SOLEDAD

SOLEDAD
Pertemuan


__ADS_3

Happy reading!


.


.


.


***


"Jangan bercanda, Sara!"


"Kenapa?"


"Itu ... itu mengejutkanku. Jantungku sering berulah akhir-akhir ini. Aku belum mau mati muda," ucap Max berdalih.


Sara tergelak, ia menatap Max dengan tatapan mengejek.


"Kau sudah tua, Max. Lihat saja jambangmu sudah tambah lebat dan sebentar lagi akan beruban."


Tidak mendapati jawaban yang memuaskan dari istrinya, Max mendekat. Ia membiarkan Sara mengancingkan kemejanya dan memasang dasi di lehernya.


"Jangan mempermainkanku, Sayang. Dan jangan bercanda lagi."


"Apa aku terlihat bercanda?" tanya Sara menatap serius bola mata biru itu. Ia tidak bisa mendapati jawaban apapun dari wajah datar itu.


"Tidak."


"Berarti itu benar!"


Max terpaku di tempatnya, tidak menyangka mendapat pengakuan yang tidak terduga.


"Serius?"


Sara mengangguk. Selesai memasang dasi di leher suaminya, Sara tidak segera menjauh, ia malah mengalungkan tangannya di leher Max.


"Apa kau juga mencintaiku?"


Pertanyaan itu bagaikan sebuah belati yang menusuk tajam ke dalam jiwanya. Ia merasakan sakit yang tidak bisa dijabarkan, mulutnya terbungkam oleh rasa itu.


"Max?"


Gelakan Sara membuyarkan lamunannya. Perempuan itu tertawa sampai memegang perutnya dan mengeluarkan air mata.


"Kau benar-benar percaya? Astaga, kau bahkan tertipu oleh aktingku yang buruk ini. Apalagi terhadap orang yang terbiasa dan pandai berakting, aku pastikan kau sudah tamat."


"Apa maksdumu, Sara?"


"Tidak ada."


Perempuan itu mendahuluinya, keluar dari walk ini closet setelah memasang dasinya.


"Sayang, jangan mempermainkanku lagi! Ayo katakan apa yang kau maksudkan!"


Max membuntuti Sara yang sudah duduk di meja riasnya sambil menyisir rambut pelangi miliknya. "Benar-benar menyilaukan mata," gumamnya.


"Sayang? Apa kau bercanda tadi?"


Sara menatap Max dari cermin itu, ia tersenyum mengejek. "Kau pikir aku akan mencintaimu dengan mudah? Huh, tak semudah itu Ferguso!"


"What?! Ferguso?!"


"Ya! Kau mirip dengannya!"


Menggeram frustasi, Max mengambil sisir yang dipakai Sara dan menyisir rambutnya sendiri.


"Max, kembalikan sisirku!"


"Cari yang lain!"


"Tidak ada lagi!"


"Kalau begitu, anggap saja kau sedang berbicara dengan anjiing Marimar itu. Aku sedang menyisir, tidak bisa mendengar teriakanmu!"


Perempuan itu mendesah kesal, Max yang seperti ini kadang-kadang membuatnya ingin memukul kepalanya dengan palu. Melihat apa isi dalam kepala pria itu yang kadang baik, kadang membuat kesal dan kadang membingungkan.


"Max!"


Tidak ada jawaban.


"Apa kau sedang merajuk? Seharusnya ini bagianku untuk merajuk dan kau yang memerhatikanku."


Masih diam. Max terus menyisir rambutnya meski sudah sangat rapi.


"Max? Rambutmu sudah klimis, apa kau berencana memikat wanita lain dengan rambut jalan tol-mu itu?"


Pria itu terus diam sampai sebuah senyum mengejek tersungging di bibirnya membuat Sara bergidik ngeri.

__ADS_1


"A-apa maksud senyum aneh itu?"


"Kau cemburu kalau aku didekati wanita lain? Kau tidak suka?"


Mengalihkan pembicaraan, Sara merebut sisir itu dari tangan Max. "Berhenti bicara! Turun sarapan baru kau mengantarku ke sana."


"Katakan kau cemburu baru aku melakukannya."


