
Happy reading!
.
.
.
***
Semuanya berakhir. Sara terisak kecil di dekapan Max, tangannya gemetaran, meremas kuat kemeja putih yang dikenakan lelaki itu.
"Kapan kau menangkapnya?"
Sara bertanya lirih, melirik badan kurus yang terbujur kaku. Kaki Thompson memakai penyambung. Sara baru menyadarinya ketika menyentuh tubuh lelaki tua itu.
"Dia berencana menyekap dan membunuh kekasih Alex semalam."
"Kekasih Alex?" tanya Sara memastikan.
"Ya, temanmu. Aku melupakan namanya."
Seketika Sara terkekeh dan menatap Max. "Apakah mereka benar-benar berkencan?"
"Alex tidak mengatakannya, tapi sepertinya dugaanmu benar."
"Kenapa?"
"Si bodoh itu hampir gila saat menelponku semalam," jelas Max sambil tertawa kecil. Dia mengusap punggung Sara yang masih bergetar.
Sara tersenyum. Dia menenggelamkan kepalanya di dada Max. "Claire benar-benar berhasil mengejar Alex."
Dalam keheningan, Sara baru merasakan hatinya gelisah. Berusaha menghilangkan semua perasaan sesal, Sara menggeleng kuat. Hal itu membuat Max mengerutkan kening.
"Apa kau menyesal?"
"Rasa benciku melebihi itu."
Perasaannya mengambang saat mengucapkan kalimat itu. Sara tidak mengerti, tapi ada sesuatu yang membuatnya ingin menangis lagi.
"Aku membencinya, aku benci dia memukul dan membunuh Mama," ucap Sara dan menggeleng kepalanya.
Max mengerti. Sebagai seorang anak yang membunuh ayah kandung dengan tangan sendiri, Sara pasti merasa menyesal. Hanya saja mulut dan hatinya berkata lain.
"Aku membencinya, Max. Aku benci ...," lirih Sara dengan isakan tertahan.
Max menutup matanya mendengar setiap keluhan Sara. Bibir mungil istrinya terus menggumamkan kebencian, tapi air matanya terus mengalir.
Dia membiarkan Sara memukul dadanya, melampiaskan rasa sakit wanita itu. Selama beberapa saat mereka bertahan dalam posisi jongkok di ruangan gelap itu.
Sampai suasana hati Sara benar-benar membaik, Max bertanya, "Apa kau ingin mengirimkannya ke Napoli?"
Sekian detik hanya keheningan yang menjawab. Sara menatap wajah sang suami dengan tatapan bertanya.
"Baiklah, aku paham," ucap Max.
Dia menarik Sara untuk berdiri. Mereka melangkah keluar dan mendapati Alex dan Gerald di sana.
"Persiapkan semuanya, Alex."
"Si, Señor."
"Apa yang kau lakukan di sini, G?"
Pemuda bermanik zamrud itu tampak kikuk. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menyengir tanpa dosa. "Maaf, Kak. Aku yang mengantar kakak ipar ke sini."
Max menatap tajam pada Gerald.
__ADS_1
"Ayolah, Kak. Kakak ipar mengancam ingin membunuhku jika aku tidak memberitahu keberadaanmu." Gerald menatap takut pada Max.
"Mungkin sudah saatnya kau menikah, G," ancam Max pada pemuda yang takut menikah itu.
Refleks Gerald berlutut dan memohon pada Max. "Ayolah, Kak. Jangan nikahkan aku dengan siapapun. Aku pasti tidak akan bisa menggoda wanita cantik lagi nanti," melas Gerald.
"Kau hanya bermain-main dengan gadis itu?"
"Aku belum bisa menafkahi dia," akunya.
Sara terkikik geli melihat wajah Gerald yang setengah memohon. Dia melupakan sejenak peristiwa yang baru saja terjadi.
"Kau harus menikahinya!"
"Tidak!"
"Gerald!"
"Tidak, jangan memaksaku, Kak."
***
Hari-hari berlalu begitu cepat. Max dan Sara kembali menjalani kehidupan seperti biasa tanpa ada kecemasan. Sara juga menuruti saran dokter untuk menjalani terapi, untuk kandungannya yang dikatakan sulit hamil itu.
Max selalu menemani jika lelaki itu tidak sibuk dalam pekerjaannya. Sara bersyukur banyak hal yang didapatkannya setelah badai menerpa.
Deborah dan Iglesias selalu memberinya support. Membantu psikisnya agar berpikiran positif dan bersandar pada Tuhan.
Sedikit melelahkan memang, tapi kata Deborah, usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Sara memercayai itu.
Senyuman terbit di bibirnya saat Sara menghabiskan makanan sehat yang direkomendasikan dokter untuknya.
"Apa kau dalam suasana hati yang baik, Mum?"
Seorang anak laki-laki menatap mata cokelatnya dengan pandangan bertanya-tanya.
Kladius, anak laki-laki yang hampir mencapai usia remaja itu tersenyum. Dia dibawa oleh Max disaat kritis akibat kematian Luci, dan Sara meminta hak untuk mengadopsi anak kecil itu.
Pertama kali Kladius memanggilnya 'Mum' membuat Sara menangis haru. Mengingat itu hati Sara kembali menghangat.
