SOLEDAD

SOLEDAD
Penyesalan


__ADS_3

Happy reading!


.


.


.


***


Sara terkejut bahkan sampai terjungkal ke belakang. Pemandangan di depannya sungguh bisa menghentikan debaran jantung.


Peter berdiri di sana, matanya memerah. Mungkin baru saja memarahi atau memukul Max. Tapi, Sara melihat tidak terjadi apa-apa pada Max. Itu yang membuatnya sedikit merasa lega.


Kaki Sara melangkah mundur bersamaan dengan Peter yang bergerak maju. Sehingga punggung Sara menabrak pintu yang baru saja ditutupnya. Dia ketakutan, mata Peter sangat menakutkan.


Memang benar yang dikatakan Max, mata merah itu benar menakutkan saat marah.


"Sara ...."


Sara meringkuk di tempatnya, tidak bergerak lagi kala Peter maju. Perasaannya kalang kabut. Rasa sesal bercampur rindu. Dia memberanikan diri menatap mata yang teduh nan tajam itu.


"P ... p-papa?"


Peter menengang di tempatnya. Sudah lama sekali sejak Sara memanggilnya seperti itu. Ada perasaan aneh yang membuncah di dadanya, mendorong tangannya untuk memegang pundak Sara.


Wajahnya kembali datar, menahan diri untuk tidak bahagia dengan panggilan 'papa' dari anak perempuan yang diberikannya pada Max, tidak, lebih tepatnya direbut Max darinya.


"Apa saja yang kau lakukan selama ini? Kau tidak ingat rumah? Apa Max tidak mengizinkanmu keluar atau pria brengseek itu mengurungmu?"


Sara membisu. Sekian lama tidak ada perhatian dari lelaki yang sering mengekangnya, kini mata merah itu menunjukkan keteduhan.


"Sara, ayo pulang," ucap Peter dan menarik tangan Sara yang saling bertautan.


Menatap tanpa kedip pada tangannya yang ditarik Peter, Sara berucap. "Aku minta maaf, Papa."


Secepat kilat, Peter melepaskan tangannya dan menoleh kaget pada Sara. Juga menatap pasangan suami istri itu bergantian.


"Apa maksudmu, Sara?"


Sara masih menunduk. "Aku minta maaf," ulangnya lagi.


Dan dia dibuat terkejut oleh suara Peter yang berteriak keras. "Apa maksudmu dengan maaf itu? Aku yang seharusnya minta maaf karena memberikanmu pada pria sialan ini!"


Peter menunjuk Max yang masih diam memerhatikan ayah dan anak yang sedang melepaskan rindu dengan cara yang aneh itu.


Kalimat itu membuat Sara mendongak. Untuk itukah Peter datang ke kantor Max?


"Aku yang seharusnya minta maaf, Papa. Kau Papaku," ucap Sara sambil berhambur memeluk Peter. Dia menanggalkan seluruh egonya, memasang perisai kuat pada tangannya untuk menembus seluruh rasa takut yang mengikat.

__ADS_1


Air mata yang dia tahan selama ini akhirnya jatuh bersamaan dengan kalimat itu. Menyesali apa yang sudah dia lakukan dan katakan selama ini pada lelaki paruh baya itu.


"Aku tahu kau menyayangiku dan kebenarannya sudah aku ketahui."


Isakan kecil keluar dari bibirnya disertai dengan derasnya air mata yang membanjiri pipi mulus itu. Sara menangis sambil memeluk Peter.


"Kau melarangku keluar agar aku tidak bertemu Thompson, bukan? Aku bertemu dengan orang itu di Italia, dia tidak sebaik dirimu, Peter."


Sara merasakan tubuh yang dipeluknya itu menegang, disertai dengan tangan yang mendorongnya untuk menjauh. Sara melihat api amarah kembali menyala di mata Peter.


"Apa maksudmu, Anak Bodoh?! Kau bertemu bajingann itu?! Kenapa kau melakukan ini padaku, Sara?"


Max berlari mendekat dan menangkap pergelangan tangan Peter ketika tangan lelaki itu hendak menampar Sara. Peter marah, Sara bingung kenapa lelaki yang disayanginya itu marah. Dia hanya bisa berdiri mematung, menunggu Peter memukulnya jika Max tidak cepat dalam bertindak.


"Kenapa kau melakukan ini? Apa kau ingin meninggalkanku demi orang brengsekk itu seperti yang dilakukan ibumu?!"


Sara menggeleng dengan air mata yang kembali mengalir deras. Lebih menyakitkan mendengar suara Peter yang seperti putus asa daripada ancaman yang diberikan Thompson padanya. Rasa sesak itu membuatnya tidak berdaya.


"A-aku ... minta maaf, P ... papa ...."


Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Sara. Dia hancur. Perilakunya dulu benar-benar meninggalkan luka di hati Peter, Papanya, surganya.


Peter menggeleng kuat, meronta agar Max melepaskan cekalan tangannya. "Lepaskan aku, Brengsekk! Kau menjebakku agar mengambil putriku dan kau juga hampir membiarkannya menjadi santapan Thompson! Apalagi yang kau inginkan? Kau juga merebut Alara dariku. Kau mengambil semua milikku, Maxwell," ucap Peter sarkas.


Dia memegang dadanya dengan napas terengah-engah saat menyebut nama mendiang istri. Rasa sakit kembali dirasakan Peter, matanya tidak lepas dari Sara.


Di akhir kalimat itu, Peter terjatuh membuat Sara kembali syok. Dia berteriak histeris.


"Papaaaa!!!"


***


Satu hari waktu yang sangat lama bagi Sara. Menunggu tetaplah hal yang menyebalkan. Dia menunggu, terus menunggu mata merah itu terbuka.