"Ck, kalau benar seperti itu, apa yang akan kau lakukan?"


Keterdiaman Max menyebalkan baginya. Karena itu, ia menyelesaikan aktifitasnya dan menarik tangan Max untuk turun.


"Kalau kau tidak bisa menerima apapun yang dikatan orang lain dengan lapang dada, jangan bertanya apa yang ada di hatinya. Itu membuatmu bungkam, bukan? Dan aku tidak menyukai pria pendiam."


"Pendiam? Aku?"


"Ya, mungkin lebih baik kau benar-benar dinamakan Ferguso."


Max menyugar rambutnya frustasi. Sara seringkali menyebut-sebut nama anjiing milik Marimar itu.


"Apa istimewanya hewan itu?" gumamnya seraya mengikuti langkah istrinya.


"Sayang, tunggu aku!"


***


Dering telepon mengejutkan Max yang sedang asyik menggoda istrinya.


"Alex?" gumam Max.


Ia mengerutkan keningnya dalam, mengapa pria itu menelponnya padahal jelas-jelas ia mengatakan bahwa dirinya tidak akan ke kantor.


"Ada apa?" tanyanya to the point setelah menggeser ikon hijau di layar ponselnya.


"...."


"Aku segera ke sana."


Sara segera mengerti ada sesuatu yang darurat terjadi dilihat dari raut wajah Max yang berubah gelap. Gemeletuk gigi pria itu terdengar menyeramkan baginya.


"Pergilah, aku tahu kau sibuk. Aku bisa melakukannya sendiri tanpa kau temani."


Max menatap matanya intens, ada keraguan yang terpampang di sana. "Kau yakin?"


"Hm, tidak ada yang susah. Hanya perlu duduk dan mereka menyelesaikannya."


Sara menggeleng. "Tidak, dia pasti sedang berkencan sekarang. Gadis gila itu pasti akan langsung menolak bahkan sebelum aku meminta."


"Bagaimana dengan yang lain?"


"Aku baik-baik saja, Sayang. Pergilah!"


"Benarkah? Karena kau memanggilku 'sayang', aku melepaskanmu hari ini. Ingat, jangan kabur! Kau tahu aku bisa menemukanmu bahkan bila kau ada di lapisan terbawah di kerak bumi inipun."


Sara tersenyum. Dalam hatinya ia sangat antusias. Berbagai rencana sudah disiapkannya untuk bersenang-senang setelah menyelasaikan urusannya di sana.


"Terima kasih, kau memercayaiku."


"Kau berniat kabur?"


Sara skakmat. Namun berusaha untuk tenang. "Kau pasti bisa menemukanku, Max, tanpa bantuan alat pelacak sekalipun karena aku istrimu."


Pria itu mengangguk. "Jangan ingkari janjimu! Atau kau akan menemui kematianmu setelah kutemukan!"


"Astaga, kau benar mengerikan. Tenanglah, aku tidak sebodoh itu untuk kabur darimu. Lagipupa, ke mana lagi aku akan pergi? Aku tidak punya uang dan rumah untuk berteduh."


"Ya, kau harus tahu bahwa aku rumah yang nyaman untukmu."


Setelah sampai di tempat penata rambut tempatnya dan Deborah mengubah warna rambut mereka, Max segera pamit.


"Kau tidak ingin menciumku?" goda Sara.


Max terkekeh. "Kau sangat berinisiatif dan aneh hari ini. Ada sesuatu yang kau inginkan?"


"Tidak ada yang salah kalau seorang istri mencium suaminya duluan, 'kan? Kalau kau tidak mau, pergilah dan jangan kembali lagi," ucap Sara kesal dan mengerucutkan bibir.


Ketika Sara hendak membuka pintu mobil, Max mencekal tangannya. Menariknya agar mendekat dan melakukan ciuman yang diinginkan Max.


"Pergilah, aku bisa saja memakanmu jika kau tidak segera berlalu dari sini."


Sara tergelak, dia segera keluar dari mobil setelah Max mencium keningnya lama.


"Menyetirlah dengan hati-hati, Sayang."


"Jangan menggodaku, Sara!"


