SOLEDAD

SOLEDAD
Bermain


__ADS_3

Jangan lupa like, komen dan rate ya😊😘


.


.


.


***


"Mommy, ini sangat jelek! Orang akan mengira aku kerasukan."


"Tidak, rambut pelangi itu bagus, lebih bagus dari rambut lidimu yang menyebalkan."


Sara mengerucut sebal, Deborah membawanya ke tempat penata rambut, mewarnainya dan memotong serta meluruskan rambutnya paksa.


"Max pasti akan mengulitiku, Mommy! Dia tidak pernah mengizinkan aku keluar."


"Diam! Kau harus mendengarkanku kali ini! Aku sudah meminta izin Max."


"Astaga, leherku pegal harus menggendong rambut ini," gumam Sara.


Saat berjalan, rambut pelangi itu dihembuskan angin sehingga bergoyang-goyang dan ia tak luput dari pandangan aneh orang-orang.


Dengan kesal, Sara menutup kepalanya dengan paperbag milik Deborah.


"Jangan tutup, Sara, aku menghabiskan banyak uang untuk mengubah rambut jelekmu itu menjadi seindah pelangi."


Berdecak, Sara berlari menuju ke mobil. Ia masuk dengan masih menutupi kepalanya. Sweater bahkan tidak ada, andai tahu akan ke tempat seperti itu, ia pasti akan kabur. Tapi, semuanya terlambat. Deborah telah mengubah rambutnya.


"Sialan, bahkan aku tidak membawa ponselku," gerutunya kesal.


Menyingkirkan setiap pikiran kotor untuk meninggalkan Deborah di sana sendirian, ia meremas kuat seatbelt.


"Max akan membunuhku, Max akan membunuhku ...."


Dalam pikirannya hanya ada nama Max. Setiap aturan yang dibuat pria itu untuknya sekarang dilanggar seenaknya saja oleh Deborah.


"Kau meninggalkanku sendirian, Sara. Ayo kita bermain."


Menginjak pedal gas, keduanya berkeliaran dengan gaya rambut baru. Sara dengan rambut pelanginya dan Deborah dengan rambut pendek dan warna hijaunya.


Dipadukan dengan pakaian yang terlihat kuno, gaya Sara akan dinilai sebagai orang yang kerasukan.


"Orang-orang akan mengejek kita, Mommy, ayo pulang saja, aku takut."


"Ck, apa yang kau takutkan? Tidak ada yang bisa menyentuh keluarga Del MontaƱa di kota Madrid ini, Sara."


Sara melongo. "Apa aku harus percaya?"


Ingat awal pernikahannya dengan Max, ia tertembak di pundak. Dan itu dikatakan tidak bisa disentuh? Sara tidak memercayainya begitu saja.


"Kau akan mengetahuinya secara langsung."


Menambah kecepatan mobil, Deborah dengan gaya younglady, mengibaskan rambut hijaunya. Dan itu membuat Sara berdecih.


"Kau benar-benar seperti orang kerasukan, Mommy."


Deborah tertawa. Ia menambah kecepatan mobil itu.


"Mommy?!"


"Jangan berisik! Bukankah ini menyenangkan, Sara? Menghabiskan uang suami untuk bersenang-senang, bermain mobil-mobilan di jalanan."


Sara manggut-manggut. Ia merasa mengenal sedikit siapa orang yang mengemudi mobil itu. Ternyata hobinya tidak jauh berbeda dengan dirinya. Bedanya, dirinya menikmati keindahan yang disuguhkan alam, bukan mesin buatan manusia.


"Jadi, ini yang Mommy maksud dengan bermain?"


"Masih ada yang lain. Kau ingin tahu?"


"Sedikit," ucap Sara sambil mengisyaratkannya dengan ujung jari.


"Ok, let's go and begin our day, Sara!"


Teriakan Deborah menggema di dalam mobil itu sampai Sara menutup telinganya.


"Kau membuatku tuli, Mommy!"

__ADS_1


"Maaf, aku memang sengaja, Sara! Teriaklah sesukamu di sini, daerah ini milik keluarga kita!"


Bagaimana mungkin Sara mengikutinya sementara daerah itu adalah pemukiman, banyak orang berlalu-lalang.


"No, gracias. Aku lebih baik menutup mulutku."


"Ck, kau bukan partner yang bagus. Aku mewarnai rambutku agar kita bisa menjadi partner, Sara."


"Ok, ok, aku akan melakukannya tapi bukan di sini."


Tertawa bahagia, Deborah membawanya ke sebuah tempat. Tebing yang curam menjadi tujuan akhir dari kata bermain yang diucapkan Deborah.


"Kenapa ke sini, Mommy? Apa yang akan kita lakukan? Apa kau akan memanjat tebing ini? Kalau memang iya, jangan lakukan itu, pinggangmu nanti akan bermasalah dan Max membunuhku."


Mata Deborah mendelik sempurna, tidak suka pada Sara. "Aku masih kuat dan muda, Sara. Lihat, rambutku belum memutih. Lagipula, kita ke sini bukan untuk memanjat tebing itu."


"Lalu?"


"Ini!" Deborah menunjukkan padanya dua benda yang mampu mengejutkannya.


"Pistol?"


"Ayo menembak!"


"Aku tidak bisa."


"Akan kuajari, Max pasti tidak pernah mengajarimu."


Meski bingung dengan sikap Deborah seharian ini, Sara tetap menurut takut wanita itu menembak kepalanya.


"Kau bisa melakukannya, Mommy?"


"Aku sudah mengatakannya, Sara. Tidak ada yang bisa menyentuh keluarga Del MontaƱa di sini. Aku dengar kau pernah terluka karena tembakan, itu karena kau tidak bisa menembak! Ayo kuajari!"


