SOLEDAD

SOLEDAD
Diary


__ADS_3

Happy reading!


.


.


.


***


Masih berharap mata merah itu terbuka, Sara selalu menunggu. Bertahan dengan segala harapan bahwa Papanya akan bangun dan mereka memulai lembaran baru kehidupan.


Mata Sara membengkak, meski kristal bening sudah tidak keluar lagi. Kehadiran Anne semalam membuatnya merasakan ketenangan.


Gadis cantik yang berprofesi sebagai jaksa itu menceritakan kisahnya bersama sang ayah, Iglesias. Yang memiliki sifat yang sama dengan Peter, juga Max yang selalu melarangnya melakukan apapun.


"Lebih dari itu, aku paham larangan mereka untuk kebaikanku. Cobalah untuk lebih dekat dengan Peter, kau pasti akan merasakan cinta yang luar biasa dari seorang ayah, Sara. Kau juga harus menanyakan alasan kenapa dia melarangmu. Karena Daddy dulu melarangku keluyuran dengan alasan takut aku hamil sebelum masa sekolahku berakhir."


Sara tersenyum tipis sambil mengingat Anne, adik iparnya yang kadang berpenampilan modis itu.


Setelah menghabiskan sarapan yang dibuat Nadia untuknya, Sara mendekati ranjang di mana Peter berbaring lemah. Matanya enggan terbuka, atau memang Peter malas untuk membuka matanya.


Dia memegang tangan yang dia genggam kemarin, menyalurkan kehangatan untuk Papanya, karena Sara berpikir mungkin Peter kedinginan sehingga tidak ingin bangun dari ranjang yang hangat itu.


"Papa, tolong bangun, katakan padaku alasan kenapa kau melarangku keluar selama ini. Meski aku bisa menerka, tapi aku ingin sekali kau mengatakannya secara langsung," ucap Sara dengan bibir yang bergetar.


Genggamannya di tangan Peter semakin erat, sangat berharap Peter mendengar dalam lelapnya. Sara kembali menggumamkan doa yang tak henti-henti pada Tuhan untuk kesembuhan Papanya.


Bibir yang selalu berkata kasar padanya itu terlihat pucat, kering dan tak memiliki rona lagi.


"Karena kau tidak ingin bangun, aku akan mencari tahu kebenaran dan jangan salahkan aku jika membencimu lagi."


Seolah tidak ingin hal itu serjadi, saraf motoriknya beraksi. Jemari yang semakin kurus itu bergerak, membuat bibir Sara melengkung ke atas.


Setiap perkataannya yang seolah bertolak belakang dengan keinginan Peter, jemari lelaki paruh baya itu bergerak. Hal itu yang membuat Sara sedikit bersemangat. Peter tidak ingin dia melakukan hal yang sama lagi.


Hanya saja mata Peter tidak mau terbuka. Manik merahnya selalu tertutup, tidak ingin melihat cahaya matahari yang mengintip dari balik jendela tempatnya berbaring.


"Baiklah, aku akan menunggumu bangun, Papa," ucap Sara dan mengelus jemari yang bergerak itu.

__ADS_1


Sara tidak lepas sedetikpun dari samping Peter, tapi pagi ini dia hendak pergi ke suatu tempat. Setelah mendapat izin dari Max, Sara makin bersemangat.


"Maaf, aku harus pergi pagi ini. Semoga matamu cepat terbuka, Papa."


Selepas mengucapkan itu, Sara berlalu dari sana. Dia keluar dari bangsal VVIP itu, dan seseorang menunggunya di sana.


"Tolong antarkan aku ke Gereja, Tom."


Lelaki yang selalu berada di samping Peter itu mengangguk, mengikuti instruktur Sara.


***


Mata Sara tidak lepas dari jalanan, tempat yang digunakannya bersama teman-teman untuk balapan dan bersenang-senang. Mengenang itu, Sara baru menyadari kalau dia memiliki janji yang harus ditagih pada Max. Izin untuk menaklukan Himalaya.


Sesaat manik cokelatnya meredup. Mengingat Peter berbaring tidak berdaya di rumah sakit. Meski keinginan untuk menaklukan puncak tertinggi di dunia itu sangat besar, tapi keberadaan Peter yang paling utama sekarang.


Sara tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama lagi. Lagipula, beberapa waktu yang lalu dia baru saja berjanji di altar-Nya untuk menjadi anak yang patuh terhadap Papanya, menjadi istri yang bisa melayani suami dengan baik.


Tersadar ada hal yang belum diketahuinya secara jelas, Sara menoleh pada Tom.


"Ke rumah lebih dulu, Tom," ucapnya singkat yang dimengerti oleh lelaki itu.


Mobil melaju pelan, melawan cahaya mentari yang menantang mata. Dari kejauhan, Sara bisa melihat bangunan besar yang dulu sangat dia benci. Tempat keramat untuk dia tinggali ataupun disinggahi.


Namun sekarang, dia merindukan tempat itu. Rumah besar yang menjadi saksi terpendamnya kasih sayang Peter. Tempat yang membuatnya kembali mengingat kalimat kasar yang selalu dia lontarkan pada Peter.


