
Happy Reading!😘
.
.
.
***
Setelah tangisan wanita itu reda, Max mengelus dadanya yang sedari tadi berdetak kencang. Dia takut istrinya melakukan hal yang buruk dan untuk itu, Max menemaninya.
Sara tertidur pulas setelah puas menangis. Meski sesekali dalam tidurnya dia masih terisak. Max tampak sangat kacau, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Di satu sisi, Thompson adalah ayah biologis Sara. Sementara di sisi lain, dia adalah racun yang membunuh perasaan Sara padanya.
Sara selalu berucap dalam tangisnya, dia membenci Thompson.
Sesaat Max ragu, haruskah dia mempertemukan dua orang yang sejak awal tidak pernah bertemu itu?
Menilai dari watak Sara, hal itu mungkin tidak terjadi. Dan mungkin saja akan ada pertumpahan darah jika pertemuan itu benar-benar terlaksana.
Max bingung sendiri hingga dia mendapat pencerahan.
"Dad, ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu," ucapnya saat Iglesias menerima panggilan.
"Tentang apa?"
"Thompson Cabrera."
"Sara mengetahui faktanya, bukan? Baguslah, aku khawatir tidak bisa menyembunyikan rahasia ini sebelum dia tahu."
Max melotot kaget. Apa?! Ayahnya tahu dan sengaja menutupi ini?
"Dad? Apa ini seperti yang aku pikirkan?"
"Memang seperti itu. Alara melarangku memberitahu Sara, dan membiarkannya tahu dengan caranya sendiri."
"Tapi, Dad ...."
"Biarkan dia memilih jalannya sendiri, takdir kadang tidak bisa kita terima, tapi di balik itu ada jawaban yang memuaskan dari semua pertanyaan."
Max termenung setelah Iglesias memutuskan sambungan. Ternyata ayahnya juga tahu tentang hal ini, dan mungkin inikah alasan Iglesias tidak menghentikannya saat mendengar berita pernikahannya?
"Hanya aku orang bodoh yang tidak tahu apa-apa di sini," desahnya gusar dan mengacak rambut.
Dia memerhatikan istrinya yang masih saja terisak dalam tidur. Meski selimut membungkus tubuh, tapi punggungnya terlihat jelas.
Dia mendekat, menyentuh lembut rambut yang digoyangkan angin dalam lelap itu. Wanitanya bersedih, dia mencium punggung yang terbuka itu sebelum menutupnya.
Max ikut merebahkan dirinya, memeluk istrinya yang membelakangi. Sara masih terisak, dan getaran tubuhnya membuat Max merasa sesak.
***
"Kau sudah mendapat informasi tentang Stephen?"
__ADS_1
"Hanya beberapa, yang terbaru tentang keberadaan Thompson di rumah pribadi Elijah."
Max menghela napas, dia melirik wanita yang masih setia bergelung di dalam selimut, rambutnya tersibak dari balik selimut putih itu.
"Kau tahu apa yang terjadi dengannya?"
"Elijah menghentikan rencana pembunuhannya pada Señora."
Manik biru itu mengepalkan tangannya, menahan geram karena kabar yang menohok. Andai Sara mengetahui fakta itu, mungkin sekarang dia akan lebih membenci Thompson.
Seorang yang menjadikannya ada di dunia ini, berharap dia kembali dengan cepat ke alam baka.
"Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Stephen, tetap pantau dia."
"Baik, Señor."
Sesaat hanya hembusan angin sore yang mengambil alih, gurat-gurat jingga mulai menampakkan dirinya. Mentari mulai bersembunyi, dan mungkin sebentar lagi akan mengucapkan selamat tinggal.
Tirai jendela bergoyang, membiarkan hembusan lembut itu membelai rambut cokelat yang menampakkan diri.
"Persiapkan keberangkatan besok. Aku akan mengurusi semuanya malam ini, istriku tidak aman berada di sini."
"Sí?" Alex bertanya memastikan.
"Kau mendengarnya, Alex!"
"Baik."
Tanpa disadari Max, mata cokelat itu terbuka. Dia mendengar percakapan singkat mereka, membuat hatinya kembali mencelos kecewa.
Dia bangkit, menggosok matanya yang terasa tebal, menatap Max yang diam memandangi luar jendela.
Pria itu menoleh, tersenyum dan mendekat pada istrinya. "Kau sudah bangun? Pergi mandi, kita akan menghabiskan malam terakhir kita di sini."
Sara menatap manik biru itu, lalu turun pada tangannya yang digenggam Max. "Kita benar-benar akan pulang? Aku masih ingin di sini."
"Aku tidak bisa membiarkanmu terlibat masalah, kau nyawaku, Sara."
Dia bisa melihat manik biru yang selalu menggodanya tidak seceria itu. Sara menunduk, menatap kembali pertautan tangan mereka kemudian mengangkat pandangannya dan bertemu manik biru itu lagi.
