SOLEDAD

SOLEDAD
Sambutan


__ADS_3

Vote ya😘


.


.


.


***


Gemuruh ombak terdengar nyaman di telinga Sara. Dia sadar dirinya berada di tengah laut, di dalam kapal menuju suatu tempat. Dan dia yakin, tujuan utama kapal itu adalah Napoli.


Meski kaki dan tangannya tidak leluasa, telinganya masih nyaman mendengar suara laut. Ikatan tali itu sudah diganti dengan borgol dan rantai besi agar dirinya tidak berusaha kabur lagi. Karena terakhir kali dia melepaskan diri dan nyaris kabur dan menceburkan diri di laut.


Rasa lapar membangunkannya yang sedang berbaring itu. Sara sadar, sudah dua hari dia tidak makan. Saat kabur dari mansion Max, dia tidak makan apapun. Dan makanan yang ditawarkan pria di kapal itu membuatnya jijik.


"Aku tidak ingin mati kelaparan, tapi makanan menjijikkan ini membuatku tidak lapar lagi," ucapnya menatap tajam sebuah piring yang berisi makanan.


Dia menggerakkan kakinya yang diborgol dan menendang piring itu sehingga bunyi benda yang pecah itu membuat seseorang menghampirinya.


"Kau ingin bunuh diri dengan beling itu, jalangg? Mimpi saja, Tuan Elijah masih ingin bermain denganmu," ujar pria itu dengan sinis dari ambang pintu.


"Aku buang-buang waktu jika ingin bunuh diri sampai di kapal ini. Tapi aku ingin membunuhmu, banjingannn!"


Lelaki itu terkekeh. Dia mendekat pada Sara membuat perempuan itu sedikit mumundurkan kepalanya.


"Tangan dan kakimu terikat, kau tidak bisa membunuhku." Lelaki itu menyeringai dan menilik penampilan Sara yang patut dikasihani.


Rambut acak-acakan dan seluruh tubuhnya penuh dengan bekas luka. Namun, perempuan itu tidak sedikitpun menunjukkan kelemahannya. Sara bahkan lebih suka menantang dan bersikeras membantah setiap perkataannya.


"Aku bisa membunuhmu dengan kalimatku, brengseekk! Apa kau tidak punya mata dan telinga untuk melihat dan mendengar? Aku setiap saat akan terus membantahmu dan tidak membiarkanmu menang!"


"Aku ingin sekali menyentuh dan memotong lidahmu dengan terhormat, Nyonya Del MontaƱa. Sayang sekali, kau milik Tuan kami."


Sara menyeringai. Dia tidak peduli alasan itu. "Kau bisa melakukannya kalau kau mau. Aku ingin tahu seberapa kuat kau menghadapiku. Laipula, Tuanmu tidak akan tahu kau telah melakukan sesuatu padaku kalau kau tutup mulutmu 'kan?" tantang Sara dengan nada mencela.


Lelaki itu merasa geram. "Aku tidak akan mengkhianati Tuanku, jalangg!!"


"Tidak ingin mengkhianati atau kau impoten? Hahaha, katakan saja seperti itu. Lihat tampangmu yang menyedihkan itu!"


Sara tertawa melihat perubahan ekspresi yang ditujukan pria itu. Dan dugaan dia sepertinya benar. Lelaki itu menamparnya dengan keras sehingga pipinya terasa keram sekaligus sakit bersamaan.


"Aku bisa membunuhmu sekarang juga kalau Tuan memberi perintah, jalangg!! Kau menghinaku dengan mulut kotormu! Bukankah lebih baik mati daripada menjadi mainan pria yang tidak menginginkanmu?"

__ADS_1


"Kau salah, Pria impoten! Aku menghargai diriku yang bisa disentuh pria normal. Setidaknya bukan pria tidak normal sepertimu," ucap Sara dengan lantang.


Dia tidak menunjukkan ketakutan sedikitpun meski pipinya masih terasa perih dan sakit. Karena kesenangannya melihat lawan yang tampak menyedihkan itu lebih merasa geram dan marah.


Sara juga tidak peduli lagi dengan perutnya yang kosong meminta makanan itu.


Pria itu marah dan dengan kasar menendang perut Sara. Sampai Sara merasa terhuyung tapi tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.


"Kau tidak bisa membunuhku juga 'kan? Hahaha, kau hanya bisa melakukan ini untuk meluapkan emosimu. Tapi, ingat! Kau jangan berlebihan, aku bisa saja mati sebelum sampai ke tangan Tuanmu. Dan Tuanmu tidak mendapatkan apa yang dia inginkan."


Sara menyentuh perutnya yang sakit itu. Sangat sakit sampai Sara ingin menangis karena tidak bisa menahannya. Tapi dia tidak akan membiarkan siapapun menekan dirinya. Sara sudah berjanji pada dirinya sendiri, malam itu adalah kali terakhir dia menangis. Dan tidak akan ada kali lain.


