Suami Pengganti Sensasional

Suami Pengganti Sensasional
Kegalauan Ju Woon


__ADS_3

"98,9%, 99,8%, 99,9%. Se- semuanya positif." gumam Ju Woon dengan suara bergetar setelah memeriksa 3 lembaran hasil tes DNA, masing - masing antara dirinya dan Kenan, Hyun Jae dan Kenan, serta Jung Hwa dan Kenan.


Akhirnya Ju Woon memperoleh hasil tes DNA yang dilakukannya seminggu yang lalu, tepatnya sehari setelah pertemuan lamaran antara pihak keluarga Ju Woon dan pihak keluarga Nabila, dimana pada pertemuan tersebut, secara diam - diam tanpa sepengetahuan siapapun Ju Woon mengambil sampel helai rambut Jung Hwa dan Hyun Jae. Memang Ju Woon sudah menebak hasilnya akan seperti ini, namun setelah melihatnya secara langsung, tetap saja ia tak dapat mengendalikan debaran hatinya yang begitu hebat, saking takjub nan senangnya.


"Ok, tenang Ju Woon! Sekarang kamu harus memikirkan apa yang harus kamu lakukan setelah ini." gumam Ju Woon lagi mensugesti dirinya sendiri agar tidak terbuai dan malah melakukan tindakan bodoh, seperti menemui Kenan sekarang juga dan langsung memeluk kakaknya itu sembari berseru girang menyatakan fakta bahwa mereka adalah saudara kandung. Sungguh, sempat terbesit kehendak gila itu di benaknya. Untungnya, ia masih dapat mengendalikan diri.


"Ya, benar. Setelah ini apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menyembunyikan fakta ini selamanya dari Kenan Hyung?" sejurus kemudian perasaan senang yang sempat Ju Woon rasakan, sirna seketika, berganti dengan kegundahan dan kesenduan. "Aku memang takut jika Hyung mengetahui fakta ini, maka Hyung bisa saja membenciku. Namun, aku juga ingin Hyung walaupun hanya sekali mengakui ku sebagai Adik kandungnya."


"Aarrgghh..." Ju Woon mengusap rambutnya yang masih agak basah itu ke belakang dengan kasar dan menciptakan cipratan - cipratan kecil air berhamburan kemana - mana. Sebelum memeriksa hasil tes DNA tadi, ia baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Masih hanya dengan mengenakan jubah mandi tanpa mengenakan pakaian dalam di baliknya, ia langsung melakukan pemeriksaan tersebut, saking tak sabarnya ingin melihat hasilnya.


Bruk...


Sejurus kemudian Ju Woon menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang king size mewah yang tersedia dalam kamar hotel yang sedang ia tempati itu.


Hotel XXI adalah tempat Ju Woon berada saat ini. Hotel yang juga menjadi tempat pertemuan lamaran seminggu yang lalu. Yang mana hotel ini adalah salah satu hotel yang bekerja sama dengan Choi's Group di bidang properti. Dan di hotel ini jugalah Ju Woon menginap selama berada di Indonesia selama ini. Ia memiliki kamar pribadi presiden suit di sini, tepatnya kamar yang tengah ia tempati sekarang.


"Hufh..." Ju Woon mend*sah berat kala rasa frustasi yang begitu besar menyelimuti dirinya. "Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan?"


Sembari terus berbaring, Ju Woon terus berusaha memeras otaknya memikirkan apa yang harus ia lakukan kedepannya setelah mengetahui praduga nya selama ini adalah kebenaran. Entah sudah berapa detik, menit, atau mungkin jam telah berlalu, rasa kantuk mulai menerpa Ju Woon hingga membuat pria itu terlelap tanpa ia sadari.


>>>


Pagi harinya...

__ADS_1


Dalam kondisi tubuh yang kurang fit serta kantung kedua mata yang tampak sedikit menggantung, Ju Woon tiba di basemen NF Hospital yang kebetulan bersamaan dengan ketibaan Kenan dan Fara.


"Selamat pagi Kenan Hyung, Fara Noona." sapa Ju Woon setelah keluar dari mobil mewahnya dan langsung menghampiri Kenan dan Fara.


"Pagi Ju Woon."


"Pagi bocah gak ada rahang."


Seperti biasa, hanya Fara yang membalas dengan ramah, sedang Kenan membalas dengan judes, plus mengatai Ju Woon 'bocah gak ada rahang' pula.


Ju Woon tersenyum kecut di wajahnya yang masih tampak sayup. Ia tidak marah ataupun sedih, ia tahu Kenan hanya bercanda. Ia menganggap itu adalah cara Kenan menunjukan kasih sayangnya kepada dirinya. Yang ia pikirkan sekarang, akan seperti apa sikap Kenan nanti kepada dirinya, jika mengetahui fakta bahwa mereka adalah saudara kandung?


