SOLEDAD

SOLEDAD
Mertua


__ADS_3

Happy reading!


.


.


.


***


Sara menutup matanya rapat. Lelah karena perjalanan panjang di dalam pesawat yang juga menguras tenaga. Bukan karena pegal duduk, tapi aktifitas pribadi sepasang suami istri.


Sang suami terkekeh melihat itu. Sambil mengemudi, Max memutar musik. Alunan melodi yang lembut diikuti oleh musik yang merdu menjadi lagu pengantar tidur untuk Sara.


First love with a reason


Darling, hold my hand and take my heart


Say you love me one more with a feeling


And kiss me slow in the back of the car


I drop my guard, let you in


This love is ours, it's everything


And we both know, it's simple stuff


We are in love, we are enough


Sleeping in on Monday morning, I am


Lying next to you


And darling, if we're falling sparks we'll flying and ignite the fuse


Like dynamite


We are exploding colours that shining purple and green and red in the sky


Love is unfolding before our eyes and lighting the way ahead like fireflies


This is a memory in our minds that we will never forget


You and I


We are the love and we are the night


We are, dynamite


Lagu Westlife yang berjudul Dynamite, seakan menjadi ungkapan hati Max yang sedang tergila-gila dengan istrinya. Berharap kebahagiaan itu seperti warna warni di langit malam yang sangat indah.


Max melirik wanita yang memejamkan mata di sampingnya. Terlihat damai dalam lelapnya bahkan tidak bergerak sedikitpun tatkala musik bertambah merdu.


Kembali mengingat aktifitas panas mereka di pesawat, Max terkekeh lagi. Hanya sebentar dan membuatnya kembali rindu pada suara Sara yang mengalun indah.


Tidak ingin pikirannya kembali diliputi nafsu yang menginginkan lebih, Max menaikkan kecepatan mobil dua kali lipat. Hingga Sara terkejut dari tidurnya.


"Max? Apa kita di pesawat lagi?!" teriak Sara kaget dan membuat Max tergelak tidak percaya.

__ADS_1


Sara benar-benar terlelap, Max tidak bisa menyangkal. Istrinya tidak memiliki waktu istirahat yang cukup selama di Napoli, bahkan sampai sekarang tidur Sara terganggu lagi karenanya.


"Maaf, Sayang, aku hanya ingin kita cepat sampai. Daddy dan Mommy sudah menunggu kita di rumah," jawab Max menahan tawa melihat Sara yang acak-acakan dan tampak bingung.


"Ohh ...."


Hanya satu kata itu, Sara kembali memejamkan matanya. Dia benar-benar lelah dan acuh pada musik yang menggema di dalam mobil.


Dan beruntungnya, paham bahwa sang istri tidak ingin diganggu, Max mengecilkan volume musik. Sara kembali merasakan indahnya dunia mimpi.


Porsche hitam yang membawanya masuk dalam dunia mimpi itu tidak lama berhenti. Sara merasakannya, dan dia membuka mata. Kaget bahwa itu bukan mansion Max, dia menoleh dengan tatapan bertanya.


"Rumah Mommy, Sayang. Dia merindukanmu dan menyuruhku membawamu ke sini," jelas Max dengan bibir tersenyum tipis.


Sara baru menyadari, sedari tadi dia di mobil dan tidak mengetahui apapun. Membiarkan kereta besi hitam sehitam mutiara itu membawanya pergi.


"Apakah Mommy akan menyalahkanku karena insiden itu? Oh iya, bagaimana dengan Adrian?"


Sara bertanya panik, takut lelaki paruh baya itu mengalami cacat fisik yang akan membuatnya merasa bersalah.


"Aku tidak tahu. Maaf mengecewakanmu, Sara," ucap Max sayu yang menambah ritme detak jantung Sara.


Dia takut, benar-benar takut terjadi sesuatu pada Adrian. Kemarahan dan tekad yang bulat serta tangan yang nekad menarik pelatuk, terjadi begitu saja malam itu dan Sara menyesalinya sekarang.


"Bagaimana dengan penjaga yang mati itu? Apa keluarganya akan memenjarakanku? Atau mereka akan balas dendam padaku? Max, aku belum mau mati. Banyak hal yang belum bisa aku lakukan, dan masih ingin melakukannya dengan baik. Bagaimana ini?"


Sara mencengkram erat kaos oblong yang tampak kebesaran di tubuhnya, dan menatap Max yang berdiri di pintu mobil, menunggunya turun.


"Max, apa kau akan membantuku?"


Gelengan Max seketika menghancurkan harapan Sara. Tangannya gemetar, bahkan Max sampai harus menggenggam erat dan membantunya turun.


Sendi kaki Sara lemas, berjalan gontai dengan Max yang memapah. Memasuki rumah megah yang tidak terlalu besar dan minim penjaga, Sara bisa melihat seorang lelaki paruh baya duduk menikmati secangkir minuman sambil membaca majalah. Dari gambarnya Sara mengenali majalah itu, majalah dewasa dan itu kembali mengingatkannya pada perkataan Deborah beberapa waktu lalu.


'Apa benar pria tidak ada masa layu dalam hidupnya? Covernya usang tapi dalamnya berisi lembar yang masih baru.' Sara tersenyum bodoh.