"Bisakah kau membiarkan aku bertemu Thompson? Aku ingin melihat bagaimana sosok orang yang membuat aku ada."
Tatapan meminta yang memiliki gurat kesedihan itu membungkam mulut Max. Dia terpaksa menganggukkan kepalanya.
Bagaimana pun juga, hal ini akan terjadi. Dan mungkin yang terbaik adalah mempercepat pertemuan keduanya.
"Kau yakin? Aku akan menemanimu."
Sara memggeleng lemah. "Aku akan menemuinya sendiri."
***
Seperti yang diinginkan wanita itu, Max mengantarnya ke tempat yang ditempati lelaki paruh baya, yang menghabiskan sisa harinya di dalam ruangan, diikat dan diborgol oleh putranya sendiri.
Tepat di depan ruangan, Sara menghentikan langkahnya sesaat, menghembuskan napasnya pelan untuk meredakan gugup yang tiba-tiba menghampiri.
__ADS_1
Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan, menyapa ataupun menanyakan kabar. Mereka tidak pernah bertemu sebelumnya, dan ini secara mendadak takdir mempermainkan.
Mengetuk pintu dan kembali menghembuskan napas, Sara menarik gagang pintu setelah ada suara dari dalam. Terdengar seperti geraman, tidak jelas.
Di depan pintu, dia terpaku. Lelaki yang hendak ditemuinya sedang berbaring, lebih tepatnya dipaksa berbaring.
Borgol mengunci pergerakan, dan gerakan yang dipaksa membuat tangannya terluka.
"Kau?!" Geram lelaki yang dipaksa berbaring itu, mata hitamnya menyorot tajam, memaksa Sara untuk tetap berdiri di tempatnya. "Stephen belum membunuhmu?! Anak sialan yang kurang ajar!"
Tangan Thompson mengepal, giginya beradu menimbulkan nada yang menyeramkan. Sara menahan napas, dia menciut.
"Siapa yang mengirimmu kemari anak sialan?! Apa kau datang untuk mengejekku, kemudian membunuhku? Jangan harap, bahkan dalam mimpipun kau tidak akan bisa membunuhku!"
Sara mendekat dengan wajah datar, dia hendak duduk di kursi samping ranjang tempat Thompson, tapi pergerakan kasar dari lelaki itu otomatis menghentikannya.
"Jangan mendekatiku! Kau anak jalaang tidak tahu diri! Anak yang hina dan tidak pantas hidup, kau sama dengan ibumu, menjual diri pada lelaki yang kaya!"
Manik cokelatnya menajam, dia mengepalkan tangan, mengaliri amarah yang sudah menguap. Dia tahu ini yang akan terjadi, Max sudah mewantinya dengan berbagai pernyataan.
'Dia menginginkan nyawamu, Sara.'
Mempertahankan wajah datarnya, Sara memilih duduk. Sendi lututnya lemas, dia tidak bisa mempertahankan posisi seperti itu untuk terus memerhatikan keadaan Thompson.
"P-pa ... papa ...," ucapnya pelan, berhasil membuat pergerakan Thompson bertambah kasar.
"Kau anak seorang jalaang, tidak punya hak memanggilku seperti itu dengan mulut jalaangmu!"
Seluruh otot di tubuhnya lemas, tidak disangka setelah mendengarnya langsung, tetap saja rasa sakit itu datang. Meski dia sudah menduga akan ada ungkapan kebencian dari mulut seseorang yang berstatus sebagai ayah biologisnya.
"Apa yang membuatmu membenci Mama?"
"Dia jalaang! Seorang jalaang yang pantas mati, aku harus membencinya dan membunuhnya dengan tanganku sendiri!"
Sara menangkap suara yang penuh kebencian, aura ingin membunuh dari setiap pergerakan dan tatapan Thompson. Meski
"Kenapa? Kenapa kau membencinya? Bahkan sampai dia tidak ada, kau masih menaruh dendam padaku. Apa kau bukan Papaku?"
Geraman kebencian itu berubah jadi tawa menakutkan, tawa penuh dendam dan hawa yang sangat menyeramkan.
"Kau bukan anakku! Kau anak di rumah pelacuran oleh jalaang itu! Apa kau pantas menyebutku sebagai papamu?!"
Sara masih menatap datar, tidak ada ekspresi yang ditunjukkannya pada Thompson.
"Kau harus mati! Kau harus mati, jalaang! Aku menghabiskan seluruh hidupku untuk membencimu, kau harus mati di tanganku!"
Tidak bergerak dari duduknya, Sara menatap mata hitam yang membencinya tanpa kedip.
"Kalau begitu, lepaskan dirimu dari borgol itu dan bunuhlah aku. Jika tidak, aku khawatir kau yang akan mati lebih dulu sebelum aku."
.
.
.
__ADS_1
---
Ig @Xie_Lu13