SOLEDAD

SOLEDAD
Something


__ADS_3

Happy reading!


.


.


.


***


Perempuan berambut pelangi itu meringis kesakitan, lengan dan kakinya terkilir. Untungnya, hanya sedikit darah yang menguncur.


"Max sialan, aku tidak akan patuh padamu lagi nanti," gerutu Sara seraya menyeka darah di sikunya dengan daun pohon yang segar.


Seraya melakukan itu, dia berputar-putar mencari jalan keluar dari tempat yang sunyi itu. Jurang tempatnya jatuh tidak terlalu curam, juga bukan jurang yang berbahaya hingga dirinya berhasil selamat dan tidak terluka parah.


"Sekalipun aku berteriak, tidak akan ada orang yang mendengarnya. Meski Max ada di sana, dia pasti berpura-pura tidak dengar karena inilah misinya hari ini. Menghukumku!"


Sara menghembuskan napas gusar. Mencari jalan keluar semakin membuatnya bingung. Jurang itu layaknya labirin yang menyesatkan dan sulit mencari jalan keluar.


"Aku tidak tahu apa maksudnya ini, tapi dilihat dari bentuk dan daerah ini seharusnya tidak sulit mencari jalan keluar. Bahkan matahari masih bisa kulihat."


Masih berputar-putar di daerah jurang, Sara semakin bingung saat ia kembali lagi ke tempatnya semula.


"Aneh, aku berjalan semakin jauh tapi semakin cepat pula aku sampai di sini, tempat yang menyebalkan," ucapnya kesal dan menghentakkan kakinya.


Disaat kakinya terasa ngilu, Sara berhenti sebentar dan melanjutkan lagi pencarian jalan keluar. Hingga seekor serigala mengejutkannya.


"Jangan mendekat!" teriaknya waspada.


Seakan mengerti, hewan itu berhenti dan menatapnya dari kejauhan. Mata serigala itu mengerjap pelan dan sesekali ia hendak maju tapi tertahan oleh teriakan Sara.


"Tolong jangan mendekat ...."


Tak bisa melanjutkan langkahnya, Sara gemetar di tempatnya berdiri. Matanya hendak beranak sungai tapi diusahakannya agar pandangannya tidak buram dan mengakibatkan hewan bertaring runcing itu mendekatinya.


Kakinya seakan tak memiliki tenaga untuk berdiri, hingga akhirnya ia terduduk lemas sambil memeluk erat tubuhnya.


"Mungkin inilah akhir dari hidupku yang malang ini. Mati diterkam serigala milik suamiku sendiri, dan tidak akan ada yang mengetahui kematianku. Bahkan mayatpun tidak akan ditemukan ...."


Sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes, Sara berusaha bangkit meski kakinya gemetar. Bersamaan dengan itu, serigala itu melolong panjang membuatnya semakin takut dan kembali terduduk.


Tak ada yang bisa dilakukannya lagi. Ia tidak berharap dirinya diselamatkan lagi seperti kejadian bertahun yang lalu. Seorang anak muda tampan yang tidak berbicara sepatah katapun padanya dan pergi setelah mengeluarkannya dari sarang serigala.


"Tidak, sudah cukup aku bergantung hidup pada orang lain. Tidak ada kali kedua lagi, aku pasrah sekarang. Meski Claire, Edwin, Alana, Roni dan teman-teman yang lain tidak ada di tempat pemakamanku, aku harap mereka tetap mengingatku."


Lolongan serigala itu seakan sebuah kode untuk memanggil rekannya. Karena itu, banyak hewan yang datang mengelilinginya membentuk sebuah lingkaran.


"I ... ini ...," suaranya tercekat di tenggorokan.


Sekalipun ia ingin berteriak ataupun melarang serigala-serigala itu untuk tidak mendekat, suaranya tidak keluar lagi. Pita suaranya seakan menghilang bersamaan dengan tenaganya yang terkuras habis setelah dikelilingi hewan-hewan itu.


Terduduk sambil memasrahkan diri jika benar-benar dirinya akan diterkam, Sara menutup matanya rapat-rapat. Membungkam mulutnya dengan telapak tangan dan menundukkan kepala di antara kedua lututnya.

__ADS_1


Ia siap. Ia sudah tidak punya harapan untuk hidup lagi. Tidak ada lagi yang harus ia pikirkan tentang dirinya dan masalah perusahaan Peter yang telah membuangnya kembali ke dalam sarang serigala lewat diri Max.


Semuanya berakhir hari ini. Mama, tunggu aku di sana, bisiknya dalam hati.


***


Sementara itu, dari kejauhan pria bermanik biru yang sedari tadi mengikuti kawanan serigala itu melihat semua yang dilakukan istrinya. Dia sengaja tidak mendekat karena mengira Sara akan berlari dan menjauh dari hewan-hewan itu.


Nyatanya, meski punya kesempatan Max tidak melihat Sara mengambil kesempatan itu untuk berlari. Dan itu membuat Max geram. Ia mendekat saat Sara pingsan dikelilingi kawanan serigala itu.


"Ternyata traumamu tidak berhasil sembuh, Sara."


Ia mengangkat tubuh langsing itu dan membawanya keluar.


Setelah memastikan semua serigala kembali ke tempatnya, ia membawa istrinya ke mobil.


"Perempuan bodoh, tidak bisa mengatasi emosimu sendiri. Harusnya kau sudah bisa keluar dari jeratan masa lalu yang kelam, Sara."


Max menyelimuti Sara dengan jasnya lalu menghidupkan mesin mobilnya dan pergi dari tempat itu.


"Suatu hari nanti kau tidak akan takut lagi pada serigala, Sara."


***


"Panggilkan Gemma kemari!"