"Dad," sapa Max yang membuat Iglesias menurunkan kacamata bacanya. "Di mana Mommy?"


"Sudah tidur," jawab lelaki itu acuh. Iglesias sedikit melirik Sara lalu kembali fokus pada majalahnya. "Kau sudah pulang, Sara?"


Sara menelan ludah kasar. Perawakan lelaki paruh baya di hadapannya itu terlihat tidak biasa. Cara duduknya saja bisa mengintimidasi seseorang, apalagi tutur katanya. Benar-benar mati kutu.


"S-sudah, Tuan ...."


Ini kali pertama dia berbicara dengan ayah mertuanya. Dan bingung harus memanggil apa. Dan kerutan di kening Iglesias kembali menarik bulu Sara berdiri.


"Tuan?"


"Maaf."


Iglesias menoleh pada Max yang duduk dengan santai di sofa, yang ikut mengambil beberapa camilan di piring ayahnya.


"Max, apa kau mengajari istrimu memanggil ayah mertua dengan sebutan 'Tuan'?"


Max hanya terkekeh, tidak menanggapi dengan ucapan.


"Atau Deborah yang mengajari cara bicara seperti itu?"


Sara kikuk, bahkan tidak bisa mengeluarkan suara. Dia hanya tersenyum. Rasa kantuk yang tadi menyerang di mobil langsung sirna.

__ADS_1


"Kau memanggil Deborah Mommy, bukan? Kenapa aku tidak?"


Dan Max yang menyela. "Apa kau perempuan, Dad?"


"Anak kurang ajar! Apa ini sikapmu setelah bertemu dengan ayah mertuamu?"


Wajah Max berubah datar. Dia menatap ayahnya tanpa kedip. "Kenapa kau tidak pernah mengatakan hal itu padaku, Dad? Kau membuatku seperti orang bodoh."


"Kau tidak akan belajar menyelesaikan masalah kalau tidak bisa menghadapi masalah, Max. Dan aku menepati janjiku pada Alara."


Sara menatap bingung pada kedua orang itu. Ada hal yang tidak dimengerti olehnya.


"Dan kau, Sara, apa kau senang telah berjumpa dengan ayah kandungmu? Dia lebih lembut dari Peter, bukan? Kalau Alara benar-benar menikahinya, aku pikir hidupmu akan lebih menyenangkan daripada menjadi anak Peter."


Bibirnya tipisnya hanya menyengir, sedikit tidak paham atas maksud Iglesias. Kenapa terdengar seperti sindiran? Apa hanya perasaanku saja?


"Sebuah kejutan yang menguji nyali, Tuan. Aku tidak tahu ada jenis ayah yang seperti itu di bumi," ucap Sara miris.


Sara kembali mengenang pertemuan pertama dan terakhir dengan Thompson hingga suara Iglesias mengejutkannya. "'Tuan' lagi?!"


"D-dad ...?"


Sara melihat sudut bibir lelaki paruh baya itu terangkat ke atas, sangat tipis hingga tidak terlihat jelas. "Sedikit lumayan. Seperti Anne memanggilku."


"Apa kalian akan menginap di sini?" tanya Iglesias sejurus kemudian.


"Tidak," sahut Max secepat mungkin.


"Apa aku mengganggumu, Son?"


Seringai di bibir Max membuat Sara bergidik. Ada hal yang akan terjadi, Sara paham. Dan untuk menghentikan niat licik itu, Sara tersenyum manis pada Iglesias.


"Di mana aku bisa tidur malam ini, Dad? Aku sedikit lelah setelah turun dari pesawat."


Yang mana membuat Max hendak membuka mulut untuk protes tapi dicegat oleh Iglesias. "Apa kau tuli? Menantuku lelah, kau harus menurut malam ini, Anak nakal."


"Dad, apa yang kau pikirkan? Maksudku bukan itu."


"Apa yang kau pikirkan? Aku khawatir menantuku tidak bisa menghadapi hari esok yang penuh kejutan. Adrian sekarat," ucap Iglesias yang mampu menghentikan detak jantung Sara sesaat.


Berita itu sungguh membuat Sara syok. Bagaiamana tidak, lelaki paruh baya yang selalu tersenyum dan membantunya di dapur itu mengalami hal demikian. Dan itu karena ulahnya. Andai malam itu Sara tidak menarik pelatuk dan menembak Adrian, andai dia tidak gampang cemburu dan melarikan diri dari rumah, hal itu tidak akan terjadi.


Banyak kata andai yang muncul di kepalanya dan itu membuatnya kembali pusing. Sara berharap apa yang didengarnya barusan hanyalah sebuah omong kosong belaka, tapi kenyataan tetap saja seperti itu.


"Dia tidak sadarkan diri kemarin, keluarganya membawanya kembali."


Sara menegang di tempatnya. Bukankah itu berarti dia tidak memiliki kesempatan untuk bertemu Adrian dan meminta maaf pada lelaki paruh baya itu? Semuanya menjadi sulit, Max tidak bisa membantu. Apa yang akan terjadi kalau keluarga Adrian juga menggugatnya sebagai tersangka pembunuhan?


Dalam keheningan itu, ada satu bibir yang melengkung membentuk seringai iblis. Sara tidak menyadari itu.


.


.


.


***


Love,

__ADS_1


Xie Lu♡


__ADS_2