SOLEDAD

SOLEDAD
Pipi


__ADS_3

Jangan lupa like dan komen😊😘


.


.


.


***


"Kenapa kau membawa wanita hutan itu di sini? Apa kau ingin membuat kami malu?"


"Dia istriku, Mom."


"Mommy tidak suka. Ceraikan dia!"


Suara Deborah menggeram di sela-sela bisikkannya di telinga Max. Sang suami yang mendengar itu langsung menegur.


"Sayang!"


"Jangan memotong pembicaraanku, Iglesias. Apa kau buta? Lihat saja, semua wanita memakai gaun yang indah saat keluar tapi dia memakai kemeja usang dan celana jelek. Bukankah itu cukup menggambarkan dirinya tidak pantas untuk Max?"


Max yang mendengar itu menggenggam erat tangan Sara. Tak ingin jika perempuan di sampingnya itu mendengar perkataan sang ibu.


"Mommy!"


"Jangan membantah, Maxwell! Aku Mommy-mu."


"Deborah!" geram Iglesias. "Tidak baik menjelekkan nama menantumu. Bukankah kau wanita bermartabat? Tunjukkan padanya kalau kau adalah mertua yang baik."


Lelaki paruh baya itu menajamkan tatapannya pada sang istri.


"Kau tidak mengetahui apa-apa tentang wanita itu. Dia bukan wanita yang tepat untuk Max."


"Itu urusan Max. Jangan mengganggunya, dia sudah dewasa."


Max hanya diam mendengar bisikkan kedua orang tuanya. Ia menipiskan bibirnya mengetahui Deborah terdiam karena tatapan mata biru sang ayah.


"Apa kau nyaman berada di sini?" bisik Max di telinga Sara.


Meski enggan, Sara mengangguk. Ia tidak ingin merepotkan Max. Berada di ruangan ini duduk bersama dengan banyak orang bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Jika bisa memilih, ia akan memilih menyendiri berada di atap gedung dan mencuci mata dengan pemandangan alam di kota Madrid.


"Syukurlah, sebentar lagi selesai. Mereka hanya ingin mengenalmu."


"Kenapa?"


"Karena aku tampan. Dan mereka percaya bahwa aku menikahi wanita yang cantik."


Sara mendengus namun tak urung hatinya berbunga. Kepercayaandiri pria itu sungguh menggelikan. Dan kata 'cantik' yang diucapkan Max seolah memberinya semangat untuk bertahan.


"Ya, aku mengakuinya. Tampan tapi terlihat menyeramkan."


Max mengangkat alisnya, tidak paham dengan ucapan Sara.


"Jambangmu."


Ia terkekeh. "Astaga, ini membuatku lebih berkharisma."


Suara Master Ceremony memanggil pemilik bangunan itu menggema. Max segera berdiri dengan Sara di sampingnya. Keduanya maju ke depan diikuti oleh tatapan memuja dari semua orang.


Dengan penuh kharisma, Max menerima mikrofon yang diberikan padanya.


"Terima kasih telah turut serta dalam memeriahkan acara pengesahan bangunan ini. Saya Maxwell Del MontaƱa, selaku pemilik bangunan ini turut berbahagia atas partisipasi Anda sekalian."


Gemuruh tepuk tangan memekakkan telinga. Tatapan penasaran semua orang tertuju pada keduanya. Yang tidak diundang di malam pernikahannya tentu tidak mengetahui bahwa dirinya telah menikah.


Senyuman canggung istrinya dirasakan oleh Max. Ia menggenggam erat tangan yang tadi melingkar di lengannya.


"Mungkin kalian bertanya-tanya siapa wanita cantik di samping saya ini. Perkenalkan, ini istri saya. Wanita cantik yang saya nikahi beberapa hari yang lalu."


Mengakhiri perkenalan, Max mengambil salah satu minuman dari atas meja dan mengangkatnya tinggi. "Enjoy your party," ucapnya menutup sambutan. Ia keluar meninggalkan ruangan luas itu.


