Suami Pengganti Sensasional

Suami Pengganti Sensasional
Keakraban


__ADS_3

"Maaf atas ketidak hadiran ku di resepsi pernikahan kalian, maaf juga atas kekacauan yang dilakukan Sherina, itu juga sebagian dari kesalahanku." ucap Bagus pada Kenan dan Fara.


Mereka berlima, Kenan, Fara, Bagus, Ju Woon dan Nabila baru saja selesai menghabiskan makanan masing - masing.


"Tidak apa - apa, santai saja. Aku tahu kesibukanmu sangat banyak untuk membangun kembali PT. Sanjaya. Dan untuk masalah Sherina, itu juga bukan salahmu, wanita itu saja yang sepertinya sakit jiwa." Kenan yang menyahut. Mereka tidak lagi menggunakan bahwa formal.


"Terima kasih sudah mengerti aku." Bagus tersenyum tulus. Ya, meskipun tidak lagi menggunakan bahasa formal, masih ada jarak yang membuat mereka tidak dapat menggunakan bahasa non formal dengan lebih santai terhadap satu sama lain. "Oh ya, dan juga terima kasih atas bantuan yang kalian berikan untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah dalam skandal antara diriku dan Sherina." imbuhnya.


Kenan balas tersenyum tulus "Sama - sama, itu memang sudah seharusnya."


"Seperti bukan sekedar rumor bahwa kamu adalah orang yang sangat menjunjung tinggi keadilan." sanjung Bagus.


"Haha..." Kenan tertawa singkat "Kamu terlalu berlebihan. Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar." ia tak menyangkal, hanya sedikit merendah.


Sementara Kenan dan Bagus asik mengobrol diantara mereka sendiri, Fara, Ju Woon dan Nabila hanya diam menjadi pendengar yang baik. Ketiganya cukup takjub melihat betapa cepatnya Kenan dan Bagus akrab. Padahal saat sebelum mulai makan beberapa waktu yang lalu, kedua pria itu masih saling bersikap formal terhadap satu sama lain.


Bahkan Fara dan Nabila yang lebih lama mengenal Bagus, masih merasa canggung setelah semua yang telah dilakukan oleh Bagus, terlepas tanpa kesengajaan. Terutama Fara, yang sampai saat ini masih menyimpan rasa bersalah terhadap Bagus.


Fara terkadang merasa dirinya telah jahat kepada Bagus karena selama mereka menjalin kasih, ia tak pernah mencintai Bagus, padahal Bagus sendiri sangat tulus mencintai dirinya. Dan sekarang ia malah bahagia bersama Kenan, cinta pertamanya sekaligus cinta yang membuatnya tak bisa melabuhkan hatinya pada Bagus bahakan setelah 3 tahun menjalin kasih. Sedangkan Bagus sendiri, bisa dikatakan masih berada di tahap paling dasar setelah kebangkitan dari titik terendah dalam hidupnya, intinya masih membutuhkan sangat banyak perjuangan untuk benar - benar bangkit.


"Oh iya, aku hampir lupa." ditengah obrolan santainya dengan Bagus, Kenan tiba - tiba menepuk jidatnya sendiri. Lalu dengan ekor matanya ia menunjuk Ju Woon "Perkenalkan, dia Choi Ju Woon. Tapi aku yakin, kalian pasti sudah saling kenal."


Bagus mengikuti ekor mata Kenan dan bertemu tatap dengan Ju Woon. Keduanya pun saling melempar senyum ramah.

__ADS_1


"Hehe..." Bagus terkekeh santai "Tentu saja, aku mengenal Tuan Choi Ju Woon salah satu pengusaha muda paling sukses di Asia." ucapnya sedikit menyanjung Ju Woon.


"Hehe..." balas Ju Woon terkekeh santai "Anda terlalu menyanjung saya, Tuan Bagus Sanjaya."


"Tuan?" gumam Bagus lirih sembari tersenyum getir "Status saya saat ini sungguh tidak pantas dipanggil 'Tuan' oleh Anda."


"Oh, ayolah! Anda terlalu pesimis. Saya memanggil anda 'Tuan' bukan karena status anda, itu adalah bentuk penghormatan saya pada orang seperti anda yang memiliki kepiawaian yang tidak perlu diragukan lagi dalam dunia bisnis." tutur Ju Woon santai namun penuh kesungguhan. Ia tidak serta merta membual untuk menyanjung Bagus. Ia memang benar - benar mengakui kepiawaian Bagus dalam dunia bisnis.


Bagus sedikit melambung dan tersipu dibuatnya "Terima kasih atas pengakuan anda, Tuan Choi, saya benar - benar tersanjung. Tapi, itu sedikit memalukan jika dipuji oleh orang yang lebih hebat dari saya." ucapnya jujur.


"Hehe... Anda terlalu kaku Tuan Bagus. Oh ya, tolong kedepannya panggil saja dengan nama depan saya. Saya agak tidak suka jika dipanggil dengan nama marga saya. Dan kalau bisa tidak perlu pakai 'Tuan' saat kita tidak sedang berada dalam lingkungan kerja seperti sekarang. Kita berbicara santai saja dengan bahasa non formal. Bisa kan?" ujar Ju Woon panjang lebar memberi usulan.


