
Vote yaš
.
.
.
***
Jemari lentik itu bergerak perlahan. Rasa pegal langsung menyambar saat itu juga. Gerakan sekecil itu membuatnya merasa seperti orang lumpuh.
Sara membuka matanya yang terpejam erat. Dia memerhatikan sekelilingnya yang terasa tidak asing. Sara tahu bahwa dirinya sekarang berada dalam bak container. Dan mobil itu tidak sedang berjalan.
Sara sudah merasa tidak asing lagi dengan bentuk bak container. Karena dirinya sudah pernah masuk ke dalam tempat seperti ini sebelumnya. Waktu itu, dia dan teman-temannya hampir terjebak di wilayah terlarang dan untungnya ada seorang pengemudi menolong mereka.
Orang itu membawa truk kontainer dan mereka dimasukkan ke dalamnya.
Kenapa aku di sini? Apa yang terjadi?
Sara masih merasa bingung dengan apa yang terjadi. Sampai akhirnya dia mengingat kejadian malam itu.
"Sial, aku hampir saja melupakan kejadian sialan itu," lirihnya geram.
Sara mengepalkan tangannya merasa marah. Dan pada saat itu, Sara menyadari bahwa tangannya diikat di belakang tubuh. Kesakitan di tubuhnya tadi mungkin karena ikatan ini, pikirnya.
Saat hendak bangkit untuk memukul pinggir bak container itu, Sara juga tahu bahwa kedua kakinya diikat.
"Sialan, siapa yang melakukan ini?"
Sara merenggut kesal. Dia berusaha melepaskan diri. Dan untungnya, simpul tali yang mengikat kakinya berada di atas dan Sara tersenyum membayangkan dia bisa membuka menggunakan gigi.
"Aku pasti bisa melakukannya dan keluar dari sini tanpa diketahui mereka," gumamnya sambil tersenyum.
Tapi keberuntungan tidak berpihak padanya. Tali tenunan yang masih baru itu tidak bisa dibuka. Simpulnya sangat erat. Dan hanya satu yang membuatnya berharap.
Karena tidak bisa bergerak cepat, Sara memerhatikan sekelilingnya, mencari sesuatu yang bisa memotong tali itu.
"Aku tidak yakin pinggir drum itu bisa memutuskan tali ini," gumam Sara melihat ada beberapa drum yang berbau minyak di sana. Dan Sara yakin, minya itu adalah minyak tanah.
Meski tidak yakin, Sara coba melakukannya. Dia tidak akan menyerah demi ambisinya.
Dengan susah payah, Sara mendorong pantatnya agar mendekat ke drum itu. Dia berdiri dengan penuh usaha.
"Ayolah, kau harus bisa, Sara," gumamnya menguatkan diri sendiri.
Sara menggosok tali di tangannya dan dengan susah payah berusaha mencoba.
Sudah sangat lama, tapi tali itu tidak terkoyak sedikitpun. Sara mendesah, namun titik juangnya tidak akan pernah berakhir.
Karena Sara bukan tipe orang yang mudah menyerah demi ambisinya, Sara menggosokkan lagi tali itu di sana.
Tangannya sudah memerah dan lengannya terasa pegal. Sara meringis saat melihat darah yang keluar dari lengan atasnya.
"Bagaimana bisa berdarah?" gumamnya heran. Dia tidak mungkin terluka oleh ikatan dan juga pinggiran drum itu tidak tajam.
Merasa kebingungan, Sara terduduk dan melihat apa yang terjadi dengan lengannya itu.
"Seperti ditusuk jarum, tapi aku tidak pernah tertusuk jarum di sini," pikirnya. "Apa aku disuntik obat bius? Tapi obat itu bisa juga dihirup bukan?"
__ADS_1
Berpikir yang membuatnnya bingung sendiri, Sara bangun lagi dan melanjutkan apa yang tertunda tadi. Dia kembali menggosok tali itu di pinggiran drum.
Hingga tali itu terkoyak, Sara tersenyum puas. "Aku pasti bisa keluar dari sini secepatnya," ucapnya yakin.
Belum sempat Sara memutuskan tali yang terkoyak itu, suara langkah kaki membuatnya waspada. Mungkin itu orang yang membawanya. Dan percakapan dua orang itu membuatnya terkejut.
"Tujuan dermaga Napoli yang tersembunyi. Kau harus tiba dalam waktu sehari."
"Sehari? Ayolah, jangan bercanda. Jarak dari Spanyol ke Italia sangat jauh."
"Tuan Elijah yang memerintahkan!"
Napoli? Sara menggumam dalam hati. Kota menakutkan dengan para mafia yang berkeliaran di dalam dan luar kota?
Membayangkan dirinya akan bertemu orang-orang berkepala botak dan berperut buncit membuat Sara bergidik. Kerena kebanyakan ******* itu akan langsung membunuh dan memutilasi mayat korban, serta membawa organ mereka untuk dijual.
"Oh, tidak! Aku belum mau mati dan cara mati seperti itu sangat menggenaskan. Tidak," gumamnya lirih.
***
"SeƱor, aku tidak yakin orang tua itu akan mengizinkan kita membawa cucunya."
"Kau punya cara untuk itu, Alex."
Max berjalan mendahului Alex yang nampak berpikir di sampingnya itu. Keduanya berniat melepaskan umpan untuk lawannya kali ini.
