SOLEDAD

SOLEDAD
Persiapan


__ADS_3

Happy reading!


.


.


.


***


Wajah datarnya kembali terlihat setelah mendapat kabar kematian wanita tua yang pernah membantunya. Rahang Max mengetat dan tangannya tanpa disadari sudah mengepal.


Kilatan amarah yang terpancar dari manik biru itu membuat suasana di ruangan mencekam. Dengan langkah pasti, Max berjalan keluar, turun ke bawah dan membawa mobilnya membelah kerumunan ibukota di siang itu.


Dia juga menerima kabar dari bodyguard yang bertugas mengawasi Sara. Istri galaknya itu keluar, pergi ke suatu tempat yang dilewatinya pasca mencari identitas Sara dulu.


Max ingin mengejutkan istrinya, karena itu dia memarkirkan mobil di depan bangunan, di seberang jalan. Mengambil ponsel dan menelpon istrinya.


"Berikan aku lokasimu! Sekarang!"


Max bisa mendegar nada suara Sara yang menahan kesal. "Aku akan menunggumu di pinggir jalan."


Bibir Max menipis, tertawa mengejek. "Mereka mengikutimu, Sayang. Berikan saja aku alamatmu."


Tapi kekeraskepalaan wanita membuat Max terkekeh. "Kau punya penembak jitu di mana-mana, apa aku khawatir akan terluka?"


"Oke, sekarang turunlah! Aku menunggumu di pinggir jalan."


"Eh?! Apa maksudmu?"


"Tidak bermaksud apa-apa. Turunlah, atau aku akan meratakan tempat ini sekarang juga."


Max melihat dari dalam bangunan Sara keluar dengan pakaian acak-acakan, celana panjang yang robek-robek dan kemeja yang kusut. Sudah usang pula. Kening Max berkerut, mengingat dia pernah melarang Sara memakai pakaian seperti itu.


Max hanya menggeleng pelan. Tidak mudah mengubah kebiasaan sang istri yang keras kepala. Semakin Sara mendekat ke arahnya, mata Max menangkap ada orang yang mengikuti.


Bibirnya terangkat ke atas, menyeringai tipis dan memerhatikan gerak-gerik orang mencurigakan itu.


"Sayang, aku merindukanmu." Max mengatakannya dengan keras tatkala Sara sudah di depannya. "Kenapa pakaianmu seperti ini lagi?"


Mata Max menyipit, menilik perubahan ekspresi istrinya. "Jangan bilang kau masih menyembunyikan benda seperti ini di rumah kita?"


Dari matanya yang memutar tidak tentu, Max tahu yang dipikirkan Sara. "So?"


Sara memutar bola mata malas. Dia menarik tangan Max agar masuk ke dalam mobil.


"Mereka mengikutiku sejak aku keluar rumah," ujar Sara sambil terus menarik Max.


"Kau menyadarinya? Lalu kenapa tidak menelponku?"


Sara menggeleng. "Mereka belum bisa menyerangku, mungkin."


Dia menunjukkan pistol yang dia simpan di balik kemeja. Dan tanpa diduga, Max menyentil dahinya.


"Bodoh, kau tidak bisa melawan mereka begitu saja. Dan pistol kecilmu ini bisa direbut mereka sebelum kau memyerang. Lihat kemeja usangmu ini, gangster profesional akan langsung menyadari apa yang kau sembunyikan di baliknya."


Sara meringis sakit, dia melihat di kaca spion. Keningnya memerah. "Sialan," umpatnya.


"Eh, tunggu. Aku membawa motor ke sini."

__ADS_1


Sara menahan tangan Max yang hendak menarik tuas mobil.


"Buang saja," jawab Max asal.


"Kau mudah sekali mengatakannya, Max."


"Lalu apa? Itu merepotkan."


Sara mengerucut. Dia hendak turun tapi Max menahan. "Lewis akan mengambilnya untukmu."


Mengangguk mengerti, Sara kembali diam di dalam mobil.


"Bagaimana dengan Kladius sekarang?" Sara bertanya penasaran.


"Dia sedang mempersiapkan pemakaman Luci."


Kembali kepala Sara mengangguk. Rasa sedih tampak di mata cokelatnya meski wajah khawatirnya ditutupi tampang datar.


Dia mengintip lewat kaca spion saat mobil melaju. Orang-orang yang mengikutinya tadi ikut menghilang. Entah mereka benar-benar pergi atau sedang mencari jalan lain untuk menguntit.


***


"Mereka menyerang orang-orang kepercayaanku lebih dulu, Alex. Perketat keamanan untuk mereka. Jangan lupakan Peter dan juga wanitamu. Mungkin saja target selanjutnya adalah dia."


Max menatap Alex yang berdiri di depan mejanya. "Apapun yang terjadi jangan sampai melukai mangsa kita. Wanitaku menginginkan nyawa orang itu."


"Kau yakin memasangnya di depan medan pertempuran, Señor? Itu berbahaya apalagi Señora amatiran dalam hal ini," ujar Alex khawatir.


Max terkekeh mendengarnya. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja, dan bola matanya kembali mengilat marah.


"Kau mendengar, bukan? Tempat persembunyian paling aman adalah tempat yang paling berbahaya."


