SOLEDAD

SOLEDAD
Anne


__ADS_3

Jangan lupa like, komen dan rate 🌟5😊😘


.


.


.


***


Pikiran yang berkelana jauh menambah ritme detak jantungnya. Sara merasa rongga dadanya sesak, ditambah dengan senyuman bahagia Max saat melihat sosok perempuan itu memanggilnya.


Ada rasa tidak rela di dalam hati, suaminya tersenyum untuk perempuan lain. Bolehkah ia egois? Sara tidak ingin berbagi apapun yang ada pada diri Max, semua hanya miliknya.


Namun, sesaat ia sadari bahwa Max tidak mencintainya. Lalu, pantaskah ia egois? Perempuan yang ia yakini sebagai Alana itu adalah milik Max, mereka saling mencintai.


Sementara dirinya hanyalah seperti sekam yang akan hilang bila ditiup angin. Tidak berarti dan tidak pantas merasa memiliki apa yang bukan miliknya.


"Sayang, kau melamun lagi."


Satu kecupan lembut terasa di bibirnya. Dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri yang tidak pernah bisa menolak pesona Max. Semua kalimat yang terucap dari bibir pria itu bagai racun yang mematikan seluruh saraf sadarnya.


"Sayang? Hei, kau kenapa? Tatap aku," pinta Max lembut.


"Hm, maaf, aku sedang berhalusinasi," jawabnya sambil menatap manik biru itu.


Ia berpura-pura tersenyum untuk menutupi kegundahannya. "Kau belum memakai baju, Max."


"Tolong ambilkan untukku."


Perempuan itu bangkit menuju walk-in closet, membuka lemari baju suaminya. Sesaat ia termenung lagi.


Apa yang harus kulakukan sekarang? Jika Max benar-benar membuangku, apa masih ada rumah yang nyaman untuk kutinggali? Peter tidak menginginkanku, sekarang Max kedatangan wanita yang dicintainya. Aku pasti akan jadi perempuan terbuang, tanpa seorangpun yang peduli.


"Kau sangat suka melamun, aku akan menghukummu lagi untuk itu, Sayang."


Sara kaget, secepatnya ia mengambil sebuah kaos Max dan memberikannya.


Max mengernyit heran, kenapa ada warna kaos seperti itu di lemarinya. "Kenapa warna pink?"


"Hah?! Aku tidak tahu," jawab Sara gugup. "Mungkin ... mungkin milik kekasihmu itu."


Lagi, pria itu terheran. Kekasih yang mana, pikirnya. Setahunya, ia belum pernah memberitahu Sara tentang wanita yang pernah menjadi kekasihnya.


Terserah, tak mau ambil pusing, Max memakainya saja. "Mungkin saja," sahutnya.


Medengar itu, hati Sara berdenyut sakit. Entah apa yang terjadi, ia tidak mengerti lagi. Pikirannya kembali melayang jauh, terbang tinggi tertiup angin. Berharap kenyataan manis datang dan merangkulnya. Memeluk dan menjaganya dengan erat bak mutiara di dalam kerang.


"Melamun lagi," ucap Max kembali mengecup bibirnya. "Ada sesuatu yang mengganggumu?"


Menahan kegugupannya, Sara menghembuskan napas pelan. "Tidak ada, hanya merindukan seseorang."


"Hm? Seseorang? Siapa itu? Wanita? Atau lelaki lain, huh?"


Rentetan pertanyaan Max yang penuh geraman itu membuat Sara mundur selangkah.


Mata biru itu menatap tajam seakan ingin membelah raganya. Apalagi tangan Max kini mencengkram lengan atasnya, Sara menciut.


Apa ini? Kenapa dia tiba-tiba berubah? Bukankah tadi dia masih tersenyum penuh kemenangan? Kenapa? Apa yang terjadi?


"Aww ... Max, kau menyakitiku," tuturnya ketika merasakan cengkraman itu semakin kuat.


"Katakan! Katakan kau sedang memikirkan siapa!" teriak Max.


"Eh?"


Mengerjap pelan, Sara kini paham. Suaminya adalah orang yang sensitif ketika membicarakan pria lain. Panggilan sayang waktu itu untuk Edwinpun dilarangnya. Apa kali ini juga dilarang memikirkan bahkan merindukan pria lain?


"Katakan siapa yang kau rindukan!" gertak Max lebih keras ketika Sara masih terdiam.


"Bukan siapa-siapa."