Sambil menggumamkan doa, Sara memegang tangan Peter yang dia rasa menjadi kurus. Lelaki paruh baya itu jatuh sakit, syok karena tidak bisa menerima kenyataan. Sara telah bertemu Thompson, ayah yang seharusnya bersama Sara. Ayah kandung Sara yang selalu dia sembunyikan kebenarannya, berharap anak perempuannya tidak mengetahui apapun.


Dan satu hal yang Sara sangat sesali, dia tidak tahu riwayat penyakit yang diderita Peter. Kesibukan traveling dan tidak pernah peduli dengan Peter, menjadi alasan utama.


Ketidaksukaannya pada Peter yang selalu mengekang, membuatnya perlahan-lahan benci pada lelaki itu. Sara keras kepala, tidak suka diatur dan dipaksa.


Tapi Peter selalu melarangnya melakukan apapun. Dan kini Sara paham, mata merah yang selalu menatapnya tajam itu menyimpan banyak kepahitan dan penderitaan.


Rasanya ditinggalkan, dibohongi, Sara paham perasaan Peter. Terkurung dalam penyesalan yang tiada ujung, Sara merasakannya.


Sara menyesal telah membangkang, melawan dan memaki Ayahnya, malaikat di hatinya itu. Banyak hal yang disimpan Peter hingga mengidap penyakit serius yang tidak pernah diketahuinya itu.


Mulut yang selalu menggemakan kebencian itu terus bergumam, menambah rasa sakit dan penyesalan di hati Sara.


"Alara, kau sangat jahat padaku. Kau bisa saja tidak mencintaiku, tapi kenapa kau membiarkan Sara-ku tahu kalau dia bukan anakku? Kau sekali lagi menghancurkan hatiku, Alara."

__ADS_1


Sara menangis dalam diam, menutup mulutnya agar isakan itu tidak terdengar ke luar. Papanya, Peter yang selalu dibencinya ternyata sangat menyayangi dirinya.


Sara bodoh, sangat bodoh hingga dia ingin mati rasanya. Lelaki itu menanggung beban, bahkan dalam lelapnya, mata itu meneteskan cairan bening.


Kesakitan dan kerinduan kembali dirasakan Sara, mungkin itu juga tengah dirasakan Peter, atau lebih tepatnya yang selama ini Peter timbun. Sara tidak tahu, tapi kalimat yang keluar dari mulut Peter menjelaskan kerinduan lelaki itu. Rasa cinta yang terpendam.


"Aku membencimu, Alara, tapi kau cintaku. Seberapapun kau menghancurkan hatiku, aku mencintaimu dan Sara kita. Dia malaikat kecil kita .... Aku menyayanginya, hingga tidak tahu cara memanjakannya."


Sara terus terisak, memegang erat tangan yang dulu menimangnya dengan penuh kasih sayang. Berharap mata itu terbuka, bibir itu kembali mengucapkan kalimat benci padanya.


Sara ingin mengatakan kalimat yang tidak pernah dikatakannya pada Peter. Bahwa dia menyayangi Papanya, membutuhkannya, dan tidak ingin kehilangan.


Manik cokelatnya bengkak karena air mata. Seharian Sara menangis, duduk sendiri di ruang VVIP yang dikhususkan untuk Peter. Mengusir Max keluar, hingga tidak ada yang mengganggunya saat menangis.


Makanan tidak diindahkannya, seperti saat ini. Max menyentuh pundaknya, tapi Sara menggeleng dan mengisyaratkan untuk pergi.


"Kau belum makan sejak pagi, Sayang. Kau harus kuat untuk menjaga Peter."


Sara terus menggeleng. Menolak untuk menatap mata biru yang sinarnya juga mulai meredup. Max juga salah mengira, kasih sayang yang Peter tunjukkan berbeda, dan semua orang menyangka kalau dia menyakiti dan tidak memperlakukan Sara dengan baik.


"Aku akan menyuapimu, makanlah sedikit saja."


"Aku tidak mau, Max. Berhenti mengoceh di sini."


Tapi Max tidak menyerah. Dia menyendokkan nasi, ingin menyuapi istrinya tapi Sara menolak.


"Pergi dari sini, Max! Aku tidak ingin diganggu!"


Menyentakkan sendok dari tangan Max hingga benda itu jatuh bersama dengan nasi yang di dalamnya. "Jangan datang lagi ke sini, jangan datang sampai Papa bangun!"


Sara kembali menangis, menunduk dan menggenggam tangan Peter. Tangan yang dulu kekar dan kuat, kini mulai mengerut dan ototnya berkurang.


Waktu mengikis jarak di antara mereka dengan kebencian yang membentang, membatasi interaksi keduanya. Sara tidak tahu apapun tentang Peter, bahkan usia yang bertambah tidak disadari Sara. Papanya telah lanjut usia.


"Bangunlah, Papa. Benci aku, katakan kau membenciku saat kau bangun. Larang aku agar tidak pergi pada Thompson, kau membencinya, bukan? Halangi aku agar tidak pergi padanya."


Air mata di pelupuk mata Peter kembali berderai, Sara menghapusnya lembut. Tapi mata merah itu enggan terbuka. Hanya jemarinya yang bergerak kaku, gelisah dalam tidur lelapnya.


"Bangunlah, aku merindukanmu. Aku janji, saat kau bangun nanti, aku akan menjadi putri yang penurut padamu. Jangan tinggalkan aku seperti yang dilakukan Mama padaku."


Max yang masih berdiri di sana menarik kepala istrinya untuk bersandar di tubuhnya. Membiarkan Sara menangis sepuasnya dan lelah hingga tertidur.


.


.


.


***

__ADS_1


__ADS_2