Beberapa paparazi mengejarnya, menanyakan asal-usul sang istri. Dengan santai, Max menjawab, "Dia wanita yang berada dalam mimpiku selama ini. Wanita yang kuimpikan untuk bersamaku menuju hari tua."


Tanpa ia sadari, perkataannya membuat hati Sara merasa pedih. Kedudukannya di rumah Max tidak seistimewa yang diucapkan.


Peter yang tidak sengaja mendengar menyeringai. Ia tidak menyangka Max mengatakan hal bodoh itu.


"Kita lihat saja apa yang akan kau lakukan, Maxwell."


***


"Kau benar-benar tidak ingin menemuinya?"

__ADS_1


"Untuk apa?" tanya perempuan itu. "Menikahimu saja sudah cukup membuatku setengah gila," gumam Sara kemudian.


Tawaran Max untuk menemui Peter ditolaknya. Beralasan bahwa dirinya lelah dan ingin segera pulang.


Pria bermanik biru itu terkekeh pelan. Ia tahu Sara tidak pernah menyukai Peter.


"Kau yakin itu alasannya?"


"Kau ingin alasan apa?"


Max terdiam sejenak berpura-pura berpikir.


"Tidak ingin melepaskan rindu, misalnya?"


Sara menggeleng lemah. Bagaimana mungkin ia rindu pada orang yang sudah memaksanya hidup berumah tangga dengan pria yang menyebalkan seperti Max.


"Rinduku sudah terobati hanya dengan melihatnya dari jauh."


"Semoga kau baik-baik saja."


Perempuan itu menolehkan kepalanya menatap manik biru sang suami. Ia mengerutkan keningnya tidak paham perkataan pria itu.


"Apa maksudmu?"


Ia hanya mengedikkan bahu acuh. "Aku berpikir mungkin kau akan merindu setelah jauh darinya."


"Mustahil," bantah Sara malas. "Kita akan kemana lagi?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Kau ingin kemana?"


"Hutan?"


Mendapat tatapan penuh harap dari perempuan itu membuat Max mengurungkan niatnya membawa Sara ke suatu tempat.


"Aku pikir kau lelah," sindir Max. "Baiklah. Aku tahu satu tempat yang cocok untuk kita."


"Yes! Kau yang terbaik, Max!"


Merasa dirinya termakan umpan sang suami, Sara berlari menjauh dan buru-buru masuk ke dalam mobil.


"Dia aneh," gumam Max menyeringai.


Ia ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi. Ia mengusir Lewis, mengatakan bahwa ia ingin menghabiskan waktu bersama istrinya.


"Tidak."


"Ayolah, Sara. Jangan membantah."


Mengerti dengan nada bicara halus dan penuh ironi itu, perempuan bermanik cokelat itu menurut.


Duduk manis menatap ke depan rupanya tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari wajah Max yang menatapnya intens. Ia merasa risih dan menoleh ke pria itu.


"A-apa?" tanya Sara takut-takut melihat seringai di bibir Max.


"Kau belum menyelesaikan hukumanmu."


Ia menetralkan degup jantungnya yang tiba-tiba tak karuan. Berdehem sejenak, ia berpura-pura ketus.


"Yang mana?"


"Berpura-pura, huh?"


Max tersenyum tipis melihat wajah Sara yang memerah kesal.


"Aku ingin mengubah peraturannya. Jika kau melakukan kesalahan, maka kau juga yang harus menciumku terlebih dahulu. Begitupun sebaliknya."


Saat Sara membuka mulut hendak membantah, Max langsung memotongnya.


"Membantah berarti kita batal ke hutan."


Karena ingin menghirup udara segar di dalam hutan, Sara mengangguk. Tentang aturan itu, ia akan mengurusnya kemudian.


Max tersenyum puas. Ini yang ditunggu-tunggunya. Ia ingin perempuan itu yang berinisiatif menciumnya terlebih dahulu, tanpa paksaan darinya.


"Bagus. Tanggung jawab sekarang!"


