
Happy reading!
.
.
.
***
Max mengangkat pandangannya saat suara pintu terbuka paksa. Mata birunya menatap tajam pada pria yang baru saja masuk. Namun sedetik kemudian mengerutkan kening melihat ekspresi Alex yang cemas.
"Kau tampak bodoh disaat seperti ini, Alexander. Katakan, ada apa yang membuatmu begini?"
Pemilik manik abu itu mengerjap pelan sebelum melaporkan. "Antek-antek kita mendapat kabar bahwa anak buah Thompson hendak memasuki pelabuhan."
Max tersenyum tipis. "Jalur laut?"
"Si, Señor," jawab Alex. Tapi sesaat berikutnya dia tampak terkejut. "Señor, apa kau sudah mengetahui ini sebelumnya?"
"Stephen berusaha menghubungiku, tapi Sara tidak sengaja mendengar. Aku pikir ini hanyalah akal-akalan pria jelek itu," ucap Max menyeringai. Dia meletakkan pulpen yang sedari tadi terjepit di jarinya.
"Kapan mereka akan sampai? Dan apa kau juga punya informasi rencana mereka?"
Alex menggeleng membuat Max menyeringai lebar. Mata birunya kembali tajam, menusuk tepat di jantung pertahanan siapapun yang bisa melihat. Dan Alex tahu ada rencana jahat yang tersembunyi di sana.
"Bagaimana, Señor?"
"Tidak perlu menyambut. Militer milik kita, bukan? Hanya perlu menempatkan granat tanpa api maka semuanya beres." Seringai di bibirnya makin lebar, dengan tatapan mata yang sangat tajam, setajam pedang bermata dua.
Hari ini, sosok Max kembali menjadi serigala liar setelah sekian lama berada di liangnya. Tidak ada ampun, manik biru yang hari kemarin penuh sorot bahagia, kini berubah kelam.
"Pergilah berkencan, aku tahu gadis pirang itu tidak melepaskanmu. Lagi pula, tidak baik menekan kedatangan tamu terhormat kita. Aku juga perlu berkencan dengan istriku di sisa hari yang baik ini," ucapnya tersenyum lebar. Seolah kabar tadi tidak menggerakkan jiwa kejam Max yang sudah membara ingin membunuh.
Bibir Alex berdecak sebal, tapi desahan lega juga lolos dari sana. Setidaknya Max belum berlari masuk ke dalam sarang yang bisa menghancurkan rencananya kali ini. Alex memang berencana melakukan sesuatu tapi sudah terlanjur diketahui Max.
Max bangkit dari kursinya setelah menyelesaikan beberapa berkas yang langsung diberikan kepada Melanie.
"Masih ada yang belum diselesaikan?" tanyanya pada wanita yang kini berpakaian lebih sopan itu.
"Semuanya sudah selesai, Señor."
"Kau juga bisa pergi berkencan hari ini, Melanie. Mood-ku sedang bagus, jadi, kau bisa izin setengah hari."
Manik wanita cantik itu seketika berbinar, tapi sekejab juga langsung redup. "Masih ada yang belum saya selesaikan, Señor. Terima kasih atas izinnya."
"Ck, Alex beri pengertian pada wanita bodoh ini. Dia perlu pendamping untuk menemani hidupnya yang malang ini," ucap Max sinis melirik Melanie yang sedikit mengerucut di depannya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Max mengambil jasnya yang menutupi punggung kursi, berlalu dari sana bagai angin yang berhembus ke mana pun dia mau.
Mau tidak mau, Alex mengejarnya dengan langkah lebar, berusaha mengimbangi langkah sang big boss yang mood-nya tiba-tiba bagus hari ini. Entah apa yang dipikirkan Max, Alex tidak bisa menyelami pikiran lelaki itu.
