SOLEDAD

SOLEDAD
Surat


__ADS_3

Happy reading!😘


.


.


.


***


Penutup mata itu dibuka paksa membuat Sara merenggut dalam hati. Entah siapa yang melakukannya, ingin sekali Sara membunuh orang itu atau sekadar menendangnya agar merasakan sakit.


Setelah kain hitam menyebalkan itu terlepas, Sara memerhatikan sekelilingnya dan objek pertama yang lihatnya adalah seorang pria bertato. Ruangan terang ini membuatnya melihat jelas sosok pemilik manik hitam itu.


Tato pria itu memenuhi seluruh badan bahkan kepalapun tidak luput. Berbagai macam gambar terukir di sana dan gambar di lehernya membuat Sara mengernyit heran.


Kenapa tato Bunga Lotus merah yang mekar sempurna di lehernya tidak menunjukkan filosofi sebenarnya dari bunga itu, malahan terkesan sebagai cemoohan. Dalam hati, Sara mencemooh pria itu.


Entah ada maksud lain dari gambar itu, Sara tidak memedulikannya. Karena setahunya, Lotus Merah yang mekar sempurna mengandung arti kebesaran dan kemurahan hati.


Dan selain ekspresinya yang tajam, dia tahu pria ini adalah orang yang kasar dan penuh intimidasi, tidak menunjukkan tanda-tanda seseorang yang murah hati.


"Apa kau Elijah?"


"Kau mengharapkan siapa yang ada di sini?"


Sara menatap datar, dia menunduk dan menyadari tangan dan kakinya masih diborgol. "Kenapa ini tidak dibuka?"


Stephen menyeringai, dia memutar kepala Sara ke belakang dan membuat perempuan itu meringis kesakitan. "Kau harusnya bersyukur aku membuka matamu dan kau bisa melihat matahari. Lelakimu mengurung orangku di tempat gelap penuh jamur dan bakteri, bukankah aku lebih baik hati?"


Sara terkejut, dia menatap Stephen dengan tatapan bertanya.


"Kau tidak tahu? Ternyata Max tidak memberitahumu juga ya," ejek Stephen dengan nada mencemooh. "Alana yang kau kenal adalah orangku."


"Apa maksudmu? Kau pintar bercanda, Tuan. Max mencintai wanita itu dan kau ingin merebutnya dari Max?"


Sara terkekeh, berpikir bahwa spekulasinya benar. Karena kenyataannya, Max memang mencintai Alana dan karena alasan itu juga, dia kabur dari genggaman Max dan berakhir di sini.


Tetapi kekehan Stephen membuatnya waspada. Ada makna tersembunyi dari sorot mata lelaki itu.


"Kau bodoh! Atlanta adalah orangku, dan lelakimu telah jatuh ke dalam perangkap yang aku pasang," ucap Stephen menyeringai. "Jadi, kau juga sudah termasuk ikan bebas yang terperangkap masuk ke jaringku."


Kilat manik hitam itu sangat menyeramkan ditambah dengan seringai menakutkan membuat buku kuduk Sara berdiri.


Apa dia mengatakan kebenaran? Apakah yang dikatakan Max memang benar? Dia hanya menjadikan Alana umpan .... Tapi, aku tetap merasa sakit melihat apa yang terjadi petang itu.


Dan yang membuat Sara penasaran, kalau memang Alana adalah wanitanya, kenapa ....


"Kenapa kau melepas Alana sebagai umpan? Bukankah dia wanita yang kau cintai?"

__ADS_1


Sara melihat perubahan raut Stephen, bertambah kelam. "Cinta? Sungguh naif, wanita hanya permainan. Sekss lebih penting dari segalanya dan dia hanya budak di ranjangku. Memuaskanku membuatnya memiliki kedudukan tersendiri di tempatku."


Sara kaget, dia mulai mengetatkan kewaspadaannya pada pria bertato itu. Ternyata panampilan, pemikiran dan kelakuan pria ini sepaket.


"Kau ... tidak mencintai Alana? Apa ...."


"Sara, tidak semua perasaan mengungkapkan cinta. Adakalanya kau mengagumi seseorang tapi tidak merasa jatuh cinta. Aku hanya membutuhkan wanita, tidak ada waktu untuk mencintai," ucap pria itu miris.


Dan Sara menangkap ada sorot yang berbeda dari mata Stephen. "Kau bohong, matamu tidak mengatakan kejujuran!"


Stephen mendekatkan wajahnya membuat Sara memundurkan kepala. "Kau?! Apa yang kau lakukan?!"


"Lihat baik-baik mataku!"


"Untuk apa?! Mata hitammu jelek!"


Stephen mengerang, dia menangkap pergelangan Sara dan menghentikan pergerakan perempuan itu.


"Kau tidak akan tahu arti cinta tanpa sebuah pengorbanan, Sara. Berjuanglah jika kau ingin mendapatkan cinta sejati."