Max tidak bisa mengontrol emosinya, ia mencegkram lengan Sara lebih kuat lagi sampai perempuan itu menitikkan air mata.


"Siapa lelaki yang kau pikirkan?! Beraninya kau memikirkan pria lain selain diriku!"


Sara terdiam, kini dia paham. Jika jawabannya tidak memuaskan, pasti dirinya akan terus disiksa oleh cengkraman dan tatapan tajam itu.

__ADS_1


"Mama ...," cicitnya pelan.


Perlahan, amarah Max mereda. Ia melembutkan tatapannya dan menarik Sara dalam dekapan.


"Kau tidak boleh merindukan pria lain. Tidak, bahkan sekadar untuk memikirkannya kau tidak kuizinkan."


Sesaat, tangis perempuan itu pecah. Ia membalas pelukan Max lebih erat. Rasa sakit di pundaknya perlahan menghilang karena sentuhan dan usapan Max di kepalanya.


"Jangan pernah berpikir untuk merindukan pria lain selain diriku. Aku suamimu dan yang berhak ada di pikiranmu hanya diriku. Kau mengerti, Sayang?"


Dalam dekapannya, Sara mengangguk pelan. Ia menelusupkan kepalanya di ceruk leher Max dan menghirup aroma lavender di sana untuk mendapatkan ketenangan.


"Maafkan aku, Max."


"Hm, setelah kau membayar karena membuatku marah," kata Max seraya menunjuk bibir dan lehernya.


Perempuan itu terbelalak tidak percaya. Haruskah ia tertipu oleh godaan iblis meski area yang ditunjuk itu menggiurkan dan membangkitkan sisi liarnya untuk beraksi.


Bukankah seharusnya Max yang meminta maaf padanya karena telah membuatnya menangis? Tapi, kenapa semuanya berbalik kepadanya?


"Dasar licik," desis Sara mencebikkan bibirnya.


"Cepat lakukan! Kau harus mendapat hukuman karena telah membuatku marah."


Tidak ada cara lain lagi untuk kabur dari situasi itu. Tangan Max sudah memerangkapnya di dinding dan wajah keduanya sangat dekat.


"Max ...."


"Hukumanmu bertambah."


"Ada yang menunggu di bawah ...."


"Aku tidak peduli. Hukuman tetaplah hukuman dan harus diselesaikan!"


Tahu bahwa semuanya tidak akan berpihak padanya, Sara menyerah.


"Lagi! Seperti yang pernah kau lakukan. Kalau tidak ...."


Nada penuh ancaman itu membuatnya menciut. Kekalahan berpihak padanya, ia tak bisa berbuat apa-apa.


***


"Kapan kau datang?"


"Sedari tadi. Aku menunggumu tapi tak kunjung turun, aku masuk ke kamar dan ternyata kau sedang bermesraan dengan istrimu. Dan sekarang, aku lelah menunggu di sini. Apa saja yang sudah kau lakukan?"


Max terkekeh seraya melingkarkan lengannya di leher perempuan itu. Jeanne Eustakia, adik perempuan Max yang berprofesi sebagai jaksa.


"Kau tahu apa yang dilakukan sepasang suami-istri."


"Ck, aku tidak menyangka kau bisa berbuat sejauh itu pada seorang perempuan." Annne memicingkan matanya menyelidik ekspresi sang kakak. "Sepertinya istrimu cemburu, Max."


Pria itu mengernyitkan keningnya heran. "Maksudmu?"


"Kau sekarang bukan kakakku lagi, sudah bertambah bodoh," Sungut Anne.


"Dasar bocah," ujar Max sambil mengacak-acak rambut Anne. "Dari mana kau tahu kalau Sara cemburu?"


"Oh, jadi namanya Sara," gumam Anne seperti mengingat sesuatu. "Siapa orang tuanya?"


"Kenapa? Sepertinya kau mengenal istriku."


"Aku bertanya karena penasaran. Tidak ada alasan lain."


"Kau bisa bertanya langsung padanya."


"Istrimu belum turun," ketus Anne. "Kau belum menceritakan padaku kronologi pernikahanmu ini, Kak."


"Kau sangat penasaran?"


"Tentu saja, siapa adik yang tidak penasaran dengan pernikahan mendadak kakaknya. Kau masih menyebalkan, Kak."


"Hm, terima kasih, aku tahu aku tampan. Aku mencintaimu."


Anne mencebik sebal, ia balas memeluk kakaknya.


