
Hoek hoek...
"Kamu baik - baik aja sayang?" tanya Kenan khawatir nan sedikit panik sambil mengurut pangkal leher belakang Fara yang baru saja muntah di wastafel yang berada di sudut ruang makan. Beberapa saat yang lalu keduanya hendak memulai sarapan, Fara tiba - tiba merasa mual dan segera berlari ke wastafel tersebut disusul Kenan yang dengan sigap mengikuti dari belakang.
Cuih...
Fara meludahkan sisa muntah yang masih tertinggal di mulutnya. "Fara baik - baik aja Kak." jawabnya sedikit lemas sembari mencoba menegakkan tubuhnya.
"Sepertinya kamu udah mulai ngalamin morning sickness sayang." tebak Kenan menyimpulkan dari gejala mual yang baru saja Fara alami.
"Iya, sepertinya gitu Kak. Lagian ini juga udah masuk 2 bulan usia kehamilan Fara." Fara sependapat dengan Kenan "Dan juga gejalanya emang seperti morning sicknees. Dari bangun tidur tadi Fara ngerasa badan Fara gak enakan, juga sedikit pusing. Dan barusan waktu ngehirup bau makanan Fara tiba - tiba ngerasa mual." imbuhnya yang memperjelas tebakan mereka.
Ya, tak terasa waktu berlalu, usia kehamilan Fara sudah menginjak 2 bulan menuju 3 bulan yang juga berarti usia pernikahannya dan Kenan sudah hampir 3 bulan. Setelah sejauh ini, hubungan Kenan dan Fara menjadi lebih baik lagi dan semakin bahagia. Ikatan rasa saling percaya dan terbuka merekapun semakin erat.
Ada gunanya juga kehadiran Andre dan Mita yang sempat menjadi batu sandungan dalam hubungan mereka, sebagai orang ke tiga. Berkat itu, Kenan dan Fara menjadi semakin dewasa dalam menanggapi setiap masalah yang datang menerpa, terutama dari perkara orang ke tiga yang mencoba masuk diantara mereka.
Berbicara tentang Andre dan Mita, kini Andre masih mendekam di balik jeruji, dimana usaha Ardan yang mencoba membujuk Kenan dan Fara untuk mencabut tuntutan mereka pada Andre tidak membuahkan hasil, sebab Ardan menyerah setelah mengetahui semua tindak pidana yang telah dilakukan Andre selama ini. Ardan justru berterima kasih kepada Kenan karena tidak menggugat kasus tersebut, sehingga tidak lebih memberatkan hukuman yang diterima Andre.
Sedangkan Mita, wanita itu kini tidak begitu gencar lagi untuk mengejar Kenan. Mungkin belajar dari apa yang terjadi pada Andre yang diketahuinya sebagai kerabat Kenan, namun Kenan sendiri tidak segan - segan memberinya hukuman atas kesalahannya. Mita beruntung, karena Kenan tidak mempermasalahkan tindakannya yang pernah secara diam - diam membayar seorang jurnalis untuk mengawasi Fara. Ralat, bukan tidak mempermasalahkan, melainkan Kenan hanya memberinya kesempatan kedua, berharap Mita tidak akan melakukan tindakan seperti itu lagi yang kasus Andre lah sebagai peringatannya.
Mungkin karena itu Mita tidak lagi gencar mengejar Kenan, yang entah telah menyerah atau belum, hanya Mita sendiri yang tahu. Namun dari gelagat Mita sejak pertemuan mereka di restauran saat makan malam bersama terakhir kali, wanita itu seolah telah menyerah mengejar Kenan, bahkan terkesan menghindarinya karena mungkin malu atas apa yang telah dilakukannya pada Fara. Meskipun mereka masih sering bertemu di NF Hospital, namun kedatangan Mita ke NF Hospital hanya berfokus pada pemeriksaan kesehatannya yang rencananya akan menjalani operasi pencangkokan tumor tahap dua, seminggu kemudian yang rencananya akan ditangani oleh Kenan langsung sebagai kepala dokter spesialis bedah NF Hospital. Setiap kali mereka bertemu atau berpapasan, Kenan dan Fara serta Mita hanya saling bertegur sapa singkat beramah tamah.
"Terus sekarang, kamu mau makan apa sayang? Kamu harus tetap sarapan loh." ujar Kenan setelah kembali mendudukkan Fara di meja makan dengan sedikit menjauhkan hidangan yang telah tersedia dari hadapan istrinya itu agar tak merasa mula lagi kala menghirup aromanya.
"Bubur ayam aja Kak, tapi biar Fara aja yang buat sendiri. Kak Ken lanjut aja sarapannya." tanggap Fara sembari kembali bangkit dari duduknya hendak beranjak ke dapur.
__ADS_1
"Eiitt... Gak sayang, biar Kakak aja." Kenan ikut kembali bangkit dari duduknya dan mencoba menghentikan kehendak Fara.
Fara menggeleng "Gak Kak, biar Fara aja. Nanti kalo Kakak yang buatin, bisa - bisa Kakak telat ke rumah sakitnya. Kakak kan ada rapat penting pagi ini, menyusun tim operasi yang akan menangani Mita minggu depan." ujarnya memperingatkan.