"Iya, benar apa yang dikatakan Bocah ini. Santai saja saja bersikap padanya, seperti yang kamu lakukan padaku." timpal Kenan mendukung usulan Ju Woon tanpa menjaga harga diri Ni Woon dengan menyebutnya 'Bocah' di hadapan Bagus. Ia sengaja melakukan itu untuk membuat Bagus lebih rileks dalam menimbang. Selain itu, ia juga sedikit geli dengan sikap Ju Woon yang terlihat sok berwibawa sejak tadi.


Rahang Ju Woon mengeras menahan geram. Ia masih kukuh ingin mempertahankan sikap sok berwibawa nya di hadapan Bagus. Jadi, berupaya sebaik mungkin untuk tidak terpancing dengan sindiran Kenan. "Lihat kan, Bagus! Bahkan Kenan Hyung sangat santai bercanda dengan menyebutku 'Bocah'." ucapnya dengan senyum yang dibuat - buat.


'Sabar Ju Woon, sabar! Anggap aja ini ujian.' Ju Woon membatin gemas. "Hehe... Kenan Hyung bisa aja." ucapnya santai nan tenang kemudian, sembari terus mempertahankan senyum buat - buatannya.


Ingin sekali rasanya Kenan menabok kepala Ju Woon detik ini juga. Selain semakin geli melihat sikap adik tak berahang nya itu, ia juga kesal karena usahanya untuk membuat Bagus semakin rileks jadi kacau. Alih - alih rileks, Bagus malah kebingungan melihat interaksi antara dirinya dan Ju Woon.


Bagus pasti bertanya - tanya, seberapa akrab sebenarnya Kenan dan Ju Woon? Di satu sisi, tampak Kenan sangat akrab pada Ju Woon. Namun di sisi lain, Ju Woon malah tampak bersikap sungkan pada Kenan. Apa Kenan saja yang sok akrab?


Kurang lebih seperti itu kesimpulan Kenan mendeskripsikan ekspresi Bagus saat ini. Dan ia sangat yakin dengan kesimpulan tersebut, hingga sukses membuatnya semakin ingin menabok kepala Ju Woon. "Bisa aja, bisa aja? Berhenti bersikap sok berwibawa seperti itu, aku benar - benar geli ngelihatnya. Dan juga senyuman mu yang jelas sekali dibuat - buat itu, aku yakin bahkan Nabila pingin muntah ngelihatnya." cibirnya.

__ADS_1


Seketika senyuman Ju Woon membeku dan dengan sedikit salah tingkah menoleh pada Nabila "Be- beneran Dek?" tanyanya sembari meringis.


"Hah?" Nabila yang sejak tadi hanya diam saja menyimak bersama Fara, dibuat termangu tak tahu mau menjawab apa, hingga ikut salah tingkah.


"Hahaha..." sontak tawa Kenan pecah melihat sepasang kekasih itu malah saling tatap salah tingkah karena ulahnya. Terlebih dengan ekspresi mereka yang sangat lucu menurutnya.


Begitupun Fara dan Bagus, mereka berdua juga merasa lucu melihat ekspresi Ju Woon dan Nabila. Namun baik Fara maupun Bagus hanya tersenyum menhan tawa tidak seperti Kenan yang tertawa lepas, terbahak - bahak pula.


Sesaat kemudian, wajah Ju Woon dan Nabila sama - sama memerah kontras menahan malu. Lalu Ju Woon kembali menoleh pada Kenan dengan delikan tajamnya, sedang Nabila menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Ck..." Ju Woon berdecak kesal "Ketawa aja terus, sebelum ketawa itu dilarang!" sindirnya sinis.


Seketika tawa Kenan terhenti dan balas menatap tajam pada Ju Woon "Dasar Bocah gak ada rahang! Kamu nyumpahin aku mati?"


"Mana ada, Hyung aja yang sensian." Ju Woon menggedikan bahu seolah tak mengerti.


"Kamu___"


"Kak Ken!" tegur Fara memotong ucapan Kenan, sembari memutar kedua bola matanya malas. Ia sangat hapal tanda - tanda akan terjadinya perdebatan antara Kenan dan Ju Woon.


"Tapi, sayang___" Kenan segera menutup mulutnya rapat - rapat. Niat hati ingin meminta pembelaan, ia malah mendapati Fara memicingkan mata tajam pada dirinya. Alhasil niatnya diurungkan. "Ok, ok, Kakak ngalah." pasrah nya sambil mengangkat kedua tangannya, berpose menyerah.


Ju Woon pun tersenyum menyeringai penuh kemenangan. Ia sengaja memancing kekesalan Kenan agar hyung nya itu terpancing ingin berdebat dengan dirinya. Namun ia yakin, sebelum itu terjadi Fara pasti akan menghentikannya. Dan hasilnya, seperti yang diharapkan.

__ADS_1


Sementara Bagus, kini pria itu sudah lebih rileks. Ia cukup terhibur melihat kelakuan sedikit konyol kedua pasang kekasih itu. Walaupun tidak dapat menampik, ia merasa cemburu dan pahit di hatinya kala mendengar Kenan memanggil Fara dengan sebutan 'sayang'. Dan meskipun Fara menatap tajam pada Kenan, masih sangat jelas sorotan penuh cinta dalam kedua netra wanita itu. Ia pun tersenyum kecut nan getir.


"Sepertinya tidak ada salahnya menerima usulan Ju Woon. Baiklah, aku akan mencoba bersikap lebih santai."


__ADS_2