Sampai di sebuah pekarangan yang luas dan terhampar tanaman bunga yang banyak, Max menghentikan langkahnya. "Ini rumahnya?"
"Waktu itu dia memberiku alamat ini, SeƱor."
Alex menyodorkan sebuah alamat yang tertulis di tablet miliknya.
Max memerhatikan Alex yang masuk dipersilahkan oleh seorang wanita tua. Seorang wanita penjual bunga di jalanan.
"Sepertinya aku pernah melihat wanita itu," gumam Max.
Karena sangat penasaran, akhirnya Max mengikuti Alex dan masuk ke sana.
"Selamat datang, SeƱor," sapa wanita itu saat Max muncul di ambang pintu.
"Apa aku pernah melihatmu?"tanya Max tanpa menjawab sapaan wanita itu.
Wanita itu tersenyum. Keriput sangat banyak di wajahnya, tapi terkesan familiar di mata Max.
"Aku tidak berpikir demikian. Apa aku terlihat seperti orang yang kau kenal?"
Max enggan menggeleng tapi juga tidak mengangguk. "Aku pikir aku salah mengenali orang, SeƱora."
"Duduklah!" Wanita tua itu mempersilahkan keduanya duduk. "Aku sudah tua, apa yang kau ingin aku lakukan, SeƱor? Sepertinya kau datang dengan suatu tujuan."
Max terkekeh. "Kau sangat paham, SeƱora. Aku memang membutuhkan bantuanmu."
"Katakanlah, aku tidak suka orang yang bertele-tele."
"Istriku dibawa orang jahat ke negara lain. Aku membutuhkan seseorang untuk merawatnya sebelum aku datang menyelamatkannya."
Wanita tua itu tertawa, dia menepuk pundak Max. "Bagaimana bisa kau kehilangan istrimu, SeƱor? Itu sangat lucu. Kau tidak terlihat seperti orang yang lemah yang tidak bisa menjaga istrimu."
Max terkekeh. "Itu memang konyol. Aku membiarkan singa penyakitan masuk ke dalam istanaku."
__ADS_1
"Semoga Tuhan memberkatimu dengan tujuan muliamu ini, SeƱor."
"Gracias."
"Kau menginginkan cucuku bukan? Aku akan mengirimnya ke sana."
Max terkejut. "Bagaimana kau bisa tahu, SeƱora?"
"Panggil aku Luci. Aku mengenalmu, pria kejam yang diceritakan orang-orang. Tapi aku tidak menyangka kau kehilangan istrimu. Dan untuk urusanmu ini, aku bisa membantumu."
Max menatap wanita itu. Luci? Sepertinya ada sesuatu yang benar-benar familiar di sana.
"Apa kau seseorang yang aku kenal, Luci? Kau sangat familiar."
Luci terkekeh. Dia mengemuarkan selembar foto yang membuat Max menegang.
"Jadi kau orang yang bersama Alara waktu itu?"
"Ya, dan aku juga berpikir, masalahmu ini berkaitan dengan peristiwa hari itu. Aku dengar anak laki-laki dari pria itu menjadi penguasa atas seluruh klan Camorra."
Max terkejut bahwa Luci juga mengetahui tentang pria yang membawa istrinya.
"Kau tidak ketinggalan berita, Luci."
"Aku tidak kuno berkaitan dengan hal-hal yang menyangkut hidup dan mati seseorang, SeƱor."
"Di mana cucumu?"
"Di belakang. Sedang memasak bubur untukku. Kladius!" teriak Luci dan tak lama seorang anak kecil muncul.
Max terbelalak. Dia terkejut karena anak itu tidak seperti yang dibayangkan. "Anak laki-laki? Aku pikir anak permepuan."
"Namanya Kladius, tentu saja seorang anak laki-laki, SeƱor."
"Sialan," umpat Max pelan. "Kenapa kau tidak mengatakannya, Alex?"
"Kau tidak pernah menanyakannya, SeƱor," jawab Alex tanpa rasa bersalah.
"Astaga, aku tidak bisa membiarkannya bersama dengan istriku," gumam Max kesal dan itu membuat Luci terkekeh.
"Kau cemburu, SeƱor?"
"Tidak!" bantah Max spontan yang mana membuat Luci dan Alex memutar bola mata.
"Kau bisa jujur, SeƱor. Aku sudah berpengalaman tentang hal yant seperti ini."
Max berdehem untuk menetralkan jantungnya yang berdegup kencang dan wajahnya yang sudah merah padam. "Itu salah satunya. Tapi aku ingin anak perempuan yang manis dan lembut agar istriku tidak merasa sendirian. Dia gadis yang keras kepala, aku pikir dengan adanya seseorang yang lemah lembut akan membuatnya merasa aman di sana."
"Kau bisa mengubah penampilan Kladius, SeƱor. Dia juga sangat manis seperti kebanyakan anak perempuan pada umumnya," saran Luci yang kembali membuat Max terkejut.
Pria bermanik biru itu tersedak air liurnya. "Tidak bisa. Aku sudah tahu kalau dia anak laki-laki, aku tidak mau membiarkan dia ada di samping istriku."
Dan Alex menyela, "Kau cemburu atau takut istrimu mati, SeƱor? Dia bukan kanibal. Lagipula, hanya kita yang tahu Kladius anak laki-laki."
.
.
.
__ADS_1
***