"Ugh..." sesaat Kenan tertegun tak dapat mengelak dari ujaran Fara yang memang benar adanya. "Tapi___"
"Fara udah enakan kok Kak. Fara yakin bisa sendiri buat buburnya. Lagian Fara juga pingin makan bubur buatan Fara sendiri. Kayaknya itu keinginan dede bayi." Fara memotong ucapan Kenan yang masih berniat tidak membiarkan dirinya untuk memasak sendiri. Pernyataan tak langsung yang menyatakan dirinya tengah mengidam, bukanlah sebuah dalih atau kebohongan. Itu memang benar adanya, dimana saat ini ia benar - benar ingin makan bubur buatannya sendiri yang ia yakini hal tersebut merupakan keinginan si calon Kenan junior dalam perutnya, alias mengidam.
"Beneran gitu sayang?" tanya Kenan tak begitu percaya.
"Iya Kak, beneran." Fara memutar kedua matanya sedikit jengah dengan sikap Kenan yang terlalu over protektif "Udahlah, Kakak duduk aja dan lanjutin sarapannya! Fara juga udah lapar nih, mau cepat - cepat masak. Kalo Kakak gini terus gimana Fara bisa masak?" ujarnya sedikit tidak sabar.
"Ugh... Ba- baiklah. Tapi kalo kamu perlu bantuan, langsung panggil Kakak ya!" menyadari kejengahan serta ketidak sabaran Fara, Kenan pun mengalah pada akhirnya. Ia tak mau membangunkan singa betina di pagi hari. Namun ia tetap memperingati Fara untuk memanggil dirinya jika membutuhkan bantuan, sebagai bentuk dedikasinya.
"Iya, iya, tenang aja Kak." tanggap Fara dengan malas mengiyakan "Ya udah, kalo gitu, Fara ke dapur dulu. Kakak lanjutin aja sarapannya!" titahnya, lantas beranjak menuju dapur tanpa menunggu tanggapan Kenan yang hanya dapat mend*sah lemah karena merasa tidak berdaya untuk membantu sang istri.
30 menit kemudian...
"Kamu yakin mau masuk kerja hari ini?" tanya Kenan pada Fara yang tengah membantunya memakai dasi.
"Hm." Fara mengangguk sembari terus fokus menyimpulkan dasi di kerah kemeja Kenan.
"Kamu yakin udah baik - baik aja?" tanya Kenan lagi.
"Iya Kak, Fara yakin." jawab Fara penuh keyakinan. "Ok, udah. Perfect!" serunya sembari tersenyum puas setelah selesai memakaikan Kenan dasi.
__ADS_1
Kenan ikut tersenyum puas dengan hasil simpulan Fara "Seperti biasa, Istri Kakak emang hebat!" pujinya.
"Iya dong! Siapa dulu? Fara gitu loh!" Fara bersidekap dada sembari sedikit mengangkat dagunya dengan bangganya.
"Uuhh..." Kenan mencubit gemas pipi kanan Fara "Istri Kakak kok ngegemesin bangeet!"
"Aww..." Fara mengadu sedikit kesakitan oleh cubitan Kenan yang memang agak keras saking gemasnya. "Kakak___ Umph..."
Kenan langsung membungkam bibir Fara yang hendak protes dengan bibirnya pula sembari menahan tengkuk istrinya itu agar tak memberontak. "Anggap aja ini sebagai kompensasi." ucapnya setelah melepaskan ciuman tanpa permisi nya.
"Umph..."
Namun sesaat kemudian, tanpa dapat bereaksi, malah Kenan yang kecolongan oleh balasan Fara yang mencium sang suami tanpa permisi secara agresif. Tersadar dari keterkejutan singkatnya, Kenan dengan senang hati membalas ciuman Fara tak kalah agresif.
Hosh hosh hosh...
Ciuman tersebut berlangsung cukup lama hingga mampu membuat Kenan dan Fara terengah - engah di akhir ciuman mereka. Sembari mencoba mengatur pernafasan masing - masing, keduanya saling menempelkan dahi dan ujung hidung satu sama lain serta saling tatap mesra.
"Ini baru bener, yang pertama mana cukup?" ucap Fara sedikit tersipu sembari terus mempertahankan posisi mereka.
"Hehe..." Kenan terkekeh gemas "Kamu bisa aja sayang." sumpah demi apapun, kalau tidak mengingat dirinya harus segera berangkat kerja, detik ini juga pasti ia sudah memboyong Fara ke atas ranjang dan menggauli istrinya itu. Namun mau bagaimana lagi, hasratnya memang penting, tapi kewajibannya lebih penting.
Hening...
Keheningan sempat terjadi selama beberapa saat, dimana Kenan dan Fara terus menikmati momen saling tatap mesra mereka.
__ADS_1
"Ehem..." Kenan berdehem demi menyadarkan dirinya yang hampir saja terbuai untuk kembali mencium bibir Fara yang bisa dipastikan akan berakhir di atas ranjang jika ciuman ketiga mereka terjadi. "Em, sepertinya Kakak harus segera berangkat sayang." ucapnya berdalih kemudian, setelah merelai posisi mereka yang saling menempelkan dahi dan ujung hidung tadi.
"Em, sepertinya begitu Kak." Fara menggaruk - garuk tengkuknya yang tidak gatal, merasa canggung karena baik dirinya maupun Kenan mengetahui bahwa mereka sama - sama hampir saja terbawa suasana dan lupa waktu.