Terkadang bahagia tanpa alasan, dan marah tanpa sebab. Max yang sekarang seperti seekor kucing yang mempermainkan tikus di tangannya sebelum diterkam, memakan habis hingga tulang tak tersisa.
Langkah kakinya yang lebar terhenti di depan pintu lift, menunggu Alex yang tentu buru-buru mengikutinya dan membuka pintu itu.
__ADS_1
"Kau sudah tidak sabar menemui kekasihmu itu ya?"
"Bukan kekasih, tapi wanita simpanan," sangkal Alex gusar.
Membahas wanita tentu saja membuatnya tidak nyaman, apalagi orang yang dimaksud adalah seorang gadis pengganggu yang seperti lalat, mengikuti ke mana pun ada bangkai.
Max terkekeh. "Simpanan? Kau punya kekasih lain?"
"Tidak."
Tawa Max menggema di dalam lift, membuat wajah Alex memerah padam. Max menyaksikan itu, diam-diam dia menyeringai.
"Punya simpanan tapi tidak punya kekasih kandung. Otakmu benar-benar bermasalah, Alex."
"Lebih baik otak yang bermasalah daripada hati yang menjadi korban perasaan, Señor."
Max memutar bola mata malas. Benar juga pandangan Alex terhadap hubungan, lebih baik pakai otak daripada hati. Karena ujung-ujungnya hati yang menjadi korban.
Melangkah lebar ke parkiran, Max kembali meninggalkan Alex mengejar ketertinggalan.
"Kau bisa memanggil taksi untuk mengantarmu pulang, Alex. Aku tidak sabar untuk bertemu istriku hari ini."
Max memerintah dengan nada santai, wajah datar seolah tidak terjadi apa-apa. Tanpa dia tahu Alex sudah kesal karena dipermainkan.
"Oh ya, jangan menggangguku dengan telepon pekerjaan. Hari ini aku sibuk," ucapnya terkekeh lalu masuk ke mobil membiarkan Alex yang mengumpat di tempatnya.
"Sial, padahal aku yang seharusnya melarang dia menelponku karena urusan pribadi. Sudah pergi tanpa membawaku, masih punya muka untuk berkata seperti itu. Dasar muka tembok!"
***
Sang istri memiliki pendapat lain. Semua angan-angan di kepalanya sirna bersamaan dengan senyum ceria Sara yang menginginkan kencan yang ekstrim.
"Kau tidak lupa membawa pistolmu 'kan?"
"Hei, itu benda yang tidak bisa dibiarkan begitu saja, Sayang."
Sara tergelak. Mereka dalam perjalanan menuju sebuah tempat yang dulu sempat diincar Sara.
"Kau harus melatihku dengan benar. Aku seorang yang sangat berambisi sekarang," ujar Sara dengan nada tegas. Tangannya mengepal mengingat isi pemberitahuan Alana pagi tadi.
Max terkekeh. Tangan kirinya memegang kemudi mobil sementara tangan kanan menggenggam tangan istrinya yang mengepal menahan amarah.
"Ambisi akan menghancurkanmu, Sayang. Seorang pemenang bukan tentang bisa mengalahkan, tapi menjaga akalnya tetap sehat. Jadi, kau tidak boleh stress memikirkan hal ini. Ikuti alur, maka kau bisa membaca jalur apa yang bisa kau pakai."
Sara menatap tangannya yang digenggam Max. Lalu beralih pada mata biru yang fokus pada jalanan di depan sana. Sara tahu Max menginginkan kencan romantis ala pria dan wanita seperti biasa.
Tapi keadaan sekarang tidak menguntungkan bagi mereka. Sara berpikir ini saat yang tepat baginya untuk berlatih menembak. Melatih psikis dan fisiknya menghadapi rintangan di masa depan.
Sara bertekad. Dia ingin melindungi dirinya sendiri dan memasang penghalang di hatinya untuk orang-orang yang tidak punya welas asih. Termasuk lelaki yang diketahui sebagai ayah kandungnya. Thompson, Sara membenci nama itu. Bahkan sekarang hasrat hatinya sangat ingin membunuh lelaki itu dengan tangannya sendiri.
