SOLEDAD

SOLEDAD
Tidak Direstui


__ADS_3

Jangan lupa like dan komen😊😘


.


.


.


***


"Adrian, tolong temani aku makan."


"Maaf, saya masih punya pekerjaan, Nyonya."


Sara mengerucutkan bibirnya. Siang ini, ia dihadapkan dengan banyak makanan di meja makan untuk dirinya. Berpikir bahwa makanan itu tidak bisa dihabiskannya, ia memanggil semua maid untuk duduk makan bersamanya. Namun, lagi-lagi semuanya menolak.


"Aku tidak ingin makan sendiri. Oh, Max, pulanglah! Kau yang melarang mereka mendekatiku, jadi kau harus pulang dan menemaniku makan."


Sara mengaduk-aduk makanan di piringnya dengan bibir mengerucut sebal.


"Pria menyebalkan! Dia juga berjanji semalam akan memenuhi semua permintaanku. Apa dia mengingatnya? Akh, Max sialan."


Ia terus menggerutu seraya mengaduk makanan itu hingga seseorang lewat.


"Hei! Siapa kau? Kenapa masuk ke sini tanpa izin? Hei!"


Orang itu tetap menerobos masuk dan duduk menyilangkan kaki di sofa. Dan anehnya bagi Sara, semua orang yang lewat menundukkan kepala, bersikap hormat padanya.


Kalau dilihat-lihat, penampilannya memang luar biasa 'wah' di mata Sara. Ia penasaran, manusia seperti apa yang diperbolehkan keluar masuk ke dalam rumah besar Max.


"Siapa kau?"


Wanita setengah abad itu memandang sinis ke arahnya. Kemudian menilik penampilan Sara dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Siapa kau? Apa kau istri Max yang menikah semalam? Ck, gadis bodoh."


Seolah mengerti pernyataan itu, Sara tersenyum lebar dengan mata yang bersinar cerah. Ia terbiasa dengan kata-kata hinaan seperti itu dan kenyataannya seperti itu.


"Apa kau tidak bisa melihat dengan matamu yang lebar itu?" Wanita paruh baya itu membenarkan letak kacamatanya dan menengok ke meja makan.


"Apa kau sedang makan siang? Kenapa tidak mengajakku makan? Bodoh."


"Eh? Kau mau makan? Ya, silahkan makan. Tapi ... siapa kau sebenarnya? Apa kau sudah dapat izin dari Max untuk masuk ke sini?"


"Apa orang tua harus mendapat izin untuk masuk ke rumah anaknya? Kau benar-benar bodoh."


Sara menelan ludahnya kasar. Max pasti akan menghukumku, begitu pikirnya. Dengan senyuman terpaksa di wajahnya, ia menundukkan kepalanya.


"Lo siento, SeƱora. (Maaf, Nyonya)."


"Apa kau tidak mengenalku juga?"


Sara menggeleng.


"Kau hidup dimana selama ini? Apa kau tidak menonton televisi atau membaca surat kabar?"


"Aku hidup di hutan, gunung, dan laut, Nyonya."


Wanita paruh baya itu melongo tidak percaya. Jawaban perempuan di hadapannya itu luar biasa.


"Kau binatang?"


"Tidak."


"Apa kau tidak mengerti maksudku?"


Deborah -ibunya Max- bangkit dari sofa menuju meja makan.


"Kau menanyakan aku hidup dimana, Nyonya, dan aku menjawab sesuai realita."


"Hutan? Apa kau tarzan? Gunung? Apa kau kambing gunung? Dan laut? Apa kau anjing laut? Ck, jawaban bodoh macam apa itu."


Deborah menggerutu. "Bagaimana mungkin Max menikahi wanita gila dan bodoh sepertimu? Pasti otaknya sekarang lagi dirasuki iblis."


Sara hanya tersenyum menyengir seraya mengikuti Deborah ke meja makan.


"Apa kau bisa memasak?"


Sara terdiam dan menggeleng.


"Astaga, Max menikahi wanita luar biasa bodoh sedunia. Kau tidak bisa memasak? Bagaimana nanti Max makan seandainya seluruh maid di sini tidak ada? Apa kau akan memberinya batu?"


"Tidak, Nyonya. Aku akan membuatkan roti panggang kemudian diolesi selai."


