
Happy reading!
.
.
.
***
Sifat keras kepala dan tidak taat Sara sudah mendarah daging. Bukan tidak mungkin ia bisa memanjat jendela dan turun dari lantai dua mansion itu, namun daripada melakukan itu sementara masih ada kesempatan, dia memilih bernegosiasi atau lebih tepatnya mengancam seorang penjaga dan memakai seragam pria itu.
"Tutup mulutmu sampai aku berhasil melakukan tugasku!"
Penjaga itu menunduk takut. Meski wajah Sara tidak seseram Max saat marah, tapi ancaman perempuan itu dengan menodongkan pistol di kepalanya tentu saja membuatnya takut.
"Sí, Señora."
"Antar aku ke mobil."
Pria itu mengikuti langkah Sara. Perempuan yang jarang tersenyum pada pria di mansion itu berjalan tegap dengan masker menutup mulutnya dan kacamata hitam menutupi mata cokelatnya yang indah.
Topi penjaga itu hampir berhasil menutupi seluruh wajahnya dan itu membuatnya tersenyum dalam diam.
Kau tidak bisa menghentikanku, Max! Tidak padamu, juga ancamanmu. Aku akan berjalan ke manapun aku mau dan berlari sejauh mungkin dari tempat kau berdiri. Bahkan semesta mengizinkanku melakukannya.
"Anda hendak ke mana, Señora?" tanya pria itu pelan.
"Kau dilarang bertanya!" hardik Sara kembali menodongkan pistol ke arahnya. "Lebih cepat!"
Hingga sampai di mobil, pria itu hanya meringis ketakutan. Membiarkan Sara melakukan segala hal sesukanya.
Señor, ampuni nyawaku!
Senyuman di bibir Sara merekah bagai bunga yang bermekaran, memunculkan banyak kupu-kupu beterbangan di sekitarnya. Menginjak pedal gas, dia bersenandung kecil.
Sampai di sebuah tempat, Sara membuka pakaian security yang serba hitam itu dan diganti dengan pakaian kasual andalannya. Kaos oblong dan jeans panjang dengan bagian lutut yang bolong, khas anak jalanan.
Mengikat rambutnya asal-asalan, dia pergi ke rumah Edwin.
"Ed? Ayo balapan!"
Pria yang baru bangun dari tidurnya itu mengucek matanya berulang kali. "Kau benar Sara? Sara si tengik itu?"
Sara memukul kepala Edwin membuat pria itu meringis. "Kau bocah sialan! Ayo bersenang-senang hari ini."
"Suamimu memberi izin?"
"Kau tahu aku pandai merayu," dustanya. "Ini hari kita, Ed. Jangan mengacaukannya, jarang-jarang aku bisa keluar rumah."
Pemuda yang tampak acak-acakan itu tertawa. "Apa kau kabur? Sepertinya suamimu bukan tipe orang yang gampang ditipu."
Mendapat tuduhan yang tepat sasaran membuat Sara terdiam. "Kau tahu aku tidak bisa berdiam diri di rumah, Ed. Aku ingin bermain di luar."
Menarik teman perempuannya itu duduk di sofa apartemennya, Edwin menyilangkan tangan di dada.
"Bagaimana caramu kabur? Memanjat dinding atau main kejar-kejaran dengan penjaga?"
__ADS_1
Karena setahu Edwin, Sara tipe perempuan yang mengambil jalan pintas seperti itu. Tidak terlalu pintar mengelabuhi dan terkadang ceroboh, meski sangat keras kepala.
"Aku ...."
"Katakanlah, aku tidak akan menghakimimu."
Sara terdiam sejenak. "Mengancam pakai pistol."
"What?!" Edwin tentu saja terkejut. Sejak kapan Sara pandai bermain dengan benda laknat itu. "Apa kau serius?"
"Tentu saja, tapi tenanglah. Aku tidak berani membunuh satu nyawa."
"Hah, syukurlah." Edwin memegang dadanya lega. Dia teramat sangat takut jika Sara melakukan sesuatu yang diluar nalar. "Tidak boleh bertindak kasar bahkan membunuh. Kau tentu tau Kesepuluh Firman yang tertulis dalam Kitab KeKristenan bukan? Jangan sampai kau melanggar itu, Sara."
Mendengar itu, Sara kembali terdiam. Bahkan pendalaman tentang agamanya berkurang saking lama di terkurung di mansion dan jarang bersosialita dengan kaum religius.
"Bisakah kau berhenti bicara dulu? Otakku sedang lapar."
"Sara!" Edwin memukul kepala Sara membuat perempuan itu mengaduh kesakitan. "Kau sangat keras kepala. Pulanglah, Max pasti menunggumu."
"Dia di Valencia."
"Pantas saja kau berkeliaran. Kapan?"
"Kemarin."
"Kau sungguh tidak menghargai suamimu, Sara. Apa ini yang kau ajari dari pembelajaranmu? Aku yakin Max pasti melarangmu keluar sampai kau berbuat seperti itu. Tebakanku pasti benar."
Anggukan Sara membuat Edwin menggeleng tidak percaya.
"Siapa yang mau mati bosan di tempat tertutup itu?" Sara menjawab dengan ketus, mengibaskan tangannya di wajah. Dan sialnya, dia merasa ruangan itu sedikit panas.