"Siapa yang sakit, Señor?"


"Jangan banyak bertanya! Lakukan saja perintahku!"


Max menghempaskan tubuhnya di sofa. Memejamkan mata sejenak, ia tidak menyangka ketakutan Sara sampai separah itu.


Teringat lagi tentang kekasih masa lalunya yang menghilang, Max seringkali membawa Alana ke sana untuk berteman dengan para serigala. Menciptakan hunian baru di alam bagi kedunya, bersama dengan kupu-kupu dan burung yang berkicauan.


"Ah, sudah berapa kali aku merindukanmu dalam sehari, Lana," gumamnya. "Kau semakin membuatku merasa bersalah telah menikahi perempuan itu."


Matanya melirik ke arah Sara yang masih terlelap dalam tidurnya. Mungkin perempuan itu sedang berbahagia di alam mimpinya dan enggan terbangun.


"Dia tidur seperti babii," ucapnya sambil mengusap wajah.


Entah dorongan dari mana, Max mendekat dan mengecup hidung mungil Sara. Kemudian turun ke bibirnya dan kembali menjelajahi seluruh wajah sang istri.


Tidak hanya di situ, tangan nakalnya juga bergerilya, mengukur setiap jengkal tubuh Sara. Tidak ada pergerakan dari perempuan itu membuatnya leluasa bergerak.


Pikirannya tidak terisi, kosong melompong dan tidak ada yang dipikirkan lagi. Ia menggerakkan tangannya sesuai naluri kelelakiannya dan berlabuh di tempat yang sensitif oleh sentuhan.


Pergerakan sedikit dari Sara menghentikan tangannya. Ia mendongak, saat melihat mata Sara tidak terbuka, ia melanjutkan lagi aktifitasnya, mengganggu istrinya yang terlelap.


Ketika pikirannya kembali ke alam normal, Max segera menarik tangannya yang telah menjelajah alam yang bukan miliknya.


"Astaga, apa yang baru saja kulakukan," gerutunya sambil memukul kepala. "Sialan, aku pasti sudah gila."


Sambil membuka kemejanya, Max memerhatikan penampilannya di cermin.

__ADS_1


"Aku tampan, seharusnya Alana tidak bisa meninggalkanku. Dia pasti akan kembali padaku."


Ia memeragakan berbagai gaya yang menurutnya maskulin di depan cermin itu. Tidak kaku dan bersifat normal.


"Lihat, bahkan senyumku sangat manis, tidak mungkin ada yang bisa mengalahkannya. Ototku juga sangat keras, dan perutku memiliki enam kotak. Aku melebihi model kelas atas ataupun aktor terkenal yang sangat tampan itu."


Kemudian menyentuh rambutnya yang berwarna cokelat. "Ini alami. Aku menjadi luar biasa tampan karena rambut ini, ditambah dengan hidung mancung yang sangat menggoda ini. Kau akan terpesona beribu kali lipat oleh ketampanan kekasihmu ini, Lana."


Tanpa ia sadari, seseorang di ranjang membuka matanya dan mendengar semua kenarsisannya. Setiap kalimat yang ditujukan untuk kekasih yang sangat dicintainya itu, didengar Sara dengan seksama.


Perempuan itu tersenyum miris, menutup lagi matanya yang sempat terbuka. Berusaha keras menutup telinga yang sialnya masih mendengar setiap ocehan Max tentang dirinya yang tampan dan tidak bisa ditinggalkan Alana.


'Sangat miris, kau tidak menikahi wanita yang kau cintai dan malah terjebak pernikahan denganku.'


Sara meremas selimut yang membungkus kulitnya, menahan gejolak di dadanya yang menyesakkan. Ada rasa penyesalan di dalam hatinya mengingat Max tidak bisa menikahi wanita yang dicintai.


'Harusnya aku mati saja tadi agar tidak menghalangi keinginanmu untuk menikah dengan Alana. Untuk apa kau membawaku dari sana?'


Sara menitikkan air mata dan secepat mungkin menghapusnya agar tidak membasahi bantal. Ia bergerak dan berpura-pura baru terbangun.


"Max?"


Pria itu menoleh lalu mendekat. Sara baru menyadari bahwa Max tidak memakai baju. Ia terbelalak kaget.


"K-kau tidak memakai baju?"


"Kau sudah terbangun? Kau tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?" Max tidak menjawab pertanyaannya tapi malah mencecarnya dengan pertanyaan yang sudah tahu pasti jawabannya.


"Aku tidak apa-apa. Pakai bajumu."


Bukannya menurut, Max merebahkan dirinya di samping Sara dan memeluk erat perempuan itu.


"Aku gerah, lagipula tidak perlu menutupinya. Semua ini milikmu," ucap Max dan membawa tangan Sara untuk menyentuh perutnya.


Milikku? Kau milikku sebatas nama dan hubungan di atas kertas, hati dan ragamu bukan milikku. Aku tidak akan egois, Max, dan akan pergi saat kau mengusirku.


"Kau belum pernah menyentuhnya, bukan?"


Sara mematung. "A-aku sudah ...." Suaranya terputus. Entah kenapa ia merasa malu sendiri jika mengingat dirinya mengambil kesempatan menyentuh perut kotak-kotak milik suaminya saat menggosok tubuh Max waktu mereka mandi.


Ia menyembunyikan wajahnya yang memanas dari pandangan Max.


"Oh? Kau sudah pernah menyentuhnya? Aku tidak merasa pernah mengizinkanmu menyentuhnya, Sayang. Atau ...?"


Max menaik-naikkan alisnya saat wajah Sara semakin menunduk. "Atau kau mencuri kesempatan?"


.


.


.


***

__ADS_1


Love,


Xie Lu♡


__ADS_2