Suami Pengganti Sensasional

Suami Pengganti Sensasional
Siasat Gabela


__ADS_3

Pagi menyapa. Seperti yang diharapkan, semalam Kenan benar - benar kesulitan tidur. Belum terjawab rasa penasarannya, ia malah dirundung hasrat tak tersalurkan. Tidur satu ranjang dan di bawah selimut yang sama dengan Fara meski mengenakan pakaian lengkap sekalipun, benar - benar sangat menyiksa Kenan. Jadilah ia uring - uringan traveling semalaman dan baru bisa terlelap menjelang shalat subuh.


Awalnya Fara juga begitu. Namun setelah berada di dalam pelukan hangat Kenan, ia dinyamankan dan bisa tidur dengan nyenyak nan damai. Ia tak tahu saja, di balik kenyamanannya ada Kenan yang menderita.


"Apa masakan Fara gak enak, Kak Ken?" tanya Fara yang sejak tadi memperhatikan Kenan makan dengan lesu. Ini adalah kali pertama dirinya yang memasak makanan untuk sarapan mereka, sekaligus pertama kalinya memasak untuk Kenan, suaminya. Oleh karena itu sejak tadi perhatiannya tak pernah lepas dari Kenan, menunggu suaminya itu memberikan tanggapan terhadap masakannya.


Kenan sedikit tersentak seperti orang setengah mabuk yang dikejutkan. Matanya mengerjap - ngerjap saat mendongak dan bersitatap dengan Fara "Siapa bilang gak enak? Enak kok." jawabnya sembari tersenyum sayup.


Fara seperti merasakan dejavu, ia masih ingat pernah mendapati Kenan dalam keadaan serupa seperti ini. "Hmm? Apa Kak Kenan kurang tidur semalam?" tanyanya bingung. Pasalnya semalam, sepanjang tidurnya, ia merasa tidak pernah lepas dari pelukan Kenan. Jadi, ia pikir Kenan pasti tidur sama lelapnya dengan dirinya.


"Ck, iya, kurang banget malah." Kenan mencebik yang membuat Fara semakin bingung.


"Kok bisa?"


'Kok bisa? Tidak sadarkah anda nona? Itu semua karena anda. Humps...' Kenan mendengus dalam hati. "Udahlah, gak usah dibahas. Ayo lanjut makan, nanti kita telat." tidak mungkin ia mengungkapkan penyebabnya pada Fara, bisa - bisa istri durjananya itu tak henti - henti menertawakan dirinya.


Fara sebenarnya cukup penasaran dan masih ingin bertanya lebih jauh, juga tidak cukup puas dengan tanggapan Kenan mengenai masakannya. Namun melihat mood suaminya yang sepertinya tidak sedang bagus, diurungkannya kehendaknya.


>>>


"Selamat pagi, Prof Kenan, Dokter Fara." seperti biasa, Gabela yang sudah lebih dulu berada dalam ruang kerja, menyambut kedatangan Kenan dan Fara dengan sapaan ramah dan senyuman cerah, secerah mentari. Tapi kali ini, senyumannya tampak lebih cerah lagi seolah menunjukan bahwa dirinya benar - benar ceria, tidak seperti biasa yang terkesan pura - pura.


"Selamat pagi, Dokter Gabela." balas Kenan dan Fara kompak, namun Kenan tampak lesu.


"Prof Kenan ken___?"

__ADS_1


"Suamiku baik - baik saja. Dia hanya lelah, biasalah." Fara langsung menjawab sebelum Gabela selesai mengucapkan pertanyaannya. "Permisi, Dokter Gaby, maaf, suamiku ingin segera ke meja kerjanya." lanjutnya meminta Gabela memberi jalan dengan sopan. Jiwa posesifnya sedang kumat.


Belum selesai kekesalan Gabela akibat Fara memotong ucapannya, terlebih dengan jawaban yang mengundang kecemburuan kesumatnya, ia dibuat semkin kesal lagi dengan permintaan Fara yang sangat jelas tidak ingin memberikan kesempatan untuk dirinya dekat dengan Kenan. Namun tak urung ia memberi jalan, seperti yang Fara minta karena memang tidak ada alasan baginya untuk menolak.


"Terima kasih." ucap Fara lagi sembari tersenyum begitu ramah yang sukses membuat Gabela semakin meradang.


Gabela hanya membalas dengan senyuman dibuat - buat, sedang kedua tangannya mengepal begitu erat di bawah sana. Ia mengangkat sebelah kepalannya seolah ingin melayangkannya ke kepala Fara yang menggandeng mesra lengan Kenan ketika berlalu melewati dirinya.


Sementara Kenan yang sejak tadi tidak fokus akibat masih diselimuti kantuk yang tak kunjung hilang, ia sama sekali tidak menyadari perang dingin di antara Fara dan Gabela, ia hanya mengikuti alur saja, membiarkan Fara berbuat sesuka hatinya. Ia baru kembali ke dunia nyata ketika Fara memberinya serangan maut dengan mendaratkan sebuah kecupan mesra di pipinya setelah mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya. Seketika pupil mata Kenan terbuka sempurna. Kantuk yang menyelimutinya sejak tadi, meluap entah kemana. Ia auto merem melek.