"Kenapa kau tidak mengabariku tentang pernikahanmu?"

__ADS_1


"Kau sibuk."


"Aku langsung datang saat Mommy mengabariku kalau kakak merindukanku. Bagaimana aku tidak datang di hari pernikahanmu?"


Max terkekeh. Ia mencium puncak kepala Anne dan itu tidak sengaja dilihat oleh seseorang yang baru saja turun.


"Itu terjadi begitu saja. Jangan marah, ok? Kau tahu aku mengkhawatirkanmu. Kalau kau kelelahan, bagaimana dengan pekerjaanmu?"


Semakin langkah kakinya mendekat, hatinya terasa hancur diremas tangan tak kasat mata. Sara tidak kuat melihat Max dan perempuan itu berpelukan.


Apalagi mendengar perkataan Max yang sangat perhatian kepada perempuan itu. Sesaat Sara merasa ragu, apa selama ini ia tidak menyadari bahwa semua perlakuan Max padanya palsu?


Setiap sentuhan dan tutur kata pria itu seakan meyakinkan bahwa dirinya adalah seorang istri yang sangat dihargai. Tanpa ia sadari jika pria yang menjadi suaminya memiliki sisi seperti itu hanya untuk membuatnya merasa berbeda.


"Kau membuatku kecewa, Max. Aku satu-satunya milikmu, tapi kau melakukan itu padaku."


Kaki Sara berhenti melangkah, sekuat tenaga ia menahan air mata yang hendak turun. Tangannya mengepal seiring dengan hembusan napas yang memburu.


Haruskah aku pergi saja sekarang? Sudah tidak ada harapan bagiku di rumah ini. Wanita Max sudah kembali dan mereka bermesraan di sini.


Mendapat sikutan dari Anne di perutnya, Max menoleh dan mendapat tatapan tidak biasa dari istrinya.


"Sayang, bergabunglah bersama kami," ujar Max.


Sara enggan, tapi kakinya tanpa sadar mendekat.


"Duduk di sampingku!" pinta Max ketika menyadari istrinya akan duduk jauh darinya.


"Tidak, ini tempatku," bantah Anne keras. Ia melingkarkan lengannya di perut Max. "Sayang, kenapa kau memberinya tempat di sisimu?"


"Hm? A--"


"Diam! Kau hendak mempermainkanku? Aku bilang tidak boleh, berarti dia tidak boleh duduk di sampingmu!"


Max mengernyit heran, sejak kapan adiknya berubah galak seperti itu. Apalagi kepalanya sudah berada di pundaknya. Dan panggilan 'sayang' itu, apa artinya?


"Sayang ...," panggil Max pada istrinya yang sedang menunduk.


Sara diam tidak menyahut karena ia menyangka panggilan itu untuk perempuan di samping suaminya, perempuan yang ia anggap sebagai Alana.


"Aku kekasihmu, Max. Kenapa kau memanggilnya sayang?" protes Anne tidak terima.


"A--"


"Jangan berbicara apapun! Apa kau benar-benar sedang mempermainkanku dan memiliki wanita lain saat aku pergi? Kau brengsekk, Max!"


Max bertambah heran. Apa ini? pikirnya. Sikap Anne yang sedikit berbeda itu membingungkannya.


Tanpa mendengar apapun, Sara bangkit dari tempatnya dan berlari menaiki tangga dengan tubuh gemetar. Kakinya lemas, kehilangan tenaga untuk sekadar berlari lebih cepat. Ia tak menghiraukan panggilan Max yang menyuruhnya untuk turun.


Selepas kepergian Sara, tawa Anne langsung pecah. Ia memegangi perutnya yang terasa keram.


"Istrimu lucu, Kak. Lihat ekspresinya tadi. Dia menahan cemburu."


Seakan tersadar, Max mengapit leher adiknya dan mencubit telinganya.


"Dia pasti menangis lagi, Anne. Kau keterlaluan!"


Tawa Anne belum reda. Ia menikmati setiap ekspresi Sara yang menahan setiap perasaannnya.


"Jangan tinggalkan istrimu yang sangat lucu dan polos itu, Kak. Dia mencintai pria brengsekk sepertimu dengan tulus. Berbeda dengan rubah betina yang pernah kau perkenalkan padaku."


"Cinta?" beo Max tidak percaya.


.


.


.


.


***


Love,


Xie Luβ™‘

__ADS_1


__ADS_2