
Happy reading!
.
.
.
***
"Kau harus merindukanku setiap saat, Sayang. Itu perintah bukan penawaran!"
Sara mengerucut sebal, hal itu sudah dibahas berulang kali oleh Max. Berhasil mengemas pakaian yang dibutuhkan Max, Sara menarik koper itu ke belakang pintu.
"Sayang, kau mendengarkanku? Sayang?"
"Kau harus pegang janjimu tentang itu."
Max tergelak. "Kau pandai membuatku kesal, Sayang. Kemarilah!" Max mengulurkan tangannya bermaksud mendekap istrinya.
"Kau bau rokok."
"Ayolah, aku sudah wangi. Aku ingin memeluk istriku sebelum berangkat."
"Tidak, pergi gosok gigimu dulu."
Max menyeringai, ia berlalu ke meja rias istrinya dan mengambil botol parfum dari sana dan menyemprotkan di tubuhnya. "Sekarang sudah wangi," ucapnya tersenyum.
"Kau menghabiskan parfumku, Max!"
"Aku akan menggantinya."
"Aku tidak mau yang baru. Kenapa aku melakukannya?"
"Itu cara instan, wangi tanpa mandi."
Sara menatapnya tajam. "Aku menyuruhmu menggosok gigi bukan mandi."
"Sama saja, Sayang." Max merentangkan tangannya, menyuruh istrinya mendekat. "Ayo, biar ku peluk."
"Tidak, aku membencimu. Kau menyebalkan!"
"Ck, aku tahu kau tidak bisa melawan pesonaku."
Max mendekat dan memeluk istrinya dengan erat.
"Lepaskan, Max!"
"Lihat, kau tidak bisa menolak pelukanku."
Nayatanya, Sara terus meronta dan berusaha melepaskan diri dari Max, tapi tenaga pria itu lebih besar darinya. Dan dengan narsisnya, Max mengatakan bahwa pesona dirinya tidak bisa dilawan.
"Kau yang terlalu kuat."
"Tenanglah, jangan terus bergerak. Aku tidak yakin dengan apa yang akan ku lakukan jika kau meronta. Diamlah!"
Mengerti ke arah mana perkataan Max, Sara menenangkan dirinya dalam pelukan sang suami. Ia menghirup aroma yang sama dengan dirinya di tubuh Max, namun terasa menenangkan jika dicium di baju Max. Terasa nyaman dan ia tak ingin melepaskan diri dari sana.
Karena itu, ia membiarkan Max terus memeluknya erat tanpa berniat membalas pelukan itu.
"Pulanglah dengan nyawa dari sana! Ini perintah bukan permohonan!"
__ADS_1
Max terkekeh pelan, semakin mengeratkan pelukannya. "Kenapa kau mengatakan itu? Kau mengkhawatirkan aku?"
"Kau seseorang yang penuh misteri, aku tidak mau kau melupakan janjimu untuk tiga minggu ke depan."
"Astaga, kau benar-benar membuatku kesal."
Melepaskan pelukan dari Sara, Max beralih mencium bibir istrinya yang terasa manis baginya. Mencecap semua rasa yang ada di sana, Max menekan tengkuk sang istri yang terus mendorongnya, memperdalam ciuman itu.
Menyadari istrinya yang hampir kehabisan napas, Max melepaskan pertautan bibir mereka sementara sebelum melanjutkannya dengan lebih agresif. Ia melangkah maju dan mendorong istrinya ke ranjang tanpa melepaskan ciuman itu.
Tangan Max menjelajah ke tempat yang disukainya, menjamah setiap inci tubuh Sara. Membuat perempuan itu merasa geli dan menghempaskan tangan Max.
Namun, tekad kuat Max tidak bisa dihentikan. Semakin Sara menolak, semakin ia gencar menggoda istrinya dengan sentuhan-sentuhan ajaib. Pagi yang seharusnya dingin menjadi pagi yang sangat panas.
Max tidak henti menggoda istrinya dengan sentuhan-sentuhan yang membuatnya berkeringat. Ia menuntun Sara untuk mengikuti arah permainan yang akan dilakukannya.
Akal sehat Sara tertutupi oleh sentuhan-sentuhan yang membuatnya gila, membiarkan Max menyentuh apapun yang diinginkan pria itu. Ia melenguh ketika Max kembali menyentuh sekaligus mencium bibirnya dengan penuh gairah.
Ketika tangan nakal Max tidak bisa dikendalikan, saat itulah Sara menyadari ada sesuatu yang akan terjadi. Tidak! Aku harus menghentikannya!
Mendorong kasar dada Max yang terasa berat menindihhnya, ia berucap, "Kau akan pergi. Hentikan!"
Max tidak mengindahkannya, dengan sedikit memaksa ia melepaskan kaos yang dipakai istrinya. Tanpa melepaskan ciuman itu, ia memerangkap kedua tangan Sara di atas kepala dan melanjutkan misinya.
Dengan satu tangan, ia juga melepaskan kemeja yang dipakainya dan membuangnya ke lantai. Sama-sama bertubuh polos pada bagian atas, Max menurunkan ciumannya di leher jenjang sang istri.
Suara lenguhan sang istri membuatnya semakin semangat menggoda, mengecup dan memilin sesukanya pada dua bukit kembar yang sangat liar di matanya. Dengan senyuman nakal, ia menggigit kecil ujungnya dan itu membuat Sara berteriak.
