
Vote yaπ
.
.
.
***
Max memerhatikan semua benda di dalam amplop itu dengan seringai menakutkan. Dia menatap Sara yang baru saja menerima makanan dari petugas hotel.
"Apa saja yang dia katakan padamu?"
"Tidak ada, bahkan identitasnya tidak dia tunjukkan. Dia hanya bilang seperti itu," jawab Sara sejujurnya karena memang kenyataan seperti itu.
"Ck, dasar bocah," gumam Max.
Dia kembali menatap beberapa lembar foto yang dicetak itu dengan senyuman sinis di bibirnya.
Ada foto pesawat tua yang dipinjamkan Silver itu dengan tulisan di belakangnya. 'Ini balas dendam. Kau tahu maksudku, Senior.' Dengan emot menjulurkan lidah dan mengedipkan mata kirinya, Max terkekeh hambar.
Tidak disangka, pesawat sialan yang membuatnya frustasi itu adalah akal-akalan anak kecil itu.
Dan beberapa lembar foto anak kecil itu yang berdarah. 'Aku telah berhasil menaklukan serigala itu. Dan ini percobaan pertama, aku pasti akan balas dendam lagi padamu, Senior.'
Max terkekeh. Ternyata benar dugaannya, anak kecil itu memang bisa menaklukan hewan pemberiannnya. "Bocah nakal, aku tunggu pembalasanmu selanjutnya" ucapnya.
"Siapa dia?" tanya Sara dan duduk di sampingnya setelah menyiapkan makanan di meja.
"Bocah kecil yang pernah bertemu denganku di Brasil. Dia keturunan orang yang paling ditakuti di sini. Dia terburu-buru bukan? Mark Anthony pasti akan memenggal kepalanya kalau ketahuan berkeliaran," jelas Max sambil terkekeh.
"Mark Anthony?" gumam Sara. Dia sepertinya pernah mendengar nama ini. "Sangat familiar."
"Pemegang kekuasaan Cosa Nostra. Tidak baik melibatkan diri terlalu jauh, Sayang. Cukup sampai di sini, kita akan pergi setelah menyelesaikan urusanku dengan Camorra."
Sara mengangguk mengerti. Dia menarik Max menuju meja. "Kau harus minum vitamin setelah makan."
"Ayolah, Sayang, aku sudah sembuh," tolak Max dengan mengerucutkan bibirnya.
"Hargai pengorbanan seseorang, Max. Kau harus melakukannya atau aku tidak akan makan."
"Oke baiklah, aku suami yang pengertian dan akan menurut pada istri. Kemarilah, jangan berdiri terus."
Sara duduk di samping suaminya. Rasanya seperti remaja yang sedang jatuh cinta, Sara merasa deg-degan. Pengakuan Max tadi mengejutkannya dan itu sangat luar biasa.
Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan lagi dan sudah mendapat pengakuan dari sang suami. Dan tentu saja pengakuan itu membuat Sara tanpa sadar senyum-senyum sendiri dengan pipi yang sudah merona.
Max yang menyadari perubahan suasana dan wajah istrinya yang berubah merah maroon, mengambil inisiatif dan menyuapi sang istri dan menggodanya dengan seringai tipis.
"Jangan melamun, aku tahu wajahku tampan, tapi kau tidak boleh terus mengkhayal dan menciumku dalam pikiranmu. Lakukan saja apapun yang kau mau secara langsung, aku milikmu!"
Max terkekeh kala Sara mendelik ke arahnya dengan wajah yang masih memerah. "Aku juga tahu kau mencintaiku, Sayang."
Wajah Sara bertambah merah. Dia memalingkan mukanya agar Max tidak melihatnya tapi terlambat, Max sudah melihat itu.
"Kau bercanda, aku tidak begitu," sangkal Sara.
"Ayolah, kau pernah mengatakannya padaku."
"Tidak."
"Sekejab kau membuatku hancur, Sayang," ucap Max dengan dramatis dan mengusap dadanya seolah sangat sakit hati.
__ADS_1
"Berhenti main drama, kau tidak berbakat."
"Aku mengatakan kebenaran. Katakanlah sesuatu tentang itu, aku ingin mendengarnya lagi."
"Tidak," tolak Sara. Dia menolak untuk menatap mata Max.
"Tidak ada orang lain di sini, hanya aku yang akan mendengarnya, Sayang."
Sara menggeleng hingga Max mengangkatnya ke pangkuan pria itu.
"Apa yang kau lakukan? Turunkan aku! Kau harus makan, Max!"
"Tidak sebelum kau mengatakannya."
"Aku tidak mau!"
"Maka aku tidak akan makan!"
"Maka kau akan mati konyol."
Max tertawa hambar. Dia memeluk istrinya dengan lembut. "I love you 3000," ucapnya yang membuat Sara terkekeh.
"Sebanyak itu?"
"Itu masih kurang. Harusnya aku mengatakan sebanyak pasir di laut dan bintang di langit, tapi itu tidak terdengar keren," jawab Max asal.
"Jadi lebih mementingkan kalimat yang keren daripada yang seharusnya?"
"Kau tidak tahu, Sayang. Ungkapan cinta itu harus diucapkan dengan keren agar terdengar romantis seperti kata pujangga."
"Tapi itu tidak terdengar keren di telingaku."
Max membalikkan badan Sara dan mencapit hidung mungil perempuan itu. "Maka kau harus mengajariku."
Sara menelan ludah kasar. Dia terjebak, Max hanya ingin mendengar kalimatnya saja. "Aku tidak bisa."
