
Vote ya😘
.
.
.
***
Sara berusaha menggerakkan tubuhnya. Tapi tidak semudah yang dibayangkannya. Dia ingat menggoda Max akan berakibat buruk pada tulangnya.
Efeknya baru terasa saat pagi dan Sara menyesali perbuatannya semalam. Demi Tuhan, dia tidak akan menggoda Max lagi.
Pria itu benar-benar liar. Penyatuan mereka terjadi berulang-ulang hingga Sara terlena dan melupakan kenyataan saat terbangun.
"Kau sudah bangun?"
Sara mengerjap gugup. Suara Max di pagi hari terdengar sangat seksi dan itu mengingatkannya kembali pada desahan dan geraman saat mereka bercinta.
"Y-ya."
"Bangunlah, kau harus mandi."
Sara mengintip dari balik selimut. Max sudah mandi dan telihat sangat tampan di balik kemeja putihnya apalagi lengan kemeja itu digulung sampai siku.
Sesaat dia terpana, tapi mengingat dirinya yang masih tanpa pakaian, Sara mengerucut. Kenapa Max sudah tampan sementara dirinya masih sangat berantakan?
"Hei, jangan tidur lagi. Kau harus berendam air hangat untuk memulihkan tenagamu. Atau kau masih mau melanjutkan permainan kita?"
Wajah Sara memanas. Dia bangkit dari tidurnya dan menutup tubuhnya yang tanpa sehelai kain itu.
"Bisakah kau menggendongku ke sana? Aku pikir, aku benar-benar tidak bisa jalan."
Max terkekeh. Dia tahu itu. "Kau kuat. Kau mengatakan itu tadi malam."
"Aku hanya bercanda," cicit Sara. Dia memalingkan mukanya ketika Max mendekat.
"Jadi, berhenti menggodaku. Jika terjadi lagi, alu pastikan kau tidak bisa bangun dari ranjang selama seminggu."
Sara melotot kaget. Separah itu? Tapi benar juga, Max sangat kuat. Bisa dipastikan itu akan terjadi jika dia melakukannya lagi.
"Y-ya, gendong."
Max mengangkat istrinya dan mengantarnya ke kamar mandi. Dia juga menyiapkan air hangat di dalam bathup dan membiarkan istrinya berendam.
"Pergilah, aku bisa melakukan itu sendiri."
"Aku sedang ingin memanjakan istriku. Kau sering melakukan ini untukku dan sekarang aku sedang mencoba untuk membalasmu," ucap Max sambil tersenyum nakal. "Kenapa masih menutup tubuhmu? Masuklah ke sini, apa kau akan menbasahi selimut kita?"
Sara mendengus kesal. "Kau keluar dulu."
"Kenapa kau berubah sekarang? Kau menggodaku semalam dan tidak membiarkanku pergi."
"I-itu kesalahan."
Max menyelesaikan pekerjaannya dan mendekati sang istri. Tanpa sepengetahuan Sara, Max sudah melepaskan selimut yang menutupi tubuhnya itu dan Max langsung menggendongnya masuk ke dalam.
"Kau?! Dasar pria licik!"
"Aku sudah menyentuh semuanya. Apa lagi yang harus disembunyikan?"
Sara berdecak sebal. Dia menyiram Max dengan air sabun di bathup itu. "Kau akan menyiksaku lagi nanti. 'Barang'mu gampang sekali berdiri."
Bibir pria itu menyeringai. "Aku tidak bisa menahan diri dan sekarang kau membasahi bajuku, aku tidak bisa pastikan apa yang akan terjadi nanti."
Mata Sara melebar. Max memang sangat licik dan dia terjebak di dalam permainan pria itu.
"Jangan mandi bersama!!"
"Tidak ada larangan suami mandi bersama istrinya."
"Ini hukum yang aku buat untuk kita berdua!" tegas Sara. Dia mewanti agar hal itu tidak terjadi lagi.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Dengan senyum tidak tahu malunya, Max melepas pakaiannya dan ikut duduk di dalam bathup.
"Aku terlahir untuk tidak mematuhi hukum dan aku senang karenanya."
__ADS_1
"Max!!!"
"Kenapa, Sayang?"
"Keluar sekarang! Kau mengangguku!"
Max tidak mudah menurut. Dia memeluk istrinya dari belakang dan membiarkan Sara duduk di pangkuannya.
"Jangan bergerak. Kau bisa merasakannya 'kan?"
Wajah Sara memerah malu bercampur kesal. Dia diam membiarkan Max menggosok punggungnya dan tidak mengganggu adik kecil Max.
"Kita sudah lama tidak mandi bersama. Aku merindukannya."
Sara bergerak ketika Max menggosok pinggangnya. "Geli," ringisnya pelan.
"Jangan membuat konsentrasiku teralihkan, Sayang."
"Kau yang menggelitikku."
Max menyeringai. Dia menggerakkan jarinya di punggung Sara membuat wanita itu bergerak gelisah.
"Jangan bergerak."
Sara menggeleng lemah. Bagaimana tidak bergerak kalau Max mengganggunya dengan sentuhan yang seperti itu?
"Jangan ..., jangan lakukan lagi ...," ucap Sara pelan.
"Kenapa?"
"I-ini di kamar mandi."
"Berarti kita harus pindah ke ranjang."
Sara tidak menjawab membuat seringai Max bertambah lebar. "Tapi kau harus menggosok punggungku juga."
"Mau ke mana?" tanya Max saat istrinya hendak keluar dari bathup.
"Menggosok punggungmu."
"Kau bisa melakukannya di sini."
