
Jangan lupa like, komen dan rate ๐5 ya๐๐
.
.
.
***
Bahkan sampai keduanya selesai mandi, Max masih mengejar Sara dengan pertanyaan yang sama.
"Aku tersesat di sana, Max."
"Matamu tidak mengatakan kebenaran."
Sara mendesah pasrah, pria itu ternyata tidak mudah dikalahkan. "Aku mengatakan fakta, pertama kalinya aku tersesat dan masuk ke ruangan aneh itu."
"Kapan?" tanya Max ingin tahu.
"Pertama kali aku datang di sini."
Max ingat, saat pagi harinya ia masuk ke sana, semua peralatan gym miliknya sedikit berbeda dengan keadaan semula.
"Bagaimana caramu menemukannya?"
"Tidak sengaja menekan tombol."
Sara mengerucutkan bibirnya ketika Max tertawa. "Kenapa kau tertawa?"
"Kau lucu, Sayang."
Tiga kata itu berhasil membuncah dadanya. Rasa hangat menjalar di sana dengan ribuan bunga bertebaran bak istana yang berlimpah bunga.
Saat menyadari masih ada orang di bawah yang sangat tidak disukainya, rasa bahagia itu berganti dengan tawa pedih.
"Ganti bajumu, Max. Padahal kau tidak melakukan apa-apa di sana tadi."
"Aku menemanimu, Sayang."
"Dengan tidur di lantai?"
"Ya, banyak kuman di sana, jadi aku harus membersihkan diri demi istriku."
Sara mendengus tidak suka. Pikirannya dipenuhi bayangan Anne -yang dikiranya Alana, dan ia mengaitkan segala perilaku Max dengan keberadaan perempuan itu.
Yang tidak biasanya mandi berulang kali dalam satu jam, kini pria itu melakukannya. Pasti karena kekasihnya di sini, pikir Sara.
"Bilang saja kalau kau ingin tampil sempurna di hadapannya."
Max tersenyum miring, dia sepertinya bisa membaca setiap ekpresi yang ditunjukkan Sara.
"Tentu saja, kau istriku yang paling cantik, dan untuk bisa bersanding denganmu, aku harus terlihat lebih sempurna lagi."
"Terserah kau saja. Tutup matamu, aku harus berganti baju."
"Astaga, kau masih saja malu. Padahal kita mandi bersama."
"Ini beda."
Max menahan tawanya, ia melihat Sara membalikkan badannya juga dan membuka handuk yang melilit tubuhnya.
Pria itu sengaja berdehem untuk menetralkan suasana yang tiba-tiba mencekam baginya. Meski tidak malu-malu lagi seperti awal pernikahan, tetap saja Sara masih menutupi seluruh bagian tubuhnya yang tertutup dari Max.
Dan Max memaklumi itu. Pernikahan mereka hanya landasan untuk melunasi hutang Peter, bukan tanpa cinta seperti yang selalu disinggung Sara padanya.
"Jangan melihat, Max."
"Tentu saja aku tidak melihatnya karena kau akan menunjukkannya langsung untuk menebus hukumanmu, Sayang."
Kata terakhir itu sengaja ia ucapkan lambat-lambat, ingin istrinya segera membalikkan badan.
"Sayang, sudah selesai?"
Ia sengaja mengalihkan pembicaraan untuk meredam hasrat yang menguasainya. Tak ingin menerkam istrinya yang masih sangat polos itu. Karena pada kenyataannya, Max sengaja menutupi matanya dengan jemari yang terbuka untuk mengintip apa yang dilakukan Sara.
"Belum."
"Cepatlah, kau harus memakaikan kaos untukku."
"Kau sangat tidak sabar."
Sara mempercepat gerakannya, ia menarik paksa ritsleting gaun itu dan sayangnya, benda itu rusak.
"Max, jangan buka matamu!"
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" tanyanya berpura-pura.
"Diam saja!"
"Kau terluka?"
