
Happy reading!
.
.
.
***
Hembusan angin laut menerpa wajah yang tersangga di jendela, bola mata cokelatnya menatap lurus ke depan. Indah, satu kata untuk melukiskan panorama laut yang terhampar luas sejauh mata memandang.
Warna biru memantul, menyilaukan mata dengan cahaya mentari yang sedang merangkak naik ke atas kepala. Hembusan lembut itu menyeka air matanya yang tiba-tiba menitik.
Sara terkejut, menyeka butiran bening itu dengan jari telunjuk. "Apa-apaan ini? Menangis, huh?" gumamnya sambil terkekeh.
Menertawakan kebodohannya yang tiba-tiba menitikkan air mata, Sara menarik tirai dan menutup kepalanya.
"Yang benar saja aku menangisi orang yang tidak ada hubungan dengan hidup dan matiku. Peter, dia yang berhak," ucapnya mengenang kembali seseorang dengan tawa mengejek terukir di bibirnya.
Sara kembali teringat pada lelaki yang selalu bersikap kasar padanya. Kabar tentang lelaki itu tidak didengarnya lagi, dan Sara sedikit merasa rindu.
Tangan kekar yang melingkar cepat di pinggangnya membuat Sara terlonjak kaget. Tanpa menoleh, dia tahu siapa pemilik lengan kokoh yang berbulu tipis itu.
"Merindukannya?" tanya Max tepat di telinga Sara.
"Tidak," kilah Sara. Dia memegang telinganya yang tiba-tiba gatal karena endusan dan juga goresan jambang Max di kulit tipisnya.
"Katakan sejujurnya, Sara."
Wanita itu mendongak dengan senyum tipis. "Kau ingin kebenaran?"
"Of course. Tell me," pinta Max. Dia menyusupkan wajahnya di ceruk leher sang istri. "Jadikan aku teman berkeluh kesahmu disaat kau butuh, di samping Tuhan yang harus kau ceritakan juga masalahmu. Itu gunanya aku ada di sisimu, Sara."
Sara terkekeh. "Sejak kapan kau pandai berkata-kata?" ujar Sara mengejek.
"Sedikit aneh kalau aku bilang rindu pada lelaki itu, tapi sama saja dengan membohongi hati sendiri kalau aku bilang tidak rindu."
Sara mulai merenungi semua kisah bersama sang ayah yang ternyata bukan ayah kandungnya. Dimarahi, dibentak dan dipukul, Sara mengalami semua itu. Akan terdengar aneh kalau seorang anak tidak pernah dimarahi orang tua.
"Dia marah, tapi aku menolak melihat pancaran kasih sayang dari matanya. Larangannya terdengar kasar dan penuh bentakan, tapi ada rasa aman yang terkandung di dalamnya. Aneh kalau aku tidak merindukannya 'kan? Dia pasti akan membunuhku kalau aku kembali, apalagi kalau dia tahu aku menembak Adrian dengan tanganku. Peter sangat mewaspadai aku melakukan kejahatan, Max."
Sara merasa pelukan di pinggangnya bertambah erat.
"Aku menolak melihat kasih sayang itu karena aku merasa Mamaku meninggal karena ulahnya. Dan juga aku keras kepala untuk memahami bagaimana perasaannya."
"Akankah kau mengatakan itu pada Peter nanti? Aku rasa dia akan tersenyum bahagia dan tentu saja aku sangat tidak berharap dia memelukmu seperti ini," ucap Max dengan nada yang kental cemburu.
__ADS_1
Sara menggeleng. "Tidak, dia orang yang meningggikan egonya. Peter tidak akan tersentuh oleh kalimat yang puitis seperti ini."
"Kenapa kau sangat memercayai itu?"
"Orang yang lemah lembut tidak akan terpengaruh oleh kalimat yang manis, karena kalimat yang diucapkan dengan nada kasar sekalipun akan terdengar indah di telinga mereka."
Max terkekeh. Dia membalikkan badan Sara agar berhadapan dengannya. "Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"A little secret," ucap wanita itu tersenyum dan balik memeluk sang suami.
Tirai ikut bergoyang saat Max mengecup bibir istrinya lembut, dan semilir angin menghantarkan perasaan mereka ke dalam dada.
Pelukan hangat itu disaksikan oleh sebuah koper yang sudah berdiri di sana, menunggu waktu yang tepat untuk dibawa pergi. Terbang kembali ke kota asal.
***
Matahari sudah merangkak turun, sepasang suami istri itu duduk dengan tenang di atas burung besi kesayangan si pemilik Spanyol, Wolves Blue.
