
Happy reading!
.
.
.
***
"Kau masih memiliki Alana dalam hatimu! Kenapa kau sangat egois, Max?"
"Sara!"
Mendengar nama Alana disebut oleh Sara membuat memori tentang mereka terputar otomatis di kepala Max. Masa-masa yang pernah dilaluinya bersama wanita itu kini mengapung lagi.
Bukan benci yang dirasakannya kini, hanya sebuah perasaan menyesal karena tidak bisa memiliki wanita itu seutuhnya.
"Kau tidak berhak cemburu dan melarangku melakukan apapun yang kusukai!"
Max menatap datar manik cokelat yang berkabut amarah itu. Sekarang Sara berani menunjukkan taring padanya.
"Aku berhak karena kau istriku. Aku bisa melarangmu melakukan apapun yang merusak nama baik keluargaku. Karena sekarang kau menyandang status sebagai istriku, jaga kehormatanmu."
Hati Sara mencelos kecewa, ia berpikir Max mengatakan itu karena perasaannya. Tidak menyangka Max lebih mementingkan nama baik keluarga dibandingkan dengan dirinya.
"Apa aku juga punya hak untuk melarangmu agar berhenti memikirkan wanita lain? Aku istrimu 'kan? Aku hanya menjalankan kewajiban agar kau juga tidak menanggung malu saat aku membangkang."
Setelah mengeringkan badannya dengan handuk yang selalu tersedia di sana, Max memanggul Sara di pundaknya.
"Max! Turunkan aku! Brengsekk sialan, turunkan aku!"
Sara memberontak dan memukul-mukul punggung Max, tapi Max tetap memanggulnya dan menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Kemudian menindih tubuhnya dan memerangkap tangannya di atas kepala.
"Lepaskan aku!"
Max menatapnya tajam, dan dengan mulut berbisanya ia mencium bibir Sara.
"Kau tidak berhak melarangku, Sara. Aku adalah aturan hidup mati yang harus kau patuhi. Lupakan tentang hakmu yang kau tuntut itu. Laksanakan saja kewajibanmu sebagai istri yang baik dan tidak tercela."
Sara terdiam melihat kabut amarah yang kini muncul di mata biru yang kelam itu, apalagi tangan Max yang menekan erat pergelangannya.
Tidak ada yang tahu isi hatinya, mencintai pria yang seharian ini marah dan cemburu padanya. Terasa menyakitkan, mengagumi tanpa diketahui oleh yang dikagumi.
"Lepaskan aku dulu, kau menyakitiku!"
Merasa bahwa cengkramannya terlalu kuat, Max mengendorkan cekalan itu.
"Ambilkan baju untukku!"
"Tapi kau menindihku, brengsekk!"
"Kau bisa memberontak, Sara. Lakukan saja!"
Tubuh Max yang terasa berat membuat Sara mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mendorong dan berusaha keluar dari kungkungan suaminya, tapi nyatanya Max tidak bergeming. Ia menikmati ekspresi Sara yang kesal dengan bibir yang mengerucut.
"Max!"
"Kau bisa, Sara!"
"Aku tidak bisa bernapas, sialan!"
Sekian lama Sara memberontak sampai tenaganya terkuras barulah Max melepaskannya.
"Jangan berpikir untuk bisa melakukan apapun yang kau inginkan, kebebasanmu kini milikku. Peter memberikanmu padaku untuk menjaga dan mengajarimu agar menjadi istri yang patuh."
Perempuan itu terdiam, antara percaya dan tidak pada perkataan Max. Yang ia tahu, Peter menjadikannya barang penebus hutang dan tidak memiliki wewenang apapun di rumah Max.
Sara menyadari, membantah perkataan Max juga mengurangi aset milik Peter, dan ia tidak peduli tentang itu. Selama Sara hidup setelah ditinggal ibunya, dia hanya tahu pergi bersenang-senang dan melakukan apapun yang diinginkannya.
