
Happy reading!
.
.
.
***
Sampai di mansion, Sara mendapati seseorang sedang duduk membelakangi pintu. Dari belakang tampak seperti Deborah, dan itu membuat Sara merinding.
Dengan perlahan, dia berjalan ke sana. "Mommy?"
Wanita paruh baya itu menoleh. Tampangnya tidak bersahabat. Dia menatap Sara dengan tajam.
"Dari mana saja kau?"
Sara menyengir, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jawab!"
"Maaf, Mommy."
Hanya itu jawaban yang bisa keluar dari mulutnya melihat wajah Deborah yang sangat garang dibandingkan hari biasanya.
"Aku tidak ingin mendengar kata itu," hardik Deborah keras.
"Aku pulang ke rumah," cicit Sara. Dia menautkan jemarinya erat dan menunduk takut, takut Deborah menamparnya.
Menunggu Deborah datang dan menamparnya, Sara memejamkan mata. Dia akan menerima jika wanita itu melakukannya. Tapi, tak ada yang terjadi setelah sekian lama dia menunggu.
Hanya helaan napas yang terdengar dari mulut Deborah. "Kenapa kau tidak memberi tahu semua orang? Aku khawatir kau diculik penjahat, Sara."
"Hah?!" Sara kaget. Apa itu yang dipikirkan Deborah, dadanya sudah bergemuruh sejak tadi karena ketakutan.
"Jangan ulangi lagi. Kalau ingin keluar, ajak Lewis bersamamu."
Sara menghela napas lega. Ternyata sang mertua tidak memarahinya. "Aku janji, Mommy."
"Baguslah, Max pasti akan membunuhku jika itu terjadi. Kau tidak tahu betapa takutnya aku, mungkin saja kau hilang atau terdampar di suatu tempat. Juga, jangan pulang terlalu sore!"
"Aku mengerti, Mommy."
Max? Dia pasti sudah tahu aku pergi, tapi kenapa tidak langsung memarahiku lewat telepon?
Wanita itu bangkit, dia menyeret Sara ke meja makan. "Kau sudah makan?"
"Eh?" Sara mengerjap.
Dia melihat banyak sekali makanan di atas meja, tertata rapi dengan menu-menu yang menggugah selera.
"Aku menunggumu dari pagi, memasak semua makanan ini sungguh melelahkan. Makanlah, sepertinya kau suka."
Ketika Deborah berbalik, Sara menangkap pergelangan tangannya. Dia tidak terbiasa makan sendiri. "Mommy tidak makan?"
"Aku kenyang karena rasa takut."
Sara merasa bersalah, meski Deborah terlihat sangat galak, ternyata ada juga sisi lembutnya yang feminim.
"Ayolah, Mom. Aku akan bantu memijit badanmu."
Oh, Tuhan, sepertinya aku salah penawaran.
__ADS_1
Seringai di bibir Deborah membuat Sara bergidik dan menelan ludah kasar. "Kau janji?"
"Ya, ayo temani aku makan."
***
Sesuai janji yang membuat Deborah menemaninya makan, Sara memijat badan Deborah.
Belum beberapa menit dia melakukan itu, kedua telapak tangannya terasa kaku dan mati rasa. Bukan apa-apa, tapi badan Deborah yang sangat keras seperti batu. Bahkan sesekali Sara menggunakan siku.
Sara berpikir mungkin saja semua orang dalam keluarga itu memiliki otot yang keras. Dia ingat otot Max yang sangat keras. Dia berpikir bahwa itu terjadi karena olahraga, dan sekarang dia berspekulasi kalau itu adalah turunan.
"Mommy?"
"Hm?"
Sara yang ingin sekali berhenti itu mengurungkan niatnya. Dia menyerah dalam beberapa menit.
"Apa kau sudah menyukaiku?" tanya Sara. Karena dulu kau pernah bilang tidak merestui kami, lanjutnya dalam hati.
"Pertanyaan bodoh. Kau benar-benar bodoh bahkan sampai pertanyaanpun adalah hal-hal yang mudah."
"Aku serius, Mommy."
"Ya, aku juga serius. Kau tidak bisa cerdik lagi, dan dengan otak bodohmu itu tidak mungkin bisa mencelakai orang lain."
"Apa maksudnya, Mommy?"
"Ck, lihat saja, benar-benar bodoh," gumam Deborah. "Lebih baik kau terus menjadi bodoh dari pada berubah menjadi ular busuk yang licik dan beracun."
Sara terkekeh. "Siapa yang kau maksud itu, Mom? Tidak mungkin manusia berubah jadi ular 'kan?"
Karena tak ingin menyebut nama orang itu, Deborah mengalihkan. "Lanjutkan saja pekerjaanmu biar aku bisa lebih menyukaimu. Iglesias tidak bertahan selama satu menit jika memijat badanku."
"Mommy bisa pergi ke tempat pijat," usul Sara.
"Uang belanjaku akan terkuras, Sara," desah Deborah.
