SOLEDAD

SOLEDAD
Takut


__ADS_3

Jangan lupa like, komen dan rate ya😊😘


.


.


.


***


Takut mengganggu Max dan Sara, Deborah beringsut mundur berniat untuk kabur sebelum anak sulungnya menyadari hal itu. Namun, sayang sekali rencana itu tinggal rencana.


"Mommy, berhenti!"


Suara dingin Max menghentikan langkahnya. Menoleh takut dan tertawa hambar, aura Max sangat kelam.


"Urusi urusan dengan istrimu, Iglesias menelponku!" ucapnya takut-takut namun sedikit terdengar ketus agar Max tidak curiga terhadapnya yang sedang menahan ketekutan.


"Jangan lari dari tanggung jawab, Mommy. Kenapa kau membawa istriku keluar?"


Berdecih malas, Deborah mengibaskan rambut hijaunya di depan Max. Sungguh sebuah pertunjukkan yang dilakukannya dengan sungguh-sungguh agar semua orang percaya dengan rasa percaya dirinya yang tinggi.


"Dia yang merengek minta keluar padaku, mungkin dia bosan berada di rumah terus."


Sara melotot. Terkejut oleh dalih Deborah yang menjadikannya kambing hitam dalam situasi mencekam seperti itu.


Jelas-jelas dia yang membawa Sara kabur dari rumah dan menguncinya di dalam mobil.


"Lihat saja rambut pelanginya, dia sangat suka dan menghabiskan banyak uangku."


Melihat ekspresi Sara yang seperti mayat beku, Deborah tertawa dalam hatinya. Kau saja yang bertanggungjawab untuk itu, Sara, kau sudah menghabiskan uangku, begitulah arti sorot matanya sekarang.


Dengan langkah yang dibuat seanggun mungkin, wanita itu mendekati putranya dan menepuk pundaknya pelan.


"Ternyata istrimu sangat suka merias diri, Max. Berhati-hatilah, dompetmu pasti akan kempes suatu hari nanti!"


Seraya melirik Sara yang terdiam kaku di samping Max, Deborah kembali melancarkan misi selanjutnya.


"Oh iya, aku melupakan sesuatu. Max, kau harus membayar kembali uangku yang sudah dihabiskan oleh istrimu yang rakus ini, dikembalikan lima kali lipat!" ketusnya sambil mengangkat tangan dan menunjukkan jari tangannya.


"Jangan lupa! Li-ma ka-li li-pat!"


Membusungkan dadanya bangga, Deborah berucap dalam hati, "Lihat, aku keren 'kan, Sara? Begitulah cara mengurangi isi dompet Max! Kau baru tahu aku keren 'kan? Huh, aku memang hebat!"


Sara yang terdiam sejak tadi hanya bisa meremas jemarinya dengan gemetar. Wajah penuh tawa Deborah tadi kini berganti dengan seringai iblis dan itu membuatnya takut.


Semua kalimat wanita itu menjatuhkannya ke dalam jurang yang curam, menghempaskannya di atas duri yang tajam dan membuangnya ke dalam mulut serigala.


Mata tajam pria itu menusuk ke dalam relung jiwanya, ditambah genggaman tangannya yang semakin erat. Seringai di bibir Deborah semakin lebar apalagi mengetahui dirinya seperti patung yang berdiri tegak.


Harusnya aku tahu ini jebakan kuntilanak sebelum aku kemari! rutuknya dalam hati.


"Sayang ...."


Bulu kuduknya meremang, seolah ada tangan halus yang membelainya lembut dengan bisikan maut. Membuatnya merasakan panas dan menahan napas.


Jambang Max yang mulai tumbuh menggelitik rahangnya, suasana yang normalnya akan terkikik geli tapi sekarang rasanya sangat mencekam.


"Apa yang dikatakan Mommy benar? Kau menghabiskan banyak uangnya?"


Bahkan untuk menggelengpun rasanya kaku, tidak bisa bergerak lincah. Sara menelan ludah kasar ketika lidah Max bergerak di kulit lehernya. Ia bergerak gelisah dan itu membuat Max semakin gencar menggodanya.


