
Vote yaπ
.
.
.
***
Teluk Napoli yang terkenal sebagai ekosistem bagi para paus dan lumba-lumba menjadi laut terdalam dan berbahaya bagi Max. Kakinya yang tadi tertembak tiba-tiba keram saat dia menyelam ke arah Sara.
Tidak ada pistol di tangan dan pemantik sudah pasti basah hingga dia tidak bisa membakar granat untuk melawan ikan-ikan karnivora yang mungkin saja akan mengganggu.
Menyelam tanpa alat bantu dengan kaki yang keram mungkin benar akan menjadi detik terakhirnya di bumi. Dia tidak bisa menyelamatkan perempuan yang dicintainya bahkan mati konyol di laut hanya karena kaki yang keram.
Max tertawa miris membayangkan akhir hidupnya benar-benar terjadi di laut Mediterania, bukan oleh pistol. Gerakannya semakin melambat saat dia dekat ke arah Sara.
Dia bisa melihat istrinya tenggelam ke laut dalam. Max coba meraih tangan Sara, tapi semakin dalam perempuan itu tenggelam.
Kaki Max semakin lemas, kayuhan tangannya juga tidak bisa membantu tubuhnya bergerak maju. Bersamaan dengan itu, matanya bertambah buram ditambah malam yang semakin larut dan tanpa cahaya sang pemilik malam.
Dalam hati dia berharap, berdoa pada Tuhan yang selalu mendengar pinta hambaNya agar menyelamatkan istrinya. Memohon agar mengampuni dosanya yang telah menjerumuskan istrinya ke dalam bahaya.
Sebelum matanya benar-benar tertutup, dia melihat sebuah cahaya menuju ke arahnya. Max tersenyum, dia bergumam, "Sudah waktunya."
Cahaya itu mendekat dan menangkap tangan Max agar tidak tenggelam.
"Bodoh," ucap seseorang yang datang ke arahnya itu. Dia menarik Max ke permukaan dan memandang sekeliling.
Dia tersenyum mengingat perkataan Max yang tidak sengaja didengarnya tadi.
"Kau benar-benar ingin menggenggam tanganku dan mati bersamaku, tapi itu konyol, Max. Lihatlah, kau bahkan tidak bisa bertahan," ucap Sara sambil terkekeh.
Sara berenang dengan tenang agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan ikan-ikan pemangsa. Dengan satu tangan yang memapah Max yang pingsan, Sara berhati-hati agar air tidak menenggelamkan pria itu.
Dalam hati, Sara bersyukur. Ada satu orang yang benar-benar memperlakukannya dengan sangat baik. Meski Max tidak pernah mengatakan apa-apa tentang perasaannya, Sara cukup mengerti dengan kalimat yang diucapkan Max pada Stephen tadi.
Meski Sara mulai lelah memapah Max, tapi dia tidak akan menyerah. Di saat terpuruk, mereka tidak boleh berhenti berjuang.
Tapi apalah daya, kekuatan Sara tidak sebesar itu untuk mengarungi lautan luas itu tanpa alat bantu pernapasan dan menyelam.
Meski demikian, mungkin benar Tuhan tidak akan meninggalkan umatNya menderita, sebuah perahu nelayan lewat. Sara tersenyum dan melambai.
"Tolong kami," teriaknya meski tidak keras.
Dia masih takut, jangan sampai anak buah Elijah mengejar mereka. Perahu itu melambat dan menuju arah mereka.
Senyum Sara bertambah lebar. "Terima kasih, Tuhan," ucapnya.
"Apa yang terjadi, Nona? Kenapa menyelam di laut tanpa alat bantu?" tanya seorang nelayan itu sambil menarik Max ke dalam perahu.
"Kami sedang belajar menyelam dan akhirnya, yah ... kau bisa lihat sendiri, kami hampir tenggelam. Suamiku pingsan," jelas Sara sambil merangkak naik ke dalam perahu dibantu beberapa lelaki tua di sana.
__ADS_1
Dan Sara melihat beberapa orang itu mengejek Max dengan pandangan tak biasa. Sadar bahwa telapak kaki Max yang dimaksud mereka, Sara tersenyum kaku.
"Ada ikan besar yang menggigit kakinya dan aku hampir terlambat menyelamatkan," ucap Sara sedikit gugup telah berbohong.
Tapi dalam hati, dia membenarkan kebohongannya. Berbohong demi kebaikan itu tidak masalah, begitu pikir Sara.
"Pakailah ini, Signora (Nyonya)!"
Seseorang datang menyodorkan selimut hangat pada Sara dan pada saat itu juga Sara sadar bahwa tidak ada lagi gaun di tubuhnya.
"Eh grazie (Terima kasih)."
Meski tidak terlalu mengerti bahasa Italia, Sara coba beradaptasi dengan itu karena bahasa Italia dan Spanyol tidak terlalu jauh beda.
"Ke mana kami akan mengantarmu, Nyonya?"
