
Komen yang banyak yaš
.
.
.
***
Melihat perempuan malang itu tidak bisa melakukan apa-apa, Alana menyeringai puas.
Aku memandang terlalu tinggi dirimu, Sara. Ternyata kau tidak ada apa-apanya dibandingkan aku.
Wanita itu terus memainkan bibirnya di leher Max dan membuat pemilik manik biru itu mengerang. Sesekali Alana mengolesi cairan bunga lavender itu di punggung Max hingga pria itu menggila dengan aroma yang menyejukkan.
Ternyata ini lebih dari yang aku bayangkan. Nikmati kekalahanmu, Max. Aku akan pergi setelah semua ini selesai. Aku hanya perlu memastikan sesuatu terlebih dahulu.
"Alana, kau benar-benar memabukkan. Aku tidak tahan dengan aroma ini," racau Max dengan masih mencium bibir Alana.
Max meraup bibir wanita seperti bayi yang kelaparan dan menarik Alana lebih dekat lagi padanya.
"Aku tahu, BebÄ. Nikmatilah, aku milikmu sekarang sampai malam nanti. Istrimu pasti sedang lelah karena pekerjaan kalian tadi," ucap Alana menyeringai.
Wanita itu sudah membuka jubah yang menutupi lingerienya dan membiarkan Max bermain dengan tubuhnya. Seringai di bibirnya bertambah seiring dengan Max yang meracau dan mendesahkan namanya.
"Aku tidak tahu kau begitu mencintaiku, BebÄ. Aku menyesal telah meninggalkanmu dan membuatmu menikahi Sara. Maafkan aku, ok?"
"Jangan bicara lagi, aku tahu kau tidak sengaja dan punya alasan," ucap Max menutup mulut Alana dengan ciuman. "Biarkan aku menikmati ini sedikit lebih lama."
Alana terkekeh, dia berhasil pada rencananya. Dan tampaknya, hasil dari ini lebih luar biasa dari yang dibayangkan.
Aku tidak percaya ini. Elijah, kita menang, Sayang. Tunggu aku kembali. Kita akan bersama anak kita setelah semua ini selesai.
"Aku milikmu. Tidak ada yang akan mengganggu kesenangan kita, BebÄ. Aku milimu," ucap Alana lirih tepat di telinga Max.
Dia sengaja mendesahkan nama Max, meski sebenarnya Alana muak dengan permainan pria itu. Alana tidak menikmati permainan lidah dan bibir pria itu, tapi mengingat kemenangan ada di depan mata, maka berpura-pura adalah jalan keluarnya.
Aku tidak akan puas dengan permainan amatiran seperti ini. Kau kalah dalam segala hal, Max. Lelakiku akan berada di puncak piramida setelah ini.
Alana kembali mengolesi parfum lavender yang diramunya tadi di seluruh tubuh Max yang dijangkaunya. Dan itu benar-benar membuat Max hilang kendali. Pria itu menjadi buas hanya dengan aroma obat bius dalam aroma lavender itu.
Wanita itu tergelak puas. Max sudah tidak sadar akan apa yang dilakukannya. Dan untuk itu, Alana membiarkan pemilik manik biru itu mengambil alih. Karena dia tahu, Max kali ini tidak akan menahan diri dari serangan obat bius yang akan merangsangnya.
"Come on, BebÄ. Do it now, I wanna play with you. Let's start our hot night 'cause I'm the winner."
Alana berucap sambil menarik tengkuk Max agar memperdalam ciuman mereka dan Max tidak memiliki kesempatan untuk melihat atau memikirkan hal lain.
***
Sara menangis sambil memeluk lututnya yang perih. Meski dibalut celan piyama yang panjang, tetap saja sudut tangga tajam dan melukai lututnya. Dia tidak kuat berdiri hanya untuk sekadar mengambil obat yang ada di laci nakas samping ranjang.
Tidak ada yang memerhatikan. Sara sudah tahu arti dirinya di rumah ini. Sara tidak lebih dari perebut milik orang lain. Dan pemilik sah sudah datang dan mengambil kembali miliknya. Sara sudah tidak punya apa-apa lagi.
Aku yang salah telah jatuh cinta padamu, Max. Tapi aku tidak menyangka akan kalah lebih cepat dari ini. Aku pikir, aku akan sekuat yang dipikir otakku.
Tapi tidak, sekarang aku tahu kalau aku hanya gadis yang lemah. Aku tak berdaya meski aku tahu hakku lebih besar dari dia.