"Aku hanya pandai mendengar dan membedakan, tapi tidak punya bakat membuat kalimat seperti itu," kilah Sara.
Max menghembuskan napas berat. "Baiklah, aku takluk. Aku akan menunggu pengakuanmu selanjutnya, Istriku."
***
Menelpon Alex dengan ponsel pemberian anak kecil yang menyembunyikan identitas itu, tapi tidak ada jawaban dari Alex membuat Max menahan kesal.
"Kau harus istirahat sebentar, kakimu belum sembuh, Max," tegur Sara yang memerhatikan sang suami sedang gelisah tentang keselamatan anggotanya.
"Ini hanya luka biasa, Sayang. Tidak apa-apa," jawab Max halus.
"Aku yang tidak biasa. Istirahatlah, kau harus sembuh hari ini juga. Aku tidak ingin hidup lama di negara ini."
"Berikan aku ciuman," tawar Max.
"Istirahat akan membuatmu sembuh, Max."
"Ciuman akan menyembuhkanku, Sayang. Mendekatlah."
Meski sedikit segan, Sara tidak punya alasan untuk menolak. Dia memang merindukan sentuhan suaminya.
Max terkekeh melihat pipi Sara yang kembali memerah ketika dia berhasil menyentuh pipi istrinya dengan bibir.
"Hanya ciuman di pipi dan kau sudah malu? Astaga, Sara, apa yang akan terjadi kalau aku menelanjangimu?" goda Max dengan menjilat leher sang istri.
Sara memilih bungkam. Sial, dia benar-benar gugup. Andai saja waktu bisa dikembalikan, Sara ingin mengembalikan masa- masa di mana dirinya dan Max masih memiliki batasan dalam sentuhan.
__ADS_1
Berbeda dengan sekarang, benih cinta sudah tumbuh dan berkembang, menyesakkan rongga dada hanya karena hembusan napas saja. Sara merasa sangat tak biasa.
Apalagi kini lidah Max menjelajahi lehernya dengan godaan aneh yang membuat tubuhnya otomatis bergelayar aneh. Sara mengeratkan pelukannya di leher Max, membiarkan pria itu melakukan hal yang harus dilakukan.
Sara mengerti. Sudah sangat lama mereka menahan diri. Dan mungkin sudah saatnya mereka bersatu, menjalankan perintah Tuhan untuk beranak cucu dan penuhi bumi.
Pemilik manik biru itu tersenyum saat tidak ada penolakan dari sang istri. Dia mulai menggoda Sara, menyentuh titik sensitif sang istri hingga leguhan dari bibir tipis itu terdengar.
Turun ke bawah, Max menarik kaos yang dipakai Sara dan membuangnya asal. Setiap sentuhannya membuat Sara menggeliat sehingga menambah kepercayaan dirinya.
Max menipiskan bibirnya. Dia kembali mencium bibir istrinya dengan lembut.
"Kau juga bisa menyentuhku seperti itu, Sayang," bisik Max parau dan membawa tangan Sara untuk menyentuh otot liat di perutnya.
Sara terkejut saat tangannya menyentuh otot itu. Dia selalu melihat otot perut Max tapi jarang sekali mendapat kesempatan emas seperti ini. Tangannya terasa panas, ditambah dadanya yang bergemuruh menambah kemeronaan di pipinya.
Dan lagi Max sudah menyentuh seluruh tubuhnya dengan lembut. Sara merasa gila, dia meremas rambut pria itu dan menengadahkan kepalanya.
"Max ...," ucap Sara lirih.
Kegilaan yang dibuat Max benar-benar menghilangkan kewarasannya. Sara menutup matanya ketika kegilaan itu kembali dirasakannya. Dia berulang kali memanggil nama Max.
Hanya nama Max yang ada di ujung lidahnya. Sara tidak mengerti, dia otomatis menyebut nama itu.
"Sayang, aku mencintaimu," bisik Max tepat di telinga Sara.
Dan karena kewarasannya telah diambil alih, Sara berucap, "Aku yang lebih dulu mencintaimu, Max. Aku mencintaimu dari dulu, sekarang sampai nanti."
Kebahagiaan itu terjadi begitu saja. Max sangat bahagia, tidak hanya mendapat pengakuan dari istrinya, tapi juga mereka mencapai penyatuan yang akan mengikat mereka selamanya.
Begitu pula dengan Sara, meski hampir terjebak oleh obat pancahar yang diberikan Marcus, dia akhirnya bisa mengendalikan diri malam itu. Dan dia benar-benar sadar setelah tenggelam di laut Mediterania. Hingga hanya sang suami yang benar bisa memiliki dirinya seutuhnya.
"I love you 3000, My wife," ucap Max.
"Aku mencintaimu satu kali," kekeh Sara dan dia mendapat gigitan di hidungnya.
.
.
.
iklan*
Netizen : thor, kok disensor sih adegannyaπππ pelit amat
Author : eh sadar ya, sape di sini yg pelit cobaπππotak gue buntut gegara lu ga voteπππ
Netizen : tapi lu janji bakal bikin yg hot thorπππ
Author : lah itukan udah hot, mereka panas-panasan di kamarπππ
Netizen : itu namanya pemanasan thor, gaada olahraga intinyaπππ
Author : yaudah lu vote yang kenceng biar ada banyak adegan hotnyaππππ
Netizen : janji thor?πππππππ
Author : yaelah, ada maunya langsung kasi emot gituπ§π§π§
.
***
__ADS_1
Love,
Xie Lu