"Kau melamun? Sialan, pergi lakukan pekerjaanmu sebelum siang."


Sebelum Alex benar-benar meninggalkan ruangan, pria itu menghentikan langkahnya sesaat dan berkata, "Aku hanya khawatir pada istrimu, Señor. Andai saja dia sedang hamil, itu akan lebih berbahaya bagi bayi kalian."


Kalimat sederhana yang mampu menerobos ke ulu hati Max. Lelaki itu menegang, memegang dadanya yang berdebar kencang. Ada sesuatu yang menyesakkan di sana, tapi bukan kesedihan.


"Alex sialan."


Namun tak urung bibirnya tersenyum. Andai benar ada raga yang berkembang di sana, maka dirinya adalah lelaki yang paling bahagia.


Khayalannya melambung tinggi, membawa serta Sara dan bayinya yang tidak ingin dia ketahui jenis kelaminnya. Hal itu berlalu untuk waktu yang sangat lama.


Bibir Max terus tersenyum, membuat seseorang yang baru sampai di sana mengernyit bingung dengan wajah ketakutan.


"Señor ...."


Max masih asyik di dunia khayalannya. Matanya terbuka tapi penampakan orang di depan seolah hanyalah sebuah benda yang tidak berarti.


"Señor ...." Sekali lagi Melanie memanggil. Tapi Max tidak menyahut.


Saat Melanie memberanikan diri mengetuk meja, disaat itulah Max mengerjap kaget. "Kau?! Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali, Nona Dedeo, ketuk pintu sebelum masuk kemari," ucap Max marah.


Wanita di depannya menunduk takut. Tapi saat kesadaran mengambil alih, Max berdehem. Mungkin ini keteledorannya hingga Melanie nekad.


"Kenapa kau masuk tanpa mengetuk pintu?"


"Saya sudah melakukannya, tapi Señor tidak menjawab. Maafkan saya, Señor ...."

__ADS_1


Max bisa melihat tangan Melanie sudah gemetar. Dulu dia selalu membentak bahkan memecat karyawan yang tidak mematuhi aturan, mungkin itu yang membuat Melanie sampai gemetaran.


"Emm ... baiklah, apa yang membuatmu datang ke sini?"


"Ada telepon dari Palma, Señor."


"Kenapa tidak sambungkan padaku?" Max mengernyit bingung. Matanya menatap Melanie tajam.


"Itu ..., Tuan Peter mengatakan ingin berbicara pribadi pada Anda, Señor. Dia menelpon karena ponsel Señor tidak bisa dihubungi, begitu juga ponsel Señor Alex. Dia hanya mengatakan itu dan menutup telponnya."


Max mengangguk. "Kau bisa pergi." Mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, benar saja benda pipih itu sedari tadi tidak diaktifkan.


"Terima kasih, Señor."


"Lain kali jangan sampai terjadi kesalahan yang sama."


Bos memang begitu. Salah, tetapi tetap tidak bisa disalahkan. Max tergelak membayangkan muka pucat sekretarisnya.


"Itulah keberuntungan menjadi bos," gumamnya kemudian, lalu menekan layar ponselnya, memanggil Peter.


"Bajingaan darat, apa saja yang kau lakukan? Kenapa ponsel jelekmu tidak aktif? Apa kau ingin membuatku mati karena kesal?!"


Max menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Umpatan dan teriakan Peter dari sana membuat gendang telinga berdengung.


"Hei, jaga emosi, Peter, itu tidak baik bagi kesehatan jantungmu. Apa yang membuatmu menghubungiku?"


"Bawa aku pulang ke Madrid! Aku mendapat kabar kalau Thompson sudah menyebarkan pembunuh bayaran untuk melawan Dioses La Muerte. Aku harus menjaga Putriku!"


Max menyeringai tipis. Suara Peter yang keras benar-benar membuat sakit telinga. "Aku bisa menjaga istriku dengan baik, Peter. Kau hanya perlu menikmati kekayaanku di sana," ucap Max berbangga diri.


"Menjaga katamu, sialan?! Jangan membuat anakku memegang benda laknat itu! Kau harus membayar dengan nyawamu kalau dia terluka!"


Sekali lagi Max terkekeh.


"Kau tidak bisa membayar kebahagiaan anakku dengan kekayaan yang tidak seberapa di sini. Perintahkan pilotmu untuk membawa aku pulang!"


Senyuman di bibir Max merekah. Kepedulian Peter pada Sara membuat hatinya menghangat. Istrinya tidak sendirian.


"Apa yang akan kau lakukan untuk menjaga Sara? Dengan mengorbankan diri?"


"Jangan menerka-nerka, Bajingann!"


"Atau membunuh Thompson? Sayangnya, istriku menginginkan kepala Thompson."


"Apaaa????!!!!!!"


Suara teriakan Peter membuat Max mematikan sambungan sepihak. Gendang telinganya benar-benar berdengung.


"Sialan, sudah tua tapi tenggorokannya masih kuat."


Serigai kembali tercetak di bibir Max. Dia mematikan ponselnya agar Peter tidak mengganggu lagi.


"Aku tidak ingin kau mengganggu rencanaku, Peter. Tinggallah di sana sebelum semuanya berakhir."


.


.


.

__ADS_1


***


__ADS_2