"Kau bisa mengantar kami ke hotel terdekat di pantai ini."
Para nelayan itu mengangguk. Meski Sara melihat raut wajah mereka kurang meyakinkan dengan penjelasannya, dia hanya tersenyum karena mereka telah menyelamatkannya.
***
Tiga orang di dalam kapal milik Russel itu menunggu dalam diam. Mereka memang menanti kemuncullan Max yang pasti akan menyatakan kemenangannya telah berhasil membawa pulang sang istri.
Namun, yang ditunggu-tunggu tak kunjung kembali. Nampak raut yang berbeda di wajah Stephen. Dia memerintah.
"Selena, suruh semua helikopter dan penyelam terbaik milik kita untuk mencari mereka. Max tidak boleh mati begitu saja, perhitungan ini belum sampai puncak. Kematiannya tidak akan berguna kalau Maximus Kecil bodoh itu mati tenggelam."
"Dan juga, bawa mereka berdua ke hadapanku baik masih hidup atau sudah mati. Aku yang akan menangis bahagia lebih dulu untuk kematian mereka."
"SΓ, Signore."
Bangkit dari duduk jongkoknya di pinggir kapal itu, Stephen menarik Alana masuk ke sebuah kamar.
Dan seseorang yang melihat itu mengepalkan tangannya. Dia menggeram marah karena bukan dirinya yang diperlakukan seperti itu.
Di kamar yang sudah berantakan oleh Max itu, Stephen langsung menindih Alana dan mencium bibir wanita itu dengan brutal.
Alana yang kehabisan tenaga karena takut mati tadi hanya pasrah menerima semua perlakuan Stephen. Lagipula, itu bukan pertama kalinya lelaki bertato itu memperlakukannya dengan kasar.
"Aku punya tali baru, Atlanta. Ayo kita bermain sebentar sebelum kekasih gelapmu itu datang," bisik Stephen parau.
Tidak menunggu jawaban, lelaki itu mengeluarkan tali yang disebutkannya tadi dan mengikat tangan Alana hingga wanita itu tidak bisa bergerak sama sekali.
"My Steve Rogers, di mana anak kita? Kau tidak serius dengan ucapanmu tadi 'kan?"
Alana memberanikan diri bertanya tentang hal yang membuatnya banyak pikiran. Dia tidak bisa bergerak, Stephen menahan tangannya di atas kepala. Karena itu, dia pasti akan mendapat tamparan karena lancang telah bertanya.
"Kau takut George mati? Ayolah, Atlanta. Kau pergi setahun tanpa mengingatnya sama sekali. Di mana pedulimu sebagai seorang ibu?" sinis Stephen yang membungkam mulut Alana.
"Maaf," cicitnya dan menutup mata.
"Aku tidak akan memukulmu malam ini, aku sedang bahagia," ucap Stephen yang membuat Alana seketika membuka matanya.
__ADS_1
Namun, seringai di bibir lelaki itu membangunkan bulu kuduknya. Sudah terbiasa seperti itu, tapi malam ini suasananya berbeda. Stephen berubah menjadi orang yang sedikit lembut meski kesinisannya masih terkadang muncul.
"Aku mengerti," ucap Alana dengan suara halus.
"Kau tidak mengerti, Atlanta. Permainan ini masih akan berlanjut dan aku tidak ingin George terlibat. Kau harus menjaga identitasmu. Berita di luar sana sudah tersebar kalau George sudah mati di kasino."
"Anakku masih hidup? Terima kasih, Steve," girang Alana dan tersenyum seketika.
"Anakku juga!"
"O-oh iya. Maaf."
***
"SeΓ±ora bergerak lurus ke arah Barat! Temukan dia!"
Alex yang berada di helikopter memberi perintah pada semua anggota yang ada. Dia khawatir, keberadaan Max tidak diketahui lagi setelah dia berhenti di tengah laut.
Dan yang membuatnya bingung, kapal yang disusulnya kembali ke pantai. Tinggal dua kemungkinan, Sara tidak terselamatkan dan Max tertangkap.
Karena itu, Alex tidak akan ceroboh.
"Turunlah, Uncle!!! Aku telah menyelamatkan Senior bodoh itu! Dia berada di hotel sekarang!"
Teriakan seseorang itu membuat Alex mengerutkan kening. Dia merasa familiar dengan panggilan seperti itu.
"Siapa kau?"
"Penolong," jawab orang itu. "Kau bisa membalas dendam Senior pada mereka."
.
.
.
***
Penolong?!π€π€π€π€
Netizen : odading mang oleh lagi naik daun thor
Author : gorengan itu? awalnya gue baca odaging mang oleng saking buramnya mata gueππ gegara jarang up dan didesak crazy upππππ
Netizen : jan bilang kalo lu emang gak bisa baca? gue curiga
Author : yakali gak bisa bacaπππ jaharaa
.
Follow me @xie_lu13
__ADS_1