Sara tidak menjawab, tapi Max masih bisa melihat bagaimana perempuan itu membuka gaun itu dan mengambil gaun yang lain.
"Kau bisa membuka matamu sekarang."
"Hah?!" teriak Max pura-pura terkejut.
Saat ini ia sangat pandai berakting, mungkin sekarang ia harus mengalihkan profesinya menjadi aktor.
"Maaf, ritsleting gaun itu rusak, aku memakai yang lain."
Memasang wajah pura-pura sedih lagi, Max membantu Sara menarik ritsleting gaun itu.
"Sayang sekali, padahal gaun itu sangat cocok untukmu," gumamnya agar terdengar lebih kecewa
"Baguslah baju sialan itu rusak, aku tidak bisa bernapas."
"Kau seksi dengan itu, Sayang. Aku yang memilihkannya langsung untukmu."
"Apa?!" Lagi-lagi Sara melotot. "Ternyata kau benar-benar mesum, Max. Kau membelikanku pakaian seksi dan menyebalkan itu. Untung saja cepat-cepat robek, aku bisa memiliki alasan untuk membuangnya sekarang."
"Apa?!" Kini giliran Max yang melotot horor. "Harusnya kau memberiku hadiah karena membelikanmu gaun yang bagus, Sayang. Terserah bagaimana kualitasnya, tapi itu pemberian suamimu."
Sara mengedikkan bahu acuh, ia mengecup pipi Max dan menjauh dari sana.
"Pakaikan aku kaos, Sayang!"
"Pakai saja sendiri! Kau bukan anak kecil!"
***
"Kenapa kau banyak melamun hari ini? Ada yang mengganggumu?"
"Tidak ada."
"Jangan membohongiku."
"Apa aku terlihat berbohong?"
"Jelas terlihat, sepertinya kau juga cemburu."
"Aku tidak cemburu. Dia milikmu sejak awal dan aku hanya pengganti. Bukankah sekarang kau sudah bisa melepaskanku?"
Tatapan jenaka itu berubah menjadi serius. Kalimat terakhir Sara sepertinya menyinggung dirinya.
"Aku telah mengatakannya berulang padamu, Sayang. Kau istriku dan selamanya akan tetap seperti itu. Kau lupa pada janjimu?"
Perempuan itu terdiam. Ia memang mengucapkan janji suci pada malam itu, tapi tidak berasal dari hatinya.
Keterpaksaan dan tidak adanya cinta menjadi alasan utama ia melakukannya. Tidak mungkin ia melakukannya dengan sepenuh hati sementara mata dan mulut Peter terus memantaunya dari kursi undangan.
"Bagaimana dengan Alana?"
Max terkejut. Tidak menyangka Sara menyebut nama wanita yang masih mendiami separuh jiwanya itu. Alana cintanya, wanita yang mengajarinya berbagai hal tentang hubungan dan yang telah menghancurkannya pula dalam sekejab.
Wanita yang telah meninggalkannya tanpa sepatah kata dan menoreh luka yang sangat dalam di lubuk hatinya, kini hadir lagi dalam pembahasan di antara dirinya dan sang istri yang ia nikahi beberapa pekan lalu.
"Kau mengenalnya?"
"Ya, fotonya ada di laci samping ranjang."
Menghela napas lega, Max menarik Sara dalam dekapannya. Ia tahu dirinya tidak menyimpan foto Alana di sembarangan tempat.
Dan foto yang dilihat Sara waktu itu adalah dirinya dan Anne yang terlihat sangat mesra. Orang baru yang melihatnya tentu saja beranggapan bahwa keduanya sepasang kekasih.
"Ternyata kau benar-benar cemburu," ucap Max dan mengecup daun telinga Sara. "Aku menyukainya."
"Apa maksudmu?"
"Aku suka kau cemburu, berarti kau sudah mulai memerankan peranmu sebagai istri yang mencintai suami."
