
Happy reading!
.
.
.
***
Tidak disangka pertemuan pertama akan seperti itu. Sara tersenyum miris, menertawakan nasibnya yang sangat patut dikasihani. Dia melirik Max yang sedang mengemudi, pria itu tidak berbicara sejak tadi.
Mungkin sedang memikirkan dendam, begitu pikir Sara. Entah Sara yang overthinking atau memang dia yang terlalu khawatir pada Max, jauh di lubuk hatinya Sara tidak ingin Max melakukan hal yang demikian.
Sara ingin Max menghentikan pikiran dan perbuatan yang berbahaya.
Bahkan bila Thompson melukai batinnya, Sara tidak akan membiarkan lelaki tua itu menyakiti fisiknya.
"Max, apa lagi yang harus kita lakukan? Aku bosan setiap saat berada di dalam kamar hotel," ujar Sara memecah keheningan.
Pria bermanik biru itu meenoleh kaget bahkan mengerem mobil dengan kaget.
"Apa yang kau lakukan, Max?! Jangan bermain-main dengan nyawa, aku belum mau mati!" Sara berteriak saat tubuhnya terhuyung ke depan meski ada seatbelt menahan.
"Maaf, kau bilang apa tadi?"
Sara menetralkan degup jantungnya dan menghembuskan napas berkali-kali. "Aku ingin liburan. Stephen sudah tidak mengejar kita lagi, bukan?"
Sesaat Max terdiam, dan Sara menunggu dengan tidak sabar berharap Max mengiyakan permintaannya. Tapi kenyataan selalu tidak sesuai ekspestasi.
"Anak buah Thompson mengawasi gerak gerik kita, Sayang. Ini lingkungan kekuasaan mereka, lebih baik kita pulang ke Madrid dan membicarakan ini lagi, oke?"
Sara mengerucut sebal, dia mengangguk meski tidak sepenuh hati. "Bukannya kau punya teman 'Si Penakluk Serigala' itu?"
"Dia tidak gampang dibujuk, Sayang. Dia hanya bocah jahil yang suka bermain-main," ucap Max menggeleng, menolak usul Sara.
Tak ingin berdebat lebih dengan Max, Sara memilih diam. Tapi dalam hati dia berharap bisa melepaskan stress dengan kegiatan menaklukan alam. Dan sangat kebetulan, mereka melewati jalan pantai.
Melihat hamparan lautan luas, membuat jiwa petualang Sara bergelora. Manik cokelat itu berbinar. Bermain air laut bisa menghilangkan stress.
Biar perasaan ambyar, tapi semangat harus bar-bar. Sederet kalimat pesan dari Claire kembali diingatnya, dan itu benar-benar membangkitkan semangat bar-barnya.
"Matahari pagi bagus untuk kulit, Max. Ayo berjemur, mumpung kita di dekat pantai."
"Berjemur atau berendam?" tanya Max dengan bibir terangkat, mengejek alibi yang dibuat Sara.
Sara dibuat tergelak. Dia tahu maksud Max. "Apa kau sering menguntitku jauh sebelum kita menikah?"
Max kembali tersenyum tipis, dan membuka seatbelt istrinya. "Tidak ada yang salah dengan itu, Sayang. Aku ingin tahu kebiasaan dan memahami keinginanmu."
Dan kalimat itu menghentikan gerakan Sara yang hendak membuka pintu mobil. Dia balik menatap Max dengan datar dan mencebikkan bibirnya.
"Kau mengurungku di rumah selama ini, Max!"
Max menyengir tak berdosa. "Tidak ada yang bisa menghentikanku. Aku bos-nya," ucapnya dengan membusungkan dada.
Sara turun dari mobil dengan kesal. Max tahu kebiasaan dan hobinya tapi masih membatasi gerakannya dengan mengurung di mansion. Alasan klise itu penyebabnya. Konyol, posesif yang menjengkelkan.
__ADS_1
Diikuti oleh Max yang tersenyum melihat sikap istrinya yang kembali seperti semula. Dia tidak punya pengalaman menghibur wanita yang bersedih, karena kebiasaannya saat sedih hanya dengan melampiaskan rasa marah dan kecewa pada nyawa musuh-musuhnya.
Sara pergi ke pinggir pantai dengan wajah ditekuk, meski semilir angin pagi menerpa wajah cantiknya dengan lembut. Max mengikuti dengan langkah kecil, dan seseorang menghampiri dengan perlengkapan renang.
"Ini yang kau butuhkan, Señor."
Pria tampan yang bertugas mengawasi, memberikan sejumlah barang yang disuruh Max persiapkan sejak semalam. Max memang sengaja mengambil jalur pantai, dan ternyata sesuai dugaannya. Sara meminta untuk berendam di laut.
"Kau selalu punya tebakan yang tepat sasaran, Señor." Alex tersenyum tipis memerhatikan wanita yang berdiri dengan merentangkan tangan di pasir putih, menantang sinar lembayung sang mentari.
Manik biru itu menyipit dengan kekehan terlontar dari bibirnya. "Berarti kemampuanku belum menurun," ucapnya sombong. "Apa kau sudah makan?"