Rasa mulas berlebihan membuatnya menutup mulut. Dan itu tidak lepas dari pengamatan lelaki itu.


"Kau yang ingin mati, jalangg! Jangan salahkan aku yang tidak memberimu makanan. Kau sendiri yang tidak memakannya."


"Makanan anjiing seperti itu? Bahkan binatanggpun tidak akan meliriknya."


Sekali lagi pria itu menampar pipi Sara sehingga sudut bibirnya berdarah. "Jangan sombong, jalangg! Aku akan melihat sejauh mana kau bertahan dengan kesombongan itu."


Sara tertawa miris. Dia mengusap darah yang menetes itu. "Ayo bertaruh demi masa depanmu!"


Tanpa sungkan lelaki itu mengiyakan. "Jangan salahkan aku kalau hidupmu berakhir dengan menggenaskan, jalangg!"


"Kita akan lihat siapa pemenang sesungguhnya!"


***


Terbilang dua hari terlambat dalam perjalanan yang ditetapkan, akhirnya kapal yang membawa Sara berlabuh di sebuah dermaga.


Meski tak melihat apapun dari kamar gelap yang memenjarakannya dan dari mata yang tertutup, Sara tahu bahwa dirinya diarak ke sebuah tempat lagi.


Dan dia terkejut saat tubuhnya terasa melayang. "Oh sial, apa yang akan terjadi? Sepertinya aku dijatuhkan dari tempat tinggi," gumamnya.


Dia berusaha mendapatkan sesuatu untuk berpegangan, tapi borgol yang mengikat tangannya membuatnya gagal mendapatkan sesuatu.


Dan kemalangan menimpanya, dia terjatuh di tempat yang keras. "Fuckk!" umpatnya. Dan memegang tulang belakangnya yang menghantam keras benda itu. "Apa patah?"


"Kau tidak mati, Nyoya Maxwell," sapa seseorang. Suara itu baru dan Sara tidak mengenalnya.


"Siapa kau?"


"Bukan siapa-siapa. Selamat datang di daerahku!"

__ADS_1


"Kau Elijah?"


Terdengar kekehan membuat Sara ingin sekali memukul dan meludahi pria itu.


"Kau mengenalku?"


"Hanya kabar burung. Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dan berbincang denganmu," ucap Sara tanpa sedikitpun rasa gentar. Dia mempertahankan raut datarnya.


Pria itu terkekeh, lalu menyeret Sara dari tempatnya dan melemparnya seperti karung beras ke dalam truk.


"Suatu kehormatan juga bisa menemui istri teman lamaku."


Yang mana membuat Sara terkejut. Dia menebak dalam hatinya bahwa kejadian ini tidak hanya kebetulan dan mungkin saja direncanakan.


"Apa dia tidak pernah menceritakan sesuatu tentang aku? Ternyata aku teman lama yang dilupakan," ucap pria itu diiringi tawa miris.


Sara tetap pada mode datarnya. Meski sedikit kaget pada kenyataan bahwa Max dan Elijah saling kenal.


"Maaf, kami tidak punya waktu untuk bercerita tentang hal yang tidak penting. Dan aku pikir itu bukanlah hal penting yang patut dikenang sehingga Max tidak menceritakannya. Karena masa depan punya cerita lain yang lebih menarik bukan?"


Stephen -Elijah- terkekeh dan Sara bisa merasakan ada aroma yang tidak bersahabat dari suara itu.


"Tapi kau tidak bisa hidup tanpa masa lalu, Nyonya Maxwell."


"Secara umum sejarah tidak bisa diubah, apa salahnya mengubah masa kini untuk menata masa depan yang lebih baik? Bukankah demikian yang kau pikirkan, Tuan Elijah?"


Dalam hati, Sara merapalkan doa agar lelaki di dalam truk itu tidak memukulnya seperti yang dilakukan pria di kapal itu. Dan dia bersyukur karena tidak mendapatkan itu.


Hanya saja dia merasa geli ketika tangan pria itu mengelus pipinya. "Apa Marcus memperlakukanmu dengan kasar? Wanita cantik sepertimu tidak pantas mendapatkan ini."


Sara ingin sekali meludahi pria itu saat tangannya menyentuh bibir Sara, tapi matanya ditutup dan dia tidak bisa melakukannya hanya karena insting.


"Aku tidak pantas mendapat perhatian darimu, Tuan," ucap Sara memalingkan wajahnya dan sentuhan Stephen terlepas.


Dan suara tawa pria itu membuatnya takut diikuti oleh bisikan halus yang bagaikan belati, Sara memundurkan kepalanya.


"Kau pantas, karena kau lebih berharga dari apapun yang ku miliki. Nikmatilah setiap perlakuanku padamu, Nyonya Maxwell. Karena saat terindahmu akan segera tiba."


.


.


.

__ADS_1


***


__ADS_2