***


Meski tidak mendapatkan perlakuan kasar seperti yang terjadi di kapal waktu itu, tetap saja terkurung sendiri di ruangan sempit membuat Sara merasa pengap.


Tangan dan kakinya masih terikat dengan rantai panjang yang ujungnya berada di luar dan dipegang penjaga. Pencahayaan di kamar itu minim karena hanya satu bola lampu yang redup.


Makanan diberikan seadanya dan Sara tidak memiliki selera. Perkataan Stephen membuatnya kembali memikirkan semua yang telah terjadi.


Sara menunduk dalam, dia memegang rantai di tangannya. Seketika kesedihan menghampiri, merasa dirinya sangat patut dikasihani.


Apalagi bekas luka di tubuhnya membuatnya benar-benar kasihan. Sara tidak ingin menangis sekarang tapi air matanya tidak bisa dibendung lagi.


Sekali isakannya keluar, air bening itu menguncur deras. Tidak ada yang menginginkannya di dunia ini. Sekarang Max, lelaki yang berkata tidak akan melepaskannya itu kini telah menghilang.


Dia bahkan pernah berjanji akan menemukanku ke manapun aku pergi dan di manapun aku bersembunyi, kenapa sekarang tidak bisa menepati janjinya? Apa Max memang orang yang suka ingkar janji?


Sara menggeleng kuat. Dia masih memiliki sedikit keyakinan. Max memang mengingkari janjinya tentang tidak akan menyentuh Alana, tapi ada beberapa janji yang ditepati pria itu. Dan Sara tidak boleh mengklaim sebelah pihak.


Mungkin dia sedang berusaha mencariku, ya, dia pasti sedang mencariku. Aku tidak boleh berburuk sangka padanya. Hanya dia satu-satunya yang bisa menyelamatkanku dari pria kejam ini.


Sata tersenyum membayangkan kebebasannya dari penjara menakutkan itu. Dan suara pintu terbuka membuatnya menengok.


"Kau mengingat lelakimu?" Stephen tertawa, "Dia tidak akan datang. Aku telah memblokir aksesnya ke negara ini."


Sara tidak menyahut, dalam diam dia berharap itu hanyalah omongan belaka. Max pasti punya cara untuk lolos dengan cara licik.


"Aku membawakan makanan untukmu. Claudia, bawakan makanan itu!"


Sara tetap tidak menanggapi, dia menatap dinding putih di hadapannya. Dan langkah kaki seseorang masuk.

__ADS_1


"Temani dia makan, aku dengar dia tidak bisa makan sendiri. Aku punya hal yang perlu diselesaikan," ucap Stephen pada seseorang yang bernama Claudia.


"SĆ­, Signore."


"Perlakukan dia dengan baik, Claudia. Dia barang berharga yang ku miliki."


Setelah mengatakan itu, Stephen keluar dan benar-benar meninggalkan mereka.


"SeƱora, aku tahu kau sedih. Berpura-puralah kuat sampai akhir, semuanya akan cepat selesai."


Sara menoleh pada seseorang yang ternyata anak kecil itu. "Namamu Claudia?"


"Bisa dibilang seperti itu," jawab anak kecil itu.


"Berapa umurmu? Sejak kapan kau bekerja di sini?"


"Delapan tahun."


Sara mengangguk. "Kau tahu apa nama makanan yang kau bawa?"


"Ini Paella, SeƱora."


"SeƱora? Kau tahu aku orang Spanyol?"


"Aku juga tahu siapa kau, SeƱora. Makanlah, aku punya sesuatu yang harus diperlihatkan padamu," ucap anak itu.


"Aku tidak lapar, tunjukkan saja apa yang kau punya," jawab Sara acuh.


Dan tanpa diduga, anak kecil itu menunjukkan identitasnya. "Namaku Kladius, aku mengenal SeƱor Max. Ini yang dia berikan untukmu."


Kladius memberikan selembar kertas yang dilipat-lipat kecil dan memasukkannya ke dalam telapak tangan Sara.


"Aku harap kau percaya ada kesempatan kedua, SeƱora. Jangan sia-siakan hidupmu dengan menanggung kesedihan di sini."


Dan Kladius meninggalkan Sara tanpa menemani perempuan itu makan.


Sara menimbang dalam hati, apa yang harus dilakukannya dengan kertas kusut itu.


Tapi rasa penasaran mengalahkannya.


'Ku mohon, percaya padaku kali ini saja. Aku akan menjemputmu, Sayang. '


Tanpa terasa air mata yanya tadi kering itu kembali beranak sungai. Sara menangis dan menumpahkan air matanya di atas makanan yang diantarkan Kladius.


Aku akan percaya padamu kali ini. Dan aku harap kau tidak ingkar janji lagi.


.


.

__ADS_1


.


***


__ADS_2