Huft, dasar perhitungan. Setiap bulan dapat jatah gratis, masih saja pelit.
"Tapi, aku bisa datang ke sini setiap saat untuk menahan uangku tidak keluar."
Sara terbelalak. What?! Ingin membunuhku dengan tubuh batumu ini? Astaga, aku bisa mati di tempat kalau setiap hari dia datang untuk itu.
Kepala Sara terasa kosong. Membayangkan setiap hari Deborah datang dan menyuruhnya memijat, memijat, dan memijat. Ah, tanganku tersayang bisa putus dan mati rasa, ringisnya pilu dalam hati.
"Sara, kau diam pertanda 'Yes' ok?"
Sekali lagi sukmanya keluar dari tubuh. Kalimat itu yang sangat ditakutinya. Deborah bertindak sesuka hati. Sara tidak dapat berkata-kata.
Karena mengingat statusnya sebagai menantu dan ingin mempunyai predikat yang bagus di depan mertua, mau tidak mau Sara mengangguk. Urusan lainnya biarkan dia memikirkannya nanti.
"Baiklah, Mommy. Kau bisa datang kapanpun kau mau."
"Yes, aku semakin menyukaimu yang bodoh ini!"
Suara tawa Deborah terdengar horor di telinga Sara. Dengan tertatih-tatih, dia terus memijat badan wanita paruh baya yang berstatus sebagai mertuanya itu.
Oh Tuhan, apa ini karma karena kabur tadi pagi?
"Sara, mulai besok kau ada les memasak. Ini perintah Max agar kau tidak kabur dari rumah."
***
__ADS_1
Sementara itu, di tempat yang jauh dari kota Madrid tepatnya di Valencia. Seorang pria sedang sibuk memencet layar pipih di tangannya. Sesekali mengumpat pada benda itu.
"Alex, kenapa nomor istriku sibuk? Apa kau melakukan sesuatu dengan jaringan di sini?"
"Aku tidak melakukan apapun, Señor."
"Kenapa aku tidak bisa menghubungi Sara sejak tadi? Sial, harusnya aku tidak datang ke sini. Pasti dia bersenang-senang dengan pria lain di sana."
Max terus bersungut, sesekali mengumpat dan melempar ponselnya di ranjang. Dalam pikirannya, Sara saat ini sedang tertawa mesra dengan pria lain dan berkencan layaknya pasangan romantis yang sedang kasmaran.
"Sialan, otakku terlalu pintar," sungutnya lagi. "Alex, lakukan sesuatu. Kalau tidak, aku akan membuangmu ke gurun Sahara dan beternak unta di sana."
Pria yang menjadi sasaran amarah itu hanya memgedikkan bahu acuh. Entah apa yang terjadi, sejak tadi siang saat Max mendapat kabar bahwa Sara menyelinap keluar, jaringan ponsel tidak ada.
Padahal villa itu bukan di pedalaman yang susah sinyal. Dan Max uring-uringan seperti cacing kepanasan di tempatnya.
"Kita pulang saja, Señor. Bukankah itu lebih bagus daripada tersiksa tanpa sinyal di sini?"
"Kurang ajar!" Max melempar Alex dengan bantal yang ada di sana. "Dia penting tapi di sini lebih penting."
"Tapi, lebih baik daripada stress tanpa dapat kabar 'kan?" Alex mempertahankan sarannya.
"Sial, kau ternyata benar," umpatnya. "Besok kita pulang," putus Max kemudian. "Aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi."
Alex tersenyum tipis. "Lalu, peta itu, Señor?"
"Brengsekk kau, Alex! Berhenti meracuni otakku!"
Karena ternyata, memggoyahkan pikiran Max lebih bagus pada saat dirinya sedang stres memikirkan istrinya.
"Kau yang memilihnya, Señor."
Ketika dia hendak melempar Alex dengan ponselnya, bunyi pertanda pesan masuk menghentikan.
"Oh, ada sinyal, Alex!" teriaknya.
Sebuah pesan baru dari mata-mata yang ditugaskannya untuk mematai Sara. Sesekali bibirnya tersenyum, namun sesaat berubah tegang.
"Rumah?" gumam Max. "Apa yang dia lakukan di sana? Mempermalukan diri?"
"Alex!"
"Sí, Señor?"
"Lakukan sesuatu pada papa mertuaku!"
"Baik."
Berturut-turut pesan masuk, dari Deborah dan juga dari sekretaris kantor, tentang pekerjaan. Tapi, pesan dari orang yang ditunggu tidak ada.
"Apa saja yang dilakukannya sampai melupakanku?"
Karena tidak sabar ingin mendengar suara istrinya, Max coba menelpon. Dan sialnya, dia mendapat pesan suara dari operator yang berbunyi, "Nomor yang Anda tuju sedang sibuk!"
"Wtf, brengsekk! Apa dia berbicara dengan selingkuhannya?"
Padahal jauh di sana, Sara juga sedang menelpon dirinya. Dan cinta mereka terhenti di arus balik karena sinyal ponsel.
.
.
.
__ADS_1
***