Suami Pengganti Sensasional

Suami Pengganti Sensasional
Drama Salah Paham


__ADS_3

Ceklek...


"Ah..." Fara terperangah menyaksikan pemandangan di depan matanya, tepatnya di depan pintu bilik konsultasi pasien penyakit dalam, ketika ia baru saja memasuki Dirut's Room. Bagaimana tidak? Tepat di depannya kini tampak Kenan tengah merangkul pinggang Mita dengan sebelah tangannya.


"Ugh..." dan Kenan segera melepaskan rangkulannya dari pinggang Mita begitu menyadari keberadaan Fara. "Sa- sayang, kamu tenang dulu! Ini gak seperti yang kamu pikirkan." ujarnya kemudian, mencoba menjelaskan dengan sedikit gelagapan.


"Be- benar Dokter Fara, ini tidak seperti yang anda pikirkan." timpal Mita dengan sedikit gelagapan pula ikut membantu Kenan mencoba menjelaskan.


"Hmm?" Fara memicingkan matanya tajam pada Kenan dan Mita "Lalu apa?"


"Ini___" Kenan dan Mita hendak menjelaskan secara bersamaan yang membuat keduanya menghentikan ucapan mereka bersamaan pula dan saling pandang kemudian.


"Silahkan Profesor Kenan saja yang menjelaskan!" Mita mengalah dan mempersilahkan kepada Kenan untuk menjelaskan.


"Hm." Kenan mengangguk sembari tersenyum seadanya pada Mita.


Interaksi yang singkat dan tampak biasa saja, namun dalam pandangan Fara yang tengah terbakar cemburu menggebu - gebu, interaksi Kenan dan Mita itu terlihat mesra. Bahkan senyuman seadanya Kenan pada Mita terlihat berseri - seri di mata Fara, seolah Kenan tengah tebar pesona kepada Mita.


"Cih..." Fara berdecih "Kalau memang bukan seperti yang saya pikirkan, maka cepat jelaskan yang sebenarnya. Tidak perlu pakai acara tatap - tatapan mesra seperti itu." cibirnya sinis.


"Ugh..." sekali lagi Kenan tertegun yang kali ini Mita juga ikut tertegun mendapati tanggapan Fara. Bagaimana bisa aksi saling tatap mereka yang sangat singkat dan biasa saja itu dianggap Mesra oleh Fara? Pikir Kenan dan Mita tak habis pikir.


"Ehem..." Kenan berdehem demi menyadarkan dirinya sendiri bahwa sekarang tidak ada waktu untuk memikirkan tentang tanggapan Fara yang agak absurd itu. "Jadi gini sayang, barusan itu Kakak reflek ngerangkul pinggang Mita yang hampir jatuh gara - gara gak sengaja bersenggolan dengan Kakak waktu kami sama - sama keluar dari bilik konsultasi pasien penyakit dalam." ujarnya menjelaskan dengan sungguh - sungguh kemudian, yang diangguki membenarkan oleh Mita di sampingnya.

__ADS_1


Ya, seperti yang dikatakan Kenan, itulah kebenarannya. Kenan dan Mita memang baru saja keluar dari bilik pasien penyakit dalam usai rapat penyusunan tim operasi yang akan Mita jalani minggu depan. Kebetulan Fara memasuki Dirut's Room pada waktu yang sama, dimana dirinya baru saja tiba di NF Hospital dari apartemen yang memang tidak berangkat bersama dengan Kenan yang berangkat lebih dulu untuk mengikuti rapat tersebut.


Sejenak Fara terdiam sembari menelisik wajah Kenan dan Mita, mencari jikalau ada kedustaan di sana. Namun ia tak menemukan apa yang dicarinya. "Benarkah begitu?" tanyanya tidak begitu percaya.


Kompak Kenan dan Mita mengangguk tegas "Iya sayang, beneran, sumpah!" hanya Kenan yang menyahut.


Kenan sudah cukup hapal bagaimana cara untuk membuat Fara percaya padanya kala sang istri mencurigai dirinya. Yakni, hanya dengan mengucapkan kata keramat 'sumpah' dan ia yakin, Fara pasti akan 100% percaya. Namun bukan berarti ia akan menggunakan kata keramat tersebut dengan serta merta. Tidak, Kenan hanya akan menggunakannya jikalau ia benar - benar jujur.


Dan seperti yang diharapkan, Fara mau tidak mau hanya bisa percaya kepada Kenan yang telah mengucapkan kata keramat. Lagi pula, ia juga tidak menemukan sedikitpun raut kedustaan baik di wajah Kenan maupun Mita. "Baiklah, Fara percaya."


"Hufh..." bukan hanya Kenan, Mita pun ikut bernafas lega.


"Baiklah, sepertinya semua sudah jelas. Bolehkah saya pamit undur diri sekarang?" ucap Mita memohon undur diri kemudian, berniat ingin segera berlalu dari hadapan Kenan dan Fara.


"Oh, tentu saja Mita, silahkan!" Kenan yang menyahut dengan senang hati mengizinkan Mita pamit undur diri. Sementara Fara hanya mengangguk mengiyakan tanpa berucap sembari mengenakan ekspresi datar.


"Kalau begitu, saya pamit undur diri, Profesor Kenan, Dokter Fara. Sampai jumpa!" Mita tersenyum seadanya pada Kenan dan juga Fara.


