
Happy reading!
.
.
.
***
"Dad, kau membuatnya kaget." Max berucap dan bangkit untuk menyusul sang istri yang lebih dulu ke kamar.
Iglesias menurunkan kacamata yang tadi sudah dipakai kembali, menatap Max dengan tatapan bertanya. "Apa salahku? Aku tidak membohonginya."
"Itu tidak benar, Dad."
Sang ayah menghela napas berat. "Dia harus belajar memahami apa yang baik dan buruk, Max. Seorang perempuan haruslah tetap menjadi perempuan, pekerjaan pria tidak perlu dia lakukan."
Max memandang lurus manik yang sama dengan miliknya. Lalu berucap, "Tapi Sara latihan menembak dari Mommy, Dad."
Iglesias mendengus kesal. "Berbeda dengan istrimu, Deborah sanggup menerima kenyataan dan tidak bersimpati pada orang yang dilukainya. Lihatlah Sara, bahkan dia tidak bisa memaafkan dirinya mendengar kabar burung itu."
"Tentu saja dia punya perasaan, Dad."
"Kalian tidak akan bisa mengalahkan Thompson jika kemampuan mengendalikan perasaan hanya sebatas itu."
"Dad?" Max terbelalak tidak percaya. Dia kembali ke tempat duduknya dan menatap ayahnya dengan bingung.
"Kalau Sara tidak bisa menghentikan perasaan simpati itu, dia akan hancur di tangan Thompson."
Dengan datar, Max mendebat ayahnya. "Istriku tidak ada hubungan lagi dengannya, Dad. Aku tidak akan membiarkan lelaki tua itu mendekati Sara."
Iglesias terkekeh pelan. "Apa kau yakin? Bagaimana kalau istrimu yang akan masuk sendiri ke dalam kehancuran itu?"
Kepala Max otomatis menggeleng. Dia bangkit dan meninggalkan Iglesias sendiri. "Aku akan membuatnya tidak bisa pergi ke dalam bahaya, Dad."
Max memasuki kamar yang disiapkan untuknya dan Sara. Sebuah kamar yang tidak terlalu besar, yang selalu dipakainya saat berkunjung ke rumah orang tuanya.
Dia melihat wanitanya terbungkus selimut di atas ranjang, membelakangi pintu. Max membuka pakaian dan menyisakan boxernya. Dia mendekati sang istri.
"Kau sudah tidur?"
Mata Sara terbuka. "Ada apa?"
"Mandi dulu. Kau lelah sepanjang hari ini, Sayang."
Wanita itu menggeleng. "Aku hanya ingin tidur."
Sara kembali menutup matanya dan membuat Max mendesah. "Hei, jangan salahkan aku kalau tidak membiarkanmu tidur."
Max mulai mengganggu istrinya dengan kecupan-kecupan ringan di seluruh wajah, dan itu benar mengganggu tidur Sara.
"Jangan ganggu aku, Max. Aku lelah," ucapnya merengek.
"Tapi kau butuh mandi, Sayang."
"Aku lelah, ingin tidur."
"Kalau begitu, biarkan aku menggendongmu ke kamar mandi. Cukup tutup matamu dan aku memandikanmu."
__ADS_1
Serigai tercetak di bibirnya tatkala Sara membuka mata lebar dan langsung bangkit dari tidurnya. "Dasar cabul," umpat Sara.
Max terkekeh. Dia mengikuti istrinya masuk ke kamar mandi. "Kita harus mandi bersama."
"Aku lelah, Max." Sara coba menghindari sentuhan dengan Max tapi pria itu terkekeh lagi dan memeluknya erat.
"Aku tahu, aku tidak akan memaksamu bercinta. Kita hanya mandi, ok?"
Sara mengerucut sebal, apalagi Max membantu melepaskan kaos oblongnya. Pipinya memanas, meski berulang kali melakukannya, tetap saja masih merasa tidak nyaman.
"Tanganmu jangan nakal, Max," ucapnya mengingatkan karena tangan Max hampir lepas kendali.
"Ok, maaf. Ayo mandi."
Keduanya berdiri di bawah shower. Max membalikkan badannya Sara, tidak membiarkan wanita itu berhadapan dengannya.
"Max, aku tidak ingin bercinta sekarang."
"Karena itu aku membalikkan badanmu, Sayang. Kita hanya mandi," ujar Max dan memeluk Sara dari belakang.
Tampilan mereka terpampang jelas di tembok yang berkilauan itu. Sara malu sendiri. Mereka mandi tanpa sehelai kain di tubuh dengan Max yang membantu menyabuninya.
Keduanya mandi dalam keheningan. Sangat singkat dan berakhir tanpa melakukan apapun di sana. Baru kali ini Max menepati janjinya. Sara terkekeh dalam hati.
Saat keluar, Sara baru menyadari dia tidak memiliki baju ganti. Memakai kimono handuk dengan rambut yang basah, dia celingukan.
"Max, aku tid--"
Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Max menyodorkan sesuatu untuknya. "Mommy yang menyiapkannya," ujar Max dan memalingkan wajah dan berlalu dari sana.
Sara menatap horor pada benda yang ada di tangannya. Seperti gaun tapi sangat tipis dan pendek, bahkan sudah seperti saringan yang sering dipakainya di dapur bersama Adrian.
"Mommy yang menyiapkannya, Sayang," ucap Max lagi. "Tidak ada pakaian lain di sini."
Sara tidak percaya. Dia mendekat ke lemari pakaian yang berdiri kokoh di sana. Membongkar seluruh isinya, Sara tidak menemukan benda lain di sana selain kain tipis seperti itu dalam bentuk yang lain lagi.