Deborah mendelik. "Hanya itu? Bagaimana dengan lauknya? Anakku tidak boleh sakit apalagi masuk rumah sakit karena makanan yang kau buatkan."


Sara mengangkat bahunya acuh. "Aku ku pikirkan."


"Astaga, astaga, kau benar-benar sesuatu. Apa yang dilihat Max darimu hingga menjadikanmu istri? Penampilanmu tidak menunjukkan seseorang yang berkelas dan wajahmu sangat biasa. Berbeda dengan ular licik itu," gumamnya di akhir kalimat.


"Aku terlahir cantik, Nyonya, mamaku yang mengatakannya."


"Aku tidak mengatakannya. Berikan aku lauk yang itu!" Tunjuk Deborah pada salah satu lauk yang tersaji di sana.


"Yang ini?"


"Ambilkan!"


Meski jarang makan dengan situasi resmi seperti ini, Sara berusaha melakukannya dengan baik.


"Cepat! Kau terlalu lambat."


Sara terkekeh. "Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya."


"Dengan kekasihmu?"

__ADS_1


"Aku tidak pernah memiliki kekasih."


Deborah menggeleng. "Dengan orang tuamu?"


"Mamaku sudah meninggal. Aku tidak pernah makan bersama dengan Peter setelah itu."


"Malang sekali nasibmu. Apa Max menikahimu karena kasihan? Anak nakal itu memang tidak pernah bercerita apapun tentang pernikahan ini. Apa kau tahu alasan dia menikahimu?"


Dengan polos Sara menjawab, "karena hutang Peter."


"Peter?" gumam Deborah pelan. "Siapa namamu?"


"Sara."


"Lengkap?"


"Sara O'connor."


Wanita paruh baya itu menghembuskan napas pasrah. Ia tahu ada sesuatu di antara Max dan Peter.


"Jadi, kau anaknya Peter." Ia memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.


"Aku tidak menyukaimu, Sara."


Sara tersenyum simpul. Ia sudah menduga akan menerima kenyataan seperti ini.


"Aku tahu."


"Kenapa kau tidak pergi saja?"


"Max melarangku keluar."


"Kenapa kau tidak kabur?"


Sara menggeleng kuat. "Max mengatakan bahwa pernikahan kami itu suci dan tidak boleh dipisahkan sampai akhir."


Deborah tersenyum sinis. "Kau tidak bosan di sini? Maksudku, kau bisa mencari udara segar di luar sana. Mencari pria lain yang setara denganmu. Max tidak pantas untukmu, dia terlalu tampan dan kaya."


"Akan ku pikirkan lagi."


***


Ada kelegaan dalam diri Max mendengar perkataan Sara tentang pernikahan mereka. Namun, di akhir ia diberi kejutan luar biasa oleh perempuan itu.


Apa dia berniat kabur?Tidak akan ku biarkan kau melakukannya, Sara.


Ia mengepalkan tangannya kuat dan masuk ke ruang makan itu.


"Mommy?" sapanya berpura-pura terkejut. "Kapan datang?"


"Baru saja, dan berbincang dengan istrimu yang bodoh ini."


Max beralih memandang Sara yang tersenyum ke arahnya.


"Tidak."


"Ya."


Dua jawaban berbeda yang serentak itu membuat Max menyeringai.


"Apa yang Mommy katakan tentangku?"


"Aku menyuruh istrimu pergi dari rumah ini. Dia tidak cocok untukmu. Kau tahu? Dia tidak bisa memasak dan anehnya, dia menjawab tinggal di hutan, gunung dan laut saat aku menanyakan tempat tinggalnya."


Max terkekeh mendengar itu. "Dia mengatakan kebenaran, Mommy."


"Kau gila? Apa dia hidup bersama binatang di sana?"


Max mengedikkan bahunya dan menarik kursi dan duduk di samping Sara.


"Itu kenyataannya, Mommy. Kenapa Mommy tidak menyukainya?" Ia mengambil makanan dari piring Sara dan memasukkannya ke mulutnya.


"Dia bodoh."


"Astaga, dia hebat, Mommy."


"Dalam hal seperti apa?"


"Dalam hal membuat anak."


Mendengar itu, Sara tersedak makanannya.


"Hati-hati, Sayang," ucap Max sambil menyodorkan air minum untuknya.


Sara mendelik sebal ke arahnya. Ia mencubit paha Max.


"Aww ... sakit, Sayang. Jangan mencubitnya. Itu harta karun milikmu."


