
Kenan tiba di Kanada sekitar pukul 2 dini hari dan langsung menuju mansion nya untuk beristirahat. Rencananya Kenan akan berada di Kana selama 3 hari. Semua itu telah ia estimasikan dengan baik untuk menyelesaikan semua keperluannya.
Jika ada yang bertanya, mengapa selama ini Kenan memilih Kanada sebagai tempatnya bertugas? Jawabannya sederhana. Yakni, karena Kanada adalah negara dengan pengetahuan medis terbaik di dunia. Alasan lainnya adalah mentor nya sebagai dokter spesialis penyakit dalam merupakan seorang bertanah kelahiran negara berjulukan 'Pecahan Es' itu. Jadi, itulah intinya alasan Kenan selama ini menapaki karirnya di Kanada.
Keesokan harinya, usai sarapan Kenan segera menuju rumah sakit tempatnya bekerja. Rumah sakit milik sang mentor, Logan's Hospital. Nama sang mentor adalah Berhan Logan. Namun tidak seperti Kenan dan Farzan yang hubungan mereka layaknya anak dan ayah, hubungan Kenan dan Berhan murni antara anak didik dan sang mentor, sebagaimana mestinya. Hanya saja Kenan sangat menghormati sosok sang mentor, meski kini keahliannya sudah melampaui Berhan. Sebenarnya bisa saja Kenan mendirikan rumah sakit miliknya sendiri di Kanada, dan bisa dipastikan rumah sakit miliknya akan lebih maju dari rumah sakit milik Berhan. Hanya saja, ya, itulah salah satu bentuk penghormatan Kenan pada sang mentor.
"Subhodaya Vaidya Kenan, marali svagata. (Selamat pagi Dokter Kenan, selamat datang kembali.)" sapa seorang gadis cantik nan anggun dalam bahasa Kanada dengan senyuman termanisnya ketika Kenan memasuki ruang kerjanya. Ialah Gabela Logan, putri sulung Berhan sekaligus asisten Kenan sebagai dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit ini.
"Sunhodaya Vaidya Gabela. (Selamat pagi Dokter Gabela.)" balas Kenan dalam bahasa Kanada pula, datar seperti yang sudah-sudah.
Seperti yang sudah dijelaskan, meskipun terkesan dingin dan cuek, Kenan mempunyai kepekaan yang tinggi. Jadi, ia sangat tahu bahwa Gabela selama ini memendam rasa pada dirinya. Namun Kenan tidak pernah menanggapinya karena sama sekali tidak memiliki rasa pada gadis itu. Sama seperti Berhan, Kenan juga hanya menghormatinya sebagai anak sang mentor. Maka dari itu Kenan tidak bisa menjauhinya karena tidak ingin melukai perasaannya. Kenan hanya akan menunggu Gabela mengungkapkan perasaanya, dan akan ditolaknya dengan tegas.
Usai membalas sapaan Gabela, Kenan berlalu begitu saja melewati gadis itu menuju kursi kebesarannya. Hal pertama yang ia lakukan ketika baru saja mendudukkan dirinya adalah memeriksa data pasien yang akan ia tangani hari ini. Selama proses pemeriksaan, Kenan hanya diam dan fokus pada data-data tersebut.
Gabela yang sudah biasa dengan sikap dingin Kenan, tampak biasa saja meski jauh di dalam hatinya merasa sesak. Padahal beberapa saat yang lalu moodnya sangat baik mengingat akan bertemu dengan sang pujaan hati yang tidak ia temui selama dua hari. Namun apa yang ia dapati? Untuk kesekian kalinya ia harus menanggung rasa kecewa akibat diacuhkan. Kadang ia berpikir apa kurangnya dirinya, sehingga Kenan tidak sedikitpun tertarik padanya. Padahal di luar sana sangat banyak pria yang mengantri untuk bersanding dengannya. Namun sayang, hati itu sendiri yang memilih tempatnya untuk berlabuh tanpa bisa kita kendalikan. Dan begitulah Gabela yang sudah terlanjur melabuhkan hatinya pada Kenan, pria yang telah ia kenal selama 9 tahun silam sebagai anak didik kebanggan sang ayah.
Ya, Kenan baru menetap di Kanada 9 tahun yang lalu. 2 tahun sebelumnya setelah meninggalkan tanah air tercinta, ia menetap di Singapura melanjutkan studi S2 nya. Setelah itu barulah ia hijrah ke Kanada untuk melanjutkan studi S3 nya sebagai dokter spesialis penyakit dalam, sekaligus memulai usahanya membangun rumah sakit miliknya sendiri.
__ADS_1
Jika ada yang bertanya dari mana asal biaya untuk membangun usahanya? Jawabannya adalah selama masa studinya, Kenan juga sudah bekerja sebagai dokter kontrak. Dengan keahlian yang mumpuni dan tak diragukan lagi, jam terbangnya sangat padat. Sehingga penghasilannya tidak perlu dipertanyakan lagi betapa banyaknya. Bahkan tak jarang ia dikontrak oleh pengusaha-pengusaha ternama di dunia dengan bayaran yang sangat fantastis. Ia juga pernah di kontrak oleh ketua organisasi mafia terbesar di dunia sebagai dokter pribadi. Jadi, jangan heran jika Kenan mempunyai sang banyak koneksi, walaupun hanya berprofesi sebagai seorang dokter. Begitulah singkatnya biografi kehidupan seorang Kenan dalam meniti karir dan mencapai kejayaannya.