Sara tidak bodoh, dia tahu apa yang harus dilakukannya. Setelah rasa sesak di dadanya keluar bersama isakan tangis tadi, Sara bangkit dan berusaha lebih kuat dari sebelumnya.
"Aku tidak mau dipermainkan lagi," tekadnya bulat sambil tersenyum miris.
Sara kini menertawakan kebodohannya yang percaya begitu saja pada Max. Dia tidak tahu kalau pria itu pandai berdusta.
"Lebih baik seperti ini daripada aku memercayaimu lebih dalam. Mungkin kisah kita harus berakhir sampai di sini saja, Max."
Mencari sesuatu di laci nakas, Sara mengobati luka lututnya dan menutupinya dengan perban.
"Hahaha, ternyata aku menangis hanya karena ini. Aku tidak bisa percaya diriku akan serapuh ini," kekehnya dengan air mata yang kembali mengalir.
Setelah mengusap dengan kasar cairan bening itu, Sara melangkah dengan tertatih. Bahkan sekarang kakinya seperti lumpuh karena terlalu lemah.
__ADS_1
Tidak ada lagi yang dipikirkan Sara. Kepercayaan? Tidak, Sara tidak memikirkan itu lagi. Dia tidak akan memercayai siapapun di dunia ini lagi.
Tidak Max, tidak Deborah. Wanita paruh baya itu memang menyuruhnya mendengar penjelasan sebenarnya dari Max, tapi untuk saat ini Sara sudah membenci apapun yang berhubungan dengan Max.
"Semuanya sudah berakhir, Max. Aku sudah memaafkan kesalahanmu, tapi aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Karena itu, jalan terbaik bagi kita adalah perpisahan."
Sara melepaskan cincin berlian yang melingkar indah di jari manisnya itu. Sesaat dia terpaku pada kecantikan benda itu. Dan dia ingat pada dirinya sendiri. Terlalu cantik tapi mudah dibuang.
Kemudian Sara meletakkan cincin itu di atas nakas dan menuliskan sebuah surat untuk Max.
Say something, I'm giving up on you
I'll be the one if you need me to
Anywhere, I would've followed you
Say something, I'm giving up on you
And I feeling so small
It's was over my head
I know nothing at all
And I will stumble and fall
I'm still learning to love
Just starting to crawl
I'm sorry that I couldn't get to you
Sara meneteskan air matanya lagi saat menulis kalimat itu. Dia tahu hatinya telah hancur dan akan lebih parah lagi jika dia terus mempertahankannya. Dan kalimat lanjutan membuat hatinya berdenyut sakit seperti diremas tangan tak kasat mata.
Say something, I'm giving up on you
And I will swallow my pride
And I'm saying goodbye
Sara kembali menangis. Menumpahkan air matanya di atas kertas putih yang sudah dicoret tinta hitam itu.
"Selamat tinggal, Max. Berbahagialah untukku," isaknya miris dan bangkit dari sana. Dia keluar tanpa mengganti baju.
***
"SeƱora, kau hendak ke mana malam-malam seperti ini?"
Adrian mengejutkan Sara yang keluar dari pintu utama menuju gerbang mansion. Ya, Sara memang secara terang-terangan keluar dari kamar. Kemarahan sudah menguasainya. Matanya sudah gelap oleh api amarah.
"Bukan urusanmu!"
Sara menatap nyalang pada pria paruh baya yang sering menghabiskan waktu bersamanya di dapur itu. Sara tidak membenci Adrian, tapi jika lelaki itu menghentikannya maka Sara tidak akan segan.
"SeƱor tidak mengizinkanmu keluar malam hari, SeƱora," ucap Adrian lagi yang menghentikan langkah Sara.
"Oh, aku bukan Nyonya kalian lagi. Pergilah, katakan pada Tuanmu bahwa aku kabur. Dia pasti akan senang hati kalau pengganggu ini pergi."
Adrian yang tidak mengerti itu mengerjap bingung. Dia tidak mengetahui apa-apa tentang kejadian ini.
"SeƱora, kau mengatakan sesuatu yang aneh. Kembalilah bersamaku."
"Aku sudah cukup bermain di sini."
Tepat di depan gerbang, langkah Sara terhenti karena seorang penjaga menghalangi jalan.
"Menyingkir dari jalanku!"
Penjaga itu tetap diam. Tidak ada gerakan membuat Sara terkekeh hambar.
"Kau akan menemui ajalmu, sialan!" ucapnya dan secepat mungkin mengambil pistol dari pinggang penjaga itu.