Setelah puas bermain-main pada bagian sana, ia menurunkan ciuman itu hingga berakhir pada tempat yang ditujunya.
Sara merasakan jantungnya berpacu sangat cepat, dan mungkin saja organ itu akan meledak keluar jika saja buatan tangan manusia. Menikmati setiap pergerakan Max yang semakin membuatnya di ambang sadar, Sara memekik ketika Max kembali menggigit p*t*ngnya.
Dan tangan pria itu telah berhasil melepaskan ritsleting hotpantsnya. Dengan kesadaran penuh, kali ini Sara berusaha melepaskan tangannya yang terperangkap di atas kepala.
Hingga kegiatan mereka diinterupsi oleh dering ponsel Max. Mengumpat pelan, Max tidak menghiraukan benda itu. Dan setelah lama suara ponsel itu dianggurin, suara ketukan pintu menghentikan keduanya.
"D*mn it," umpat Max.
"Hentikan, Max. Ada orang di luar."
Meski sangat kesal karena kegiatannya tertunda, Max bangkit dan memakai jubah mandi untuk membungkus tubuhnya yang sudah setengah polos.
"Kenapa?" ketusnya setelah benda persegi panjang itu terbuka. Dengan tajam, ia menatap Adrian yang mengetuk pintu itu.
"Alex ada di bawah sedang menunggu Anda, Señor."
"Sialan."
Adrian tersenyum tipis.
"Apa yang kau tertawakan, sialan?"
***
"Kenapa kau jadi manusia pengganggu hari ini?"
Alex yang memahami sesuatu segera berdehem. Ia menyengir tanpa dosa. "Aku memang melakukannya, tapi tidak disengaja. Kau harus menyalahkan dirimu sendiri, Señor."
"Tetap saja kau yang salah! Ada apa kau kemari?"
"Sudah waktunya. Aku pikir kau melupakannya, jadi aku sekalian menumpang makan."
__ADS_1
"Ck, dasar pembelot. Katakan dengan jelas!"
Alex menyeringai lebar. Max yang acak-acakan terlihat lucu. Ia tidak pernah melihat teman juga bosnya itu seperti ini. Setengah gila berhadapan dengan istri sahnya.
"Aku pikir kau belum menyelesaikan tugasmu, Señor. Silahkan dilanjutkan, aku pikir perutku sudah tidak lapar lagi."
Karena kesal, Max menendang kaki Alex yang langsung dihindari pria tampan itu.
"Pergilah ke neraka, semoga iblis menerimamu di sana."
Pria itu bangkit dan berjalan menuju dapur. Dan itu membuat Max merenggut. "Kau ke mana? Perutmu sudah tidak lapar 'kan? Kenapa ke sana?"
"Aku membutuhkan minuman dingin, mungkin ini juga berguna untukmu, Señor. Kau mau?"
"Tidak, minum saja! Tunggu aku di sini!"
Sontak Alex menghentikan langkahnya. "Kenapa?" tanyanya bingung.
"Kau sudah menggangguku, aku pikir ini kesempatan untuk balas dendam. Jangan makan makanan di rumahku!"
"Tidak boleh pelit, Señor. Ingat, berkat itu ada karena pemberian kita pada orang lain secara tulus. Kau tidak takut berkat untukmu tertunda?"
Max memberenggut kesal, ia berjalan melewati Alex dan mengambil salah satu minuman dari kulkas dan melemparnya pada pria tampan itu. "Ini! Aku tulus memberikan ini untukmu. Jangan minta lebih karena pada akhirnya aku tidak akan tulus memberikannya."
Alex menerima minuman bersoda yang dilempar padanya. Dengan tajam, ia menatap Max. "Gracias, Señor."
Tanpa peduli pada Alex yang akan mengacak isi kulkasnya, Max berlalu.
***
Sara yang segera berlari dari ranjang masuk ke kamar mandi dengan tergesa-gesa. Ia merasa malu pada dirinya sendiri. Meski ia berbaring tanpa sehelai kain di hadapan suaminya yang sah, tetap saja ia merasa sangat malu.
Dirinya ikut terbuai oleh sentuhan Max dan akal sehatnya tidak bekerja dengan baik. Di bawah guyuran shower, Sara menepuk pipinya dengan keras.
"Sial, apa yang baru saja ku lakukan? Untung Adrian datang tepat waktu. Kalau tidak .... No, no! Tidak boleh, Max tidak mencintaiku."
Ia menggeleng seraya menyugar rambutnya. Dan suara ketukan pintu mengejutkannya. Untung ia telah mengunci pintu, jika tidak Max pasti akan melakukan hal memalukan itu lagi.
"Sayang?"
Sara gugup. "Sebentar lagi."
"Biarkan aku ikut masuk."
"Tidak! Jangan!" pekik Sara. Ia terkejut sendiri oleh suaranya yang keras dan buru-buru menutup mulut. "Tunggu sebentar saja."
Menutup air itu, Sara memakai pakaian dan membuka pintunya.
"Kenapa kau mandi? Seharusnya kau tidak membersihkan jejakku, Sayang."
Pipi Sara memerah, ia malu jika membicarakan hal itu.
"Aku akan pergi sekarang. Jadilah istri yang patuh!"
Kecupan di kening membuatnya sadar. Ia mengangguk. "Kembali dengan selamat."
.
.
.
__ADS_1
.
***