"Mungkin kita harus berbelanja hari ini dan menghabiskan uang Papa angkat," jelas Sara sambil tersenyum.
"Bukankah kita harus pergi ke toko Paman Red, Mum?"
Wajah bulat dengan mata hazel anak kecil itu membuat Sara ingin sekali mencubit dan menggigit pipinya. Benar-benar menggemaskan jika Sara bisa memiliki bayi sendiri.
"Ah, iya, aku hampir melupakannya. Tapi sebelum itu, kita harus pergi ke toko buku."
"Toko buku?" beo Kladius.
"Untuk perlengkapan sekolahmu, Sayang."
Kladius mengerucut. Max bersikeras untuk menyekolahkannya meski Kladius sudah tidak ingin menginjakkan kaki di sekolah.
"Bisakah aku membantu Paman Red saja di toko, Mum? Ini sangat canggung dengan usiaku yang sudah delapan tahun, tapi baru saja memulai masa sekolah."
Sara menggeleng. "Tidak bisa. Kau harus mengejar ketertinggalan dan menghabiskan masa mudamu dengan belajar."
"Istriku benar, Kladius," sahut Max yang tiba-tiba mengejutkan keduanya.
Pakaian kusutnya membuat Sara menggeleng. Setiap hari Max selalu bekerja dan kadang-kadang pulang siang hari untuk makan siang saja. Pekerjaan yang 'berat' itu benar-benar menguras tenaga dan pikiran.
"Tapi ...."
"Minggu depan kau harus pergi ke sekolah," putus Max kemudian yang tidak mendapat bantahan lagi.
***
__ADS_1
Sepasang orang tua dan anak bergandengan menuju pusat pembelanjaan terbesar di ibu kota. Max akhirnya tidak kembali ke kantor dan memilih menemani istri dan anak angkatnya untuk membeli perlengkapan yang disebutkan Sara.
Meski sudah memakai kacamata hitam dan jaket serta pakaian serba hitam agar menutupi dirinya dari pandangan mata para bunga lotus, tetap saja aura ketampanannya memancar.
Hal itu membuat Sara makin mengeratkan pelukannya di lengan Max. "Ternyata begini rasanya punya suami yang sangat tampan," gumam Sara yang bisa didengar Max.
Membuat Max terkekeh pelan. "Kau cemburu?"
"Hanya merasa kesal," kilah Sara yang masih meninggikan ego jika membicarakan isi hatinya.
Max menggeleng dengan cengiran kaku. Sifat manusia tidak bisa diubah.
"Bisakah kau lebih pintar berbohong?"
Sara mendelik kesal. "Kau ingin kebohongan?"
"Kau bisa mengatakannya seperti itu."
"Aku cemburu," ucap Sara.
Kembali Max terkekeh. Dia menghentikan langkahnya dan menghadang jalan Sara. Seringai iblis tercetak di bibirnya dan itu membuat Sara waspada.
Dan seperti dugaannya, Max mengecup bibirnya setelah menutup mata Kladius.
"A-apa yang kau lakukan?!"
"Menunjukkan cintaku di depan publik," bisik Max kemudian melangkah lebih dulu.
Sara mengerucut dengan pipi yang memerah malu. Hal itu mendapat perhatian dari Kladius.
"Apa yang Mum dan Dad lakukan? Kenapa mataku ditutup?"
Oh, Sara melupakan ada bocah yang menyadari hal ini. Dia menggeleng pelan dan tersenyum tipis.
"Mata Mum kelilipan, Sayang."
Namun senyum di bibir Kladius membuat Sara merinding. "Kau?!"
"Aku mengerti tanpa kau menjelaskan, Mum. Aku sering melihat orang dewasa melakukan itu sebelumnya. Di Napoli banyak kasus yang sama," jelas Kladius dengan cengiran di bibirnya.
"Lalu kenapa kau masih bertanya?"
"Hanya memastikan," jawab Kladius sambil mengedikkan bahu acuh.
Dan itu membuat Sara menggeram. "Sialan."
Kekehan dari samping mengejutkan Sara. "Kapan kau di sini, Max?"
"Aku sejak tadi di sini. Kau yang terlalu serius menjelaskan pada bocah ini."
Wajah Sara memanas. Ingin sekali dia memukul kepala Max yang seenaknya mencium bibirnya di depan umum.
"Tidak usah malu, Sayang. Aku sudah menyentuh lebih dari ini," bisik Max lagi.
"Dasar cabul," umpat Sara.
Max tergelak kencang. Dia memeluk istrinya yang masih kesal dan membawanya menembus kerumunan di tempat itu. Ketiganya melangkah dengan kompak, dan senyum kebahagiaan terpancar dari wajah mereka.
Saling melengkapi di setiap kekurangan, itulah cinta. Max mencintai Sara dengan semua kelebihannya dan melengkapi semua kekurangannya, juga menerima Kladius yang hanya anak buangan dari kedua orang tuanya.
Begitu pula Sara yang menerima semua sisi gelap dan terang dalam diri Max. Mencintai lelaki itu lebih besar lagi dari cinta Max padanya. Karena hanya cinta yang bisa dia berikan pada lelaki yang mencintainya dengan jiwa dan raga itu.
.
.
.
__ADS_1
***