Suami Pengganti Sensasional

Suami Pengganti Sensasional
Pengagum Lama Fara


__ADS_3

"Nak, nanti malam sepulang kerja, kamu langsung ke rumah tante Ami ya!" ujar Farzan menyuruh kepada Fara ketika mereka sedang sarapan bersama di ruang makan kediamannya.


Ya, semalam waktu video callan dengan Kenan, Fara memang berada di kamar lamanya yang ada di kediaman Farzan, sang ayah. Rencananya selama Kenan berada di Swiss, Fara akan menginap di sini, sesuai usulan Kenan agar Fara tak merasa kesepian tanpa dirinya di apartemen.


"Ngapain ke rumah tante Ami, Yah?" tanya Fara santai sembari terus menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"Kamu masih ingat Andre kan?" alih - alih menjawab, Farzan malah bertanya balik yang agak tak nyambung menurut Fara.


Sejenak Fara terdiam mencari nama 'Andre' dalam ingatannya "Maksud Ayah, Kak Andre, Keponakannya Om Ardan, Suami Tante Ami?"


"Hm." Farzan mengangguk sembari mengunyah makanan dalam mulutnya. "Iya, Andre Keponakannya Ardan. Dia baru menyelesaikan studi S3 seminggu yang lalu dan rencananya nanti malam akan diadakan syukuran kecil - kecilan di rumah Ami untuk merayakannya. Kita di undang ke sana." perjelas nya kemudian, setelah makanan dalam mulutnya ludes.


"Ooh..." Fara manggut - manggut "Baiklah Yah." putusnya mengiyakan suruhan Farzan pada akhirnya.


>>>


Malam pun tiba. Sesuai kesepakatan, sepulang kerja Fara langsung berangkat ke kediaman Ardan yang juga merupakan rumah Ami, sang tante, seperti suruhan Farzan pagi tadi. Fara disupiri oleh Bambang. Ya, Bambang. Meskipun tanpa Kenan, Bambang masih bertugas menyupiri sekaligus menjaga keamanan Fara selama Kenan berada di Swiss. Namun sepanjang perjalanan Fara tampak lesu tak bersemangat yang Bambang yakini pasti karena tengah merindukan Kenan.


Dan benar seperti perkiraan Bambang, Fara memang tengah merindukan Kenan. Hari ini terakhir kali mereka berkomunikasi disaat jam istirahat siang Fara siang tadi, sedang Kenan di Swiss sudah malam hari, sesuai perbedaan waktu geografis 6 jam. Waktu komunikasi yang sangat terbatas itu benar - benar membuat Fara dongkol. Ingin menghubungi Kenan malam ini, Fara merasa segan karena takut menganggu Kenan yang diyakininya pasti tengah beristirahat. Fara pun hanya bisa menahan kerinduannya.


"Kita sudah sampai Nyonya." lapor Bambang sekaligus membuyarkan lamunan Fara yang tengah memandang ke luar kaca mobil hingga tak menyadari bahwa mereka telah sampai.


"Oh, sudah sampai ya, terima kasih Pak." tanggap Fara tak bersemangat, lalu keluar dari mobil.

__ADS_1


Dari luar kediaman Ardan yang tampak cukup megah bagi para kaum awam itu, Fara samar - samar dapat mendengar keramaian di dalam sana. Sembari terus melangkah lunglai menuju kedalaman kediaman Ardan, Fara mencoba mengingat - ngingat lagi sosok Andre, sang bintang syukuran yang hendak dihadirinya ini.


'Andre Setiawan'. Nama itu tak asing, juga tak akrab bagi Fara. Baginya, Andre hanyalah salah seorang kerabat yang dianggapnya sebagai kakak sepupu. Tak ada yang istimewa dari pria itu. Bahkan terkadang Fara merasa risih jika mereka bertemu. Pasalnya, bukan bermaksud narsis, hanya saja setiap kali mereka bertemu, Fara merasa Andre terlalu memperhatikan dirinya.


Fara tak bodoh ataupun tak peka, ia tahu Andre menaruh hati kepada dirinya. Bahkan saat berpacaran dengan Bagus dulu, Bagus pernah memperingati dirinya agar jangan terlalu dekat dengan Andre. Mungkin feeling seorang pria yang merasa mendapatkan rival, pikir Fara mengenai sikap Bagus kala itu.


"Assalamualaikum." ucap Fara begitu memasuki pelataran kediaman Ardan yang menjadi tempat diadakannya acara syukuran tersebut. Melalui perhitungan sekilas, ia bisa menebak bahwa jumlah audiens yang hadir kurang lebih 25 orang termasuk dirinya. Diantara para audiens, ia cukup mengenali wajah - wajah mereka yang berasal dari dua keluarga besar pihak Ami dan Ardan. Namun lebih banyak dari pihak keluarga Ardan. Mungkin karena sang bintang syukuran berasal dari pihak kelurga Ardan, pikir Fara menyimpulkan.


"Waaliakumsalam." balas mereka yang telah hadir lebih dulu termasuk Farzan, sang ayah yang juga berada diantaranya.


"Oh, kamu sudah sampai Nak, ayo sini!" Farzan memanggil Fara untuk duduk tepat di samping kursi yang didudukinya.