__ADS_1
"SeƱora, apa yang kau lakukan?!" teriak Adrian yang masih menyaksikan itu. "Turunkan pistolmu!"
Penjaga itu terkejut saat melihat pistol kesayangannya sudah ada di tangan Sara. Gerakan yang dipakai Sara dalam latihan bersama alama ternyata berguna disaat seperti ini.
Sara tertawa tidak percaya. "Siapa kau berani memerintahku? Aku bukan bawahan siapapun dan bukan istri Tuan kalian lagi. Membuka mulut artinya MATI!" teriak Sara yang menggema di luar mansion.
Dia menodongkan pistol pada penjaga yang tadi. "Menghentikanku juga sama dengan memberikan nyawamu pada seorang perempuan. Menyingkir!"
Meski ditodong seperti itu, penjaga itu tidak bergerak. Dia mengangkat tangannya dan terus berdiri menghalangi Sara.
"Karena tingkat kesabaranku sudah habis, maka MATILAH!"
Benar saja, Sara sudah tidak segan lagi. Meski tangannya sedikit gemetar, dia menarik pelatuk dan menembak tepat di mulut penjaga itu dan membuat Adrian melongo tidak percaya.
"Sekarang giliranmu, Adrian!"
"SeƱora, tenanglah! Kau akan hidup penuh dosa jika membunuh orang."
"Aku sudah berdosa dengan menjadi istri Max. Dosaku sudah banyak, aku akan menanam yang banyak agar tuaianku lebih banyak lagi, Adrian. Lagipula, memohon untuk dosa yang sedikit tidaklah keren."
Lelaki itu menengang saat Sara mendekatinya dengan menodongkan pistol. "Kau juga ingin menghentikanku? Tanganku sudah tidak gemetar lagi, ini artinya aku suka membunuh."
"SeƱora, kau tidak bisa membunuhku. Aku Adrian," ucap Adrian yang masih diam mematung di tempatnya.
Sara tertawa. "Karena kau Adrian, itu alasannya. Biarkan aku merasakan bagaimana membunuh lelaki yang sudah tua. Aku ingin mencobanya pada Peter."
Sara sudah seperti orang yang kerasukan. Dalam pikirannya hanya satu, pergi jauh dari jangkauan Max. Dan tidak boleh ada yang menghentikannya. Adrianpun tidak!
"SeƱora, kau bukan wanita yang jahat, aku tahu itu. Kembalilah, jangan keluar malam hari, itu berbahaya untukmu."
"Aku lebih suka menantang nyali di luar sana daripada dikekang di penjara orang mati."
Sara melihat Adrian perlahan memdekat dan itu membuatnya waspada. "Apa yang hendak kau lakukan, Adrian? Tetap di tempatmu atau kau akan mati!"
"Tidak, SeƱora, aku tidak akan membiarkanmu pergi."
Sara tertawa tidak percaya saat lelaki itu menekan ujung pistol itu di keningnya. "Kau ingin aku menembakmu di sini? Oh ayolah, Adrian, ini sangat menyenangkan. Kau akan menjadi kontestan pertama bagiku dalam uji coba pembunuhan."
"Dengan senang hati, SeƱora."
Ketika tangan lelaki itu terangkat, beberapa penjaga yang tadi hanya diam bergerak maju dan mengelilingi Sara.
"Jangan biarkan SeƱora pergi!" perintah Adrian yang dibalas anggukan oleh mereka.
"Jangan naif, kau tidak bisa menghentikanku," teriak Sara membalas dan menarik pelatuk. Perempuan itu berputar dengan menembak tepat sasaran, tepat seperti yang diajarkan Deborah padanya.
Adrian terkekeh pelan karena tidak menduga Sara akan menghabisi para penjaga itu dengan mudah. "Pelurumu tinggal satu, SeƱora."
"Khusus untukmu," ucap Sara sinis. "Jangan menghentikanku, Adrian!"
"Sudah terlambat, SeƱora. Orang-orangku sudah mengepungmu."
"Apa?! Kau sialan!"
Pada saat itu juga, Sara menembak Adrian di perutnya. Darah yang keluar dari luka Adrian semakin banyak dan Sara tidak ingin peduli dengan itu. Karenanya, perempuan itu melemparkan pistol yang kehabisan peluru itu dan mengambil pistol penjaga yang masih berisi amunisi.
"Aku harus pergi sebelum orang-orang itu menghentikanku lagi," ucapnya dan benar-benar pergi dari sana.
.
.
.
***
Poinnya untuk hari Senin aja yašššš
Full of love,
Xie Luā”
__ADS_1