Begitu pula sekarang, mendapat kabar bahwa teman-temannya akan mendaki puncak Himalaya, menantang nyalinya untuk ikut. Ia berharap semoga saja Max mengizinkannya pergi.
Tapi, mendengar pengakuan yang tersirat ancaman Max, nyali Sara menciut. Tak ingin memancing kemarahan Max, ia harus menjadi perempuan yang patuh.
Setelah berhasil lepas dari kungkungan pria itu, Sara menyiapkan baju untuk Max dan dirinya masuk ke kamar mandi lagi karena pakaiannya juga ikut basah.
__ADS_1
Namun tanpa disangka, Max juga ikut masuk.
"Nanti aku masuk angin, gosok punggungku."
Perintah yang tidak boleh dijawab tidak, Sara mengikutinya.
Keduanya terdiam cukup lama sampai Max membuka percakapan.
"Aku akan pergi ke Valencia besok. Untuk satu minggu ke depan, bersikap baiklah di rumah. Semoga aku berubah pikiran dan mengizinkanmu pergi ke Himalaya."
Sara terkejut. Dari mana dia tahu?
"Jangan pasang ekspresi seperti itu, Alex memberitahuku kalau rombonganmu akan ke sana tiga minggu lagi."
"Oh ..., apa kau serius dengan perkataanmu?"
"Aku bisa berubah pikiran, tergantung dari sikapmu selama seminggu ini."
Sara mengerucutkan bibirnya. "Aku akan patuh. Kau harus berjanji."
***
Hingga malam tiba, tidak ada percakapan nakal seperti biasa. Hanya perintah Max yang sesekali membuat Sara bangkit dari duduknya dan selebihnya keheningan mengambil alih.
"Jangan pakai pembatas!"
Max melempar semua guling ke lantai yang diletakkan di antara dirinya dan Sara. Dan terjadilah perebutan satu guling yang tersisa di antara mereka setelah semuanya berhasil dilempar Max.
"Sara, Lepaskan!"
"Tidak, aku ingin memeluk guling malam ini."
"Kau bisa memelukku sepuasnya."
"Tubuhmu tidak empuk."
Max menyeringai. "Tapi kau selalu tidur nyenyak saat ku peluk."
Sara yang merasa kesal membiarkan Max membuang guling itu dan sebagai gantinya, ia mengambil bantal dan menjadikannya guling. Tak ada guling, bantalpun bisa ku peluk, begitu pikirnya.
Max menepuk lengannya yang kokoh, bermaksud mengajak Sara tidur di sana. Tapi, kekeraskepalaan Sara membuatnya tidak mendengarkan. Ia tidur telentang tanpa menggunakan bantalan kepalanya.
"Kau bisa sakit jika begitu, Sara. Ayolah!"
"Justru lenganmu yang akan membuat kepalaku sakit. Kasur ini lebih baik."
Lama-lama Max merasa kesal juga diabaikan Sara seharian. Apapun yang dikatakannya, Sara menurut dalam diam, hanya perihal guling ini yang tidak diindahkannya.
"Kau masih marah? Jangan hanya diam saja, Sara."
Tidak ada jawaban. "Aku berubah pikiran sekarang, kau tidak diizinkan bersama temanmu lagi. Kau mengabaikanku."
Merasa kebebasannya terancam, Sara menurut. Kan tidak mati juga kalau sakit kepala sedikit saja. Ia berbaring di lengan Max.
Suasana berubah mencekam sesaat, Sara merinding. Ia mendongak dan mendapati Max juga menatapnya. Rasa takutnya bertambah saat tangan Max menyentuh pipinya dengan lembut.
"Sebegitu inginnya kau lepas dariku? Kau berubah menjadi kucing manis saat aku membicarakan tentang mereka. Kau ingin bebas?"
Sara tidak tahu harus menjawab apa, kejujuran saat ini terasa seperti jurang api yang akan menenggelamkannya, mati dan terbakar hangus tidak ada yang tersisa. Kebohongan juga percuma, Max telah mengetahui segala sesuatu tentangnya.