Dengan patuh Fara menuruti. Namun baru saja beberapa langkah Fara berjalan menuju sisi Farzan, tiba - tiba langkahnya terhenti oleh sebuah seruan.


Bagi para audiens yang ada di sana, mungkin saran Andre itu merupakan tawaran istimewa. Meskipun tidak setenar Kenan, Andre juga sebenarnya cukup terkenal dalam dunia medis Indonesia, terutama di bidang spesialis kesehatan kulit. Terlebih setelah menyelesaikan studi S3 nya ini yang bisa dipastikan namanya akan semakin menjulang tinggi.


Namun bagi Fara, semua itu tidak ada istimewanya sedikitpun. "Hm, maaf Kak Andre. Saya duduk bersama Ayah saya saja." tolaknya berusaha sesopan mungkin dengan bahasa formal sembari tersenyum sungkan.


"Ugh..." Andre tampak tertegun sedikit salah tingkah. Sepertinya pria itu tidak menyangka bahwa Fara akan menolak tawarannya. "Ba- baiklah, gak apa - apa. Silahkan!" ujarnya mempersilahkan dengan sedikit canggung kemudian. Tak seperti Fara, Andre menggunakan bahasa non formal dalam tutur katanya.


"Hm." Fara mengangguk sembari terus mempertahankan senyum sungkannya pada Andre, lalu kembali melanjutkan langkahnya ke sisi Farzan di bawah tatapan rumit para audiens lainnya.


Suasana syukuran yang tadinya berlangsung santai nan meriah pun, tiba - tiba menjadi agak canggung nan hening. Sepertinya para audiens lainnya juga tidak menyangka akan penolakan Fara, sehingga membuat pergerakan mereka menjadi sungkan karena ikut merasa tak enak hati pada Andre.

__ADS_1


Adapun Andre sendiri, meskipun terlihat tenang, semua orang tahu bahwa sebenarnya pria itu tengah merasakan malu yang pastinya cukup besar. Hal itu sangat jelas tersirat dari senyuman yang dikenakan di wajahnya yang terkesan sangat dipaksakan.


Namun tak ada yang bisa melakukan apapun tentang itu. Menyalahkan Fara? Siapa yang berani bersinggungan dengan seorang istri Naufal Kenan? Lagi pula, sejatinya Fara memang tak salah apapun. Justru Andre yang seharusnya sadar diri kepada siapa dirinya menawarkan. Siapa dirinya yang ingin mengajak Fara duduk bersandingan? Meskipun mereka adalah kerabat, lalu apa? Terserah pada Fara mau menerima ataupun menolak. Sungguh miris si Andre yang ibarat kata bagaikan pungguk yang merindukan bulan. Pria itu sepertinya terlalu menilai tinggi dirinya sendiri.


"Ehem..." tiba - tiba Ardan berdehem cukup keras yang mampu mengalihkan perhatian orang - orang pada dirinya. "Sepertinya semua tamu telah hadir. Jadi, bagaimana kalau kita langsung saja memulai acaranya?" ujarnya mengusulkan kemudian, sebagai tuan rumah sekaligus orang yang menyarankan pengadaan acara syukuran ini di kediamannya.


"Hm, Andre pikir juga begitu Paman." Andre yang menyahut menyetujui sebagai sang bintang syukuran dan diangguki sependapat oleh para audiens lainnya, termasuk Fara.


Dengan itu acara syukuran pun dimulai yang diawali dengan doa - doa syariah Islam. Ardan yang memimpin doa tersebut. Meskipun tidak begitu dalam pengetahuannya tentang syariah Islam, Ardan cukup tahu doa - doa yang digunakan dalam membuka sebuah acara syukuran seperti ini.


"Amiiin." ucap semua orang serempak di akhir doa - doa yang intinya memanjatkan harapan besar demi keberkahan serta kebermanfaatan dari ilmu yang Andre dapatkan hingga menyelesaikan studi S3 nya ini.


"Baiklah, kalau begitu silahkan dinikmati hidangannya!" ujar Ardan kemudian, mempersilahkan semua orang menikmati hidangan yang tersedia.


Sepanjang sesi makan, entah demi menaati tata tertib makan yang baik, atau masih terbawa suasana canggung yang masih terasa, tak ada seorang pun yang berinisiatif membuka mulut untuk memulai obrolan. Mereka semua makan dalam diam dan khidmat, hanya dentingan sendok, garpu dan piring yang saling beradu bersahutan mengisi keheningan.


Begitu pun di akhir sesi makan yang hanya ditutup dengan ucapan terima kasih oleh Andre sebagai bintang syukuran, sekaligus menjadi ucapan penutup syukuran tersebut. Setelahnya para audiens masih tidak juga membuka obrolan santai ataupun ringan diantara mereka. Mereka seolah saling bersikap sungkan terhadap satu sama lain, tidak selayaknya sesama kerabat ataupun keluarga.


Bahakan saat acara syukuran dibubarkan, para audiens saling berpamitan formal kepada Andre serta diantara mereka sendiri satu sama lainnya.


"Terima kasih udah hadir di acara syukuran Kakak, Dek Fara." ucap Andre kala Fara berpamitan kepada dirinya.


"Hm, sama - sama Kak, sekali lagi selamat." balas Fara setulus mungkin, lantas berlalu dari hadapan Andre yang menatap nanar punggungnya dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2