"Tunggu aku di gerbang. Aku tidak akan lama," pesannya pada Tom. Dia tidak ingin berlama-lama di luar, Papanya sedang tidak sadarkan diri di rumah sakit.


Sara memasuki gerbang yang beberapa minggu lalu dia masuki, melangkah dengan pasti ke sebuah ruangan. Ruangan yang tidak pernah didekati Sara saat dia di rumah.


Dia mendorong pintu yang tidak dikunci itu, dan matanya terbelalak tidak percaya melihat pemandangan di sana.


Seluruh dinding dipenuhi pigura besar, bergambar dirinya, Alara dan Peter. Ada foto bersama saat Sara masih berusia lima tahun.


Giginya yang berwarna cokelat akibat banyak makan cokelat, dipeluk oleh Peter dan Alara dari dua arah. Tersenyum memandang kamera.


Sara hanya mematung. Memeriksa dengan teliti setiap sudut ruangan yang hanya bergambar dirinya. Ada yang diambil diam-diam hingga bagian samping dan belakang yang terlihat, dan ada yang diambil dari postingannya di instagram.


Yang paling membuatnya curiga sekaligus khawatir, ada foto dirinya saat berpetualangan, yang diambil dari jarak yang cukup jauh. Sara tidak bisa menebak dengan benar, kemungkinan foto itu didapatkan Peter dari orang lain.

__ADS_1


Kakinya bergetar hebat saat dia mulai menelusuri isi ruangan itu. Di meja kerja Peter, ada bingkai kecil berjumlah dua buah. Foto pernikahan yang ditunjukkan Alara padanya waktu Sara masih kecil dan juga foto dia bersama Peter pada ulang tahunnya yang ke sepuluh.


Sara mengingat dengan jelas, pada usia seperti itulah Peter mulai mengekangnya. Melarang melakukan hal yang disukainya, termasuk bertamasya. Dan Alara tidak pernah mempermasalahkan itu.


Kebencian itu dimulai saat Peter memasukkannya ke dalam kandang serigala karena Sara tidak mengindahkan larangannya. Alhasil, sepulang dari tamasya sekolah musim panas, Sara jatuh sakit. Dan sebagai hukuman, Peter mengurungnya semalam di kandang serigala.


Dan tangan Sara bergetar hebat ketika melihat tulisan di belakang bingkai. "Aku tidak bisa menghentikan bunga yang sedang mekar, dan hanya bisa mengamatinya dengan rasa sayang yang tersembunyi di balik amarah. Sara-ku membenciku."


Air mata Sara terurai tanpa henti. Apalagi ketika dia membuka sebuah laci yang ditempeli sticker barbie kesayangannya saat kecil, Sara kembali menangis.


Di dalamnya, Peter menyimpan semua koleksi mainan yang disukainya dulu. Dan di sana ada sebuah buku yang membuatnya penasaran.


Sara mengusap air mata yang menghalangi penglihatannya. Membuka halaman demi halaman lembaran kertas putih bercoretan tinta hitam, air matanya kembali menetes.


*21th, Day of Sadness


Aku gagal menjadi seorang ayah. Seorang pria menginginkan putriku yang berharga, aku tidak rela tapi hanya bisa berharap Tuhan memberi tahu arti rumah baginya. Bukan tanpa alasan, hanya saja ini adalah perintah wasiat dari Alara sebelum dia meninggalkan aku, menikahkan Sara-ku pada pria yang tidak dia kenali*.


Semakin Sara membuka lembar buku itu, bolak-balik halamannya, dia menemukan hal yang mengganjal di hatinya.


*17th, Day of Sadness.


Sara-ku selalu membangkang. Melarangnya memang tidak mungkin, tapi ancaman lelaki Napoli itu tidak bisa diragukan. Dia membunuh Alara-ku, dan aku tidak ingin terjadi apapun juga pada Sara. Tapi Sara-ku masih kecil, dia tidak mengerti hal itu. Dia membantah, keras kepala dan ingin pergi berpetualangan bersama temannya. Dia semakin membenciku. Dan aku hanya bisa diam-diam mengawasi dari kejauhan, menyuruh orang-orang terlatih untuk memastikan keamanan putriku*.


Sara tahu, alasan Peter selalu melarangnya tertulis jelas di tiap lembar buku itu. Mata Sara semakin bertambah bengkak dengan air mata yang terus mengalir.


Dia mengutuki dirinya sendiri yang tidak pernah berperan sebagai anak yang patuh. Benar yang dikatakan Anne, Peter punya alasan yang kuat untuk itu. Dan dia sudah mengetahui segalanya tentang Thompson.


Sekuat tenaga, Sara bangkit dari tempatnya, berlari sekencang mungkin dengan buku itu di tangannya, menyuruh Tom melajukan mobil secepatnya ke rumah sakit.


Dan jantungnya semakin berdetak kencang saat Max menelponnya. "Terjadi sesuatu pada Pet---"


Sara mematikan ponsel, perasaan tak karuan menghampirinya. Dia berharap, Papanya baik-baik saja. Meski hatinya tidak tenang dengan riwayat penyakit jantung yang diderita Peter.


.


.


.

__ADS_1


***


__ADS_2