"Hanya itu yang sedikit panjang, Sayang. Pakailah, hanya untuk malam ini saja," ucap Max. Senyum di bibirnya tidak luntur, dia berterima kasih dalam hati pada Deborah.
Bibir Sara kembali mengerucut, Max mendekat dan mengecup singkat. Dengan ragu-ragu, Sara memakai baju yang menurutnya aneh itu.
Pandangan mata Max tidak lepas dari sang istri, apalagi setelah baju itu terpasang di tubuh Sara yang langsing, Max menelan ludah kasar.
Hasratnya bangkit lagi. Dia tidak yakin bisa membiarkan istrinya tidur nyenyak malam ini. "Ayo keringkan rambutmu."
Semua perlengkapan wanita sudah disiapkan Deborah di kamar itu. Lengkap dengan pelembab wajah yang sering dipakai Sara.
"Mommy menyiapkan dengan sempurna," gumam Max. Dia memegang hairdryer dan siap mengeringkan rambut istrinya.
Tapi Sara mengambil alih dan tidak membiarkan Max melakukannya. "Aku bisa sendiri."
Berdekatan dengan Sara, Max benar-benar tidak kuat bertahan. Setiap gerakan Sara membuat inti tubuhnya bangkit. Tidak ingin mengganggu, Max lebih dulu merebahkan diri di kasur. Menunggu sang istri yang sibuk dengan rambutnya.
Selesai dengan itu. Sara bergegas masuk ke dalam selimut. Pakaian minim yang mudah sobek itu mengganggunya apalagi tatapan Max yang sangat jelas tidak bisa dia hindari.
"Berhenti menatapku seperti itu, Max."
"Aku melihat istriku. Tidak ada hukum yang melarang itu, Sayang."
Max langsung menarik Sara dalam pelukan meski wanita itu meronta. "Aku tidak ingin melakukannya malam ini, Max. Daddy dan Mommy pasti akan terganggu."
__ADS_1
Pemilik manik biru itu terkekeh. Tangannya yang nakal sudah menjalar ke mana-mana. "Kau yang terlalu berteriak keras, Sayang. Aku usahakan bermain dengan tempo pelan kali ini," ucapnya dan mulai menggigit kecil telinga Sara. Membuat wanita itu meringis pelan.
"Apa kau vampir?" Sara mendesis sakit karena Max kembali menggigit telinganya yang tadi siang mendapat jatah.
"Ya, vampir lapar yang haus darah."
Sara kembali larut dalam godaan jemari suaminya, tidak bisa mengendalikan diri meski badannya sudah benar-benar lelah.
Max dengan kasar merobek baju tipis yang dipakai Sara membuat Sara terkejut.
"Ini mengganggu, Sayang," ucapnya dan melanjutkan gerakan tangannya.
Tidak bisa menolak gejolak dalam diri masing-masing, keduanya kembali mencapai puncak kepuasan. Sara tertidur di bawah kungkungan lengan Max, lemas dan tak berdaya menghadapi vampir lapar yang haus darah itu.
***
Pagi datang menyapa. Kemilau mentari mengintip dari balik tirai, memaksa buka manik cokelat yang susah terbuka.
Sara mengucek matanya, menoleh ke samping dan tidak mendapati sang suami di tempat tidur. Tangannya bergerak menarik selimut dan terkejut mendapati dirinya shirtless.
Dan pipinya kembali bersemu merah mengingat pergulatan panas dengan sang suami. Sara menggerakkan kakinya hendak turun, tapi rasa sakit di sekujur tubuh menghentikan.
"Oh Tuhan, aku benar-benar tidak sanggup menghadapi Max," gumamnya.
Sementara di dapur, Deborah tersenyum jahil pada anak sulungnya. Dan bertanya seolah tak berdosa. "Di mana Sara?"
Max yang sedang ikut mengaduk teh menoleh sambil tersenyum puas. "Terima kasih, Mom. Kau yang terbaik."
"Apanya?" Deborah balik bertanya dengan nada biasa. Tapi senyum jahil masih tercetak jelas.
"Baju tipis di lemari benar-benar berguna," ucap Max terkekeh.
Bersamaan dengan itu, Iglesias menghampiri. "Kau membuatnya pingsan?" tanya Iglesias melotot.
"Dad? Kau yang mengajarinya," melas Max dan berdiri di belakang ibunya. Seolah meminta perlindungan dari Deborah.
Lelaki paruh baya itu menggeleng pelan. "Kau belajar dari ibumu, cabul."
Deborah tidak terima. Dia melirik Iglesias dengan tatapan tajam. "Dia anakmu, bukan anakku."
"Mom, kau jahat."
Iglesias mendekat dan menepuk pundak Max. "Kau belum bisa menjadi anakku kalau belum bisa menanam benih."
Max menatap heran, sedikit bingung dengan perubahan sikap Iglesias. Dan sebelum berlalu dari sana dengan secangkir kopi buatan istrinya, Iglesias kembali berucap.
"Lain kali jangan berteriak terlalu keras. Aku sudah cukup tua untuk mendengar suara aneh seperti itu."
Max menelan ludah kasar sementara sang ibu terbahak-bahak di sampingnya. "Ayah dan anak sama saja, sama-sama cabul."
"Mommy!"
"Kau mesum seperti ayahmu." Deborah berlalu dari sana membiarkan Max mengaduk teh hangat untuk istrinya.
.
.
.
__ADS_1
***