"Ya, sampai jumpa Mita." sekali lagi hanya Kenan yang menyahut sembari balas tersenyum seadanya pada Mita, sedang Fara tetap dengan ekspresi datarnya dan sekali lagi hanya mengangguk tanpa berucap pula.


Lantas Mita pun berlalu dari hadapan Kenan dan Fara, keluar dari Dirut's Room. Dan tinggallah Kenan dan Fara dalam atmosfir yang terasa mencekam bagi Kenan karena Fara kembali menatap tajam dirinya.


"Emm, ngomong - ngomong, selamat datang sayang." ucap Kenan berbasa basi sembari menggaruk - garuk tengkuknya yang tidak gatal kemudian, selang keheningan yang cukup lama. "Kamu pasti capek sayang, mending kamu duduk dulu." imbuhnya mengusulkan.

__ADS_1


"Hm." tanggap Fara hanya ber'hm' singkat sembari terus mempertahankan ekspresi datarnya dan langsung melakukan seperti yang diusulkan Kenan.


"Sshh..." Kenan mendesis pelan sembari sedikit meringis melihat sikap Fara. Ia tahu, pasti Fara tengah cemburu buta. Yang meskipun karena kesalahpahaman, ia sangat tahu tentang kepribadian ambisius Fara yang menjadikan istrinya itu over posesif pada dirinya. Jadi, Fara pasti tidak rela dengan dirinya yang baru saja merangkul pinggang Mita. Kenan sudah dapat meraba - raba, pasti akan sangat sulit memadamkan api cemburu yang tengah menyelimuti Fara.


Ceklek...


Beberapa saat kemudian, pintu bilik konsultasi pasien penyakit dalam kembali terbuka disusul keluarnya sosok dokter Adnan dan 2 sosok pria paruh baya sepantaran dokter Adnan yang diketahui sebagai anggota divisi dokter spesialis bedah.


Kehadiran dokter Adnan serta kedua lainnya sukses menginterupsi proses pemutaran otak Kenan yang masih mematung di depan pintu bilik sembari berupaya memikirkan cara untuk memadamkan api cemburu yang tengah menyelimuti Fara. Sekaligus kehadiran mereka cukup mencairkan atmosfir mencekam yang sejak tadi dirasakan Kenan.


"Eh, Profesor Kenan masih di sini rupanya." bukan hanya dokter Andan, kedua lainnya pun sedikit terkejut mendapati Kenan yang dalam perhitungan mereka telah cukup lama keluar dari bilik konsultasi pasien penyakit dalam, namun big bos mereka itu masih mematung di depan pintu bilik saat ini.


"Oh, Dokter Fara ternyata sudah datang. Selamat datang Dok." dokter Adnan kembali sedikit dikejutkan dengan keberadaan Fara yang baru disadarinya sejurus kemudian, kala iseng - iseng mengedarkan pandangannya. Mendapat balasan datar Fara atas sambutannya, samar - sama dokter Adnan dapat menebak bahwa keadaan antara Kenan dan Fara sedang tidak baik - baik saja. Begitupun kedua lainnya yang juga dapat merasakan atmosfir mencekam diantara Kenan dan Fara.


"Emm, Profesor Kenan, Dokter Fara, Dokter Adnan, karena urusan saya disini telah selesai, bolehkah saya pamit undur diri?" segera salah seorang diantara kedua dokter divisi spesialis bedah berinisiatif memohon undur diri.


"Saya juga mohon undur diri, Profesor Kenan, Dokter Fara, Dokter Adnan." timpal satunya lagi cepat, ikut memohon undur diri.


Tak bisa membantu, Kenan dan dokter Adnan hanya bisa dengan enggan mengangguk mengizinkan kedua dokter divisi spesialis bedah tersebut untuk undur diri karena tak punya alasan untuk menahan mereka. Sedangkan Fara, wanita itu sangat setia dengan ekspresi datarnya yang juga ikut mengangguk mengizinkan. Tinggallah Kenan, Fara, serta dokter Adnan dalam Dirut's Room.


Sebenarnya dokter Adnan juga ingin sekali ikut keluar dari Dirut's Room meninggalkan Kenan dan Fara yang ia yakini tengah terlibat perang dingin. Tidak, lebih tepatnya hanya Fara yang mengibarkan bendera perang kepada Kenan. Sungguh, dokter Adnan benar - benar canggung berada diantaranya, tanpa tahu harus berbuat apa.


Tidak seperti kedua dokter divisi spesialis bedah tadi, ruang kerja dokter Adnan berada di ruangan ini, sehingga ia tak memiliki alasan untuk keluar. Terlebih dengan senyuman skeptis penuh harap yang Kenan tujukan padanya yang sangat jelas menyiratkan bahwa Kenan sangat berharap agar tidak ditinggalkan. Sungguh, dokter Adnan tidak tahu mau menangis atau tertawa. Ia menjadi serba salah dibuatnya.

__ADS_1


Sebenarnya dokter Adnan bisa saja menggunakan alasan 'ingin ke toilet' untuk keluar dari situasi tersebut. Namun ia tak sampai hati pada Kenan. Jadilah ia hanya bisa pasrah tinggal bersama Kenan, ikut mengarungi atmosfir mencekam yang entah kapan akan berakhirnya.


__ADS_2