"Dengar, kalau kau ingin Max menghargai keputusanmu, belajarlah menghargai keputusan Max terlebih dahulu. Tidak ada suami gila yang tidak menghargai istri sendiri. Dia tidak pernah menyakitimu bukan?"
Edwin melupakan hal ini, bertanya tentang hal ini seharusnya dilakukan sebelumnya. Dia menepuk jidatnya merasa telah salah melempar pertanyaan.
Sara merasa dilema, entah apa yang harus dikatakannya di hadapan Edwin. Menilik dari sifat pria itu, Sara tidak ingin ada masalah di antara Edwin dan Max.
Edwin yang gampang terpancing emosi dan Max yang pintar membakar bom dalam diri seseorang. Tentu tidak bagus jika bertemu.
Karena itu, dia memilih menggeleng. "Meski terkesan dingin di luar, tapi sebenarnya dia orang yang hangat. Tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja."
"Sykurlah, aku merasa tenang. Sebaiknya kau pulang dulu, tidak baik bagimu berada di apartemenku sekarang."
"Kenapa? Aku temanmu, Ed."
Sara menolak saat Edwin menarik tangannya keluar.
"Kau istri seseorang. Aku tidak ingin kau mendapat cibiran lagi terlebih suamimu berada di tempat lain. Dan juga, balapan itu tidak bagus tanpa persetujuan suamimu. Kau sakit, aku tidak bakal bertanggungjawab lagi."
"Oh iya, bagaiaman dengan rencana kalian ke Himalaya?"
"Akan ku telepon nanti. Pergi!"
***
Meski sangat kesal karena Edwin tidak bersedia mengabulkan permintaannya, Sara memutar kemudi mobil ke tempat yang pernah dikunjungi olehnya dan Deborah.
__ADS_1
Bermain tembak-tembakan di tebing yang curam sampai puas, Sara memiliki ide untuk menaklukan tebing itu suatu saat.
Saat matahari tepat di atas kepala, dia kembali. Bukan ke mansion megah milik Max, tapi suatu tempat yang dulu dia sebut rumah meski kenyataannya tidak seperti itu. Malah seperti penjara api neraka yang sangat menyiksa, darah dan air mata banyak dia tumpahkan di sana.
Sedikit ragu, Sara berdiri termenung di gerbang utama. Beberapa penjaga di sana menunggu dengan sabar.
"Apa Peter di rumah?"
Seorang penjaga menyahut. "Tuan sedang bersantai hari ini, Nona."
"Oh, baguslah. Itu baik untuk kesehatannya," ucapnya asal.
Terjebak antara pilihan masuk dan tidak, Sara berlama-lama di sana.
"Apa barang-barangku masih di sini? Atau si tua itu sudah membuangnya?"
"Maaf, saya kurang tahu soal itu, Nona. Anda bisa mengeceknya langsung kalau penasaran."
Kesal dengan jawaban penjaga itu, mau tidak mau Sara memasuki gerbang yang keramat untuknya itu. Karena masuk ke sana, dulu adalah sesuatu yang mustahil baginya. Dan karena itu, Sara memilih bermain dan keluyuran di luar.
Menjadi petualang itu juga menyenangkan. Tidak seperti ruangan sempit dan penuh dengan kecoa dan tikus di rumah Peter yang besar itu. Udara dan cahaya bisa didapatkan dengan mudah, mengadu nyali dengan berbagai kegiatan ekstrim.
Semakin kakinya melangkah, rasa takut oleh kesakitan membayangi. Dan itu semakin dipererat oleh suara Peter yang sangat dingin.
"Apa kau dibuang oleh keluarga mereka? Pakaianmu menyedihkan."
Sara tidak menanggapi. Dia terus berjalan ke tempat yang ditujunya, dan dia merasa Peter terus mengikuti.
Mengambil beberapa alat yang digunakannya untuk snorkeling dan trekking, memasukkannya ke dalam tas dan berlalu dari sana.
"Ck, kau masih punya muka untuk pergi setelah dibuang oleh mereka? Apa kau akan bermalam dengan hewan buas di hutan lagi? Oh, serigala itu masih berada di tempat yang sama."
Sara menghentikan langkahnya, dia menoleh dengan tatapan tajam. "Kau sungguh ingin aku dibuang oleh Max? Hahaha, sayang sekali keinginanmu belum terkabul, Peter. Max tidak melepaskanku."
Sebelum membalikkan badannya, Sara menyeringai. "Aku sudah berteman dengan hewan buas yang kau maksud. Aku tuan mereka, dan budak akan melakukan apapun yang diperintahkan tuan mereka."
Mendapati bahwa Peter mengepalkan tangannya, Sara menyeringai lebar. Dia tahu Peter tak akan melakukan apapun jika berhubungan dengan uang. Dan Max adalah sumber uangnya.
"Dialah pemilik serigala yang menemanimu tidur malam itu, Sara!"
Sara menegang di tempatnya. "Aku tahu," ucapnya dingin. Menolak bahwa dirinya terkejut mendapati fakta itu.
"Apa kau tidak marah kalau ternyata suamimu penyebab kematian ibumu dan dia juga pemilik serigala yang membuatmu fobia?"
"Diam kau, brengsekk!"
Sara mengepalkan tangannya erat, entah itu fakta atau akal-akalan Peter, Sara menolak percaya. Dia tidak akan memercayai Peter semudah itu. Dan untuk Max, Sara belum memikirkannya.
"Kaulah penyebab dari segalanya!"
.
.
.
***
__ADS_1