Ju Woon sungguh lebih rela jika Kenan terus bersikap seperti ini kepada dirinya, dari pada mengabaikan dan menganggap dirinya sebagai orang asing disaat Kenan mengetahui fakta bahwa mereka adalah saudara kandung. Sedikit banyak ia mengetahui tentang Kenan, seperti itulah sikap Kenan terhadap orang - orang yang dibencinya, mengabaikan dan menganggap mereka sebagai orang asing. Tentu saja Ju Woon sangat tidak menginginkan dirinya disikapi seperti itu oleh Kenan.


Sementara Fara yang berdiri tepat di samping Kenan, sebelah alisnya terangkat juga penasaran dengan apa yang tengah terjadi pada Ju Woon. Terlebih saat mendapati air wajah Ju Woon yang sangat jelas tampak lesu dengan kedua kantung mata yang sedikit menggantung. "Hmm? Iya, kamu kenapa Ju Woon?" timpalnya ikut bertanya.


"Ah..." Ju Woon tersadar dari lamunannya dengan sedikit tersentak. "Ju- Ju Woon gak apa - apa kok Hyung, Noona." jawabnya sekaligus sedikit tergagap.


"Hmm? Kamu abis ngapain semalam?" Kenan tak percaya. Dipicingkannya matanya menatap wajah Ju Woon lekat - lekat dengan tatapan curiga.


Sshh...


Ju Woon sedikit mendesis sebelum menjawab dengan tenang "Hyung jangan mikirin yang gak - gak sama Ju Woon. Ju Woon gak ngapa - ngapain kok, semalam Ju Woon sedikit begadang aja ngerjain urusan perusahaan." ia tahu Kenan pasti berpikir yang tidak - tidak tentang dirinya, misalnya clubing seperti yang sering ia lakukan dulu.

__ADS_1


Ya, Ju Woon memang sering clubing dulu. Namun sejak sekitar 5 bulan, tepatnya setelah mengetahui bahwa ia memiliki seorang saudara kandung dan menjadikan pencarian terhadap saudara kandungnya tersebut sebagai prioritas, hingga tidak punya waktu lagi untuk melakukan kegiatan tak berfaedah itu. Dan sekarang, bahkan memikirkannya saja ia sangat malas.


"Baguslah kalau begitu." Kenan lega mendapati Ju Woon tidak melakukan seperti yang ia pikirkan. Hanya dengan sekilas pandang, ia tahu Ju Woon tidak berbohong, berdasarkan raut wajah dan sorot netra adik tak berahang nya itu.


"Yang gak - gak gimana?" tanya Fara yang tidak mengerti dengan 'yang gak - gak' yang dimaksud Kenan dan Ju Woon.


"Oh, itu sayang, Ju Woon tuh kalo tidur malam suka ngigo. Dulu waktu Kakak nginap di rumahnya yang di Korea, Kakak pernah dapatin dia tengah malam telanjang berkeliaran di sekitaran rumah." jawab Kenan mengarang asal.


"Hah?" bukan hanya Fara, bahkan Ju Woon ikut terperangah dibuatnya.


"Beneran gitu Ju Woon?" Fara kemudian beralih pada Ju Woon.


'Dasar Hyung gak ada akhlak!' Ju Woon mengumpati Kenan dalam hati. Bisa - bisanya Kenan mengarang cerita absurd bin memalukan itu pada Fara. Ingin sekali ia menjawab tidak, namun takut Fara akan kebingungan dan bertanya lebih jauh yang bisa membuat rahasianya yang sering clubing dulu terbongkar. Tak bisa membantu, ia pun hanya bisa mengiyakan "Y- ya, gitulah Noona. Hehe..." jawabnya sembari menyengir kikuk.


"Pfftt..." bukan hanya Kenan, bahkan Bambang yang sejak tadi mengamati interaksi mereka tidak jauh di belakang Kenan dan Fara, sontak menutup mulut dengan sebelah tangannya demi mencegah tawanya yang hampir saja lepas.


Sementara Fara, mendapati Ju Woon mengiyakan, sontak meringis dalam - dalam dibuatnya sembari menatap Ju Woon dengan tatapan rumit.


Sumpah demi apapun, ingin sekali rasanya Ju Woon masuk kedalam inti bumi detik ini juga, bersembunyi dari pandangan Fara di sana.


"Ehem ehem..." Kenan batuk berdehem setelah berhasil menetralisir gejolak tawanya. Lalu dirangkulnya mesra pinggang Fara "Udah sayang, gak usah dipikirin. Doain aja semoga penyakit aneh Ju Woon itu cepat sembuh. Mending sekarang kita ke atas aja, yuk!" ajaknya kemudian, tidak ingin lagi berlama - lama berada di basemen.


"Hm, baiklah Kak." Fara mengangguk patuh. Sesaat sebelum mengikuti langkah Kenan yang menuntun dirinya menuju lift, sekilas ia menatap ia menyempatkan menatap Ju Woon dengan tatapan prihatin.

__ADS_1


Rahang Ju Woon mengeras melihat Kenan dan Fara berlalu sembari menatap punggung sepasang suami istri itu dengan tatapan nanar. Sebenarnya ia juga ingin ikut serta bersama mereka naik ke atas. Namun ia tidak memiliki wajah yang cukup tebal untuk terus menunjukan wajahnya pada Fara.


__ADS_2