SOLEDAD

SOLEDAD
Night Talk


__ADS_3

Happy Reading!


.


.


.


***


Malam yang melelahkan baru saja dimulai. Tangan yang keram dan nyaris putus dari sendi, membuat Sara tidak banyak bergerak.


Meringis menahan kesal, dia berendam di air hangat. Berharap tubuh yang ikut pegal menjadi lebih relaks.


"Semoga hari yang baru tidak berakhir seperti ini lagi. Tuhan, aku mohon. Berikan Deborah seorang tukang pijat yang bermutu, pokoknya bukan aku, hantu beranak juga boleh."


Bagaimana tidak, selama dua jam dia bergumul dengan tubuh Deborah yang sangat keras. Dan yang lebih menyebalkan lagi, Deborah bilang dia tak bertenaga.


Dan yang membuat ingin Sara pingsan, Deborah minta dipijat setiap kali datang di rumah.


Oh my hands, semoga kau tidak cepat tua dari umur yang seharusnya.


Sara berharap semoga ada keajaiban yang membatalkan kegiatan itu nanti. Esok, dia berharap menjadi lebih baik.


"Mulai besok kau ada les memasak!"


Pemberitahuan yang seperti ancaman terbesar bagi hari esok, Sara membenturkan kepalanya di pinggir bathup.


"Astaga, aku ingin kabur lagi. Tuhan, aku tidak ingin terjebak di keluarga aneh dan ajaib ini. Berikan aku tips kabur yang instan."


Berlama-lama dia berendam di air sabun beraroma lavender itu, menyengat namun menyenangkan. Seperti hari ini, mendapat berbagai wejangan dari kedua orang terdekat.


Terdengar sadis di telinga, tapi sepertinya bagi mereka sang penasehat, sangat menyenangkan. Sara mendesah tak kuasa.


Dia menguatkan hatinya. Tidak ada yang abadi, semuanya akan berakhir. Ada pelangi setelah hujan, begitulah dia berharap.


Bangun dari sana, Sara merasakan badannya kini lebih baik. Tidak terasa lagi pegal-pegal yang lebih menyakitkan daripada hasil hiking. Dia membersihkan dirinya dan keluar dari sana.


Hal pertama yang dilakukannya sampai di luar adalah mengecek notifikasi di ponsel. Dan ternyata ada beberapa panggilan tidak terjawab dari sang suami.


Belum sempat Sara membuka pesan, bunyi panggilan mengejutkannya sampai ponsel itu terjatuh dari tangannya.


"Astaga, siapa yang melakukannya?"


Saat dilihat, ternyata sang suami yang berada jauh darinya. Ketika hendak menyentuh tombol hijau di layar, Sara baru menyadari dirinya belum berpakaian.


Dia buru-buru berpakaian, berharap panggilan itu belum berakhir sebelum dia selesai.


Dan sialnya, bunyi ponsel itu berakhir tepat saat dia selesai memakai piyama. Menahan kesal karena itu, Sara yang gengsi menelpon duluan menyibukkan diri di depan cermin.


Mengoleskan beberapa krim tidur dan perawatan kulit yang lainnya, kembali ponselnya berdering. Bukan panggilan, tapi sebuah pesan.


Ke mana lagi kau? Ang--


Belum sempat membaca kata 'Angkat' di akhir yang berakhiran tanda seru sebagai kata perintah yang mulia kaisar, panggilan video menghentikan aksinya.


"Apa kau cari mati? Aku menunggumu sangat lama."


Kalimat itu yang menyapanya, dengan wajah Max membesar di layar. Juga mata biru itu menatap tajam lewat layar pipih.


"Aku sedang mandi, maaf."


Terdengar desahan napas dari sana. "Apa kegiatanmu hari ini?"

__ADS_1


Pertanyaan itu menohok di hati Sara. Ingin berbohong, tapi rasanya sangat mustahil. Pasti Max lebih tahu kerincian apa saja yang dilakukannya hari ini.


Dengan sedikit takut, Sara mengatakan kebenaran. Jujur saja, dalam keadaan seperti ini sangat menyesakkan. Jujur lebih mengerikan daripada berbohong. Tapi ingat, hanya di awal.


Sara berharap begitu. Sangat berharap Max tidak membunuhnya saat pulang nanti.


"Kau tahu semuanya, Max. Aku pergi dari rumah."


"Tentu saja aku tahu kau pergi dari rumah. Ke mana kau pergi?"


Bagai diinterogasi selepas berbuat kejahatan kejam, Sara menahan napasnya. Dia tahu Max hanya menginginkan kejujuran darinya. Dan tidak ada jalan untuk berbelok dari kejaran Max. Karena memang Sara tidak pandai berbohong.


"Aku pergi ke apartemen Edwin dan ke rumah Peter setelah itu. Aku tahu kau pasti akan membunuhku saat pulang nanti. Baiklah, marahi lebih dulu baru bunuh, itu lebih menenangkan daripada langsung dibunuh."


Sara menghabiskan kalimat itu dalam sekali tarikan napas, bersiap energi terbaik menghadapi amarah Max. Dia menarik napas dalam, dan diam menunggu.


Gelak tawa memecah kesunyian di kamar Sara. Sara kaget dan bulu kuduknya berdiri. Dia takut. Dan ketakutannya bertambah seiring kerasnya suara tawa Max. Apalagi pria itu menatapnya dalam lewat layar itu setelah tertawa.


Sara menelan ludah kasar. Dia tidak memalingkan wajah dari layar, balik menatap dalam diam netra biru itu.


