukannya, Alex."


Alex menghembuskan napas berat. Setiap pertemuannya dengan Max, yang ditanya hanya pertanyaan itu. Sudah berkali-kali Max menanyakan pertanyaan yang sama malam ini.


"Tidak semudah yang kubayangkan. Jika dalam sebulan aku tidak menemukannya, lupakan wanita itu. Cintailah istrimu dengan segenap hatimu. Bukankah kau sudah mengucapkan janji suci pernikahan di hadapan Tuhan? Itu menjadi dasar bagimu untuk menjadi seorang suami."


Pria itu hanya tersenyum tipis dan kembali meneguk anggurnya yang tinggal sedikit.


"Kau pandai, Alex. Aku heran kenapa kau tidak mau mengencani wanita."


"Bukan urusanmu, SeƱor."


"Bukan urusanku? Hei, apa kau tidak salah? Aku yang akan disalahkan jika kau mati tanpa seorang istri, sialan. Paman dan bibi pasti akan membunuhku karena mengira aku yang melarangmu untuk mencari wanita."


Max memang benar. Ayah dan ibunyapun mengejarnya dengan pertanyaan kapan ia akan mengenalkan wanita miliknya kepada orang tuanya. Ia akan menghindar jika terjadi hal seperti itu.


"Ini urusan pribadiku. Jadi, kau tidak perlu turut campur."


"Kau pelit. Dimana ponselmu?"


"Kau mau apa?"


"Mengambil gambar Alana yang tersimpan di sana."


Alex menarik kembali ponselnya yang sudah beralih tempat ke tangan Max. Ia buru-buru mematikannya agar pria bermanik biru itu tidak mengetahui apapun di sana.

__ADS_1


"Alex!"


"Aku sudah menghapusnya. Mana ponselmu juga?"


"Aku lupa. Berikan padaku!"


"Aku membuangnya!"


"Kau tidak pandai berbohong, Alex. Lihat, matamu mengatakan kejujuran."


"Sialan. Buka saja. Aku melupakan passwordnya."


Max menyeringai puas. Ia bisa membuka ponsel itu meski Alex sudah menguncinya dengan berbagai cara. Sidik jari dan pengenal wajah? Bukan hal yang sulit dan Alex belum menyadari itu.


"Wow, kau menyimpan gambar wanita seksi, Alex. Aku tidak membayangkannya sama sekali!"


Ia mengusap layar ponsel Alex ke samping, mencari apa yang ingin dicarinya.


"Apa ini?" gumamnya melihat sebuah gambar yang tidak asing.


"Alex! Apa kau tidak curiga dengan gambar ini?"


Alex mendekat dan melihatnya.


"Aku belum percaya sepenuhnya. Tapi, tenang saja, aku sudah mengirim antek-antek kita untuk menyelidikinya."


Max paham. Tidak ada yang lebih penting dari rumah yang nyaman untuk berpulang. Mungkin begitulah yang sekarang terjadi pada Alana-nya.


Melihat garis bibir perempuan itu yang melengkung sempurna, rasa nyeri di dadanya memgambang lagi. Bagai kapas yang dimasukkan ke dalam air yang tidak akan tenggelam, begitulah rasa sakit yang dirasakan Max saat ini.


Berusaha melupakan wanita yang dicintainya dengan menikahi Sara ternyata belum membuahkan hasil. Hatinya masih utuh milik Alana. Seluruh jiwa dan raganya hanya milik wanita itu.


"SeƱor?"


"Akan kuusahakan, SeƱor."


"Ya, bekerja keraslah."


Lanjut menggeser layar, Max terkejut melihat sebuah tato di bagian paha bagian atas wanita itu. Sebuah gambar abstrak yang sempat dilihatnya di sebuah tempat.


Pantas saja selama itu, Alana tidak pernah mau memakai hot pants. Ada yang disembunyikan wanita itu.