Sesekali mata Sara memandang takjub pada pemandangan luar, sangat indah dilihat dari atas. Kursi empuk di jet pribadi Max sangat nyaman, membuat Sara sesekali merasa beruntung menikah dengan pria kaya itu.
Sara mendengar pembicaraan Max dan Alex kalau pemblokiran identitas Max di Napoli sudah dihapus hingga pria bermanik biru itu bisa membawa jet pribadi masuk ke sana.
Kadang Sara menyaksikan permainan catur antara Max dan Alex yang terasa membosankan.
"Kapan kita sampai?" Sara bertanya untuk kesekian kalinya. Dan keheningan menjawabnya.
Karena tidak ada jawaban, Sara pergi dari sana, menuju sebuah kamar dengan warna dominan hitam dan abu-abu. Mungkin kamar pribadi Max, itu pikir Sara.
Dia merebahkan dirinya di sana, merasakan empuknya kasur berwarna senada dengan isi kamar.
"Dasar menyebalkan. Apa dia lupa kalau sudah punya istri?" sungut Sara sambil memukul ranjang kosong. Dia berselonjor di tepi ranjang, membiarkan kakinya menyentuh marmer merah bata. Bersih dan higienis.
Karena tidak ada teman yang bisa diajak ngobrol, dia membuka aplikasi di ponselnya. Dan tidak sengaja menemukan hal yang cukup membuat bibirnya melengkung ke atas.
"Mungkin ijazah kecil itu bisa berfungsi," gumamnya.
Sebuah lowongan kerja yang lumayan menambah wawasan tentang pariwisata. Dan tentu saja membuat jantung Sara berdebar.
"Jasa panduwisata yang cukup mendebarkan jantung," ucapnya senang. "Ini sangat menyenangkan dan bisa mendapat teman baru."
"Teman baru apa?"
Suara Max memudarkan senyumannya, luntur bersamaan dengan keinginan untuk bergabung dalam industri pariwisata.
"Hanya asal bicara."
"Benarkah? Aku dengar kau mengatakan sesuatu tentang wisata," ucap Max dengan bibir menipis.
__ADS_1
Dada Sara berdegup kencang, dia takut Max tidak memberinya izin untuk melakukan itu. Apalagi sifat posesif Max yang akibatnya sangat berbahaya.
Antara jujur dan bohong, pilihan itu sulit diutarakan. Bibir Sara terkatup namun sesaat dia tersenyum.
"Aku hanya berandai. Andai kita pergi berwisata dengan Alex dan Claire, maksudku, kencan ganda, apa kau akan memikirkannya? Di sana pasti akan mendapatkan teman baru."
Jantungnya berkali-kali memompa dengan sangat cepat. Dalam hati dia mengutuk mulutnya yang asal bicara, dan berdoa semoga Max tidak paham maksudnya.
"Kencan ganda?"
"Hm."
Seringai di bibir Max membuat bulu kuduk Sara berdiri tegak. 'Apa yang direncanakannya?'
Dan suara tawa Max mengejutkannya. "Itu bagus untuk hubungan Alex dan gadis itu. Aku khawatir dia akan melajang seumur hidup, tentu saja itu hal yang harus kita lakukan setelah sampai nanti, Sayang."
Syukurlah, syukurlah dia tidak curiga.
Max menarik Sara ke tengah ranjang dan membiarkan Sara menjadikan lengannya bantalan. "Kenapa kau tidak menemaniku bermain di sana?"
Sara mendengus tidak suka. Dan memalingkan wajahnya saat Max membawanya dalam dekapan.
"Aku tidak paham tentang itu."
"Hanya menemani, Sayang."
"Tidak, kau serius dengan mainanmu, Max."
"Aku sedang menyusun strategi menghadapi ayah mertuaku. Dia sudah tahu kalau dia dijebak olehku untuk mendapatkanmu, dan sekarang marah besar. Katakan padaku apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan emosi Peter, Sayang. Bola mata merahnya sangat menyeramkan kalau marah."
Max terdengar sedikit ragu, entah karena kabar Peter marah atau sesuatu yang lain. Sara tidak pandai memprediksi.
"Kenapa kau frustasi?"
"Aku takut dia merebutmu kembali."
Jawaban kilat tanpa berpikir, tentu saja dari hati. Sara merasakan detak jantung Max yang bertalu-talu.
"Kau tidak akan meninggalkanku 'kan? Aku takut, aku takut kau pergi dan tidak akan kembali."
.
.
.
***
__ADS_1
Ig @Xie_Lu13