Sepeninggalnya mobil berwarna hitam mutiara itu dari hadapannya, Sara merasakan hatinya mencelos kecewa.

__ADS_1


Dia tahu jawabannya akan seperti itu dan dengan bodohnya, ia masih memberanikan diri menyampaikan perasaanya. Meski Max bermulut manis padanya, tetap saja terselip racun di antaranya.


Menahan diri untuk tidak menangis di tempat terbuka, Sara menenangkan hatinya dan mencoba tegar.


"Kau karang, Sara! Meski diterpa ombak tetap teguh berdiri, itulah dirimu! Jangan terpengaruh oleh hal yang menyakitkan!"


Setelah menyunggingkan sebuah senyum di bibirnya, ia masuk ke dalam dan langsung disambut oleh pekerja di sana.


"Selamat pagi, tolong kembalikan rambutku ke warna semula."


Seseorang yang menyambutnya itu menggandeng tangannya. "Ada masalah apa, Señorita?"


"Maaf, suamiku tidak menyukai warna seperti ini," ucapnya sungkan.


"Tidak apa-apa, Señora. Aku akan mengoperasinya untuk suamimu."


Sara tersenyum. "Gracias."


"Saya Leoni, Señora."


"Aku Sara."


Lama berbincang dengan Leoni sambil mengolesi rambutnya dengan berbagai obat, Sara baru mengetahui bahwa Leoni bukanlah sepenuhnya seperti yang ia lihat.


"Leoni? Kau ...."


"Hahaha, kau terkejut, Sara? Aku juga sama terkejutnya denganmu setelah aku tahu bahwa wajahku cantik jika dipolesi make up."


Tidak disangkanya bahwa Leoni telah bereinkarnasi menjadi seperti itu. "Maaf, aku tidak tahu. Kau benar-benar cantik seperti wanita pada umumnya."


Kedatangan seorang pria dari dalam kamar juga membuat Sara merasa sangat familiar dengan wajah Leoni. Ia membandingkan wajah keduanya.


"Dia siapa, Leoni?"


"Pria brengsekk, jangan jatuh cinta padanya. Dia pemain wanita."


"Aku sudah menikah."


Pria yang sedang dibicarakan mereka itu mendekat.


"Kau Sara?" tebaknya yang membuat Sara kaget.


"Kau mengenalku?"


"Aku Kenneth Hosea. Dari reaksimu itu, kau pasti sudah melupakanku."


Sara terdiam cukup lama mengingat apakah ia punya kenalan bernama Kenneth sebelumnya. Tapi, semakin lama ia mencoba mengingatnya, tetap saja tidak menemukan nama itu.


"Kawanan serigala."


"Kau?!"


Sara terlonjak dari tempat duduknya sampai Leoni berteriak karena terkejut.


"Maaf, Leoni. Kenneth? Waktu itu kau menyebut namamu Ken, bukan Kenneth. Maafkan aku dan terima kasih karena kau sudah menyelamatkanku hari itu."


"Kalian saling kenal?"


"Teman lama yang hilang," canda Kenneth karena pada kenyataannya ia pernah mencari keberadaan Sara setelah hari itu namun tak menemukan apapun.


"Aku berhutang nyawa padanya, Leoni."


"Aku mengerti. Tapi, jangan bergerak dulu, aku belum menyelasaikan bilasan terakhir."


"Bagaimana hubungan kau dan Kenneth, Leoni?"


"Hanya seorang pria brengsekk yang menumpang di rumahku."


Kenneth mendengus, merasa tidak suka dengan pengenalan dari saudaranya itu. "Aku adiknya."


"Kau beruntung memiliki adik, Leoni. Pria tampan seperti Kenneth jarang ditemukan di sini. Aku ingin memiliki adik tapi mamaku tidak pernah melahirkan lagi," cerita Sara sambil menerawang masa lalu.


Ketika mulut Leoni hendak berbicara lagi, dengan cepat Kennteh membungkamnya. "Bagaimana kalau kita makan sebentar, Sara? Untuk merayakan pertemuan kita setelah sekian lama."


Sara mengangguk. "Boleh."


.


.


.


***


Love,


Xie Lu♡

__ADS_1


__ADS_2