Mengerucut sebal, Sara memegang benda yang belum pernah disentuhnya itu. "Bagaimana caranya, Mommy? Pistol ini berat sekali, tanganku bisa pegal."


Deborah benar-benar mengajarinya. Cara memegang senjata dengan benar, posisi yang tepat dan yang lebih penting adalah sasaran bidikan.


"Kalau kau ingin membunuh--"


"Perempuan gila!" teriak Deborah tak kalah lantangnya dengan tangan memukul kepala Sara. "Aku belum menyelesaikan perkataanku!"


Menyesali itu, Sara terdiam. "Maaf, Mommy."


"Kau jangan membunuh sembarangan, kenali dulu siapa lawanmu, apa bisa kau bunuh sesukamu atau tidak. Karena, kebanyakan musuh Del MontaƱa adalah orang yang punya latar belakang bagus, punya dukungan dan sokongan orang-orang terkuat, jadi, kalau ingin membunuh lawanmu, kau harus benar-benar mengenali mereka."


"Aku tidak mengenal mereka, bagaimana kalau aku membunuh sembarangan?"


"Maka jangan melakukannya."


"Tapi, Mommy sudah memgajariku dengan baik."


"Iya juga, dia pandai dalam sekejab," gumam Deborah. "Kau harus melumpuhkan saja, jangan membunuh. Tembak tangan dan kakinya saja sudah cukup untuk melumpuhkan, jangan mengenai kepala atau jantung."


"Kalau mengenai jantung akan mati?"


***


"Alex, ayo ke tempat yang tenang."


"Hm?"


"Telusuri GPS Mommy, aku yakin dia sedang bermain sekarang."


Alex melakukannya dan benar, Deborah sedang berada di area pribadinya.


"Kita segera ke sana?"


"Ya, ada kejutan besar untukku. Dan aku penasaran."


"Bagaimana dengan alat untuk bermain?"


"Aku yakin kau selalu punya cara untuk itu Alex."


Bukan hal biasa jika Alex sangat mengetahui apa maunya. Karena itulah, Max mempertahankannya. Selain karena Alex adalah orang terdekatnya sejak dulu, tetapi juga kinerjanya yang selalu maksimal.


"Kau sudah mempersiapkan semuanya untuk Peter?"

__ADS_1


"Sudah, SeƱor, hanya saja aku tidak yakin dia benar-benar akan melakukan penjualan itu. Mengingat beberapa pekan ini keuangan perusahaannya menaik drastis, aku pikir itu ada hubungannya dengan barang milik kita."


Max menyeringai, dia tentu saja paham dengan segalanya.


"Kau hanya perlu memantaunya, Alex. Sisanya biarkan aku yang urus, tidak mungkin mendorong unta masuk ke lubang jarum. Kau hanya butuh sedikit bagian tubuh itu dan melakukannya tanpa membutuhkan seluruh bagain tubuh unta itu."


"Aku mengerti, SeƱor."


Dengan berteman sepi, Max memejamkan matanya sesaat. Membiarkan angan tentang masa lalunya yang indah mengambil alih. Wanita cantik yang menjadi kekasihnya, memeluk dan menciumnya dengan mesra, bergelayut manja di lengannya.


Waktu yang panjang seolah hanya dimiliki keduanya, menghabiskan waktu bersama di satu tempat.


Apa kabarmu, Lana?


Matanya makin terpejam ketika kenangan itu muncul ke permukaan, mengusik harinya yang kini tenang.


"Alex, kau belum menemukan Lana?"


Menegang, Alex mencengkram kuat kemudi. Dan dengan wajah datarnya, ia sanggup menatap manik biru yang sedang menatapnya tajam.


"Belum ada tanda-tanda, SeƱor. Ada yang mengabari bahwa beberapa hari kemarin tertangkap kamera pengawas di bandara, tapi setelah menelusuri ke mana perginya, tidak daftar atas nama nona Alana."


Max menghembuskan napas kasar. "Apa kau tidak akan kembali padaku, Lana? Aku merindukanmu."


"Apa kau tidak mencoba untuk membuka hati untuk istrimu, SeƱor?"


"Jangan mencampuri urusanku, Alex. Mengemudilah dengan benar!"


Bersungut dalam hati, Alex melirik Max yang memejamkan mata di belakangnya.


"Bertingkah seperti anak kecil padahal tidak ingin istrinya diambil orang," gumamnya seperti angin lalu.


"Sudah sampai, SeƱor!"


Keluar dari mobil, Alex langsung memberikannya satu pistol kesayangannya.


Sekali tarikan pelatuk itu, beberapa batu terjatuh dan itu membuat Sara dan Deborah yang berada di sana terkejut.


"Gempa, Sara!" Teriak Deborah seraya memeluk Sara.


Melihat itu, Max tergelak. "Lihatlah, Alex. Mommy punya partner yang sama-sama gila. Keduanya sangat bodoh tidak menyadari ada dan tidaknya guncangan dari bawah."


"Mommy!"


Sontak menoleh, Mata keduanya terbelalak. "Habislah kita, Sara."


"Mommy, aku takut ...."


"Kau harus bertanggungjawab, kau yang mengajakku ke sini!"


"Sayang ...."


Bulu kuduk Sara merinding, tidak menghiraukan rambut pelanginya yang berkilauan di bawah matahari, rasa takutnya lebih mendominasi rasa malu.


"Maaf, aku tidak izin ...."


"Kau tahu hukumanmu?"


Sara mengangguk, ia mendekat.


"Lakukan!"


Meski sangat malu, tetap saja Sara melakukannya. Ia mengecup sekilas bibir Max.


"Ciuman bukan kecupan!"


.


.


.


***


Love,


Xie Luā™”

__ADS_1


__ADS_2