***


Berguling-guling, berusaha memejamkan mata, Sara telah melakukan semuanya. Namun, hatinya terus saja gelisah.


Hampir tengah malam, Max belum juga kembali. Tidak seperti biasanya -selain pada malam pertama mereka- Max akan pulang lebih awal.


Seandainya akan pulang terlambat, ia sudah pasti akan mengabarinya. Merendahkan ego untuk mencari tahu keberadaan Max, ia menelpon.


"Dering ponsel Max? Dari mana?"


Ia bangkit dari tempatnya berbaring. Kembali menelpon nomor Max, namun suara dering ponsel itu berasal dari laci kecil di nakas.


"Kau bersembunyi di sini, benda kecil."


Sara melihat nama yang tertera di sana. Bukan namanya, tapi berevolusi menjadi sesuatu yang menyebalkan.


"Dasar pria gila! Beraninya dia menamaiku seperti itu."


Gadis mesum🤘.

__ADS_1


"Siapa yang mesum? Dia mengatakan untuk dirinya sendiri. Dasar sialan!"


Hendak mengotak-atik ponsel itu, matanya tak sengaja menangkap sebuah gambar di dalam laci itu.


Gambar seorang perempuan berambut pirang dengan bikini seksi yang membelakangi kamera.


"Siapa dia?" gumam Sara.


Ia mengambil beberapa lembar gambar yang ada di sana.


"Wow, sangat seksi dan cantik! Oh, ini dia dan Max. Astaga, aku iri melihat kedekatan mereka. Apa dia kekasih Max yang bernama-- Ckk, siapa yang menelponku malam-malam begini?"


Sara mengembalikan gambar itu di tempatnya semula dan menjawab panggilan ponsel itu tanpa melihat penelponnya.


"Hm? Kau mengganggu waktu tidurku," keluh Sara.


"Woi! Aku Claire, sialan. Apa kau masih mengigau?"


Mengucek matanya yang kabur karena melihat gambar wanita di dalam gambar, Sara tersenyum canggung.


"Maafkan aku. Kau tahu kebiasaanku, Claire."


"Aku punya kabar bahagia untukmu."


"Apa itu?" tanya Sara antusias.


"Kami akan pulang besok. Tunggu kedatanganku di rumahmu!"


"Eh?" Sara mengerjap ragu. Pasalnya, ia tidak tahu akan mendapat izin dari Max sebagai pemilik mansion itu atau tidak untuk membawa teman. "Siapa yang menjemputmu dari bandara?"


"Aku langsung pulang ke rumahku yang dulu. Sendirian. Oh ya, sudah dulu. Aku akan menghubungimu nanti."


"Baiklah."


Setelah sambungan itu terputus, Sara memejamkan matanya sesaat. Berpikiran apakah Max akan memenuhi permintaannya untuk membawa teman dan nonton bersama sampai malam.


Pikirannya kembali terusik oleh gambar wanita di laci Max.


"Apa aku pantas bersama Max? Tidak, aku bukan orang yang baik. Pria menyebalkan harus mendapat wanita yang sabar dan aku tidak masuk kategori. Baguslah, semuanya lancar. Dia pasti tidak akan menemuiku lagi."


Namun sayang, pintu kamarnya terbuka dan tampaklah sosok Max yang acak-acakan. Kemeja yang dikancingnya tadi pagi berantakan.


Sialnya, pria itu menghampirinya dan memanggil nama seseorang yang membuatnya mengepalkan tangan.


"Akhirnya, aku menemukanmu, Lana. Aku sangat merindukanmu, Sayang."


Tidak hanya tangan yang merangkul pinggang Sara, bibirnya juga sudah berkeliaran dimana-mana. Menandai kembali bagian yang telah berubah warna.


"Aku mencintaimu, Lana."


.


ā™”ā¤ā™”


.


.


.


***

__ADS_1


Love,


Xie Luā™”


__ADS_2