"Kapan waktu penanganan pasien pertama?" tanya Kenan pada Gabela tanpa mengalihkan perhatiannya dari data-data pasien.
"30 menit lagi Dok." jawab Gabela berusaha sebaik mungkin bersikap profesional.
"Hm... Mulailah bersiap!" perintah Kenan kemudian.
"Baik Dok." dengan patuh Gabela melaksanakan perintah tersebut. Gadis itu pun bergegas ke bilik praktek yang juga berada di dalam ruangan itu.
Begitu cepat waktu bergulir, tak terasa sudah memasuki waktu istirahat siang. Seperti biasa, semua pasien yang telah di tangani Kenan pagi ini tertangani dengan sangat sempurna tanpa celah. Bahkan Kenan tak hanya memeriksa sesuai keluhan para pasien. Ia juga memeriksa dan memberi solusi penanganan pada penyakit di luar keluhan yang tak sengaja terdeteksi selama proses pemeriksaannya. Dan itu sukses membuat para pasien serta keluarga pasien sangat puas dengan hasilnya. Kekaguman mereka juga semakin tinggi pada Kenan, termasuk Gabela yang tak henti-hentinya berdecak kagum dalam hati mengagungkan sosok sang pujaan hati, meski ini bukan kali pertamanya mendapati sisi perfeksionis Kenan ini, namun ia masih saja sukses dibuat terkagum-kagum.
"Apakah kamu tidak ingin makan siang, Ken?" tanya Gabela mendapati Kenan kembali sibuk dengan sebuah laptop di meja kebesarannya.
"Tidak untuk saat ini, aku masih memiliki kesibukan?" seperti biasa, acuh Kenan menjawab sembari terus berkutat dengan laptop. Beginilah sikap mereka saat di luar jam kerja, santai, tidak lagi menggunakan bahasa formal.
"Kesibukan?" kedua alis Gabela saling bertaut "Kesibukan apa? Perlu aku bantu?" tanyanya penasaran sekaligus menawarkan bantuan. Pikir Gabela, itu adalah kesibukan pribadi. Karena kalau masalah pekerjaan pasti Kenan akan menyerahkannya padanya. Yang membuatnya penasaran adalah tidak biasanya Kenan mengurus kesibukan pribadinya di waktu-waktu seperti ini. Biasanya Kenan akan melakukan itu di mansion miliknya sepulang bekerja.
__ADS_1
Sejenak Kenan menghentikan kesibukannya dan mendongak pada Gabela. Ia bingung bagaimana cara menjelaskan bahwa yang sedang menjadi kesibukannya adalah pembuatan surat pemindahan tugas. Pasti reaksi gadis itu akan berlebihan jika mengetahuinya. Dan yang ditakutkannya, gadis itu akan mempersulit proses pemindahannya apalagi jika mengetahui alasan kepindahan tersebut.
Sudah sekian waktu berlalu, namun Kenan belum juga menjawab, hingga akhirnya Gabela mulai tidak sabar. "Ken?" tegurnya kemudian.
Sontak lamunan Kenan dibuyarkan "Ehem... Sepertinya tidak perlu. Kamu duluan saja jika ingin makan siang, tidak perlu menungguku." jawabnya berusaha bersikap senatural mungkin.
Namun bukan Gabela namanya jika akan menyerah kalau rasa penasarannya belum terjawab. "Ken, apakah kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tebaknya.
"Tentu saja, ada. Bukankah setiap orang mempunyai rahasia masing-masing? Begitupun diriku dan dirimu." kilah Kenan ambigu dan sukses membungkam Gabela. Lagi-lagi Kenan menunjukan kepiawaiannya yang begitu ilahi dalam memainkan kata-katanya.
"Ugh..." Gabela pun tertegun tanpa tahu bagaimana harus menanggapi.
"Jadi, seperti itu. Kalau kamu mau makan siang duluan, silahkan, kalau mau menungguku, juga silahkan. Tapi, aku tidak bisa berjanji akan cepat, dan mungkin juga waktu istirahat makan siang ini akan ku habiskan dengan kesibukanku." lanjut Kenan berujar kemudian.
Gabela benar-benar kehabisan akal memikirkan cara untuk menjawab rasa penasarannya serta cara untuk mengajak Kenan makan siang berama. Terlebih lagi kondisinya juga tidak memungkinkan, yang memang sedang lapar sehingga tidak dapat berpikir maksimal. "Baiklah kalau begitu, aku akan makan duluan saja, SENDIRIAN." putusnya pasrah pada akhirnya dan sedikit menyindir dengan sengaja menekankan kata 'SENDIRIAN' berharap Kenan akan simpati dan mau menemaninya makan siang.
Namun sayang, itu hanyalah harapan semu. Yang disindir sedikitpun tidak bergeming. Kenan bahkan dengan polosnya mempersilahkan "Silahkan, semoga makan siang mu menyenangkan!" tutur pria itu dengan seulas senyum yang sukses membuat Gabela geram gemas sedap.
__ADS_1
Entahlah hanya Gabela yang tahu seperti apa rasanya geram gemas sedap itu. Dengan perasaan dongkol, gadis berusia 26 tahun itu pun berlalu meninggalkan Kenan.
Note : Semua percakapan antara Kenan dan Gabela menggunakan bahasa Kanada.