"Sara, kendalikan dirimu!"
Suara Max membuyarkan lamunan penuh emosinya. "Maaf, apa kita sudah sampai?"
"Kau melamun. Turunlah, kau bisa memuaskan ambisimu di sini."
__ADS_1
Dengan tangan yang membawa dua utas tali karnmantel, Sara melangkah lebar ke pinggir tebing. Memasang Chock and friends, piton dan memakai hardness di tubuhnya. Bersiap menaklukan tebing yang terlihat cukup curam itu.
"Max, apa kau punya sasaran bergerak?" teriak Sara karena Max masih berada jauh di belakangnya yang sedang mempersiapkan beberapa peralatan untuk dirinya.
"Seekor kelinci?"
"Ayolah, jangan bercanda. Hewan kecil yang lucu itu tidak bisa dijadikan percobaan."
Max menyeringai dan mendekat padanya. "Apa kau tidak berpikir begitu saat ingin membunuh orang lain? Sara, jangan terlalu naif, kehidupan tidak selucu yang kau lihat di dalam tubuh kelinci."
Sara terkekeh dan memukul pundak Max. "Jangan khawatir, kau bilang pemenang tidak harus mengalahkan, bukan? Baiklah, berikan aku sepuluh kelinci untuk percobaan pertama."
Mengambil pistol yang diperuntukkan baginya, Sara bersiap memanjat tebing dan berburu kelinci. Agak sulit, karena ini pertama kalinya Sara melakukan latihan tembakan dan memanjat tebing yang menantang nyali.
Dan hal-hal ekstrim seperti inilah yang sangat disukai Sara. Sampai di pertengahan, dia mulai menargetkan sasaran. Meski hatinya lemah melihat kelinci-kelinci imut itu terkapar tak bernyawa, tetap saja tujuan yang harus dia capai lebih imut dari itu nanti.
Sara tertawa mengingat bagaimana repotnya Alex saat disuruh Max untuk menangkap kelinci-kelinci malang itu. Dan Sara tahu, ada hal yang tidak bisa dijelaskan yang terjadi antara Alex dan Claire.
"Lebih banyak lagi, Max! Aku menjadi haus darah sekarang!"
Sara berteriak bahagia saat Max mengusir para kelinci yang dia jadikan target percobaannya. Dengan objek yang bergerak semakin menantang ambisi Sara. Berkali-kali dia menarik pelatuk, tapi tembakan kali ini sedikit susah.
"Hanya dua ekor yang berhasil," gumamnya lemas.
Andai tidak ada hardness yang menopang tubuhnya, mungkin Sara sudah jatuh dari tebing yang curam itu. Sara lelah padahal baru beberapa menit.
"Apa ada waktu istirahat?" teriaknya lagi pada Max yang berada di bawah, mengamatinya dari kejauhan.
"Seekor rusa lagi!"
"Oke!"
Semakin lama, seekor rusa itu tidak bisa dikejar Sara. Meski posisinya berada di ketinggian, tapi rusa yang berlari sangat lincah itu sungguh sulit diburu.
Dia tersentak kaget saat Max tiba-tiba memegang tangannya dan membantunya menargetkan sasaran.
"Kapan kau naik ke sini?"
"Aku sudah bilang, ambisi akan mengalahkanmu. Meski kau berada di puncak, tetap saja kau akan kalah jika tidak bermain cantik."
Sara mengerucut. Tentu saja dia tidak bisa memburu rusa yang pandai menghindar itu. Dan tanpa aba-aba, Max menarik pelatuk hingga mengenai sasaran.
"Sabar dan teliti, itulah kunci kesuksesan dalam misi seperti ini."
.
.
.
***
Love,
Xie Lu
__ADS_1