"Max?" panggil Sara saat tangan Max tidak terkendalikan.
"Hm?"
"Lepaskan tanganmu, aku ...."
"Kenapa? Jangan menangis lagi, kau akan bertambah jelek."
Sara menghapus air mata yang tiba-tiba saja menetes. "Jangan melakukannya, ada kekasihmu di bawah."
__ADS_1
Karena tidak bisa menahan kegemasannya, Max menggendong Sara dan menindiihnya di atas ranjang. Ia mencium seluruh wajah perempuan itu dengan brutal.
Entah bagaimana perasaannya sekarang, yang jelas ia bahagia karena Sara mengira Anne sebagai Alana.
"Kau sungguh aneh, Sayang."
"Hentikan, Max. Aku tidak bisa bernapas. Kau menyebalkan!"
"Aku melakukannya dengan istriku," sahut Max dengan tawa bahagianya.
"Kau akan melepaskanku secepatnya. Nikahi wanita itu, kau mencintainya."
"Kau tahu aku mencintainya?"
"Kau mengatakannya sendiri, dan pengakuannya tadi."
"Astaga, dia benar-benar sesuatu," gumam Max kembali mencium bibir Sara.
Puas dengan itu, Max membuka laci yang dikatakan Sara dan mengambil foto yang dimaksud.
"Siapa yang memberitahumu bahwa namanya Alana?"
"Setiap kau mabuk, kau menyebut namanya."
"Dan menciummu?" tanya Max memastikan.
Sara mengangguk dengan kepala menunduk. Ia merutuki kepalanya yang sangat mudah bergerak, seperti pintu otomatis yang terbuka saat ada orang.
"Maaf untuk itu."
"Aku tidak berhak menaruh dendam padamu."
Suara parau menahan tangis perempuan itu menjungkirbalikkan dunia Max. Ia merasa sangat bersalah. Namun, tentu saja dia tidak akan mengatakannya langsung. Ia mengalihkan topik pembicaraan.
"Perhatikan foto ini dengan seksama. Bagaimana kau menyimpulkan bahwa kami sepasang kekasih?" tanya Max menatap manik cokelat itu.
"Kemesraan."
"Foto penuh kemesraan belum tentu mereka sepasang kekasih. Perhatikan lagi, apakah ada kemiripan di sana?"
Sara mengangguk karena memang di sana wajah keduanya mirip.
"Kira-kira kau mendapat kesimpulan apa darinya?"
Senyum terbit di bibirnya dan mengangguk sebagai jawaban.
"Aku berpikir bahwa kalian sepasang kekasih, karena menurut orang tua, jodoh kita itu mirip dengan kita."
Max mendengus, ia mengusap rambut Sara dengan lembut dan memberi kecupan di keningnya lama.
"Dia Anne, adik perempuanku. Apa kau masih cemburu?"
"Aku tidak pernah cemburu!"
"Lalu, kenapa kau berlari dari sana tadi?"
"A-aku ... aku sakit perut," kilahnya.
"Jangan berbohong padaku, Sayang."
Ciuman sepertinya sudah menjadi kebiasaan bagi keduanya. Meski masih sungkan untuk memulainya, Sara tetap tidak bisa menolak saat Max memagut bibirnya dengan lembut. Setiap perdebatan keduanya selalu ditutupi oleh hidangan penutup sebuah ciuman mesra.
Dan itu membuat jantung Sara memompa lebih cepat dari biasanya.
Apa aku sudah jatuh cinta pada suamiku sendiri?
"Anne sudah menunggu kita, ayo turun!"
"Kenapa kau tidak pernah memberitahumu kalau kau punya adik perempuan?"
"Kau tidak menanyakannya, aku pikir itu tidak penting. Tapi, aku merasa beruntung karena aku tahu kau mencintaiku."
"Aku tidak mencintaimu!"
Apa aku boleh mencintaimu?
.
.
.
.
***
__ADS_1
Love,
Xie Luโก