Alex menggeleng. Dan itu membuat Max mendesah kesal. "Kau harus menyayangi tubuhmu, Alex. Hargai waktu yang ada, pergunakan sebaik mungkin agar kau tahu bahwa hidupmu menyenangkan."
Pemilik manik abu itu terkekeh pelan. "Ini lebih menyenangkan dari apapun, Señor."
"Wanita maksudku," ucap Max yang membuat Alex menelan ludah kasar.
"Itu menjengkelkan."
Max menaikkan alisnya menggoda. "Gadis cantik yang bersamamu di bar itu? Gadis bar-bar yang menyenangkan bukan?"
Alex tidak menanggapi membuat Max menepuk pundaknya. "Kau bisa menentukan pilihanmu sekarang. Aku bahagia dengan Sara."
Kemudian Max pergi dan meninggalkan Alex yang merenggut kesal di tempatnya. "Ck, wanita hanyalah makhluk menyebalkan, pengganggu dan suka mengatur. Terserah saja kalau kau mau mengejekku, Señor."
***
"Kau menyukainya?"
"Hm."
Max menemaninya bermain air laut. Pria itu terkadang pergi berselancar ke area yang berombak besar.
"Aku pikir kau tidak bisa melakukan itu, Max."
"Bukan hal baru, Sayang. Agen bertugas menuntaskan pekerjaan yang ringan seperti ini."
Sara tersenyum takjub melihat gaya Max yang berhasil menembus ombak besar di hadapannya dengan papan selancar. Menambah nilai plus sang suami dalam hatinya, Sara menyukai pria yang punya kemampuan menaklukan alam.
Serigala termasuk ke dalamnya, dan sekarang berolahraga di dalam air menjadi pemandangan menakjubkan, bahkan lebih indah dari ombak yang berkejaran dan berlomba-lomba mencapai daratan. Mata Sara tidak lepas dari sana.
Tunggu? Sepertinya aku tidak salah dengar, agen?
Deburan ombak kadang membuat pendengarannya terganggu. Tapi Sara yakin pada pendengarannya kali ini.
"Apa maksudmu dengan agen, Max? Aku tidak salah dengar 'kan?"
Max terkekeh dan mendekat pada istrinya. Dia menjadikan papan selancar itu sebagai bantal dan meletakkan kepala di atasnya.
"Kau ternyata tidak mengetahui apapun tentangku, Sayang. Kau mau mendengar cerita klasik?"
"Kalau kau bersedia untuk menceritakannya, tentu saja aku mau."
Sara mengerucutkan bibirnya dan itu membuat Max gemas dan mencium bibir istrinya.
"Aku pernah bekerja sebagai agen CIA."
__ADS_1
"Eh?" Sara menoleh kaget. "Kau serius?"
"Tidak, hanya asal bicara."
Sara memutar bola mata. "Ck, pembual."
"Bermain di laut hanya sebagian kecil dari tugas besar agen. Tentu saja dengan latihan rutin dan perjuangan keras. Aku bertahan hanya lima tahun dan mengundurkan diri," cerita Max.
"Kenapa?"
"Ada tugas yang lebih penting dari itu."
"Apa itu?"
"Tugas untuk menikahimu."
Wajah Sara memerah, senang tapi juga kesal karena Max mengambil kesempatan untuk menciumnya lagi.
"Jadi berapa umurmu sekarang?" Sara penasaran, sampai sekarang dia tidak tahu dan kadang tidak peduli dengan umur Max. Tapi mulai saat ini, Sara ingin mengetahuinya.
"Menurutmu?"
Tanpa pikir panjang, Sara menyahut, "Empat puluh tahun? Kau terlihat tua."
Max memutar bola mata menahan kesal. Setua itu Sara memandangnya, empat puluh tahun?
"Apa aku setua itu?"
"Jadi berapa umurmu?"
"Tiga puluh lima."
Sara tergelak panjang membuat Max kembali mencebik kesal. "Itu sama saja dengan empat puluh. Tinggal lima jari tangan kanan baru bisa mencapai angka empat puluh."
Tawa wanita sangat menjengkelkan di telinga Max tapi dia lega mendengarnya. Setidaknya Sara sudah melupakan setiap perkataan Thompson.
Sampai Sara merasa perutnya keram, dia berhenti dan kembali menanyakan kisah masa lalu Max.
"Berapa umurmu saat kau pertama kali jadi agen?"
"Mungkin seumuran denganmu saat ini."
"25?"
"Sangat muda, bukan?" Max menyeringai tipis, sangat tipis sampai Sara tidak menyadarinya.
"Tidak," ucap Sara tanpa memahami pertanyaan itu dan tawa Max membuatnya mengerutkan kening. "Kenapa kau tertawa?"
"Berarti kau juga tidak muda lagi, Sara. Dua puluh lima tahun sudah tidak muda lagi, bukan?"
Sadar, Sara menelan ludah kasar. Merasa terjebak oleh pernyataannya sendiri. "Maaxx!!!"
.
.
.
__ADS_1
***
Maaf ya, aku baru namatin cerita yang satu jadi ini dianggurin. Jangan marah-marah yaa😘😘😘