Sara membisu.


"Mobil ini tidak akan berjalan jika kau diam saja, Sara."


Mendelik tidak suka, akhirnya Sara menurut saja. Toh, akhirnya pria itu juga akan memaksanya. Lagipula, baru saja Max memanggil namanya berarti dia juga sengaja mengambil kesempatan.


"Kau sudah mulai pandai berciuman, Sayang."

__ADS_1


Sara memalingkan wajahnya yang sudah memanas. Ingin sekali ia menonjok wajah tengil sang suami.


Belum sempat ia menjauhkan kepalanya, Max sudah lebih dulu mencium pipinya.


"Hukumanku."


Bukannya menjauh, Sara kembali menatap intens netra biru itu.


"Kenapa melihatku seperti itu?"


"Kau mencium pipiku?" tanyanya polos.


Max terkekeh. Ia melajukan mobil itu tanpa menjawab pertanyaan konyol sang istri.


"Max?"


"Hukumanmu!"


Dengan gusar, Sara mendekat dan mencium pipi Max.


"Kenapa di pipi?"


"Harusnya jawaban dari pertanyaan itu ada padamu."


Pria itu menyeringai, dia tidak menyangka ciuman itu menghangatkan dadanya. Keisengannya ternyata dicontohi sang istri.


"Karena pipimu empuk."


"Empuk? Ini bukan sofa, Max."


Sara menangkup kedua pipinya, takut pria itu tiba-tiba menciumnya lagi. Sungguh, ciuman di pipi itu benar-benar mengalihkan seluruh dunianya.


"Sayang ...."


"Maaf," sesalnya. "Tapi, pipimu seperti bulu landak. Tajam dan menusuk, sedikit menggelikan dan tidak empuk."


"Astaga, aku menikahi perempuan aneh," gumam Max.


Ia kembali mengingat perkataan Alana yang juga mengatai jambangnya menggelitik.


"Kau mengatakan sesuatu?"


"Tidak."


Tak selang beberapa lama, mobil itu berhenti di suatu tempat. Sedikit terlihat seperti tempat yang tidak terawat, penuh dengan ilalang yang merambat di sepanjang perjalanan.


Selama petualangannya di daerah hutan, Sara belum pernah menemukan tempat ini. Saat masuk ke sana, ia takjub melihat pepohonan yang sangat unik. Tumbuh menjulang dan nampak seperti gambar abstrak yang tidak diketahuinya.


Berbagai macam tumbuhan menggantungkan hidupnya di sana. Juga banyak binatang yang mampu mengalihkan perhatian perempuan itu sehingga ia tidak menyadari bahwa Max memerhatikannya sejak tadi.


"Apa hutan ini terlindungi? Aku belum pernah melihatnya."


Max mengalihkan pandang, berpura-pura menaruh konsentrasi pada beberapa binatang yang lewat.


"Ini milikku."


"Bagaimana bisa?"


"Aku kaya, Sara."


Ia menarik tangan Sara ke tempat yang sedikit lebih tinggi. Hawa dingin langsung menusuk ke kulit tipis perempuan itu. Ia menggosok-gosok lengannya agar kehangatan membuatnya bertahan.


"Ada tempat bersantai di bawah pohon itu. Ayo ke sana!"


Sara mengikuti kemana arah langkah Max. Hingga keduanya tiba di tempat yang dimaksud.


"Wow, ada air terjun di sana. Astaga, aku ingin sekali berlama-lama di sini. Apa aku bisa ke sini sesuai keinginanku?"


Max menoleh, dia membuka jasnya kemudian memakaikannya pada Sara yang tampak kedinginan.


"Ada banyak binatang buas di sini."


Benar saja. Tak lama setelah itu, suara auman seekor serigala langsung membuat Sara mengeratkan genggamannya pada jas.


Semakin serigala itu mendekat, semakin tubuhnya menempel pada Max.


"Max ...," lirihnya.


.


***


Love,

__ADS_1


Xie Luā™”


__ADS_2