"Jangan pernah berpikir untuk lari dariku, Sara. Kau sudah kuikat dengan kekuasaanku, bahkan ke dalam tanahpun kau akan kutemukan."
Bagaimana dengan planet Mars? Atau Saturnus? Kau tidak mungkin menemukanku, Max.
Sara tetap diam, membiarkan Max berbicara sesukanya.
"Alana adalah masa laluku dan tidak ada yang bisa ku ubah dari itu. Kau mungkin tidak memercayaiku dan itu pantas. Kita tidak terikat cinta satu sama lain seperti kebanyakan pasangan, tapi kita saling memiliki, pernikahan memiliki arti lain untuk semuanya, Sara."
Sambil mengelus rambut istrinya yang sudah kembali ke warna normal, Max menjauhkan dirinya bermaksud mengintip ekspresi Sara. Namun, yang didapatinya sang istri sudah terlelap.
"Tidurlah, Kucing manis. Besok kau harus beraktifitas banyak," ucap Max sambil mengecup kening Sara.
***
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Sara dari ponselnya. Dan suara Adrian terdengar dari sana.
__ADS_1
"Sebentar," sahutnya seraya memakai sandal dan membuka pintu untuk Adrian.
"Untuk apa ini?" Sara menunjuk pada sebuah koper yang dibawa Adrian, berukuran agak besar.
"Señor membutuhkannya, Señora. Beliau punya perjalanan bisnis ke luar kota."
Sara segera paham dan mempersilahkan Adrian masuk.
"Maaf, Señora. Señor ingin Anda yang melakukannya sendiri."
Sara mengangguk dan membawa koper itu masuk. Bersamaan dengan itu, Max keluar dari kamar mandi.
"Kapan kau pergi?"
"Siang mungkin," jawab Max acuh, ia memang tidak tahu jadwal penerbangannya ke Valencia. Dia membiarkan Alex yang mengatur semuanya.
"Kau tidak yakin? Bukankah kau punya jet pribadi?"
"Ini bukan sesuatu yang mendesak, tidak perlu itu. Tolong siapkan pakaianku saja."
Sara segera melakukannya. Bukan persiapan yang berjalan mulus sesuai dugaan, Max memiliki muslihat untuk mempermainkan sang istri. Hingga terjadi lagi pertengkaran manis di antara keduanya.
"Jangan gelitik lagi, Max! Itu geli!"
"Kau yang memulai!"
Perut Sara kram akibat gelitikan Max. "Hentikan, Max, aku tidak tahan lagi."
Sampai napas Sara terputus-putus barulah Max menghentikannya.
"Kau harus menelponku lebih sering. Tidak boleh keluar kamar, dilarang manjat tembok atau turun lewat jendela, apalagi menemui pria lain seperti tadi."
"Huh?!"
"Adrian. Kau bertemu dengannya tadi."
"Itu tidak disengaja."
"Disengaja atau tidak, kau harus menghindar dan usahakan menutup matamu jika terlanjur melihat wajah mereka."
"Aneh sekali," gumam Sara seraya mengapit kedua belah bagian koper, menutupnya dengan sempurna. "Ada lagi?"
"Ya, jangan pikirkan pria lain, kau harus memikirkanku setiap detik."
"Lagi?"
"Dilarang mengubah penampilan saat aku melakukan panggilan video."
"Lagi?"
"Jangan nakal."
"Lagi?"
"Kau harus menciumku sekarang!"
Sara terbelalak kaget. Mesum!
Melihat sikap defensif yang ditunjukkan oleh Sara membuat Max menipiskan bibirnya. Istriku sudah tidak marah!
.
Kemarin ada pemain baru kan? Penasaan visualnya? Ini nih, Xie kasih gratisan😁. Awas meleleh😆
Bang Gerald😊
Siapa yang jadi idola kalian sesuai gambar? Komen yaaa❤
.
.
.
__ADS_1
***