Suami Pengganti Sensasional

Suami Pengganti Sensasional
Hamil 3 Minggu


__ADS_3

"Ti- tiga minggu?" gumam Fara sedikit tergagap pada dirinya sendiri. Ekspresi wajahnya seperti orang linglung. Ralat, bukan seperti, tapi memang linglung.


Berbeda dengan Kenan di sampingnya yang ekspresinya penuh sumringah dengan mata mengembun serta berbinar - binar takjub mengamati figura abstrak di monitor USG. Lantas Kenan memeluk Fara tanpa permisi dan menghujani puncak kepala istrinya itu dengan ciuman bertubi - tubi sembari berucap girang "Sayang kamu lihat itu? Tak lama lagi kita bakal jadi seorang Ayah dan Ibu." lalu diusap - usapnya lembut perut Fara "Di sini ada calon buah hati kita, Kenan junior."


Kenan terus saja kegirangan, sedang Fara yang masih linglung mencoba mencerna semua informasi yang baru saja ia temui, membiarkan saja suaminya itu berlaku sesuka hati.


Ya, Fara baru saja selesai menjalankan pemeriksaan USG. Dan sesuai penjelasan dokter Susi selaku pihak yang melakukan pemerikasaan, ia menyatakan bahwa Fara tengah mengandung janin yang baru berusia 3 minggu lebih berdasarkan hasil data pemeriksaan dan figura yang tertera di monitor USG.


"Selamat Profesor Kenan, Dokter Fara." ucap dokter Susi tulus.


"Selamat Profesor Kenan, Dokter Fara." dokter Adnan juga ikut menyelamati. Mereka turut senang dan berbahagia dengan berita membahagiakan Kenan dan Fara.


"Terima kasih dokter Susi, dokter Adnan." tanggap Kenan tulus pula sembari terus memeluk Fara.


Kemudian dokter Susi memberikan arahan tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan Fara selama masa mengandung. Namun hanya Kenan yang mendengarkan dengan seksama dan penuh antusias, sedang Fara masih belum pulih dari linglung nya. Setelah itu, dokter Susi dan dokter Adnan pun pamit undur diri keluar dari bilik konsultasi pasien penyakit dalam ini, meninggalkan Kenan dan Fara.


Bruk...


"Sayang gimana? Kamu senang kan?" perhatian Kenan kembali tertuju pada Fara sesaat setelah keberadaan dokter Susi dan dokter Adnan baru saja menghilang di balik pintu yang tertutup. "Hei, sayang! Kamu kenapa? Kok diam aja?" dengan lembut digoyang nya pundak Fara mendapati istrinya itu hanya diam tidak bereaksi menanggapi ucapannya.


"Ah..." sontak Fara tersadar dengan mata mengerjap - ngerjap lucu "Eh, Dokter Adnan sama Dokter Susi kemana?" tanyanya kemudian, mendapati hanya tinggal dirinya dan Kenan yang berada dalam bilik berukuran 5 × 5 meter itu.


Sshh...


Kenan sedikit mendesis mendapati reaksi Fara yang baru tersadar dari linglung nya. "Mereka baru saja keluar sayang." jawabnya dengan sabar. Ia benar - benar tak habis pikir bahwa Fara akan selinglung ini, hingga tidak menyadari kepergian dokter Susi dan dokter Adnan.


Kenan jadi bertanya - tanya, apakah Fara juga tidak menyadari keadaannya yang tengah mengandung saat ini? "Sayang, kamu tau kan kalo kamu hamil?" tanyanya memastikan.


"Iya." jawab Fara singkat, padat dan jelas nan santai. Ia berucap dengan ekspresi datar tanpa menunjukan emosi apapun di raut wajahnya. Sorot netra nya pun menyiratkan kehampaan. Kurang lebih, sama dengan reaksi Kenan saat mendengarkan pengakuan Fara yang menyatakan sempat terbesit pemikiran untuk berpisah dengan Kenan, di benaknya.


"Iya?" Kenan membeo sembari meringis "Gitu aja? Apa kamu gak senang dengan kabar bahagia ini, sayang?" tanyanya tanpa menyembunyikan intonasi kecewa dalam tutur katanya.


"Tentu aja senang Kak, senang banget malah." jawab Fara masih santai.

__ADS_1


"Senang banget? Tapi kok ekspresi mu biasa aja?"


"Fara gak mau kebawa suasana aja. Bisa - bisa Fara gak mau bangun dari mimpi indah ini."


"Hah? Mimpi?" ringisan di wajah Kenan semakin menjadi "Sayang, apa kamu pikir ini mimpi?"


Fara mengangguk dengan lugunya "Iya. Pantas aja sejak subuh tadi Fara perhatiin sikap Kak Ken jadi manis banget ke Fara. Sekarang Fara sadar, pasti ini hanya mimpi Fara." cerocosnya ngawur. "Awww..." sesaat kemudian ia tiba - tiba menjerit sembari mengelus - elus kedua sisi pipinya yang baru saja mendapatkan cubitan gemas dari Kenan.


"Apa sekarang kamu masih mikir ini hanya mimpi sayang, hmm?" tanya Kenan gemas.


Sembari terus mengelus - elus pipinya, Fara mengerjap - ngerjapkan matanya lucu "A- apa ini nyata Kak?" tanyanya masih sulit untuk percaya.