"Sayang, jawab aku!"


"Ah ...."


Ia mengerang, Max menggigit lehernya. "Kenapa kau tidak menjawabku, Sayang?"


Wajahnya memanas, ia merasakan tangan Max menjelajahi pinggangnya dengan nakal.


Bagaimana pria ini melakukannya di depan Mommy? Apa dia sudah gila?


"Max ...."


"Hm, hukumanmu!"


Melotot heran, Sara mencengkram kaosnya. Mata biru itu menatap penuh harap dengan seringai lebar di bibir tipisnya. Dan sekali lagi, Max menggigit lehernya.

__ADS_1


"Max ah ...."


Menanggapi itu, Deborah berbalik. "Lanjutkan kemesraan kalian, aku harus pulang!"


"Kau harus tetap di sini, Mommy!"


"Dan mengganggumu bermesraan? Alex, antarkan aku pulang!"


Pria tampan yang jomblo ngenes itu menurut, mengikuti langkah Deborah menuju mobil wanita itu.


"Alex! Aku majikanmu!"


Tanpa menoleh, Alex melambaikan tangannya. "Maaf, SeƱor, aku harus menghargai status lajangku!"


"Sialan!" umpat Max.


***


Sepeninggal Alex dan Deborah, Sara was-was dengan tindakan Max yang sangat liar. Tangan dan lidahnya tidak bisa dikendalikan.


"Kita juga harus pulang, Sayang."


"Astaga!"


Sara memekik saat Max menggendongnya. Secara refleks, ia mengalungkan tangannya di leher Max dan membiarkan tubuhnya melayang.


"Max, turunkan aku! Aku bisa berjalan sendiri."


"Hukumanmu banyak, lumayan untuk mengganti uangku yang kau habiskan."


Sara menegang, mengingat kesalahan yang dijatuhkan Deborah untuknya. "Aku tidak melakukannya, Max. Mommy yang menculikku dan membawaku kabur ke sana."


Menyeringai licik, tentu saja Max tahu itu. Hanya saja ia ingin menggoda istrinya dan sengaja menjatuhi hukuman berat untuknya.


"Mommyku tidak mungkin berbohong, Sayang."


Hati Sara sedikit mencelos kecewa karena kejujuran Max. Tentu saja ia akan memercayai Deborah, diakan ibunya. Tapi, kenapa ia harus merasa sedih? Bukankah itu bagus untuk masa depannya?


Harusnya itu kabar baik untuknya. Ia tak ingin siapapun merasa tersakiti oleh dirinya. Sebuah keistimewaan jika Max berhasil tidak percaya padanya. Tetapi, hatinya tetap saja tidak terima. Ia justru merasa kecewa.


"Sayang ...."


"Hm?"


"Nothing."


"Hm, ayo pulang."


Keheningan merajai mobil itu. Sara diam seribu bahasa, tidak ada topik yang harus ia bincangkan dengan Max. Pria itu juga demikian, tangannya sibuk menyetir dan menghisap benda bernikotin.


Kepulan asap itu sedikit mengganggu indra penciuman Sara, karenanya ia menutup hidungnya dan membuka kaca mobil. Membiarkan udara segar mengambil alih dan mengisi paru-parunya.


Namun, yang membuatnya kesal, Max tiba-tiba menutup kaca itu dengan cepat.


"Apa yang kau lakukan, Max? Aku sesak napas."


"Kau harus terbiasa."


Sara mengerucut kesal, belum sempat ia membuka kaca itu lagi, tangan Max menariknya.


"Aw! Max!"


"Jangan membantahku, Sara. Kau belum mengakui kesalahanmu hari ini, jangan berpikir untuk bisa lari dari hukumanmu."


Tangan nakal itu sudah menyentuh bagian sensitifnya. Dengan sedikit melenguh, Sara menatap sayu mata biru itu.


"A-aku tidak melakukannya, Max."


"Kau pikir kau sedang membohongi siapa?"


"Eh?"