Deborah yang melihat aksi pasangan di depannya itu menatap tidak suka. Wajahnya menunjukkan aura menjijikkan.


"Kenapa kalian tidak bercerai saja? Kalian sungguh tidak cocok."


"Mommy!"


"Apa?! Aku mengatakan kebaikan, Max. Kau menikahi wanita bodoh ini. Kemarin kau mencintai ular busuk sampai ular itu menghilang dan meninggalkanmu. Sekarang kau menikah, dan sialnya wanita ini sangat bodoh. Aku khawatir kau juga akan mengenalkan seseorang lagi padaku yang lebih parah dari kedua wanita ini."


"Mommy, Sara istriku dan selamanya akan seperti itu."


Max menggenggam tangan Sara di bawah meja seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Max, jangan marah. Mommy-mu mengatakan kebenaran," bisik Sara di telinganya.


"Apa kau berniat melakukannya, Sara? Jangan bermimpi untuk bisa kabur dariku!"


"Hei, ayolah, perusahaan Peter baru saja bangkit kembali bagaimana mugkin aku melakukannya. Lagi pula, aku belum menghabiskan uangmu seperti yang semestinya dilakukan para istri."

__ADS_1


"Astaga, kau ingin membuat Max bangkrut?"


"Tidak, Nyonya. Aku membantu Max menghabiskan uangnya."


Deborah memukul meja makan sehingga Sara terkejut.


"Kau tidak boleh melakukannya, bodoh! Dan Max, berikan aku setiap bulan dua kali lipat dari yang biasa."


Setelah mengatakan itu, Deborah bangkit dan pergi meniggalkan mansion.


"Nyonya! Kau belum menghabiskan makananmu!"


"Biarkan saja! Mommy memang seperti itu. Kau akan terbiasa," ujar Max seraya mengelus kepala Sara.


"Jangan menyentuhku, Max. Kau bau."


"Astaga, kau baru saja mencubitku tadi, sayang."


"Aku refleks."


"Ya, refleks yang manis."


Seringai aneh itu membuat Sara bergidik. Ia menepis tangan Max yang hendak menyentuh lehernya.


"Apa Mommy melihatnya?"


"Rambut menutupinya."


Max segera menelpon seseorang untuk melakukan sesuatu.


"Alex, belikan sesuatu yang bisa menghilangkan bekas luka di leher."


"Kau terluka, SeƱor?"


"Untuk istriku. Lehernya terluka."


"Kau melakukan sesuatu?"


"Sesuatu seperti apa?"


"Seperti yang dilakukan pasangan suami istri umumnya."


"Sialan. Bawakan saja itu. Cepat!"


Max mematikan sambungan itu dan mengumpat kesal.


"Sialan, darimana dia tahu tentang hubungan semacam itu?"


"Ini akan menghilang dengan sendirinya, Max."


"Itu akan lama. Kita akan ke pesta temanku nanti malam."


"Apa hubungannya dengan luka ini, Max?"


"Astaga, pantas saja Mommy mengatakan kau bodoh, Sayang. Tentu saja kau harus berdandan dengan cantik ke acara itu."


Sara mengerucutkan bibirnya seraya mencuci tangannya setelah selesai makan.


"Kau sudah makan?"


"Aku sudah makan dari piringmu."


"A-apa? Bagaimana bisa aku tidak mengetahuinya?"


"Aku suamimu yang tampan ini super hebat, sayang."


Sara memutar bola matanya malas. Ia teringat akan sesuatu.


"Max, siapa ular busuk yang dimaksud Mommy-mu tadi?"


Deg.


Max mendadak bisu. Ingatannya kembali pada saat-saat dimana ia dan orang yang dijuluki ular busuk itu bersama. Masa yang kini sudah berlalu setelah dia menghilang.


"Max?"


.


.


.


iklan**


.


Author : rumah gue angker kaya mulut max yang tiba-tiba bungkam


Netizen : kenape angker


Author : gatau. jarum jam bergerak sendiri


Netizen : ehhh... songoongg... itu mah biasa, nah kalo gue debat sama lu kayak liat setan, serem


Author : njiirrrr, jahadd luušŸ˜‘


.


***


Dear LDR, tetap setia dan sabar ya. Semoga jumpa langsung lamar. Amin.😊


Love,


Xie Luā™”

__ADS_1


__ADS_2