"Gosoklah."
"Bagaimana bisa?"
"Kau bisa melakukannya sambil memelukku."
"Aku punya firasat buruk," gumam Sara saat tahu ada yang tidak akan bisa dihindarinya.
Dia menggosok punggung Max sambil memeluk pria itu.
"Ini lebih baik dari yang kubayangkan," kekeh Max sambil menggambar sesuatu di punggung istrinya menggunakan busa.
Dan Sara bergerak tidak fokus. "Jangan bergerak, Sayang."
Sara menutup mulutnya. Tapi tetap saja dia tidak bisa mematung, sentuhan Max di punggungnya mengalihkan fokus.
"Max," panggilnya pelan.
"Ya, Sayang?"
Pipi Sara kembali memanas. Dia merasakan benda itu mengeras lagi, tapi tidak bisa mengatakannya pada Max.
"Kenapa pipimu sangat merah?" tanya Max sambil mencium pipi istrinya.
Sara menggeleng. "Ti-tidak."
"Aku menginginkannya lagi, Sayang," ucap Max pelan. "Dia berdiri lagi."
Sara tidak dapat berkata-kata lagi. Dan dia tidak bisa lari dari genggaman tangan Max yang meremas gundukan sintal miliknya.
Bibir pria itu kembali menggoda lehernya hingga Sara kembali takluk. Dia tidak bisa menghentikan apapun yang akan terjadi.
***
Bibirnya terus mengerucut. Tidak ada waktu luang yang tidak diisi oleh Max tanpa menggodanya. Hingga keduanya terlambat ke sebuah tempat.
__ADS_1
"Ayolah, berhenti cemberut. Kau juga menikmatinya tadi."
Sara menatap tajam. "Kau yang tidak melepasku!"
Pria itu terkekeh pelan, dia menggenggam tangan istrinya. "Ya, maafkan aku. Jangan marah lagi, ok?"
"Aku tidak berjanji, tergantung dari sikapmu padaku," ketus Sara membuat Max menelan ludah kasar.
"Oke, aku akan baik-baik padamu, Istriku."
"Cih," dengus Sara pura-pura kesal, sementara di dalam hatinya sudah berbunga-bunga.
"Ayo jalan!"
Max menarik istrinya agar mereka jalan berdampingan. Menggandeng tangan istrinya di tepi jalan dan berjalan seperti pasangan yang sedang melakukan kencan romantis.
"Bukankah kita akan menemuinya?" tanya Sara bingung karena setahunya tempat yang dituju bukan ke arah mereka berjalan sekarang.
"Tidak bisa di tempat terbuka. Stephen tidak suka keramaian."
Mereka berjalan kaki, Max menggandeng istrinya yang kesusahan berjalan. Melihat itu, Max tersenyum nakal. Dia ingin sekali menggoda Sara, tetapi mood wanita itu sekarang sedang naik turun.
Beberapa lama mereka berjalan, Sara melihat ada bangunan kumuh yang terbengkalai. Terlihat sangat tua dan mudah runtuh kalau ada guncangan. Membayangkan itu, Sara bergidik ngeri.
"Apa di tempat ini? Sangat menakutkan."
"Tidak semenakutkan wajah Stephen, bukan?"
Sara menggeleng pelan, "Tidak, dia lumayan seram tapi tidak terlalu jahat. Ada sedikit kebaikan yang terselip di sisi kejamnya."
"Kau menilainya seperti itu?"
"Aku memang tidak pandai menilai orang, tapi dia tidak pernah menyakitiku. Itu artinya dia bukan orang yang kejam."
Max menahan kesal, dia memandang Sara dengan wajah datar. "Dia menjualmu pada binataang itu, Sayang! Apa dia manusia? Juga melemparmu ke laut, dia berniat membunuhmu!"
Sara menggeleng, menolak penilaian Max. "Ada yang tersembunyi dari tatapan matanya. Aku tahu itu. Mungkin dia melakukan itu demi sebuah alasan juga."
Menahan geram dan marah karena Sara membela Stephen, Max memilih berlapang dada. Mungkin penilaian Sara terhadap Stephen seperti yang dilakukan Sara sebelumnya.
Mama pasti punya alasan melakukannya.
Kalimat itu yang menghentikan semua kata yang hendak keluar dari bibirnya. Hingga sebuah suara mengejutkan mereka.
"Kau sudah tiba, Adikku Sayang? Dan kau juga Maximus Kecil?"
"Stephen?!"
"Elijah?!"
Tunggu! Adik?! Apa maksudnya?
"Adik?" tanya Sara kebingungan.
Stephen memandang datar pada Sara, lalu menyodorkan sesuatu padanya. "Kau menginginkan kalung ini, bukan? Mereka meledakkan mobilku hanya karena aku tidak mau menemui orang suruhan suamimu di depan pintu."
Sara menerima kalung itu tanpa suara. Dia masih kebingungan dengan julukan baru yang diberikan Stephen padanya.
"Tunggu! Kau mau ke mana?"
Sara menahan tangan Stephen ketika pria itu hendak pergi. Dan Max menatap tanpa ekspresi pada tangan istrinya yang menyentuh tangan Stephen itu.
"Pulang, tentu saja."
"Ta-tapi ..., apa maksudmu tadi? Adik?"
"Kau akan mengetahuinya nanti, Adik kecil."
Stephen langsung pergi setelah mengucapkan kalimat membingungkan itu. Setelah jauh dari sana, Stephen berteriak lagi.
"Buka liontinmu dan lihat isinya!"
.
.
.
__ADS_1
***