"Oh, apa cubitan Kakak barusan masih kurang? Mau lagi?" tawar Kenan dan dengan polosnya diangguki oleh Fara.


"Awww..."


Dengan senang hati Kenan pun membeirikan sebuah cubitan di kedua sisi Fara lagi yang sukses membuat istri menggemaskannya itu kembali menjerit.


"Masih kurang?"


Kenan geleng - geleng kepala sembari tersenyum gemas sekaligus haru dan membalas pelukan Fara "Iya sayang, kamu emang beneran hamil. Kamu gak mimpi, kamu lagi ngandung calon buah hati kita, Kenan junior. Gak lama lagi kita bakal jadi Ayah dan Ibu." tanpa dapat dibendungnya lagi, akhirnya buliran bening yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya, jatuh juga. Itu air mata bahagia.


Kenan dan Fara pun semakin mengeratkan pelukan mereka terhadap satu sama lain. Tak ada kata yang mempu menggambarkan seberapa bahagianya mereka saat ini. Intinya baik Kenan maupun Fara benar - benar bahagia dalam suka cita.


Tok tok...


Ditengah - tengah Kenan dan Fara masih meratapi kebahagiaan mereka, tiba - tiba pintu bilik diketuk dari laur. Sontak keduanya sama - sama melonggarkan pelukan masing - masing demi saling bertemu tatap dan tersenyum terhadap satu sama lain.


"Sepertinya kita kedatangan tamu sayang. Nanti acara peluk - pelukannya dilanjut lagi ya?" ujar Kenan yang hanya diangguki oleh Fara tanda setuju.


Cup...


"Love you more, sayang." ucap Kenan setelah mendaratkan sebuah kecupan kilat di bibir Fara.

__ADS_1


Cup...


"Fara juga cinta bangeet sama Kak Ken." balas Fara melakukan hal serupa seperti yang dilakukan Kenan. Ia juga sekilas menyambar bibir Kenan dengan bibirnya.


Tok tok...


Sumpah demi apapun, Kenan benar - benar ingin melakukan lebih jauh dari hanya sekedar kecup - kecupan kilat. Namun pintu bilik kembali diketuk yang menandakan bahwa sang pengetuk sedang menunggu untuk dipersilahkan masuk. Tentu saja Kenan tak akan sampai hati membuat sang pengetuk tersebut menunggu yang bisa dipastikan dalam waktu lama, jika ia mengikuti egonya.


Lantas dengan mesra Kenan menyeka jejak air mata yang membasahi pipi Fara, begitupun Fara balas melakukan sebaliknya pada Kenan. Setelah itu, keduanya membenahi penampilan masing - masing, merapikan pakaian mereka yang tampak sedikit kusut.


Tok tok...


"Masuk!" akhirnya setelah ketukan ketiga, Kenan berseru mempersilahkan kepada sang pengetuk di luar sana untuk masuk.


Ceklek...


Pintu terbuka disusul masuknya sang pengetuk tersebut yang ternyata adalah Ju Woon.


"Cih..." spontan Kenan berdecih. Kalau ia tahu, ia akan mengikuti egonya saja tadi dan membiarkan Ju Woon menunggu sampai pegal - pegal di luar sana. Awalnya ia pikir sang pengetuk itu adalah dokter Adnan. Ternyata, si bocah tak berahang. "Ada apa?" tanyanya judes.


Ju Woon meringis sembari menggaruk - garuk pelipisnya. Ia bingung, kesalahan apa lagi yang telah ia lakukan sehingga sikap Kenan judes begitu terhadap dirinya. Perasaan ia tak melakukan kesalahan apapun. Bahkan saat mengetuk pintu tadi sudah dilakukannya dengan penuh kesabaran, tidak barbar seperti biasa. "As- asalamualaikum Kenan Hyung, Fara Noona." salamnya kikuk.


"Waalaikumsalam." balas Kenan dan Fara serempak.


"Hufh..." Kenan mend*sah lirih. Ia sedikit merasa bersalah dengan sikap judesnya terhadap Ju Woon barusan akibat sedikit terbawa ego.


"A- apa Ju Woon udah ngenganggu waktu Hyung dan Noona?" tanya Ju Woon hati - hati kemudian, masih dengan ringisan di wajahnya.


Kenan menggeleng "Gak kok. Ada apa kamu kemari?" Kenan yang menyahut dengan santai, tak judes lagi. Ia bahkan tersenyum ramah saat kembali mempertanyakan maksud kedatangan Ju Woon.


Ju Woon menggaruk - garuk tengkuknya yang tidak gatal, ia jadi bingung sendiri lupa dengan maksud kedatangannya akibat mendapati sikap Kenan yang berubah - ubah.


"Ju- Ju Woon lupa Hyung." Ju Woon memejamkan mata di penghujung ucapannya.

__ADS_1


"Oh, kamu lupa ya. Kalo gitu kamu balik lagi dan kembali kalo udah ingat." tidak disangka, Kenan sama sekali tidak marah, bahkan berucap sembari terus tersenyum.


"Baik Hyung." baru saja Ju Woon hendak berbalik, ia teringat maksud kedatangannya "Oh iya, di mana bos kecilnya, Hyung?"


__ADS_2