Pria yang menjadi suaminya itu terlihat sangat tampan dalam keadaan apapun. Sara tidak menyesal telah jatuh dalam pesona pria berjambang itu.


"Kenapa kau tidak memarahiku?" tanya Sara setelah keduanya lama terdiam.


Max berdehem, dia memperlihatkan sisi ranjang yang kosong.


"Sangat menyebalkan tidur sendiri. Aku takut kau menghilang lagi setelah aku marah."


Sara terdiam. Hatinya mencelos setelah mendengar perkataan yang diucapkan dengan bercanda itu, tapi terkesan sangat dalam baginya.


Kalimat sederhana yang diucapkan oleh pria penguasa, meluruhkan seluruh rasa percaya dirinya yang tinggi. Sara hampir meneteskan air mata jika saja perkataan selanjutnya tidak membuatnya kesal.


"Harusnya kau tidak memakai baju saat mengangkat telponku. Aku sudah bilang 'kan? Apapun yang sedang kau lakukan, angkat telpon itu penting apalagi kalau penelponnya adalah aku."


Max tertawa lagi. Dan sekali lagi Sara terjatuh dalam pesona itu.


"Kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja."


"Kau tahu maksudku, Sayang. Apa yang dilakukan Peter padamu?"


Sara menggeleng cepat, menolak memberitahu Max apa yang dikatakan Peter mengenai Alara, ibunya.


"Tidak ada yang spesial, semuanya masih sama."


"Bahkan setelah kau menanggung hutangnya? Ck, orangtua macam apa yang seperti itu? Adalah pilihan terbaik kau menjadi istriku."


Max mengucapkan kalimat itu seolah hal baik bagi Sara masuk ke mansion megah yang seperti penjara itu. Padahal semua sama saja.


Tidak ada kebebasan seperti biasa, larangan yang banyak dan paksaan dari Max yang tentunya banyak menguras energi.


Yang sedikit membedakan, di mansion Max yang terkuras adalah energinya. Sedangkan di rumah Peter tidak hanya energi tapi batinnya juga ikut tersiksa.


"Apa yang kau lakukan di sana?"


"Mengambil beberapa barang yang tertinggal."


"Seperti apa?"


"Snorkel dan fins."


"Hanya itu? Ck, aku bisa membelikan yang lebih bagus dari itu. Kenapa kau membawa barang bekas dan tidak berguna itu ke sana?"

__ADS_1


Sara mencebik kesal. Mengapa Max gampang sekali menyimpulkan bahwa itu barang bekas dan tidak berguna.


"Itu barang berharga milikku, Max. Hadiah yang tidak bisa dilupakan."


"Dari kekasih masa lalumu?"


Suara Max terdengar sedikit kesal, ditambah dengan bangkit dari ranjang dan menghadap kamera dengan wajah datar.


"Aku benar 'kan? Dari kekasih masa lalu?"


Mengulangi pertanyaan yang sama dengan nada yang lebih keras, Sara menjauhkan ponsel dari hadapannya.


"Apa kau sedang cemburu? Tidak berguna, itu pemberian teman saat ulang tahunku."


"Teman? Seorang pria? Wanita?"


"Keduanya." Karena kenyataannya kedua benda itu diberikan oleh dua orang, wanita dan pria.


"Apa? Kau bosan hidup? Katakan, siapa pria brengsekk itu!"


Sara menahan tawanya. Ternyata yang dipedulikan hanya pria itu, bukan yang satu.


"Berhenti bertingkah seolah kau benar-benar cemburu padanya, Max. Kau tidak mungkin seperti itu."


"Kenapa kalau aku cemburu?"


Sara kaget, dia mengerjapkan matanya lebih cepat. Sepertinya dia sedang bermimpi, dan tidak ingin bangun dari tidur yang berguna itu.


Max berdehem. "Apa kau senang aku cemburu? Ck, itu hanya sebatas ketidaksukaan ada yang mendekati barang milikku. Jangan terlalu naif!"


Bagai terjatuh ke dalam jurang yang dalam dari langit ke tujuh, Sara menganga tidak percaya. Dia sampai meremas piyamanya, menahan rasa sakit di hati.


"Aku tidak punya kepercayaan diri untuk itu, Max. Kau terlalu bagus untuk aku pandang."


"Katakan siapa pria itu!"


"Edwin."


Suasana berubah sunyi, hanya terdengar desahan dari seberang. Dan Sara tidak menemukan topik yang bisa menghidupkan kembali suasana mencekam itu.


"Sayang?"


"Hah?" Sara kaget, dia terlarut dalam lamunan karena tidak adanya topik. "Maaf, aku melamun."


"Apa kau sedih? Kenapa tidak berbicara?"


"Maaf."


Terlihat Max mengerutkan keningnya dalam. "Untuk apa itu?"


Sara menunduk sebentar, menautkan jemari dengan erat. "Untuk hari ini. Maaf karena aku menyelinap keluar. Kau bisa menghukumku nanti."


"Tentu saja harus, masih ada yang belum diselesaikan hari itu."


Sara menelan ludah kasar. Dia melupakan ada hukuman yang menyeramkan juga seindah itu. Menyesal telah siap mendapat hukuman tentu saja, apalagi hukuman yang seperti itu. Sara merinding.


.


.


.


Yang jauh-jauhan silahkan lepas rindu, yang dekat-dekat, ingat jaga jarak aman! Karena jarak dekat juga bisa menjauhkan hati😅🤭.

__ADS_1


***


__ADS_2