Mata tajam itu menatapnya intens, datar tanpa berkedip. Rasa membuncah yang tadi dirasakannya diganti dengan rasa takut melihat rahang Max mengetat.


Ia tak bisa mengelak saat Max mencengkram pundaknya erat.


"Kau tidak bisa membohongiku, Sara. Mommyku selalu benar!"

__ADS_1


"K-kau benar ..., maafkan aku."


Sara menunduk takut apalagi kini Max menghentikan mobilnya dan menariknya duduk di pangkuan pria itu.


"Ya, kau memang harus meminta maaf dan menjalani masa hukumanmu. Kau tidak boleh keluar selamanya dari rumah itu, sekalipun ke geraja seperti yang kau pinta."


Sara menelan ludah kasar, separah itu hukuman untuknya. Sementara dirinya adalah korban di sini. Meski begitu, ia sadar tidak punya wewenang untuk berkompromi dengannya.


"Maaf," cicitnya pelan, berusaha mengendurkan pelukan Max di tubuhnya.


"Kenapa?"


"Aku tidak bisa bernapas."


"Karena asap rokok?"


"Tanganmu mencekikku, Max."


Max tertawa, ia menurunkan Sara. "Hukumanmu!"


"Apa?"


"Kau mengerti, Sara!"


Menahan napasnya dalam-dalam, Sara mendekat dan memberikan ciuman di bibir Max. "Kau memaafkanku?"


"Tidak semudah itu, Sara. Kau masih harus menjalani hukuman lain setelah ini. Maaf dariku sangat sulit didapatkan!"


"Kau memang pelit," gumam Sara seperti angin lalu, Max masih bisa dengar.


"Kau tidak akan mengerti tentang kehidupan kalau hidupmu penuh dengan kejujuran dan keterbukaan, Sara. Adakalanya kau harus menjalani hari yang tidak sesuai dengan keinginanmu."


'Aku sudah menjalani itu semua, Max. Tidak ada yang berubah dariku, bahkan hidupku sekarang lebih menyedihkan dari dulu,' gumamnya dalam hati. Ia menatap lurus ke depan, keramaian di sore hari memang suatu ciri khas kota itu.


Tidak ada yang menarik perhatiannya, bangunan tinggi bersejarah menjulang di bawah langit. Pepohonan hanya beberapa yang ikut meramaikan pandangannya.


"Sara?"


"Hm?" Ia menoleh.


"Kapan kau berencana mengembalikan warna rambutmu?"


"Eh? Mommy melarangku mengubahnya. Apa ini mengganggumu? Aku akan mewarnainya lagi jika memang itu mengganggu."


Max berdecak, ia mengusap rambut pelangi milik Sara. "Apa kau nyaman? Bukankah ini terlalu mencolok? Tidak nampak seperti rambut manusia."


"Kau benar, tapi setidaknya aku harus menghargai usaha Mommy, dia menghabiskan banyak uang di sana."


"Dia meminta ganti rugi, Sara. Kau mendengarnya, bukan?"


Sara mengangguk. "Bagaimana? Aku sedikit tidak nyaman, semua orang memerhatikanku. Mungkin mereka berpikir aku kerasukan."


Pria itu tergelak mendengar pengakuan istrinya. Memang seperti yang dikatakan Sara, pertama kali ia melihat rambut itu, matanya tidak bisa terbuka. Menyilaukan!


"Eh, Max? Ini bukan jalan ke rumah. Max?"


"Kau harus menemani Blue sekarang. Ingat hukumanmu, Sayang ...."


Bulu badannya berdiri, bukan karena seringai di bibir Max, tapi mendengar nama yang tidak asing di telinganya. Blue? Serigala itu?


Apalagi mobil itu sekarang berhenti di tepi hutan. "Max, kau akan menjadikanku makanan serigala?" tanyanya pelan.


"Kalau kau tidak menurut."


Sara menelan ludah kasar, ia mendekap tubuhnya. Ia takut sekarang, berharap Tuhan segera menolongnya dari genggaman Max.


.


.


.


***


Love,


Xie Luā™”

__ADS_1


__ADS_2