"Fara ke meja kerja Fara dulu ya, Kak." Fara tersenyum manis tanpa dosa pada Kenan sebelum berlalu meninggalkan suaminya yang masih linglung itu.


Kenan benar - benar tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Semuanya terjadi begitu saja seperti mimpi. Seperti kisah dongeng 'Putri Tidur' saja, bedanya ia 'Pangeran Ngantuk' yang baru saja terjaga dari kantuknya oleh kecupan tak terduga Fara di pipinya.


Sementara Gabela yang masih berdiri di posisinya ketika menyambut Kenan dan Fara, semakin dan semakin meradang. Wajahnya memerah padam, ia tahu Fara sengaja melakukan itu di depannya. 'S*it! Tunggu saja pembalasanku, wanita j*lang.' umpatnya menggebu - gebu dalam hati, lalu menyentakan kakinya keras - keras ke lantai dan beranjak ke meja kerjanya.


'Mungkin hanya perasaanku saja.' Fara membatin mencoba menepis keresahan tak jelas yang tetiba menerpanya itu.


"Hufh..." entah kebetulan atau kebenaran, Kenan, Fara serta Gabela kompak hampir bersamaan menghembuskan nafas panjang ketika waktu istirahat siang tiba.


"Tumben kompak, hehe..." ujar Kenan cengengesan.


"Gak, yang kompak Fara sama Kak ken aja, Gaby ikut - ikutan doang." sanggah Fara memanas - manasi Gabela.


"Ck..." Gabela hanya mencebik sembari menatap geram pada Fara.

__ADS_1


Kenan geleng - geleng kepala. Ia memang sering bersikap dingin pada Gabela, tapi bukan berarti ia membenci gadis itu. Sejujurnya ia sangat ingin melihat Fara dan Gabela berdamai sebagai sesama rekan kerja sekaligus sesama putri dari mantan mentor nya. "Udah, udah, mending kita makan siang." ujarnya mengalihkan perhatian demi mencegah peperangan sengit antara singa betina dan ular betina, Fara singa nya, Gabela ular nya.


"Emm... Maaf, Kak. Sepetinya Fara gak bisa ikut gabung lagi kali ini." tolak Fara tak enak hati.


"Mau makan siang bareng Dokter Nabila lagi?" tebak Kenan bertanya.


"Hm." Fara mengangguk sembari tersenyum sungkan. Sebenarnya ia juga sangat ingin makan siang bersama Kenan, terlebih lagi saat ada Gabela. Ia tak rela membiarkan sang suami makan siang berdua saja dengan wanita lain siapapun itu, bukan hanya Gabela saja. Namun ia sudah janjian dengan Nabila, rencananya hari ini ia akan mentraktir sahabat gresek nya itu sebagai ucapan terima kasih atas bantuannya dalam rencana menggoda Kenan, sekaligus merayakan keberhasilan rencana tersebut. Seharusnya kemarin ia sudah melakukan itu, namun karena keadaan yang tidak memungkinkan, jadilah hari ini baru ia lakukan.


"Ya udah, gak apa - apa. Ingat, jangan jajan sembarangan!" Kenan tersenyum tampan sembari mengingatkan penuh perhatian.


"Siap, Kakak suami!" balas Fara tersenyum cantik sambil berpose hormat asal - asalan yang sukses membuat senyuman Kenan semakin mengembang.


Sementara Gabela, tak usah tanyakan apa yang tengah di rasakan gadis itu, terbakar cemburu tentunya.


Bruk...


"Ken, kok aku perhatiin akhir - akhir ini sikap Fara berubah? Lebih senang makan bareng temannya." Gabela berujar ketika Fara baru saja keluar dari ruangan.


Ingat, Kenan bukan orang bodoh. Ia langsung dapat menebak maksud penuturan Gabela yang mencoba membuat dirinya mencurigai Fara. "Hmm... Sepertinya kamu salah paham, Gaby." sanggahnya sama sekali tak terpengaruh.


"Salah paham? Maksudnya?" tanya Gabela bingung.


"Istriku bukan berubah karena lebih senang makan bersama dengan temannya dibandingkan denganku. Justru istriku berubah karena akhir - akhir ini lebih senang makan denganku dibandingkan dengan temannya. Sekarang dia hanya kembali pada dirinya yang semula. Dan aku tak masalah dengan itu, justru aku senang karena itu menandakan bahwa istriku orang yang setia kawan." jelas Kenan panjang lebar serta sengaja menyanjung Fara.


Gabela bungkam tak tahu lagi harus berkata apa. Alih - alih berhasil mencuci pikiran Kenan, ia malah dibuat semakin meradang dan terbakar cemburu.

__ADS_1


"Udahlah, gak usah bahas itu. Mending kita mulai pesan makanan, ayo!" ajak Kenan sekaligus mengakhiri percakapan mereka yang tidak berfaedah, menurutnya.


Setelah memerintahkan OB/OG untuk memesankan makanan lewat interkom, Kenan beranjak menuju wastafel di sudut ruangan itu berniat mencuci tangan. Ketika hendak melewati meja kerja Fara yang kebetulan searah dengan wastafel, pandangannya jatuh pada ponsel Fara yang terletak di atas meja tersebut.


__ADS_2